WNI

Dua WNI Sandera Abu Sayyaf Kembali ke Keluarga

BeritaBintangDua WNI Sandera Abu Sayyaf Kembali ke Keluarga

Muhamad Nasir dan Robin Piter, dua anak buah kapal warga negara Indonesia yang menjadi korban penyanderaan kelompok bersenjata di Filipina selatan, akhirnya diserahkan ke pihak keluarga setelah berhasil diselamatkan pada 12 Desember lalu.

Dalam proses serah terima, Menteri Luar Negeri RI, Retno LP Marsudi, menegaskan bahwa pembebasan keduanya merupakan hasil kerja keras pemerintah dan dukungan pihak-pihak terkait.

“Ini adalah hasil diplomasi total. Hasi kerja banyak pihak untuk tujuan yang sama yaitu membebaskan WNI yang disandera,” kata Retno, Sabtu (17/12).

Dalam serah terima yang diselenggarakan di Kemlu hari ini, pihak keluarga juga menyampaikan terima kasih atas kerja keras pemerintah Indonesia dalam upaya membebaskan para anggota keluarga mereka.

Baca Juga: “ 2 tas diduga berisi Bom ditemukan di Musala di Bekasi

Nasir dan Robin merupakan ABK kapal Tugboat Charles 001 yang disandera sejak 20 Juni lalu. Selain Nasir dan Robin, lima kru kapal lainnya juga ikut disandera namun lebih dulu dibebaskan pada Agustus dan Oktober lalu.

Penculikan ini terjadi di Laut Sulu, ketika kapal yang membawa 13 ABK itu sedang menempuh perjalanan dari Tagoloan Cagayan, Mindanao, menuju Samarinda. Menurut juru bicara Kemlu, Arrmanatha Nasir, penculikan terjadi dalam dua tahap.

Pada tahap pertama, hanya 3 orang yang disandera. Lalu pada tahap kedua, 4 orang lainnya disandera. Sementara 6 ABK lainnya, ungkap Arrmanatha, berhasil lolos.

Saat ini, tersisa empat WNI yang masih menjadi korban penyanderaan di Filipina Selatan dalam kasus terpisah.

Pemerintah mengharapkan dukungan dari semua pihak agar upaya pembebasan empat WNI lain yang saat ini tengah dilakukan dapat segera membuahkan hasil.

WNI di Amerika Aman dari Ledakan New York

BeritaBintang – Jumlah korban luka akibat ledakan di gedung Associated Blind Housing terus meningkat. Data terbaru pihak berwenang mencatat 29 orang butuh perawatan karena luka berat dan ringan.

Beruntung, tidak ada dari 29 orang itu yang merupakan warga negara Indonesia (WNI). Itu dipastikan oleh Acting Konjen RI New York Benny YP Siahaan dalam keterangan tertulis yang dilansir dari Agen Bola Terbaik, Minggu (18/9).

“Sejauh ini aman, tidak ada WNI jadi korban,” ia menyampaikan.

Ledakan itu sendiri terjadi pada Sabtu (17/9) pukul 20.30 malam waktu setempat.

Meski tidak ada laporan WNI yang menjadi korban, KJRI New York tetap memantau perkembangan kejadian yang mengguncang musim gugur yang tenang itu.

Sejauh ini, polisi disebut-sebut telah menemukan benda yang diduga sebagai penyebab ledakan.Benda berbentuk panci presto itu ditemukan di dalam kantong plastik. beberapa blok dari lokasi kejadian.

Belum disebutkan apa yang ada di Linkalternatif.info dalam benda itu, namun ia terkoneksi dengan kabel dan telepon seluler. Polisi masih menginvestigasi, jalanan sekitar masih ditutup.

Polisi juga tidak ingin langsung mengaitkan temuan benda itu dengan motif peledakan. Komisaris NYPD James O’Neill hanya menegaskan pihaknya yakin bahwa ledakan yang terjadi di 23rd Street itu sengaja dilakukan. Pelakunya belum diketahui.

