LN

Jeritan Tengah Malam Gadis Belia Korban Pencabulan

BeritaBintangJeritan perempuan di tengah malam itu mengejutkan warga di Jalan Pancoran Barat, Pancoran, Jakarta Selatan. Jeritan itu terdengar sekitar pukul 00.30 WIB dini hari, Kamis 12 Mei 2016. Suara tersebut berasal dari sebuah makam tanah wakaf ‎Ciborong, Pancoran.

‎Setelah diselidiki, ditemukan seorang gadis berinisial Y dalam kondisi mabuk bersama 4 remaja pria. Yang lebih mengejutkan, gadis itu masih 12 tahun dan ditemukan dalam kondisi setengah telanjang.

Warga menduga, gadis tersebut sempat dicabuli oleh 4 pria yang teler bersamanya. Warga yang geram dengan perilaku para remaja itu pun melaporkan kejadian tersebut ke kantor polisi terdekat.

Kapolsek Pancoran Kompol Aswin membenarkan kejadian tersebut. ‎Pihak nya mendapatkan laporan warga terkait dugaan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur.

“Kami mendapat laporan dari warga. Belum tahu itu bentuknya pemerkosaan atau pelecehan seksual lainnya. Saat ini sedang dibawa ke Polres Jaksel,” ‎ujar Aswin saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis 12 Mei 2016.

Seperti fenomena gunung es, kasus kejahatan seksual terus bermunculan setiap harinya. Setelah kasus kejahatan seksual bocah F yang jasadnya ditemukan di dalam kardus di Jakarta Barat, dan sederet kasus-kasus lain yang mengikutinya, publik Tanah Air dikejutkan lagi dengan kasus Yuyun.

Remaja 14 tahun itu menjadi korban kejahatan seksual dan pembunuhan 14 remaja di Bengkulu. Tragisnya, beberapa pelaku masih melakukan aksi bejat nya mencabuli korban meski Yuyun saat itu sudah tidak bernyawa. Yang membikin geram, usai melampiaskan nafsu bejat mereka, jasad Yuyun dibuang ke jurang.

Belum hilang rasa duka cita mendalam atas tragedi Yuyun, publik kembali dibuat tersedak dengan kasus pencabulan dan pembunuhan bocah LN 2,5 tahun di Bogor, Jawa Barat.

Dengan enteng nya pelaku, Budiansyah (26 tahun), mengaku mencabuli korban yang masih balita karena hasrat seksualnya tinggi saat itu. Namun karena takut aksi bejatnya diketahui warga dan keluarga korban, pelaku membunuh dan menyembunyikan jasad balita tak berdosa itu di dalam lemari dan kemudian membuangnya di belakang rumah orangtuanya.

Khofifah Menangis

 Berita Online

Tidak hanya di Jakarta, Bogor, Bengkulu, dan juga Manado, kasus kejahatan seksual juga terjadi di Surabaya. Korbannya anak di bawah umur.
“Korban ini berdasarkan informasi yang kami terima justru dicabuli sejak berusia 4 tahun, namun kami akan kembangkan lagi di mana yang dilakukan oleh para tersangka, AS yang pertama mengawali,” tutur Kapolrestabes Surabaya Kombespol Iman Sumantri.

Disebutkan, pelaku kasus kejahatan seksual di Surabaya ini merupakan teman-teman korban yang masih duduk di bangku Sekolah dasar. Iman mengungkapkan, korban (13 tahun) dicabuli lebih dari 8 orang. Tersangka merupakan tetangga korban sendiri.

Kejahatan seksual yang terus terjadi membuat geram sekaligus menguras haru. Tak terkecuali Menteri Sosial Khofifah Indar Parawangsa.

Ia mengunjungi rumah nenek korban LN di Kampung Pabuaran Tonggoh, Desa Giri Mulya, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Kamis 12 Mei malam.

Saat di dalam rumah, Mensos mendengarkan cerita dari ayah korban, Ahmad Samiran, perihal kejadian yang menimpa anak semata wayangnya itu.

Mata Kofifah terlihat berkaca-kaca saat menonton video pesta ulang tahun LN yang kedua lewat telepon genggam. Bahkan ia tak bisa mengucapkan sepatah kata pun karena merasa terharu dan sedih.

Saking haru nya, Khofifah berziarah ke makam korban. Saat membacakan doa yang dipimpin kyai setempat, Khofifah terlihat menitikkan air mata di depan makam LN, yang lokasinya sekitar 50 meter dari rumah neneknya.

“Sebelumnya saya dikagetkan dengan kejadian di Bengkulu, Manado, Tasik, Cirebon, dan Tasik. Lalu mendengar kejadian serupa di Bogor. Saya sangat kaget atas kejadian ini,” kata Khofifah.

Terlebih yang menjadi korban kejahatan seksual adalah anak masih berusia 2,5 tahun. “Ini sangat memprihatinkan,” ujar dia.

