TNI

Masuk Daftar Teroris Global, Ruhut Akui Kehebatan Santoso

BeritaBintang – Anggota Komisi III DPR RI Ruhut Sitompul menyambut positif keputusan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat yang memasukkan teroris asal Indonesia, Santoso dalam Specially Designated Global Terrorist (SDGT).

Sikap Negeri Paman Sam itu menurut Ruhut sebagai bentuk perang terhadap terorisme yang semakin meresahkan kehidupan masyarakat.

“Saya rasa wajar, kenapa demikian kan, dalam kesepakatan inrternasional, teroris, narkoba, koruptor ada agreement saling bantu membantu, jadi Santoso sudah lama sekali permasalahan dia,” kata Ruhut kepada Okezone, di Jakarta, Rabu (23/3/2016).

Di sisi lain, politikus Partai Demokrat itu tak meragukan kekuatan Indonesia dalam menangani Santoso dan kelompoknya. Bahkan, operasi gabungan antara polisi dan TNI sudah berhasil menemukan titik persembunyian kelompok tersebut.

“Jadi, adanya ini mungkin bisa bantu teknologi, tetap percayakan, tidak usah diragukan Densus, Koppassus, Denjaka dan lainnya, bisa mengatasi itu, jadi kalau mau ramai-ramai mengangkat itu enggak masalah untuk kebaikan,” kata Ruhut.

Ruhut sendiri mengakui kehebatan Santoso yang selama ini sulit ditangkap, meski tetap berada di Indonesia.

“Dia enggak ke mana-mana kan, di Indonesia tapi belum ditangkap, hebat dong,” tuntasnya.

Adik Kapten Yanto Tak Ada Firasat Bakal Ditinggal Kakaknya

BeritaBintangTANGERANG – Adik Kapten Yanto yang tewas dalam insiden jatuhnya helikopter TNI di Poso, Nino, mengaku tidak memiliki firasat apa-apa sebelum sang kakak meninggal.

“Tidak ada firasat apa pun, semua biasa saja. Namun ketika kami mendapat kabar tersebut, ibu langsung pingsan,” katanya, Senin (21/3/2016).

Kapten Yanto dikenal sebagai pribadi yang baik. Nino mengatakan, sosok Yanto sangat baik dan santun kepada keluarga. Ia juga menyayangi kedua orangtuanya, terutama sang ibu, Aipah.

Tak hanya itu, pribadi ramah dan mudah bergaul sangat melekat pada sosok Kapten Yanto di lingkungan tempat tinggalnya.

“Pak Yanto ini ramah, mudah bergaul, dan baik sama tetangga. Sebelum tinggal di messnya daerah Cilandak, Kapten Yanto sangat dekat dengan warga,” tutur salah satu tetangga korban, Yamin

Peninggalan Penghuni Kalijodo Berserakan di Lokasi

BeritaBintang –Kawasan Kalijodo, Jakarta, kini sudah rata dengan tanah. Puing bangunan serta barang-barang sisa penghuni lokasi itu bertebaran di jalan.

Tak jarang, sejumlah barang peninggalan warga Kalijodo ini menyita perhatian, baik petugas maupun awak media. Di antara barang itu terdapat foto wanita yang diduga biasa dipampang di dinding wisma, alat kontrasepsi, alat musik keyboard yang pada bagian atasnya terdapat foto seorang wanita.

Penemuan benda-benda itu sempat membuat beberapa petugas tertawa. “Buset ada ada aja yang ketinggalan,” ujar seorang anggota TNI tertawa saat menemukan sebuah alat kontrasepsi yang tergeletak di tengah jalan.

SO Maret, Pembuktian RI Belum Lenyap dari Peta Dunia

BeritaBintang –   APA jadinya jika di hari ini, 1 Maret pada 67 tahun silam (1949), tak dilancarkan sebuah ofensif dadakan, sebuah serangan spektakuler yang saat ini, lebih dikenal dengan Serangan Oemoem (SO) 1 Maret?

Mungkin jalannya sejarah bangsa ini akan berbeda. Atau bisa saja negeri ini bakal masih akan berada di bawah ‘ketek’ Belanda.

