Bandara Internasional Malta

Dua Pembajak Pesawat Libya Bawa Granat, Tuntutan Belum Jelas

BeritaBintangDua Pembajak Pesawat Libya Bawa Granat, Tuntutan Belum Jelas

Anggota parlemen Libya mengungkapkan bahwa pembajakan pesawat penerbangan internal Libya, Afriqiyah Airways, dilakukan oleh dua pembajak yang membawa granat tangan. Hingga kini belum jelas apa tuntutan para pembajak.

Para pembajak bersedia membebaskan seluruh 111 penumpang pesawat bertipe Airbus A320 yang terpaksa mendarat darurat di Bandara Internasional Malta pada Sabtu (24/12) itu, namun menolak melepaskan 7 kru jika tuntutan mereka tidak dikabulkan.

Hadi al-Saghir, salah satu penumpang yang berada di pesawat itu, mengungkapkan bahwa Abdusalem Mrabit, anggota Parlemen Libya, menyatakan kepadanya bahwa dua pembajak berusia 20-an tahun dan merupakan etnis Tebu dari Libya selatan, wilayah di mana pesawat itu berangkat.

Para pembajak menyatakan kepada kru pesawat bahwa mereka pendukung Muammar Gaddafi, pemimpin Libya yang tewas dalam pemberontakan pada tahun 2011, menyebabkan negara itu terpecah menjadi dua faksi besar yang saling klaim pemerintahan.

Reuters melaporkan bahwa para penumpang mulai berjalan menuruni tangga dari pesawat itu.

Perdana Menteri Malta Joseph Muscat melalui akun Twitter-nya melaporkan bahwa kelompok pertama penumpang, yakni sekitar 25 orang, telah dibebaskan. Sementara 25 orang lainnya masih dalam proses pembebasan.

Sejumlah siaran televisi memperlihatkan tidak ada tanda-tanda serangan dalam pembebasan para penumpang.

Informasi soal pembajakan pertama kali diterima oleh menara pengawas penerbangan di Bandara Mitiga, Tripoli pada Jumat pagi, menurut laporan petugas keamanan kepada Reuters.

Baca Juga: ” 7 Toilet Terbaik Menurut Pecinta bus

“Pilot melaporkan kepada menara pengawas di Tripoli bahwa mereka sedang dibajak, maka mereka kehilangan komunikasi dengannya,” kata pejabat yang menolak identitasnya dipublikasikan kepada Reuters.

“Pilot berusaha sangat keras untuk mendarat di tempat tujuan, tetapi mereka (pembajak) menolak,” ujarnya.

Aparat langsung mengambil posisi beberapa ratus meter dari pesawat saat mendarat di landasan.

Malta merupakan negara pulau kecil di kawasan Mediterania. Negara ini merupakan anggota Uni Eropa, berjarak sekitar 500 km sebelah utara dari Tripoli.

Perdana Menteri Malta Joseph Muscat berkicau, “Saya menerima informasi soal kemungkinan pembajakan dari penerbangan internal #Libya hingga dialihkan ke #Malta. Petugas Keamanan dan operasi darurat bersiaga.”

Ia mengonfirmasi bahwa ada 111 penumpang, 82 di antaranya pria sementara 28 wanita dan satu bayi di pesawat itu.

Pesawat yang Jatuh di Malta Digunakan untuk Misi Pengintaian

BeritaBintang – Pesawat yang jatuh sesaat setelah lepas landas di Bandara Internasional Malta, Luqa, tengah digunakan dalam misi pengantaian di kawasan Mediterania oleh pemerintah Perancis. Jatuhnya pesawat pada Selasa (25/10) menewaskan seluruh lima orang di dalamnya.

Pesawat berjenis Twin-prop buatan Swearingen Metroliner itu jatuh di dekat landasan pacu negara kepulauan itu pada pukul 7.20 pagi waktu setempat. Insiden ini menyebabkan asap mengepul ke langit dan membuat Bandara Internasional Malta tutup selama beberapa jam.

Penerbangan itu bagian dari operasi Perancis yang dilakukan selama lima bulan terakhir untuk melacak aktivitas perdagangan manusia dan penyelundupan obat-obatan, menurut keterangan pemerintah Malta. Para pejabat bandara mengatakan, pesawat itu tengah menuju Misrata di Libya.

“Itu adalah pesawat pengintai yang melaksanakan operasi pengawasa di atas Mediternaia untuk kementerian pertahanan,” kata Menteri Pertahanan Perancis, Jean Yves Le Drian, dikutip dari Agen Bola Terbaik.

Terdapat dua pejabat kemenhan Perancis dan dua kontraktor swasta di dalam pesawat nahas itu. Le Drian menyatakan bahwa kelima korban tewas merupakan warga negara Perancis.

Pemerintah Malta menyatakan bahwa barang-barang bawaan para korban ditemukan di lokasi kecelakaan. Saat ini, investigasi dilakukan untuk menentukan penyebab jatuhnya pesawat.

“Informasi resmi, potongan rekaman dan saksi mata, semua mengindikasikan dengan jelas bahwa tidak ada ledakan sebelumnya Linkalternatif.info,” bunyi pernyataan pemerintah Malta.

Penerbangan itu tergistrasi sebagai penerbangan lokal di Layanan Lalu Lintas Malta dan dijadwalkan kembali ke Malta hanya beberapa jam tanpa mendarat di negara lainnya.

Sumber dari pihak bandara sebelumnya menyatakan bahwa pesawat itu diduga membawa pejabat dari lembaga perbatasan Uni Eropa, Frontex, namun lembaga itu kemudian membantahnya.