Atas kejadian ini, Mensos bergerak cepat memberikan pendampingan untuk memulihkan trauma keluarga.

“Kami sudah menyiapkan tim untuk memulihkan kondisi psikologis dan kejiwaan nenek serta ibu korban yang mengalami trauma,” kata Khofifah.

Kecemasan Mega

Berita Online

Maraknya aksi kejahatan seksual dengan korban sebagian besar anak di bawah umur, membuat Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri prihatin sekaligus cemas.

Putri Proklamator Soekarno ini langsung mengumpulkan lima cucunya dan berpesan untuk tak bepergian sendirian. Mega juga meminta sang cucu mengajak teman saat bepergian serta lebih waspada terhadap sekitar.

“Kalau mau pergi enggak boleh sendirian, harus ada yang nemenin. Ke kamar mandi juga enggak boleh sendiri. Kalau minum botol, jangan diterima kalau sudah dibuka. Ini remeh temeh tapi perlindungan diri,” ujar Megawati di acara Komnas Perempuan ‘Indonesia Melawan Kekerasan Seksual’ di Megaria, Jakarta Pusat.

Megawati juga mengungkapkan simpatinya terhadap anak-anak korban kekerasan seksual dan keluarganya. “Saya bisa rasakan seperti apa jika buah hatinya diperlakukan tidak benar,” kata Mega.

Ketua Umum PDIP ini juga meminta Menkumham agar semua masalah yang berkaitan dengan anak-anak dan perempuan proses hukumnya dipisahkan.

“Seharusnya dari proses hukumnya dipisahkan dan harus ada yang namanya konseling atau pendampingan dari psikolog, karena trauma akan terjadi (pada korban),” kata Mega.

“Di sini ada perwakilan Polri lalu Menkumham Pak Yasonna Laoly, Kaukus Perempuan Parlemen RI, perwakilan 15 lembaga masyarakat yang mendukung untuk didorongnya RUU penghapusan kekerasan seksual,” ucap Megawati.

Guna mencegah semakin banyaknya kasus kejahatan seksual, Presiden Joko Widodo atau Jokowi menyetujui 4 poin rekomendasi yang disampaikan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) terkait Amandemen Undang-Undang Perubahan Kedua Atas Undang-Udang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Namun, penerbitan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) belum bisa dilakukan dalam waktu dekat. Sebab, banyak aturan turunan mengenai perlindungan anak yang perlu disinkronisasikan lebih lanjut.

“Kemarin yang memutuskan di rapat terbatas Pak Presiden. Sudah diputuskan, nanti masih banyak turunannya. Itu masih akan disinkronkan lagi,” kata Menko PMK Puan Maharani di sela-sela kunjungan kerja di Pelabuhan Perikanan Pantai Morodemak, Desa Purworejo, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

Puan menyampaikan, dalam rapat terbatas (ratas) di Kantor Presiden, Rabu 11 Mei 2016, Presiden Jokowi secara substansial menyetujui usulan pemberatan hukuman bagi pelaku kekerasan terhadap anak. Bahkan, dalam rapat itu selain hukuman kebiri bagi pelaku juga muncul usulan agar pelaku dipasang gelang microchips.

“Untuk paedofil, kita akan menambahkan hukuman tambahan dengan kebiri atau menggunakan gelang microchip. Itu yang dilakukan pemerintah, sebagai bentuk komitmen dan keseriusan dalam mencegah dan menindak serta efek jera bagi pelaku kejahatan asusila,” jelas Puan.

“Payung hukum berkaitan dengan kekerasan seksual anak itu payung hukumnya Perppu. Kemudian pemberatan hukuman nantinya hukuman pokok akan bertambah menjadi 20 tahun, dan turunan akan bertambah juga,” lanjut Puan Maharani.

 

Genderang Perang Jokowi untuk Para Penjahat Seksual

BeritaBintangKasus Yuyun yang menohok nurani memecah gunung es kejahatan seksual di sekitar kita. Sejumlah korban di kota-kota berbeda akhirnya bersuara menuntut keadilan. Bagi mereka yang terbunuh sia-sia, ada pihak lain yang terus menyalak menuntut bayaran setimpal dari para penjahat seksual.

Khusus kasus Yuyun, vonis 10 tahun yang dijatuhkan pada tujuh terdakwa yang masih anak-anak itu dianggap tak cukup berefek jera. Utamanya kepada para warga di kampung Yuyun, bocah perempuan yang tewas akibat pemerkosaan dan pembunuhan 14 orang. Budaya kekerasan akan terus ada sepanjang pangkal masalah tidak diatasi.

Di sisi lain, sanksi negara kepada para penjahat seksual dinilai tak sepadan dengan tindakan brutal yang dialami korban. Kasus bocah LN (2,5) di Bogor menjadi cerminan bagaimana manusia yang dianugerahi akal bisa lebih rendah derajat nya dari binatang.