Penyebab ledakan pun belum dirilis resmi. Wali Kota New York Bill de Blasio mengatakan, sejauh ini “tidak ada bukti hubungan teror” dan tidak ada “ancaman spesifik” terhadap New York setelah peristiwa yang memekakkan telinga itu.

Duterte Perintahkan 177 WNI Calhaj Filipina Pulang ke Indonesia

BeritaBintang –  Presiden Filipina Rodrigo Duterte telah memerintahkan agar 177 WNI calon jamaah haji di Filipina segera dipulangkan ke Indonesia. Hal ini disampaikan langsung oleh Menlu Filipina Perfecto Yasay melalui sambungan telefon dengan Menlu Retno LP Marsudi siang tadi, saat break rapat komisi I DPR RI.

“Jadi arahan itu sudah ada dari Presiden Duterte. Saya kira siang ini kita mudah-mudahan sudah bisa mendengarkan kabar baik dari Filipina soal pemulangan 177 WNI kita yang sekarang sudah berada di fasilitas KBRI Manila,” jelas Menlu kepada peserta sidang Komisi I DPR RI di Senayan, Jakarta pada Rabu (31/8/2016).

Kabar baik itu diharapkan akan datang dari hasil pertemuan tim KBRI Manila dengan pihak Kementerian Kehakiman Filipina. Pertemuan tersebut dijadwalkan berlangsung pukul 14.00 waktu Filipina.

Sebelumnya, 177 WNI dicegat petugas imigrasi Bandara Manila pada 19 Agustus karena mendapati mereka membawa paspor haji palsu. Para WNI yang terdiri dari 100 perempuan dan 77 laki-laki tersebut datang sebagai turis tetapi kemudian terhasut oleh sindikat pemalsu paspor di Filipina untuk berangkat haji dengan paspor negara tersebut.

Mereka kini sudah dipindahkan dari pusat detensi Kota Taguig ke Wisma Indonesia di Manila. Hal ini segera dilakukan karena kebanyakan WNI calhaj yang ditahan berusia di atas 60 tahun.

“Menimbang kondisi kesehatan mereka, saat itu kami segera meminta para WNI kita untuk dipindahkan ke fasilitas KBRI Manila. Karena status mereka di sini adalah korban penipuan sindikat di Filipina. Ditambah memang ada ketentuan dari Kemenkes untuk memastikan mereka tetap terjaga kesehatannya,” ujar Menlu.

Meskipun terbilang agak lama prosesnya, para WNI kemudian berhasil dipindahkan secara bertahap setelah Menlu Retno mengirimkan Letter of Guarantee kepada Menlu Filipina. Berdasarkan hasil pemeriksaan identitas dengan pencocokan data di SIMKIM, 138 WNI Calhaj pertama dipindahkan ke KBRI Manila pada 25 Agustus. Menyusul sehari kemudian, 39 WNI sisanya juga sudah ditempatkan di KBRI Manila.

“Prosesnya agak lama karena mereka datang ke sana tanpa dokumen pendukung yang bisa membuktikan kewarganegaraan Indonesia mereka. Untuk itu, perlu dicocokkan satu per satu dengan SIMKIM. Sebab tidak ada dari 177 WNI itu yang memegang paspor Indonesia mereka,” tambahnya.

TNI Siapkan Pasukan Khusus Bebaskan WNI Disandera

BeritaBintang –  TNI telah menyiapkan pasukan khusus dari Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL), dan Angkatan Udara (AU) untuk bersiaga manakala diperintahkan untuk membantu pemerintah Filipina dalam upaya pembebasan Warga Negara Indonesia (WNI) yang disandera oleh kelompok Abu Sayyaf.

“Panglima TNI telah menyiapkan pasukan, jadi kalau diperlukan kapanpun kami siap,” kata Kapuspen TNI, Mayjen TNI Tatang Sulaiman kepada wartawan di Jakarta, Jumat (12/8/2016).

