WHO

235 Ribu Orang Meninggal Dunia Setiap Tahun Akibat Merokok

BeritaBintang235 Ribu Orang Meninggal Dunia Setiap Tahun Akibat Merokok

Tren penyakit tidak menular saat ini semakin meningkat. Salah satu faktornya karena kebiasaan merokok.

WHO menempatkan Indonesia sebagai pasar rokok tertinggi nomor tiga di dunia, setelah China dan India. Prevalensi perokok laki-laki dewasanya sekira 68,8 persen di dunia.

“Kebiasaan merokok membunuh setidaknya 235.000 jiwa setiap tahun. Bahkan, menghabiskan biaya pengobatan besar mencapai Rp2 Triliyun setiap penyakitnya,” ujar Direktur Promosi Kesehatan dari Kementerian Kesehatan RI dr HR Dedi Kuswenda, MKes di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (12/5/2017).

[ Baca Juga – Wow, Restoran di London Ini Menjual Adonan Kue yang Bisa Langsung Dimakan ]

Dia menyebutkan, merokok merupakan faktor risiko penyakit tidak menular. Seperti kanker, jantung, stroke, hingga penyakit paru obstruktif.

Penyakit tidak menular tertinggi akibat rokok yang menyerang orang miskin, sekira 13,1 persen. Penyakitnya yaitu pembuluh darah atau stroke.

Sayangnya, kini kebiasaan merokok tak hanya dilakukan oleh dewasa laki-laki. Kaum remaja usia 15-24 tahun juga sudah banyak yang menghisap rokok.

“Kalangan remaja yang merokok jelas menurunkan kualitas generasi muda dan menjadi ancaman bonus demografi,” tegasnya.

Suka Makan Sosis dan Hotdog? Hati-hati, Bisa Picu Kanker Usus Besar dan Dubur

BeritaBintang – Makan daging olahan seperti sosis dan hotdog bisa menyebabkan kanker. Demikian dikatakan Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO).

Ditambahkan, makan daging merah kemungkinan juga berdampak demikian.

Laporan Badan Internasional untuk Penelitian Kanker WHO (IARC) tersebut mengevaluasi lebih dari 800 kajian dari beberapa benua tentang daging dan kanker.

Para pakar memperoleh temuan, makan 50 gram daging olahan setiap hari, meningkatkan kemungkinan terkena kanker usus besar dan dubur sampai 18 persen.

Akibatnya, instansi itu menggolongkannya sebagai “karsinogenik bagi manusia”, kategori yang sama dengan agen penyebab kanker seperti asbes dan rokok.

Daging olahan bisa mencakup hotdog, sosis, kornet, dan daging kering seperti dendeng.

Daging diolah dengan beberapa cara termasuk pengasinan, pengawetan, fermentasi, pengasapan “atau proses untuk menambah rasa atau supaya lebih tahan lama.”

Sedangkan daging merah, menurut badan WHO itu, “mungkin merupakan karsinogenik bagi manusia”.

Hasil evaluasi menunjukkan “bukti kuat mekanistik mendukung efek karsinogenik” akibat mengonsumsi daging merah – tidak hanya kanker kolorektal, tetapi juga kanker pankreas dan prostat.

“Temuan-temuan itu kian mendukung rekomendasi kesehatan masyarakat saat ini untuk membatasi asupan daging,” kata Direktur IARC Christopher Wild.

Institut Daging Amerika membantah laporan itu dan mengatakan, puluhan kajian menunjukkan tidak ada kaitan antara kanker dan daging.

Sebaliknya, hasil kajian lain menunjukkan manfaat makan daging bagi pola makan sehat.

Diperkirakan sepertiga lelaki Cina mati muda karena rokok

BeritaBintang – Sebuah studi mengungkapkan sepertiga lelaki Cina berusia di bawah 20 tahun akan meninggal pada usia muda, jika mereka tidak berhenti merokok.

Ilmuwan Universitas Oxford, Akedemi Ilmu Kesehatan Cina, dan Pusat Kendali Penyakit Cina meneliti kasus ini lewat dua studi terpisah, selama 15 tahun dan melakukan survei pada ratusan ribu orang.

Hasil penelitian yang dirilis di The Lancet menyebut dua pertiga pria Cina pertama kali merokok sebelum berusia 20. Sekitar separuhnya akan meninggal karena kebiasaan tersebut.

Jika tren ini terus berlanjut, maka jumlah kematian per tahun akibat tembakau di Cina akan mencapai dua juta orang pada 2030, dengan mayoritas korban adalah laki-laki.

Riset menyebut kondisi ini sebagai ‘wabah kematian dini’.

Sama seperti dengan di beberapa kalangan masyarakat di Indonesia, biasanya usai makan kebanyakan lelaki di Cina langsung merokok.

Pertemanan dan bisnis pun tidak jarang ‘dibangun’ di tengah kepulan asap rokok.

