free html hit counter

Unik! Cegah Penculikan, Wanita Suku Apatani di India Jalani Tradisi “Merusak Wajah”

BeritaBintangUnik! Cegah Penculikan, Wanita Suku Apatani di India Jalani Tradisi “Merusak Wajah”

SUKU Apatani memiliki sebuah kebiasaan yang terbilang unik. Memiliki total populasi sebanyak 60 ribu jiwa dan mendiami dataran tinggi Apatani di distrik Subansiri, Arunachal Pradesh, India, wanita yang merupakan anggota suku harus melakukan suatu hal tidak biasa.

Wanita-wanita yang anggota suku Apatani asli harus menghias wajah mereka dengan tato. Hiasan wajah permanen tersebut memiliki persamaan antara satu wanita dengan wanita lainnya di suku Apatani.

{ Baca Juga, ” Glamor, Bugatti Merah Antar Floyd Mayweather Jr ke Pesta Kemenangannya ” }

Tato wajah digoreskan mulai dari dahi hingga ke bawah hingga ujung hidung mereka. Selain tato dahi hingga ke hidung, tato juga digambarkan di dagu mereka. Tato masih berbentuk garis, namun di bagian dagu terdapat lima buah garis vertikal dengan garis horizontal yang digambarkan tepat di bawah bibir dan bawah dagu.

Unik! Cegah Penculikan, Wanita Suku Apatani di India Jalani Tradisi “Merusak Wajah”

Seperti dikutip dari Judi Online, Kamis (31/8/2017), selain tato wajah, wanita asli Apatani juga harus menancapkan kedua lubang hidung mereka dengan suatu benda berwarna hitam . Praktik tradisi ini dilakukan agar wanita-wanita Apatani terlihat tidak cantik oleh laki-laki dari daerah lain, mencegah perampokan dan penculikan yang kerap menimpa kaum wanita. Penculikan ini menjadi semakin mengkhawatirkan, karena setelah diculik para korban yang merupakan kaum wanita tidak pernah terlihat lagi.

Pemimpin Apatani pun akhirnya mengambil tindakan. Ia memutuskan untuk para wanita, terutama yang paling cantik harus menancapkan hidung mereka dengan suatu benda yang melingkar besar. Benda tersebut bernama himge hurlo dan harus ditancapkan di atas kedua lubang hidung mereka.

Praktik pemasangan himge hurlo mulai dilakukan oleh para wanita Apatani sejak lama, mereka tinggal di sebuah lahan basah subur Arunachal Pradesh dan memiliki lahan pertanian yang jadi salah satu sumber pendapatan utama suku. Ikan juga banyak mereka pelihara, sehingga suku Apatani dapat menikmati makanan kaya protein meski jauh dari peradaban.

Sayangnya, praktik penancapan hidung dengan himge hurlo hanya dilakukan oleh para wanita tua saja. Pada era modern tradisi tersebut perlahan meluntur dan belum dilakukan lagi sejak 1970. Sehingga, hanya dari kaum wanita lanjut usialah masyarakat luar dapat mengetahui sejarah masa lalu suku Apatani.