Namun, pengerahan pasukan itu akan dilakukan bila sudah ada koordinasi dan kesepakatan antara Indonesia dengan Filipina.

Saat ini pasukan militer Filipina, dibantu oleh Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF) tengah melakukan upaya pembebasan sandera. Terakhir, empat kelompok Abu Sayyaf tewas dalam pertempuran dengan MNLF di Sulu, Filipina. Salah satunya disebut sebagai salah seorang pemimpin senior kelompok bersenjata itu.

“Di sana sekarang sedang ada upaya besar-besaran dari tentara Filipina, mereka sudah bisa melumpuhkan beberapa dari anggota Abu Sayyaf. Kita berusaha mengikuti perkembangan mereka,” ujar jenderal bintang dua ini.

TNI akan langsung bergerak jika Filipina meminta bantuan dalam upaya pembebasan sandera itu. Pasukan-pasukan khusus TNI sudah disiagakan dan siap bertugas ketika mendapat perintah. Namun, hingga saat ini, Filipina belum juga meminta bantuan.

TNI Siapkan Pasukan Khusus Bebaskan WNI Disandera

“Sampai sekarang belum ada (permintaan). TNI pada prinsipnya siap. Seandainya diperlukan kita sudah siap,” tutur Kapuspen TNI.

TNI AD memiliki pasukan khusus, seperti Kopassus dan Kostrad. Pada kasus-kasus khusus seperti penanggulangan teror, Kopassus memiliki pasukan elite, Detasemen Sat-81. Kostrad juga memiliki satuan Intai Tempur (Taipur).

Sementara itu, TNI AL memiliki Detasemen Jala Mangkara (Denjaka) gabungan dari Komando Pasukan Katak (Kopaska) dan Taifib (Batalion Intai Amfibi) Korps Marinir.

Kemudian dari TNI AU, ada Pasukan Khas (Paskhas) TNI AU yang juga memiliki pasukan elite Detasemen Bravo (Denbravo) 90. Kemampuan satu anggota Denbravo setara dengan lima orang anggota TNI biasa.

Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Mulyono menyatakan, TNI AD siap kapan saja untuk membebaskan WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina Selatan.

“Saya sudah siap pasukan manakala diperintahkan ke sana. Jika sudah mendapat perintah, TNI AD akan segera meluncur dan menyerang kelompok penyandera,” kata Mulyono di Jakarta Selatan, Rabu lalu.

Jenderal Mulyono mengatakan, TNI AD memiliki pasukan Kopassus, Kostrad dan PPRC (pasukan pemukul reaksi cepat-red) yang selalu siap setiap saat. Semuanya dalam posisi siap jalan tetapi menunggu perintah dari atasan.

Kemudian dari TNI AU, ada Pasukan Khas (Paskhas) TNI AU yang juga memiliki pasukan elite Detasemen Bravo (Denbravo) 90. Kemampuan satu anggota Denbravo setara dengan lima orang anggota TNI biasa.  Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Mulyono menyatakan, TNI AD siap kapan saja untuk membebaskan WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina Selatan.  "Saya sudah siap pasukan manakala diperintahkan ke sana. Jika sudah mendapat perintah, TNI AD akan segera meluncur dan menyerang kelompok penyandera," kata Mulyono di Jakarta Selatan, Rabu lalu.  Jenderal Mulyono mengatakan, TNI AD memiliki pasukan Kopassus, Kostrad dan PPRC (pasukan pemukul reaksi cepat-red) yang selalu siap setiap saat. Semuanya dalam posisi siap jalan tetapi menunggu perintah dari atasan.

“Soal seperti apa konsep membebaskan sandera, saya tidak bisa jawab itu karena itu bukan kewenangan saya. Tugas saya adalah hanya menyiapkan pasukan,” ujarnya.