Pasalnya sejak Negeri Kincir Angin itu melancarkan Agresi Militer II berkode Operatie Kraai (Operasi Gagak) pada 19 Desember 1949, Ibu Kota Republik Indonesia (RI) yang kala itu bertempat di Yogyakarta, berada dalam kuasa Belanda.

Sejak saat itu pula Belanda memaparkan pada dunia, terutama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), bahwa RI sudah dihapus dari peta dunia. Perlawanan kecil yang mereka hadapi setelah itu juga hanya dianggap aksi-aksi sporadis gerombolan, bukan tentara (TNI).

Resolusi Dewan Keamanan PBB (DK-PBB) yang keluar pada 28 Januari 1949 dan berintikan gencatan senjata, pembebasan tawanan politik RI, serta pengembalian Ibu Kota RI pun ditolak Belanda dengan alasan, RI sebagai negara sudah tak lagi eksis.

Situasi ini turut menjadi fokus pemikiran Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) IX yang kemudian, menyurati Panglima Besar Jenderal Soedirman, untuk “bertindak” demi menyanggah propaganda Belanda di dunia bahwa RI sudah punah.

Surat yang dikirim pada awal Februari 1949 itu ditindaklanjuti dengan melayangkan instruksi kepada Markas Gubernur Militer III/Divisi III pimpinan Kolonel Bambang Soegeng.

Lewat gagasan penasihat Gubernur Militer III, Overste (Letkol) Dr. Wiliater Hutagalung, disebutkan bahwa serangan terkoordinir ini mesti sampai ke kuping para pembesar internasional. Sebelumnya, sasaran serangan sempat didebatkan, apakah ke Semarang, Solo atau Yogya.

Tapi muncul inisiatif Kolonel Bambang Soegeng, bahwa Yogya-lah yang mesti jadi target, lantaran pada medio Februari-Maret 1949, para utusan UNCI (Komisi PBB untuk Indonesia) dan sejumlah wartawan asing masih mengadakan pertemuan di Hotel Merdeka (sekarang Hotel Inna Garuda).

Singkat kata, rancangan serangan pun sudah tersusun rapi, di mana SO ini akan dilancarkan pada akhir jam malam tanggal 1 Maret, sekira pukul 06.00 pagi. Tapi sebelum itu, masih ada persoalan lain, terkait bagaimana caranya serangan ini bisa sampai ke dunia internasional?

Di sinilah peran Angkatan Udara RI (AURI, kini TNI AU), meski secara kekuatan AURI tak memiliki personel sebesar TNI AD pada waktu itu.

Penuturan perwira komunikasi radio AURI, Kapten Boediardjo (Eks Menteri Penerangan RI 1968-1973) menyatakan bahwa satu malam sebelum serangan, dia didatangi Wakil II Kepala Staf Angkatan Perang, Kolonel Tahi Bonar Simatupang dengan sebuah teks pernyataan, untuk segera disiarkan pasca-SO 1 Maret.

“Saya menerima teks dan briefing secukupnya, diwanti-wanti untuk menyiapkan besok malamnya, setelah terjadi SO 1 Maret 1949. Tulisan Pak Simatupang tersusun jelas, dalam bahasa Inggris yang bagus dan rapi,” urai Boediardjo dalam buku ‘Kontroversi Serangan Umum 1 Maret 1949’ (hal.73).

Dengan peralatan sedehana dari Radio PC2 di Playen, dekat Wonosari (DIY) itu, tatkala Ibu Kota dikuasai selama enam jam oleh TNI dan rakyat, disiarkanlah teks tersebut yang ditangkap pemancar di Sumatera Utara, hingga bisa di-relay ke Burma (kini Myanmar), New Delhi (India), hingga terdengar pula ke perwakilan RI di sidang DK PBB

Tidak hanya itu, saat Yogya masih dikuasai, sejumlah anggota PEPOLIT (Pendidikan Politik Tentara) dari Satuan Tentara Pelajar nan tegap-tegap, berseragam perwira TNI dan fasih berbahasa Inggris, Belanda dan Prancis, mendatangi para delegasi UNCI di Hotel Merdeka.

Mereka memaparkan bahwa serangan ini sebagai bukti bahwa TNI dan RI masih ada. Sementara Belanda baru bisa “memulihkan” Yogya siang hari, setelah berhasil mendatangkan Batalion V “Andjing NICA” dan “Gadjah Merah” dari utara Yogyakarta.