Keluguan LN dimanfaatkan Budiansyah (26) menyalurkan nafsu bejatnya. LN dibunuh dan jenazahnya diletakkan di lemari selama dua hari. Untuk menutupi perbuatannya, Budiansyah pura-pura bersimpati dengan ikut mencari. Namun, endusan anjing pelacak mampu menguak bau busuk yang diembuskan si penjahat seksual.

Sebelum kasus LN mencuat, ada pula kasus gadis Manado yang digantung sejak Januari 2016 lalu. Ia dicekoki narkoba dan dicabuli 19 lelaki di dua tempat berbeda. Kasus itu akhirnya mendapat atensi setelah keluarga menggelar jumpa pers. Belakangan, polisi yang gerah menyuruh keluarga gadis Manado tutup mulut kepada media.

Kejahatan seksual tidak hanya menyakiti fisik korban. Trauma yang dialami korban merusak mental dan psikologi korban berkepanjangan. Sebagian penyintas tak pulih total, bahkan ada yang trauma seumur hidupnya.

Saking merusak nya, Presiden Joko Widodo sampai menyebut kejahatan seksual terhadap anak sebagai kejahatan luar biasa. Level nya berarti sama dengan korupsi, narkoba, dan terorisme. Presiden pun menabuh genderang perang kepada para penjahat seksual.

“Saya ingin agar ini menjadi sebuah kejahatan luar biasa sehingga penanganan nya juga penanganan dan tindakan luar biasa,” ujar Jokowi ketika membuka sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Kamis, 12Mei 2016.

Sebelum mengumumkan maklumat, para menteri menggelar rapat koordinasi yang dipimpin Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani terkait rencana penerbitan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) tentang Perlindungan Anak.

Rakor dihadiri Menkumham Yasonna Laoly, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek, perwakilan dari Kementerian Agama, Kementerian Sosial, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA) dan Polri.

“Semua Kementerian/Lembaga sudah sepakat bahwa akan diberikan pemberatan hukuman maksimal kepada para pelaku pemerkosaan atau pencabulan,” ujar Puan mengenai hasil rakor di kantornya, Kamis (12/5/2016).

Selain pemberatan kepada pelaku, rakor juga menyepakati publikasi identitas penjahat seksual kepada masyarakat umum. Publikasi identitas itu diharapkan memberi efek jera pelaku karena mendapatkan hukuman sosial.

Meski diberi pemberatan hukuman dan hukuman sosial, penjahat seksual itu akan tetap diberikan pendampingan selama menjalani masa hukuman. Langkah itu dimaksudkan untuk menyadarkan penjahat seksual.

Menkumham Yasonna Laoly menambahkan, hasil rakor disampaikan kepada Presiden Jokowi untuk kemudian dibahas di rapat terbatas. Ada beberapa poin yang belum sepenuhnya diputuskan dalam rakor. Salah satunya menyangkut penggunaan zat kimia atau kebiri kimia bagi pelaku asusila.

“Ada faktor-faktor negatif yang belum dapat kita putuskan kesempatan ini. Ada dokter ahli kejiwaan, ahli andrologi, bahwa mereka melihat ini bukan hal yang tepat,” kata dia.

Kemenkumham juga mempertimbangkan perspektif HAM berikut kemungkinan Perppu nantinya diuji di Mahkamah Konstitusi setelah diundangkan pemerintah. Berbagai perspektif itu dimatangkan lebih lanjut dalam rapat terbatas.

Pemerintah akhirnya memilih opsi mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) mengenai perlindungan kejahatan seksual anak. Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani mengatakan perppu telah disetujui Presiden Jokowi dan akan diberlakukan secepatnya.

“Dalam ratas yang tadi dipimpin presiden, diputuskan bahwa berkaitan dengan perlindungan kekerasan seksual anak, akan dikeluarkan segera perppu,” ujar Puan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, 12 Mei 2016.

Menurut dia, perppu tersebut nanti akan menjadi landasan pemberlakuan pemberatan hukuman bagi penjahat seksual.

“Akan ada salah satu hal berkaitan dengan hukuman pokok, yaitu bisa menjadi hukuman maksimal 20 tahun. Lalu, ada hukuman tambahan yang mungkin kebiri atau mungkin juga diberikan chip kepada pelaku untuk bisa dipantau,” ujar Puan.

Selain hukuman kebiri dan pemberian chip, perppu juga menjadi landasan penambahan hukuman berupa publikasi identitas pelaku kejahatan seksual secara masif. Namun, kata Puan, pemberlakuan itu masih dalam tahap kajian teknis.

Puan menambahkan, penerbitan Perppu Kejahatan Seksual terhadap Anak ini merupakan bentuk komitmen pemerintah dan pernyataan Jokowi yang menyebut kejahatan seksual sebagai bentuk kejahatan luar biasa.

“Atau komitmen presiden dan pemerintah bahwa tindak pelaku kekerasan seksual terhadap anak adalah kejahatan luar biasa, yang tentu saja kami mengutuk, bahwa kekerasan itu hukumannya harus bisa memberikan efek jera,” pungkas Puan Maharani