Ia juga mengaku dari TNI AD sudah menyiapkan dua batalion khusus untuk pembebasan WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf. Satu batalion terdiri atas 700-1.000 prajurit.

“Saya sudah melatih, saya sudah menyiapkan calon. Nah, tinggal tunggu perintah Panglima TNI, kalau disuruh diberangkatkan saya siap berangkatkan,” kata KSAD, menegaskan.

WNI di Budapest Berikan Sambutan Hangat untuk Rio Haryanto

BeritaBintangBUDHAPEST Pembalap Indonesia, Rio Haryanto akan menghadapi balapan Formula One seri Hungaria pada akhir pekan mendatang. Jelang balapan tersebut, Rio mendapat tanggapan hangat dari masyarakat Indonesia yang berada di Hungaria.

Seperti tercantum dalam akun TaruhanBolaOnlineTerpercaya, pembalap Surakarta tersebut sampai di bendara Liszt Ferenc pada Selasa 19 Juli 2016. Dalam kedatangannya Rio Haryanto disambut oleh Duta Besar RI untuk Hungaria, Wening Eshtyprobo.

Tak hanya disambut oleh Duta Besar Indonesia, Rio juga mendapat sambutan hangat dari para WNI yang ada di Budhapest. Para pendukung terlihat mengelu-elukan nama Rio Haryanto dan kemudian mengajaknya foto bersama.

Mendapat sambutan hangat, Rio Haryanto mengaku sangat senang. Ia mengaku lebih termotivasi untuk membalap di akhir pekan.

“Terima kasih untuk par WNI yang ada di Budhapest atas sambutannya hari ini. Saya sangan senang dan membuat saya lebih termotivasi lagi,”

Menlu Pantau Kasus Penculikan WNI via KBRI & KJRI

BeritaBintang –  Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Retno LP Marsudi menuturkan, terkait penculikan tiga warga negara Indonesia (WNI) di perairan Malaysia, pihak Kemenlu melakukan koordinasi dengan empat perwakilan RI di Malaysia serta Filipina.

Pada konferensi pers yang disampaikan oleh Menlu Retno, dipaparkan bahwa pada Minggu, 10 Juli 2016 kemarin, pihak penyandera telah menghubungi pemilik kapal di Lahad Datu, Malaysia.

Kemudian, setelah mendapatkan informasi tersebut, pihak Kemenlu langsung berkoordinasi Kedutaan Besar RI (KBRI) di Kuala Lumpur dan Manila, serta Konsulat Jenderal RI (KJRI) di Tawau dan Davao.

“Setelah menerima informasi tersebut maka Kementerian Luar Negeri telah berkoordinasi dengan empat perwakilan RI, yaitu KBRI Kuala Lumpur, Konsulat RI di Tawau, KBRI Manila dan Konsulat di Davao, untuk memantau perkembangan kasus (penculikan WNI) ini,” ujar Menlu Retno di Kemenlu, Jakarta, Senin (11/7/2016).

Menlu Retno juga mengatakan telah membuka komunikasi dengan Menlu Filipina serta Malaysia, di mana Menlu Retno meminta diberikan perhatian khusus terhadap penanganan kasus penculikan baru ini.

Dia juga menegaskan bahwa kasus penculikan WNI seperti ini merupakan kejadian yang tidak dapat ditolerir, hingga Menlu Retno meminta pemerintah Malaysia dan Filipina melakukan upaya serius untuk membebaskan para WNI tersebut.

Tujuh WNI Disandera di Filipina, Pemerintah Bentuk Crisis Centre

BeritaBintang –  Kapal pengangkut tujuh WNI yang disandera kelompok bersenjata di Perairan Filipina Selatan, tiba di Pelabuhan Balikpapan tadi pagi.

Sementara Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Panjaitan mengatakan, pihaknya masih mendalami kasus penyanderaan itu. “Kami masih melakukan pendalaman untuk upaya selanjutnya,” ujarnya di Indramayu, Sabtu (25/6/2016).