Propanda Belanda selama ini pun terbantahkan. Penjelasan Panglima Tentara Belanda, Letjen Simon Hendrik Spoor kepada pemerintah Belanda dan dunia bahwa serangan itu bukan dilakukan TNI pun seolah tak berarti.

Diplomasi Indonesia mulai menguat, lantaran mata dunia terbuka lebar dan sadar, bahwa RI belum sepenuhnya punah. Akan tetapi, bukan berarti Belanda tak bikin perhitungan. Tercatat pada 18 Maret 1949, tentara Belanda melakukan aksi “pembersihan” hingga aksi pembakaran permukiman sipil di Godean.

Belanda memaparkan pada PBB bahwa aksi itu merupakan bentuk “pertahanan” diri Belanda yang kemudian dibantah utusan Indonesia untuk PBB, L.N. Palar. Dalam ketentuannya, DK PBB, sebagaimana dikutip buku ‘Mohammad Roem: Karier Politik & Perjuangannya: 1924-1968’ di hal. 79, kembali mengeluarkan instruksi.

DK-PBB menginstruksikan UNCI untuk menggelar konferensi pendahuluan antara pemerintah RI dan Belanda demi mencapai tiga poin penting: Pengembalian Ibu Kota RI, penghentian tembak-menembak dan rencana Konferensi Meja Bundar (KMB).

Instruksi itu bersedia diterima RI dengan syarat bahwa Belanda harus lebih dulu angkat kaki dari Ibu Kota RI yang akhirnya dituruti Belanda, 29 Juni 1949.

Di sisi lain, “nasib” militer dan klaim Belanda atas penguasaan Indonesia, mengalami pukulan telak lainnya pada bentrokan kolosal terakhir, pada Serangan Oemoem Solo atau Serangan Empat Hari Solo pada 7-10 Agustus 1949.

Di atas semua itu, setidaknya catatan-catatan penting tentang sejarah bangsa ini, terutama mengenai SO 1 Maret, hendak kembali diingatkan komunitas penggiat sejarah, Djokjakarta 45.

Bersama sejumlah instansi pemerintah daerah, seperti Pemerintah Kota Yogyakarta, Dinas Kebudayaan Provinsi DIY, Paguyuban Wehrkreise (PWK) III Kota Yogyakarta, serta Museum Benteng Vredeburg, bakal digelar serangkaian event peringatan sedari tanggal 26 Februari 2016 lalu, hingga 6 Maret 2016 mendatang bertemakan ‘Yogyakarta Benteng Proklamasi’.

“Rangkaiannya dari kerja bakti (membersihkan) Tetenger Keben Kraton Yogyakarta pada 26 Februari, lomba lukis di Museum Benteng Vredeburg, tirakatan (jelang SO 1 Maret), upacara, pembukaan pameran, sampai teatrikal di tanggal 6 Maret,” ungkap Ketua Djokjakarta 45, Eko Isdianto kepada Okezone.

“Pada upacara (pagi ini, Selasa 1 Maret 2016) di Plaza Monumen Serangan Umum, rencananya dipimpin Wali Kota (Yogyakarta, Haryadi Suyuti), tapi diusahakan dipimpin Gubernur (DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X). Soal ini, permintaannya sudah via Dinbud DIY, tapi yang sudah pasti siap Wali Kota,” tambahnya.

Warga Kalijodo Siap Sambut Kedatangan Ratusan Polisi

BeritaBintang –    Warga Kalijodo akan menyambut para petugas keamanan gabungan yang dikabarkan akan melakukan sweeping di kawasan lokalisasi tersebut.

“Kita lihat saja nanti bagaimana, kami akan ada di sana,” kata Kuasa hukum warga Kalijodo, Razman Arif Nasution kepada BintangBola, Kamis (18/2/2016).

Menurutnya, cara Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) melakukan penertiban Kalijodo terkesan memaksakan diri, tanpa memperhatikan hak-hak warga Jakarta.

“Dia gaya-gaya diktator, kami sudah meminta Ahok untuk berdialog dengan kami, namun tidak ada respon,” tegasnya.

Rasman mengaku curiga ambisi Ahok ingin menertibkan kawasan tersebut, diduga ada hubungannya dengan moment hajatan pilkada yang akan digelar di Ibu Kota.