Tidak heran pemerintah Cina kesulitan menerapkan larangan merokok di tempat umum. Apalagi negara itu masih melihat penjualan rokok sebagai salah satu cara mendulang pajak.

Di negeri Tirai Bambu ini, rokok pun bisa menjadi oleh-oleh dengan dibandrol lewat harga tinggi ketika rokok dilengkapi aksesoris bermotif keemasan pada kemasannya.

Namun, untuk masyarakat miskin Cina, juga dijual rokok dengan harga murah seharga 2,5 yuan atau sekitar Rp5.000 per bungkusnya.

Alhasil, ketika jumlah perokok di negara maju terus menurun, jumlahnya justru melonjak di Cina. Apalagi ketika ekonomi membaik dan jumlah orang kaya bertambah.

Di negara tempat orang merokok sebagai kebiasaan yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari, hanya sedikit orang yang paham efek buruk dari penggunaan tembakau.

Berdasarkan data Lembaga Kesehatan PBB, WHO, hanya 25% orang dewasa Cina yang bisa menyebutkan efek buruk merokok, mulai dari kanker paru-paru hingga sakit jantung.

Sehingga tidak mengherankan, hanya 10% perokok Cina yang berhenti karena pilihannya sendiri sedangkan sebagian besar akhirnya berhenti merokok karena mereka sudah terlalu sakit.

Besarnya Risiko Penyakit pada Bayi Bila Dilahirkan Caesar

BeritaBintang – Melahirkan secara caesar seringkali diperlukan untuk menyelamatkan nyawa dan mencegah cedera. Namun, berdasarkan penelitian terbaru yang dilansir dari laman Reuters, melahirkan dengan prosedur operasi caesar dapat membuat bayi rentan terhadap masalah kesehatan kronis, contohnya asma, diabetes, dan obesitas.

Banyak penelitian, termasuk pula studi ini, yang tidak dapat membuktikan bahwa persalinan bedah ini bisa menyebabkan masalah medis di kemudian hari, tapi terdapat hubungan yang cukup kuat.

Para ibu harus mendiskusikan risiko persalinan dengan dokter atau bidan mereka. Apakah harus melanjutkan persalinan lewat prosedur caesar, apalagi jika persalinan normal melalui vagina mungkin untuk dilakukan? Kata penulis penelitian Jan Blustein.

“Ini adalah diskusi penting melihat kian meningkatnya persalinan caesar,” kata Blustein, yang juga merupakan profesor kedokteran di bidang kebijakan kesehatan di Universitas New York.

Idealnya, jumlah persalinan caesar tidak lebih dari 15 persen persalinan, menurut Organisasi Kesehatan Dunia. Itu adalah perkiraan kelahiran yang memerlukan intervensi bedah untuk melindungi ibu dan bayi dalam situasi tertentu, misalnya persalinan yang panjang, indikasi gawat pada janin, atau bayi sungsang.

Di beberapa negara, di antaranya Amerika Serikat, Meksiko, Brasil, Australia, dan Italia, persalinan caesar jumlahnya lebih dari dua kali lipat dari tingkat yang direkomendasikan WHO.

Blustein dan rekan penelitiannya Jianmeng Liu dari Institut Reproduksi dan Kesehatan Anak di Beijing menulis dalam British Medical Journal, tingkat persalinan caesar yang tinggi di beberapa negara seharusnya tidak perlu terjadi karena beberapa persalinan bedah adalah pilihan, dilakukan karena perempuan memintanya. Atau karena, ibu yang pernah menjalani persalinan bedah didorong untuk melakukan persalinan bedah kembali.

Di Amerika Serikat, sekitar sepertiga jumlah persalinan caesar, yakni 2,13 persen dari 1000 bayi yang lahir dengan persalinan caesar mengembangkan diabetes tipe satu, jika dibandingkan dengan 1,79 per 1000 bayi yang lahir lewat persalinan normal, berdasarkan temuan studi tersebut.

Sekitar 9,5 persen bayi yang melalui persalinan caesar mengembangkan penyakit asma, dibandingkan dengan 7,9 persen bayi yang lewat persalinan normal. Sementara itu, obesitas berkembang pada 19,4 persen anak-anak yang dilahirkan lewat bedah caesar, dibandingkan dengan 15,8 persen yang dilahirkan secara normal lewat vagina, kata penelitian tersebut.

Mengapa persalinan caesar mengakibatkan masalah kesehatan kronis tidak secara pasti dijelaskan. Namun, satu teori umum mengatakan, bahwa perempuan dapat memberikan bakteri ‘baik’ untuk bayi saat persalinan normal yang dapat melindungi bayi dari penyakit, kata Blustein.

Kemungkinan, itu adalah hormon yang dilepaskan selama persalinan yang dapat meminimalkan risiko, katanya.