Luhut juga mengatakan, pemerintah akan membentuk Crisis Center dalam penanganan kasus ini. Informasi yang dikumpulkan lewat Crisis Centre.

“Crisis Center ini bertugas untuk mencari informasi, data, dan melakukan penanganan,” ucapnya saat melakukan kunjungan kerja di Pondok Pesantren Ass- Syafiiyah, Desa Kedungwungu, Kecamatan Krangkeng, Indramayu.

Sementara itu, enam korban selamat dari penyanderaan tiba di Balikpapan tadi pagi. Mereka akan menjalin pemeriksaan kesehatan. Selanjutnya polisi akan meminta keterangan terkait penyandareaan tujuh WNI yang merupakan rekan mereka sesama awak Kapal TB Charles.

KBRI Singapura: Tidak Benar Teman Ahok Diperlakukan seperti Teroris

BeritaBintang –   Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura membantah bahwa dua aktivis Teman Ahok telah ditahan dan diperlakukan seperti teroris oleh Otoritas Singapura.

“Dua WNI aktivis Teman Ahok tidak ditahan seperti diberitakan di sosial-media,” sebagaimana tertulis dalam pernyataan pers yang diterima BintangBola.Co , Minggu (5/6/2016).

Penyataan KBRI itu terkait dengan tudingan Teman Ahok bahwa kedua WNI yang ditahan oleh Otoritas Singapura telah diperlakukan seperti para teroris.

Kendati demikian, pihak KBRI Singapura mengakui bahwa dua aktivis Teman Ahok menang telah diinterogasi oleh Otoritas Singapura.  Itu disebabkan pemerintah Negeri Singa tidak mengizinkan negara lain melakukan aktivitas politik di Singapura.

Diketahui bahwa dua WNI aktivis Teman Ahok bernama Amelia dan Richard terbang menuju Singapura untuk menghadiri undangan sebagai pembicara dalam acara Food Festival dengan tema “Menuju Indonesia Lebih Baik, Festival Makanan Indonesia”.  

Namun, saat di Bandara Internasional Changi, keduanya dibawa ke ruang isolasi oleh petugas imigrasi bandara.

Terkait kejadian ini, komunitas Teman Ahok mengancam akan menyerbu Kedubes Singapura di Jakarta, jika kedua WNI tersebut tidak segera dibebaskan.

Buru Abu Sayyaf, Filipina Kirim Lebih Banyak Pasukan

BeritaBintang –   Otoritas keamanan Filipina telah mengirimkan pasukan lebih banyak ke wilayah Jolo demi memburu militan Abu Sayyaf yang menculik para Warga Negeri Indonesia (WNI) serta empat ABK asal Malaysia (WN Malysia).

Sebagimana dilansir dari Panduan Bermain Judi Online, Sabtu (23/4/2016) Menteri Luar Negeri (Menlu) Malaysia Datuk Seri Anifah Aman yang sempat bertemu dengan Menlu Filipina di Manila pada Kamis 21 April 2016 mengatakan bahwa saat ini pemerintah Filipina menangani kasus penculikan yang melibatkan WNI serta WN Malaysia secara serius.

“Mereka telah memberikan konfirmasi kepada saya bahwa para warga Malaysia saat ini memang berada di Jolo dan tidak pernah berdiam di satu lokasi dalam waktu yang lama,” kata Aman.

“Mereka (pemerintah Filipina) telah mengutus beberapa batalion militer yang didampingi dengan beberapa anggota dari berbagai badan keamanan di sana untuk mendiskusikan pelaksanaan operasi penyelamatan para sander,” ujar Aman.

Namun, BintangBola.co juga mewartakan bahwa Menlu Malaysia tersebut tidak bisa memastikan apakah 14 WNI yang ditawan  berada dalam divisi kelompok Abu Sayyaf yang sama dengan yang menculik para WN Malaysia.