“Ada moment pilkada kan sebentar lagi,” tuturnya.

Sebagaimana diketahui, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Tito Karnavian menegaskan akan melakukan operasi untuk membersihkan para pelaku kejahatan jalanan yang bersarang di Kalijodo.

Dalam operasi yang akan digelar hari ini melibatkan ratusan personil Polri, yang akan dibantu oleh anggota TNI dan Satpol PP.

“Operasi penyakit masyarakat mulai besok sudah main, tempat itu harus bersih dari pelanggaran penyakit, jika melawan dan menghalang-halangi akan dilakukan penegakan hukum,” tutup Tito.

Amankan Natal, Polisi Cilik Diterjunkan di Jakbar

BeritaBintang –  Kepolisian Sektor Metro Kebon Jeruk menurunkan sejumlah petugasnya di 17 Gereja yang tersebar dibeberapa wilayah Jakarta Barat guna melakukan pengamanan jelang perayaan puncak Natal hari ini , 25 Desember 2015.

Kapolsek Kebon Jeruk, AKP Eka Baasit mengatakan, pengamanan hari besar yang terjadi pada bulan Desember melibatkan tiga pilar yang diantaranya adalah TNI, Polisi, dan juga Pemda setempat.

“Salah satunya pengamanan di Gereja Santo Andreas Kedoya Utara, pengaman ini dilakukan oleh tiga pilar, yakni TNI, Polri dan Pemda, bahkan dari ormas FBR turut membantu,” ujarnya kepada Bioskop168 melalui pesan singkat, di Jakarta, Kamis  (24/12/2015).

Selain itu, Eka juga membeberkan, bahwa tedapat empat personil kepolisian disetiap gereja untuk menjaga jalannya perayaan Natal sejak malam ini, hingga besok hari, hal tersebut dilakukan mengantisipasi adanya ancaman tindak kriminilitas.

“Ada 17 gereja disetiap gereja rinciannya terdapat empat orang dari polisi, empat orang dari TNI, dan 11 orang Bhayangkara, serta delapan bantuan dari ormas FBR,” tuturnya.

Selain pengamanan, puluhan Polisi Cilik (Pocil) juga diterjunkan untuk membagikan Maklumat Kapolres Jakarta Barat, Kombes Pol Rudy Heryanto tentang ajakan terhadap masyarakat untuk berperan menciptakan suasana yang kondusif.

“Ada juga Pocil, mereka bertugas membagikan maklumat dari Kapolres Jakarta Barat, ke pengguna jalan, dalam maklumat tersebut mengajak kepada seluruh masyarakat agar berpartisipasi menciptakan kondisi yang aman,” tutupnya.

1.169 Pasukan Perdamaian TNI Berangkat ke Lebanon

BeritaBintang – Komandan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI Brigjen TNI A.M. Putranto melepas keberangkatan prajurit TNI yang tergabung dalam pasukan Kontingen Garuda UNIFIL dalam rangka misi PBB di Lebanon.

Pelepasan itu berlangsung di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Selasa malam (15/12/2015) malam.

Komandan PMPP TNI dalam pengarahannya menyampaikan pesan Panglima TNI yaitu: para prajurit TNI harus melakukan yang terbaik demi Merah Putih, sebagai prajurit TNI mempunyai rasa kesatria dan profesional, tentunya tidak lepas dari disiplin.

Kedua, melakukan komunikasi dengan prajurit-prajurit atau tentara negara lain yang bergabung didalam UNIFIL, tunjukan performance kalian yang terbaik bahwa kalian memang betul-betul prajurit TNI yang disegani, dihormati karena sudah tahun ke-11 ini belum pernah Kontingen Garuda Indonesia membuat malu atau karena perbuatan seseorang ataupun oknum dan ini berlaku diseluruh misi dari 16 misi, sembilan misi kita melakukan penugasan-penugasan hingga saat ini tidak ada yang melakukan hal-hal yang tercela.

“Oleh karena itu, tugas kalian cukup berat untuk mempertahankan ini,” kata Brigjen TNI A.M. Putranto.

Ketiga, lakukan komunikasi pendekatan dengan masyarakat Lebanon seperti yang dilakukan di Indonesia, sebagai prajurit yang disiplin, ramah, sopan dan lebih suka tolong-menolong, juga jiwa itu tetap tertanam didalam diri setiap prajurit dengan tetap menjaga imparsial atau netral.

