free html hit counter

Topan Dahsyat Memupus Natal di Filipina

BeritaBintangTopan Dahsyat Memupus Natal di Filipina

Topan dahsyat menewaskan tiga orang dan membuat hujan lebat disertai angin kencang di kawasan padat penduduk di Filipina pada Senin (26/12), sehingga mengacaukan perayaan Natal di sejumlah kawasan negara tersebut.

Bernama Nock-Ten, topan yang juga mengakibatkan tanah longsor di kawasan timur kepulauan Catanduanes pada Minggu (25/12) itu mulai bertiup ke arah barat, menuju ibu kota Filipina, dengan kecepatan angin 215 kilometer per jam.

Beberapa orang tewas diterjang banjir, dan seorang kakek tertimbun bangunan runtuh.

Sebanyak 383 ribu penduduk mengungsi dari rumah mereka, sementara itu jadwal 80 penerbangan domestik dan internasional ditunda, akibat musibah topan yang melanda negara mayoritas berpenduduk umat Kristiani itu.

Pemerintah mengatakan kalau Topan Nock-Ten juga akan menerjang Manila dan kawasan sekitar pada beberapa hari ke depan.

Saat Natal tiba pada Minggu (25/12), kota yang didiami oleh 13 juta jiwa itu mendadak senyap, karena sebagian besar penduduknya memilih untuk berlindung dari cuaca yang buruk di dalam rumah.

“Kota akan diterpa hujan lebat, banjir dan angin kencang dalam beberapa hari ke depan. Badan penanggulangan bencana sudah siaga untuk mengevakuasi penduduk jika banjir menerjang,” kata juru bicara Badan Penanggulangan Bencana Manila, Mina Marasigan, pada Selasa (27/12).

Penjaga pantai di kawasan pesisir selatan Manila telah menutup kawasan pantai yang biasanya ramai menjelang musim liburan tiba. Penduduk di sekitarnya pun sudah diminta untuk mengungsi.

Aliran listrik pun terputus di sejumlah kawasan, salah satunya Bicol, yang kini gelap gulita. Saat ini, evakuasi masih terus dilakukan di sana.

Baca Juga: ” Taiwan: Kapal Perang China Unjuk Kekuatan

Natal di pengungsian

Di kota Ligao, Bicol, jalanan digenangi air setinggi mata kaki. Rumah-rumah penduduk juga dimasuki lumpur yang terbawa arus banjir.

Salah satu penduduk, Erna Angela Pintor (20), mengatakan kalau keluarganya terjaga sepanjang malam Natal, karena khawatir akan tertimpa bangunan rumah yang roboh akibat topan.

Tetangganya yang tinggal bersebelahan dengan sungai malah harus menyambut Natal dengan banjir setinggi dadat orang dewasa.

“Banjir yang menggenangi rumah kami hanya semata kaki. Kami tetap bersyukur masih bisa selamat,” kata Pintor.

“Seharusnya kami bisa merayakan Natal dengan damai. Ini perayaan Natal kami yang paling muram. Tidak ada anggota keluarga kami yang celaka, namun banyak tetangga kami yang meninggal dunia, rumah mereka pun hancur,” lanjutnya.

Marasigan mengatakan kalau ribuan penduduk di Bicol harus rela merayakan Natal di tempat pengungsian dan menikmati santapan ala kadarnya.

Beberapa relawan lokal memasak babi panggang—hidangan tradisional menyambut Natal bagi penduduk Filipina—untuk menghibur pengungsi.

“Relawan bekerja sepanjang malam untuk mengurus pengungsi, sementara itu topan terus menerjang kawasan lain yang terus kami evakuasi,” kata Martin Andanar, juru bicara Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, melalui keterangan resmi.

Filipina dihantam topan dan badai setiap tahun, yang memakan korban hingga ribuan jiwa. Bicol menjadi kawasan yang terkena dampak paling parah.

Terjangan paling parah berupa Topan Haiyan pada November 2013, yang membawa gulungan air seperti tsunami sehingga menewaskan 7.350 penduduk dan merusak sebagian besar bangunan di sana.