Masyarakat Indonesia Promosi Bhinneka Tunggal Ika di Sydney

BeritaBintang –   Masyarakat Indonesia yang tinggal di Kota Sydney dan sekitarnya yang tergabung dalam Dewan Masyarakat Indonesia atau Indonesian Community Council, New South Wales (NSW) telah mempromosikan konsep Bhinneka Tunggal Ika kepada masyarakat Australia.

Seperti dikutip dari BintangBola, melalui kegiatan bertajuk ‘Harmony and Cultural Diversity Night’ yang ‎diselenggarakan di Petersham Town Hall, Sydney, berbagai elemen masyarakat Indonesia di Sydney telah mempersembahkan acara promosi kemajemukan dan kekayaan kebudayaan Indonesia melalui unsur tari-tarian daerah, pakaian tradisional hingga makanan khas nusantara, kepada publik dan pejabat pemerintah Australia.

Duta Besar RI untuk Australia, Nadjib Riphat Kesoema yang didampingi oleh Novan Ivanhoe, Acting Konsul Jenderal RI di Sydney dan sejumlah wakil masyarakat Australia dari beberapa kalangan, seperti pejabat pemerintah daerah dari Negara BagianNew South Wales, pebisnis, hingga mahasiswa dan pelajar, hadir dalam acara tersebut.

Beberapa wakil diplomat asing dari Turkey, Papua New Guinea dan Nepal, juga ikut bergabung untuk menyaksikan acara ini.

Dalam sambutannya, Dubes Nadjib mengatakan bahwa kemajemukan dan harmoni telah menjadi sebuah kisah sukses di Indonesia.‎ Kemajemukan masyarakat, etnik, bahasa dan budaya terbukti menjadi kunci kekuatan dan kesatuan bangsa dan negara Indonesia selama ini. Prestasi ini patut tidak hanya perlu terus dijaga, melainkan juga dipromosikan bersama, termasuk di Australia.

‎Oleh karena itu, menurut Dubes Nadjib, acara ini sangat penting karena selain untuk merayakan Harmony Day yang juga diperingati oleh seluruh masyarakat Australia, juga untuk mempromosikan da nmemberikan pesan yang jelas kepada publik Australia betapa masyarakat Indonesia di Australia adalah pendukung kemajemukan dan harmoni.

Ditambahkan oleh Dubes Nadjib bahwa kemajemukan Indonesia dapat menjadi salah satu contoh bagi publik Australia. Sehingga, kontribusi WNI di sini akan dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat dan Pemerintah Australia guna memperkaya multikulturalisme Australia.

Kontribusi masyarakat Indonesia ini sangat diapresiasi oleh Day Lay, Deputi urusan Multikultural New South Wales yang juga ikut hadir. Ketika memberikan sambutan, dirinya bahkan memulainya dengan menggunakan Bahasa Indonesia ‎sehingga mengundang aplaus para undangan.

Menurutnya, selama ini, WNI di Negara Bagian NSW telah banyak berperan memperkaya kemajemukan di Australia.

Sementaraitu, menurut Ketua ICC, Indra Rondonuwu, acara ini digelar sebagai upaya dan kontribusi masyarakat Indonesia untuk menunjukkan arti pentin keberagaman kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat Australia. Melalui kemajemukan ini, justru masyarakat di Australia yang berasal dari berbagai negara, akan mendapatkan manfaat yang positif.

Dalam acara tersebut, dipersembahkan sejumlah tarian dari beberapa daerah di Indonesia, seperti Tari dari Papua, Lampung, Sulawesi Selatan, danJawa. Di samping itu, ditampilkan pula tarian Aborigin, Samoa dan Hakka serta Nepal sebagai simbol harmoni di antara suku bangsa pada acara tersebut.

Di akhir acara, undangan yang hadir disuguhi beberapa makanan khas Nusantara, seperti rendang, gado-gado, dan mi goreng.