Keempat, selalu melakukan kegiatan didahului dengan berdoa dan diakhiri dengan berdoa demi keselamatan para prajurit.

“Saya berangkatkan sejumlah 1.169 prajurit TNI, Insya Allah saya terima dalam keadaan utuh kembali setahun kemudian. Itu doa saya, doa kami dan kami juga melakukan yasinan setiap hari Jumat untuk mendoakan kalian dari saya apa yang menjadikan pelajaran itu sifatnya mengantar supaya kalian lebih profesional dalam bidangnya, lakukan yang terbaik kemudian jangan pernah luntur untuk terus melakukan hal-hal yang positif untuk kepentingan masyarakat Lebanon,” kata Brigjen TNI A.M Putranto.

Dari 1.169 Prajurit TNI tersebut terbagi dalam beberapa Satgas, yaitu: 850 personel Batalyon Mekanis TNI Konga XXIII-J/Unifil dipimpin Letkol Inf Dwi Sasongko, S.E., 75 personel Military Police Unit (MPU) Konga XXV-H/Unifil dipimpin Letkol Cpm Zulkarnain SH, 150 personel Force Protection Company (FPC) Konga XXVI-H2/Unifil dipimpin Mayor Inf Catur Sutoyo, 50 personel Satgas Force Headquarter Support Unit (FHQSU) Konga XXVI-H1/Unifil dipimpin Kolonel Kav Jala Argananto, 6 (enam) personel Satgas Cimic TNI Konga XXXI-F/Unifil dipimpin Kapten Inf Batara Alex Bulo, 18 personel Satgas Military Community Outreach Unit (MCOU) Konga XXX-F/Unifil dipimpin Mayor Inf Roni Agus Widodo, sembilan personel Satgas Level 2 Hospital Konga XXIX-G/Unifil dipimpin Mayor Ckm Dr. Purbanto Budi Susetyo, SPM, dan 11 personel Milstaf Seceast Unifil dipimpin Kolonel Inf Abdul Rahman.

Turut melepas dalam pemberangkatan tersebut keluarga para prajurit TNI yang akan bertugas dalam misi PBB.

Marak Aksi Teror, Bandara Ngurah Rai Berstatus Waspada

BeritaBintang – Maraknya aksi terorisme belakangan ini membuat Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, Bali, ditingkatkan statusnya. Bandara terbesar di Bali itu kini berstatus waspada.

Keputusan itu diambil setelah Kementerian Perhubungan mempertimbangkan saran dari Badan Intelijen Negara (BIN), di mana terjadi sejumlah aksi teror terhadap maskapai penerbangan di berbagai negara. Hal itu diakui General Manajer PT Angkasa Pura I Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Trikora Harjo, Rabu, 25 November 2015.

“Kami memang memperketat keamanan, status dari normal menjadi waspada. Tentu hal ini untuk mengantisipasi aksi teror,” kata Trikora saat dikonfirmasi.

Menurut Trikora, peningkatan status itu sesuai surat edaran dari Kementerian Perhubungan. Ia melanjutkan, peningkatan status itu bermakna pada peningkatan keamanan di Bandara Ngurah Rai.

Kata Trikora, pihaknya telah melakukan penyiapan keamanan tambahan berupa peralatan dan personel keamanan di seluruh kawasan Bandara Ngurah Rai.

Selain itu, ada penambahan peralatan seperti, X-Ray, detector, body scanning, detector logam serta penambahan CCTV di sejumlah titik yang dianggap rawan. Tak hanya itu, petugas juga dilengkapi dengan explosive detection system (sistem deteksi bahan peledak) dan pengerahan anjing pelacak.

Pengamanan ini juga melibatkan unsur pengamanan internal bandara, TNI dan Polri serta melibatkan pecalang.

Kata Arzetti Malu-malu: Sepertinya Akan Saya Kasih

BeritaBintang – Didampingi sang suami, Aditya Setiawan alias Didit, Arzetti Bilbina membantah kabar penggerebekan dan perselingkuhan dirinya dengan petinggi TNI.

Sambil mencium kening Arzetti, Didit meyakinkan kalau rumah tangganya baik-baik saja.

