BNPT

Ini Penjelasan Kapolri Tentang Kabar Santoso Tewas Tertembak

BeritaBintang –   Sebuah foto sesosok mayat pria mirip pimpinan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT), Santoso alias Abu Wardah, beredar di sosial media.

Bahkan, foto tersebut disertai keterangan orang diduga Santoso tewas tertembak dalam kontak senjata Operasi Tinombala tim gabungan TNI-Polri di Desa Torire, Lore Tengah, Poso, Sulawesi Tengah, Minggu (17/4/2016) pagi.

Menanggapi hal itu, Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti menyatakan belum ada informasi dari anggotanya perihal tewasnya Santoso.

“Tidak ada berita itu,” kata Badrodin melalui pesan singkat.

Secara terpisah, pihak Polda Sulteng juga membantah tentang telah tewasnya gembong teroris, Santoso, setelah dilakukan penyisiran di Lore Tengah.

Pada Sabtu (16/4/2016) kemarin, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti dan Kepala BNPT Komjen Tito Karnavian sempat mengunjungi Kota Poso dan wilayah Napu yang menjadi basis Operasi Tinombala oleh tim gabungan Polri-TNI.

Kelompok Santoso yang diperkirakan bersama enam anggotanya masih berada di hutan sekitar wulayah Lore alias dataran Napu.

Namun, secara keseluruhan kekuatan kelompok Santoso terus berkurang dan tersisa 27 orang setelah sejumlah anggota tewas tertembak dan ditangkap dalam Operasi Tinombala.

Oleh karena itu, Polri dan BNPT memperkirakan operasi ini dapat segera selesai dengan menangkap Santoso dan para pengikutnya.

Empat WNI Membelot dari ISIS, Pengamat: BNPT Harus Siapkan Antisipasi

BeritaBintang – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) diminta siap siaga menyusul adanya 85 orang anggota kelompok militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) dikabarkan telah melarikan diri dan membelot.

Empat dari 85 orang itu berasal dari Indonesia. Dari beberapa sumber didapatkan empat nama orang asal Indonesia yaitu Abdul Hakim Munabari, Ahmad Junaedi, Helmi Alamudi, dan Mazlan.

“Kalau mereka tidak pulang ke Indonesia tidak ada masalah, tapi kalau mereka kembali ke Indonesia, tentu harus ada tindakan atau upaya untuk mencegah mereka menyebarkan paham kekerasan di Tanah Air. Itu justru akan lebih berbahaya sehingga BNPT dan lembaga terkait lainnya harus menyiapkan langkah antisipasinya. Siapa yang bisa menjamin apakah mereka benar-benar telah ‘sembuh’ dari pengaruh ISIS?” ujar Ketua Departemen Kriminologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI) Kemal Dermawan di Jakarta, Jumat (25/9/2015).

Menurut Kemal, empat orang yang kabarnya telah membelot dari ISIS itu masih sebagian kecil dari Warga Negara Indonesia (WNI) yang telah bergabung dengan kelompok militan tersebut.

Namun kabar itu tetap cukup positif meredam propaganda ISIS. Kemal menilai ISIS memang sangat berbahaya.

“Yang pasti mereka bukan negara. ISIS itu hanya kelompok yang menganut norma yang tidak bagus yaitu menghalalkan kekerasan dan pemerkosaan. Jadi tidak ada tempat paham tersebut di Indonesia, sehingga apa saja yang berbau ISIS harus benar-benar dibersihkan, termasuk empat warga Indonesia yang katanya membelot tersebut,” katanya.

Sementara itu Pengamat Kepolisian Bambang Widodo Umar mengatakan keberadaan empat WNI yang membelot dari ISIS tetap harus diwaspadai.

Jangan sampai mereka yang menyatakan sadar dan ingin kembali ke NKRI ini justru malah berpura-pura dan menyebarkan paham ISIS di Indonesia.

“Tentunya selain dengan membina juga ada deteksi. Intelejen juga harus ikut berperan dalam mengawasi. Kalau mereka ini dibina lalu sebenarnya menyimpang, maka intelijen juga harus tahu,” ujar Bambang.