Uni Soviet

Rusia Ungkap Bom Nuklir Baru yang Mampu Hancurkan New York

BeritaBintang – Rusia mengungkapkan proyek rudal nuklir baru dengan kekuatan yang lebih besar, disinyalir mampu membumihanguskan negara bagian New York di Amerika Serikat.

Diberitakan Agen Bola Online, Rabu (26/10), Rusia akan mengembangkan rudal super RS-28 Sarmat yang bisa dipasangkan hulu ledak nuklir. Rencananya rudal super ini akan dihadirkan untuk menggantikan rudal SS-18 Satan peninggalan Uni Soviet.

Menurut perusahaan senjata pembuat rudal ini, Makeyev Rocket Design Bureau, RS-28 Sarmat akan dilengkapi dengan 16 hulu ledak nuklir. Rencananya, pengembakan rudal ini akan rampung pada 2018.

Dengan kekuatannya yang luar biasa, para ahli mengatakan RS-28 Sarmat akan membuat bom atom yang menewaskan 129 ribu orang di Hiroshima dan Nagasaki di penghujung Perang Dunia II seperti “petasan”.

Dr Paul Craig Roberts Linkalternatif.info, ahli di lembaga think tank Institute for Political Economy dalam sebuah tulisannya mengatakan rudal kelas baru Rusia mampu “meratakan tiga per empat negara bagian New York selama ribuan tahun.”

Peningkatan kemampuan rudal nuklir Rusia dilakukan di tengah ketegangan antara negara itu dengan Barat, khususnya Amerika Serikat. Rusia yang berada di belakang rezim Bashar al-Assad di Suriah dikecam karena dianggap melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan di Aleppo.

Awal bulan ini pemerintah Rusia melancarkan latihan pertahanan sipil nasional, bertujuan untuk bersiap menghadapi serangan nuklir dari Barat. Latihan selama tiga hari ini diikuti oleh 200 ribu personel keamanan dan 40 juta warga sipil Rusia.

China Bakal Mulai Produksi Pesawat Terbesar di Dunia

BeritaBintang China telah menandatangani perjanjian kesepakatan dengan sebuah perusahaan penerbangan Ukraina untuk kembali memulai produksi pesawat AN-225. Untuk diketahui, AN-225 merupakan pesawat terbesar di dunia.

Pesawat AN-225 memiliki panjang badan mencapai 84 meter dan mampu membawa beban seberat 225 ton. Hanya satu unit pesawat AN-225 yang pernah dibuat dan digunakan oleh Uni Soviet.

Antonov, perusahaan Ukraina yang membangun AN-225 terdahulu pekan lalu menyatakan telah menjalin kerja sama dengan Aerospace Industry Corporation China untuk kembali membuat AN-225. Pesawat AN-225 yang masih setengah jadi kini masih berada di hanggar pesawat Ukraina selama 20 tahun. “Kedua pihak telah menunjukkan minat untuk kerja sama jangka panjang,” tulis Antonov dalam pernyataan resminya seperti dikutip dari Agen Judi Online, Sabtu (10/9/2016).

Menurut Antonov, begitu pesawat selesai dibangun dan dikirimkan, akan ada rangkaian produksi AN-225 secara bersama-sama. Akan tetapi, proses pembuatan kemudian dilakukan di China.

Peter Swinger, ahli strategis lembaga New America menyatakan bahwa biaya penyelesaian pembuatan pesawat ini mencapai 300 juta dollar AS atau setara sekira Rp 3,9 triliun. Sebagian besar biaya ditanggung oleh China. Stringer juga menyatakan, pesawat ini diperkirakan mulai menjajal angkasa pada tahun 2019 mendatang. Adapun pesawat AN-225 buatan China diperkirakan bakal selesai pada pertengahan tahun 2020.

Hubungan Moskow-Warsawa Mendadak Panas, Rusia Tuding Polandia Penyebab Perang Dunia II

BeritaBintang – Duta Besar Rusia di Warsawa memicu kontroversi setelah menuding Polandia sebagai penyebab pecahnya Perang Dunia II. Pernyataan ini semakin memanaskan hubungan kedua negara.

Dubes Rusia Sergey Andreev pada Jumat (25/9/2015), menggambarkan invasi Uni Soviet ke Polandia pada 1939 sebagai langkah bela diri bukan agresi.

Komentar itu membuat Kementerian Luar Negeri Polandia, Sabtu (26/9/2015), mengatakan Dubes Rusia sudah mengingkari sejarah dan mencoba melakukan justifikasi atas kejahatan yang dilakukan Uni Soviet.

“Kebijakan Polandia yang memicu bencana pada September 1939, karena selama dekade 1930-an Polandia berulang kali memblokade pembentukan koalisi untuk melawan Hitler. Sehingga, Polandia juga bertanggung jawab atas bencana yang kemudian terjadi,” ujar Andreev dalam sebuah wawancara televisi.

Kementerian Luar Negeri Polandia menyatakan sangat terkejut dan mewaspadai pernyataan Dubes Andreev itu.

Bahkan, Menlu Polndia Grzegorz Schetyna pada Senin (29/9/2015) akan memanggil Andreev untuk menjelaskan pernyataannya itu.

“Pernyataan yang diberikan seorang perwakilan tertinggi Rusia di Polandia ini mengingkari kebenaran sejarah dan merupakan interpretasi munafik atas peristiwa yang dilakukan di masa kekuasaan Stalin dan komunis,” demikian pernyataan Kemenlu Polandia.

Perdan Menteri Polandia Ewa Kopacz juga menyatakan ketidaksukaannya terhadap pernyataan Dubes Rusia itu.

“Peran seorang duta besar yang ditempatkan di sebuah negara seharusnya berupaya menciptakan keharmonisan dan hubungan persahabatan antarnegara,” ujar PM Kopacz.

Perang Dunia II dimulai setelah Nazi Jerman dan Uni Soviet menandatangani pakta tak saling menyerang pada 1939. Dalam pakta itu termasuk pembagian Polandia dan negara-negara Eropa Timur lainnya.

Tak lama setelah pakta itu diteken, Jerman menyerang Polandia dari arah barat, diikuti serangan Uni Soviet dari arah timur 16 hari kemudian.

Rusia Undang Kim Jong-Un ke Moskow

BeritaBintang – Rusia menanti jawaban resmi dari Kim.

Sejak mengambil alih tampuk kekuasaan tertinggi di Korea Utara, Kim Jong Un belum pernah melakukan kunjungan kenegaraan ke luar negeri. Namun, hal itu sepertinya akan berubah.

Rusia sudah mengirimkan undangan kepada Kim untuk menghadiri peringatan Perang Dunia II yang akan digelar di Moscow pada Mei nanti.

Korea Utara sudah menerima undangan itu. Namun, Rusia masih menanti pengumuman resmi dari pemerintahan Kim untuk memastikan apakah akan hadir dalam acara peringatan itu.

Apabila Kim memenuhi undangan itu, maka dia akan melakukan kunjungan pertama ke luar negeri sejak memimpin Korea Utara pada 2011.

“Undangan ini dikirim ke Kim Jong Un. Korea Utara sudah menerima undangan itu. Pemimpin Korea Utara diharapkan ambil bagian dalam perayaan Victoey Day di Moscow,” demikian keterangan dari pemerintah Rusia.

Akan tetapi, media di Korea Utara belum mengeluarkan pernyataan resmi dari Kim terkait undangan tersebut. Tahun ini merupakan peringatan 70 tahun kemenangan Uni Soviet atas Jerman pada Perang Dunia II.