“Kita sekeluarga baik-baik saja kok. Suami nanya, kan wajar,

Sambil sedikit berkelakar, Didit malah meminta Arzetti untuk mengabulkan keinginannya menambah momongan.

Sebab, Didit tak ingin rumah tangganya yang selama ini dikenal harmonis, ternoda dengan kabar perselingkuhan.

“Jangan sampai isunya enggak-enggak. Kita selama ini harmonis. Kita minta doa sama teman-teman, punya putra-putri yang baik juga dan Insyaallah nambah,” canda suami Arzetti.

“Iya kan Bu, boleh nambah?” tanya Didit kepada Zetti.

Selama mendengar pernyataan suami, Arzetti tertunduk.

Tanpa banyak bicara, Arzetti mengamini keinginan suami untuk menambah momongan.

“Ini teguran sekaligus rasa sayang Allah kepada saya. Ini ujian buat aku.”

“Saya jadi lebih cinta ke suami saya, kan, minta anak juga sama saya. Sepertinya akan saya kasih,” kata Arzetti malu-malu.

Perkenalan Arzetti dan Dandim

Anggota DPR berlatar belakang dunia hiburan, Arzetti Bilbina membantah dirinya digerebek petugas Denpom TNI saat berduaan atau selingkuh dengan Komandan Kodim Sidoarjo, Letkol Kav Rizeki di sebuah kamar hotel di Malang, Jawa Timur pada Minggu (25/10/2015).

Namun, ia mengakui adanya pertemuan dengan sang Dandim berbadan tegap itu di hotel tersebut. Menurutnya, pertemuan tersebut murni hanya membicarakan soal program CSR dirinya selaku anggota DPR.

Arzetti mengaku awal perkenalannya dengan sang Dandim terjadi dalam sebuah acara di Sidoarjo pada bulan Ramadan atau Juli 2015 lalu. Perkenalannya dengan perwira mengenah TNI itu diketahui suami Arzetti, Adtya Setiawan Wicaksono.

“Awal pertemuannya saat itu ada acara kampung Ramadhan,” kata Arzetti dalam jumpa pers didampingi suaminya, Adtya Setiawan Wicaksono, Jakarta, Rabu (28/10/2015).

“Waktu itu, mas Didit ada di sana. Istri beliau juga ada di sana,” katanya.

Menurutnya, perkenalannya dengan Dandim saat itu makin akrab lantaran suami Arzetti juga berasal dari keluarga TNI alias anak kolong.

Saat itu, sang Dandim dengan senang hati menawarkan bantuan kepada Arzetti selaku anggota DPR dari Dapil Jawa Timur I (Surabaya-Sidoarjo).

“Saya bercerita dapil saya. Lalu, ia tanya apa yang bisa saya lakukan, apa yang bisa dibantu. Saat kenalan, beliau tahu saya juga dari KPA, Keluarga Besar ABRI, karena tahu suami saya juga dari keluarga Angkatan. Jadi, kemudian nyambung,” ujar Arzetti.

Faktor persamaan latar belakang keluarga anggota TNI itu membuat Arzetti mempunyai kedekatan batin dengan sang Dandim hingga akhirnya silaturahmi keduanya terjalin sampai kini.

Karena alasan itu pula Arzetti mengaku mudah komunikasi atau connect saat berdiskusi dengan sang Dandim. “Nggak tahu yah, ini seperti ada kedekatan batin saja,” akunya.

Arzetti menegaskan, kedekatan batin dirinya itu juga berlaku kepada sesama anggota atau keluarga anggota TNI lainnya.

“Tidak hanya kepada beliau saja. Kalau tahu ada kedekatan keluarga angkatan, masya Allah, teman-teman ibu dan mertua saya saja ketika bertemu saya di jalan kita saling tegur,” ujarnya.

Arzetti mengaku telah mengenal sejumlah perwira menengah TNI sebelum masuk menjadi anggota DPR RI. Hal itu pun dikarenakan kesamaan latar belakang keluarga suaminya yang juga anggota TNI.

“Ini kan mas Didit anak kolong. Kecilnya di sana, sepupunya yang TNI di sana semua. Jadi pas kebetulan kemarin ketemu di lobi Savana, itu nggak jadi berita,” akunya.

