Tirai Bambu

BERITA FOTO: Kabut Asap Kian Parah, Langit China Berubah Jadi Berwarna Pink

BeritaBintang – Kabut asap parah yang menyelimuti China mencapai “level terbaru”, ditandai dengan perubahan warna langit yang ekstrem.

Kantor berita AFP melaporkan, Kamis (24/12/2015), akibat saking parahnya kabut, langit di kota Nanjing berubah warna menjadi pink atau merah muda, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Warna langit itu menjadi bahan pembicaraan netizen negeri Tirai Bambu, terutama di jejaring sosial Weibo.

Bahkan, kantor berita resmi Xinhua ikut mengicaukan gambar itu melalui akun Twitter-nya.

Diyakini, warna pink ini disebabkan oleh refraksi matahari terbenam oleh partikel-partikel kabut asap yang sudah melumpuhkan kota itu sejak awal pekan ini.

Salah satu netizen bahkan membandingkan krisis kabut ini seperti yang terjadi pada langit London ketika masa revolusi industri.

“Kita harus bertanya mengapa ini bisa sampai terjadi. Mengapa?” tulis netizen itu.

Netizen lain menuliskan kekhawatiran akan masa depan anak cucunya yang mungkin harus hidup di tengah langit kelabu berpolusi ini.

Dia menambahkan soal bagaimana hatinya juga berkelabu setiap kali memikirkan langit kelabu itu.

China dilanda kabut asap parah sejak bulan November lalu. Ibu kota Beijing bahkan untuk kali pertama dalam sejarah menaikkan status kabut pada awal Desember lalu menjadi darurat “berwarna merah”, yang merupakan status darurat paling tinggi.

Asap pembakaran pabrik dan kendaraan bermotor ditengarai menjadi penyebab tertutupnya langit kota-kota besar di China.

Selain itu, masalah lingkungan ini semakin diperburuk oleh penggunaan tungku penghangat rumah kala memasuki musim dingin yang sedang melanda China.

Kebanyakan tungku ini menggunakan bahan batubara yang semakin memperburuk polusi udara yang sudah terjadi.

Selama 3 Tahun Remaja Ini Gendong Temannya yang Cacat ke Sekolah

BeritaBintang –  Kisah mengharukan ini menyentuh warga China yang membacanya.

Xie Xu “dinobatkan” warga negeri Tirai Bambu sebagai pelajar paling berhati mulia di seantero negeri.

Pelajar berusia 19 tahun ini menuai pujian setelah tanpa bosan, tanpa lelah, dan tanpa keluh kesah dengan rutin menggendong dan mengantar Zhang Chi, teman sekelasnya yang mengalami gangguan distrofi otot.

Distrofi otot adalah suatu gangguan genetik yang ditandai dengan kelemahan progresif dan degenerasi otot rangka dalam mengendalikan tubuh.

Akibatnya, penderita mengalami kesulitan untuk berjalan, berdiri, atau menggunakan lengannya.

Karena hati emas dari Xie, Zhang tidak pernah sehari pun tidak masuk sekolah selama 3 tahun terakhir.

Hal yang semakin membanggakan adalah kedua sahabat karib ini juga konsisten menjadi peraih hasil terbaik di kelas.

Kisah persahabatan yang menakjubkan ini sangat menggugah karena banyak teman yang biasa menghilang begitu saja ketika masa-masa sulit terjadi.

Diperkirakan sepertiga lelaki Cina mati muda karena rokok

BeritaBintang – Sebuah studi mengungkapkan sepertiga lelaki Cina berusia di bawah 20 tahun akan meninggal pada usia muda, jika mereka tidak berhenti merokok.

Ilmuwan Universitas Oxford, Akedemi Ilmu Kesehatan Cina, dan Pusat Kendali Penyakit Cina meneliti kasus ini lewat dua studi terpisah, selama 15 tahun dan melakukan survei pada ratusan ribu orang.

Hasil penelitian yang dirilis di The Lancet menyebut dua pertiga pria Cina pertama kali merokok sebelum berusia 20. Sekitar separuhnya akan meninggal karena kebiasaan tersebut.

Jika tren ini terus berlanjut, maka jumlah kematian per tahun akibat tembakau di Cina akan mencapai dua juta orang pada 2030, dengan mayoritas korban adalah laki-laki.

Riset menyebut kondisi ini sebagai ‘wabah kematian dini’.

Sama seperti dengan di beberapa kalangan masyarakat di Indonesia, biasanya usai makan kebanyakan lelaki di Cina langsung merokok.

Pertemanan dan bisnis pun tidak jarang ‘dibangun’ di tengah kepulan asap rokok.

Tidak heran pemerintah Cina kesulitan menerapkan larangan merokok di tempat umum. Apalagi negara itu masih melihat penjualan rokok sebagai salah satu cara mendulang pajak.

Di negeri Tirai Bambu ini, rokok pun bisa menjadi oleh-oleh dengan dibandrol lewat harga tinggi ketika rokok dilengkapi aksesoris bermotif keemasan pada kemasannya.

Namun, untuk masyarakat miskin Cina, juga dijual rokok dengan harga murah seharga 2,5 yuan atau sekitar Rp5.000 per bungkusnya.

Alhasil, ketika jumlah perokok di negara maju terus menurun, jumlahnya justru melonjak di Cina. Apalagi ketika ekonomi membaik dan jumlah orang kaya bertambah.

Di negara tempat orang merokok sebagai kebiasaan yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari, hanya sedikit orang yang paham efek buruk dari penggunaan tembakau.

Berdasarkan data Lembaga Kesehatan PBB, WHO, hanya 25% orang dewasa Cina yang bisa menyebutkan efek buruk merokok, mulai dari kanker paru-paru hingga sakit jantung.

Sehingga tidak mengherankan, hanya 10% perokok Cina yang berhenti karena pilihannya sendiri sedangkan sebagian besar akhirnya berhenti merokok karena mereka sudah terlalu sakit.