Karena tawaran bantuan saat itu, Arzetti pernah berkomunikasi dengan sang Dandim membahas tentang program CSR hingga akhirnya direncanakan pertemuan di hotel di Malang di sela kesibukanya sebagai salah seorang pengurus Fatayat NU di Bromo.

Menurut Arzetti, pertemuannya dengan sang Dandim di Hotel Arjuna, Malang, Jatim pada Minggu kemarin tidak terlepas karena dirinya juga berniat mengkomodir permintaan keluarga untuk bertemu.

a mengakui di tengah pertemuannya dengan sang Dandim di hotel tersebut, suaminya yang akrab disapa Didit itu datang. Namun, Arzetti menepis bahwa saat itu juga berdatangan para petugas dari Denpom Malang seperti dilansir oleh pihak TNI AD.

Arzetti membantah dirinya digerebek oleh petugas Denpom Malang karena kedapatan tengah selingkuh di kamar hotel itu.

“Di situlah kami diskus membahas mengenai proposal dan program CSR. Di situ bukan saya aja, tapi ada ajudan beliau juga, di situ beliau juga pakai baju dinas dan ada mobil dinas. Saya pun secara resmi dengan keluarga Didit yang janji akan datang,” tandasnya.

Ia tak menerima peristiwa di hotel itu disebut sebagai penggerebekkan.

“Jangan dong sayang.., sedih banget nanti. Itu nggak ada. Itu kan dari orang lain. Yang jelas, dari pribadi aku, bahwa suami aku yang jemput aku,” ucap lirih Arzetti saat dikonfirmasi seusai jumpa pers.

Sosok Arzetti, Anggota DPR yang Ditangkap Berduaan dengan Perwira TNI di Hotel

BeritaBintang – Nama lengkapnya Arzetti Bilbina.

Menikah dengan seorang pengusaha bernama Aditya Setiawan, membuat nama Arzetti bertambah satu kata  menjadi Arzetti Bilbina Setiawan.

Anggota DPR yang yang mengawali karirnya sebagai artis ini lahir di Lampung, 4 September 1976.

Sejumlah literatul menyebut Arzetti adalah keturunan Minangkabau.

Sebelum terjun ke politik menjadi anggota DPR dari PKB, Arzetti awalnya dikenal sebagai model kawakan.

Tak hanya berlenggak-lenggok di catwalk, Arzetti juga menjajal kemampuannya dalam dunia akting dengan membitani sejumlah serial TV dan sinetron.

Namanya pun melambung. Dia pernah menjadi bintang televisi FTV “Ajari Aku Cinta” dan sinetron “Romantika”.

Jangan tanya, daftar sinetron yang dia pernah bintangi berjubel diantaranya Cinta Bersemi di Putih Abu-Abu The Series, Super ABG, Putih Abu-Abu 2, Ji Ung Pendekar Cabe Rawit,dan Si Biang Kerok Cilik.

Arzetti juga menjadi juri reality show Mamamia Show yang ditayangkan stasiun televisi Indosiar di pertengahan 2007 hingga sekarang.

Selain aktif di dunia hiburan, Arzetti juga menjadi anggota DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa. Ia menjadi anggota parlemen setelah Imam Nahrawi terpilih menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga pada Kabinet Kerja.

Hingga kini dia masih menjadi anggota DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa untuk periode 2014-2019 dari daerah pemilihan Jawa Timur.

Arzetti Bilbina dikabarkan tertangkap sedang berduaan dengan seorang perwira militer TNI di sebuah hotel di Malang Jawa Timur pada Minggu (25/10/2015), sekitar pukul 13.30 WIB.

Kepala Dinas Penerangan TNI AD (Kadispenad) Brigjen Sabrar Fadhilah membenarkan terkait penangkapan itu.

“Jadi peristiwa itu benar. Kejadian ditangkap tanggal 25 Oktober 2015, sekitar pukul 13.00 WIB,”

Arzetti yang dikonfirmasi pers membantah hal itu. Dia mengaku ketika itu edang berada di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, menghadiri acara Fatayat NU.

“Saya berada di Bromo bersama Fatayat NU,” terang Arzeti melalui pesan elektroniknya.

Namun, Arzeti mengaku, ia dan suaminya, Aditya Setiawan, memang mengenal perwira TNI dimaksud.