Teman Ahok

Dua Bandar Ganja Seberat 10 Kg Diringkus Polisi

BeritaBintangDua Bandar Ganja Seberat 10 Kg Diringkus Polisi

Personel Satres Narkoba Polrestabes Medan menangkap dua orang bandar narkoba jenis ganja seberat 10 Kg.

Penangkapan tersebut dilakukan petugas dengan cara mengaku sebagai pembeli hingga langsung melakukan penyergapan di kawasan Medan Sunggal, Sumatera Utara.

Pelaku adalah AS (32) warga Medan Sunggal dan RF (22) warga Bireun, Aceh. Dari keduanya disita barang bukti ganja kering 10 kg dan 2 unit handphone.

Kasat Reserse Narkoba Polrestabes Medan AKBP Ganda Saragih mengatakan, kedua tersangka ditangkap berdasarkan laporan warga yang kemudian ditindaklanjuti anggota.

[Baca Juga -“Kasus Penistaan Agama, Teman Ahok: Kelemahan Ahok Cuma di Mulut:]

“Untuk menangkap bandar narkoba, anggota menyamar sebagai pembeli dan bertemu dengan tersangka untuk transaksi ganja,” jelas AKBP Ganda Saragih.

Setelah bertemu, lanjutnya lagi, di dalam rumah tersangka yang kemudian menunjukkan ganja yang sudah dikemas menggunakan kardus minuman mineral dan diikat tali plastik seberat 10 kg.

Begitu melihat barang bukti ganja, polisi yang menyamar sebagai pembeli tadi, langsung menangkap kedua tersangka.

“Setelah ditangkap. Mereka langsung diboyong ke Polrestabes Medan bersama barang bukti 10 kg ganja,” pungkas AKBP Ganda.

Dituduh Fitnah, Junimart : Faktanya Teman Ahok Pernah Terima Rp500 Juta

BeritaBintang – Pernyataan anggota Komisi III DPR RI Junimart Girsang terkait aliran dana dari pengembang melalui Cyrus Network untuk Teman Ahok dianggap fitnah. Namun, di sisi lain Junimart justru membeberkan terkait dana Rp500 juta yang diterima Teman Ahok.

‎”Yang pasti saya tidak mau rumor yang tidak jelas jadi clear-kanlah itu. Kalau ada bukti tangkap saja. Sudah menjadi fakta kalau Teman Ahok terima dari Cyrus Rp500 juta. Itu sudah fakta dan tidak bisa dibantah,” ujar Junimart saat dihubungi BintangBola.Co, di Jakarta, Sabtu (18/6/2016) malam.

Politikus Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan tersebut pun mempertanyakan soal aliran dana sebesar Rp500 juta untuk Teman Ahok dari Cyrus Network yang diyakinkan adalah sebuah fakta baru.

‎”Pertanyaannya, apa dasarnya lembaga survei memberikan itu kepada Teman Ahok? Siapa yang bayar lembaga Cyrus itu? Ini kan jadi ke mana-mana. Kasian si Ahok kan tuh‎,” tuturnya.

Mengenai dana Rp30 miliar yang dianggap Teman Ahok adalah sebuah fitnah, Junimart pun meminta Teman Ahok tidak perlu panik menghadapinya dan biarkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menelusurinya.

“Saya mau itu clear tidak jadi bola liar dan enggak usah kebakaran jenggot. Kita hanya mau mendudukkan masalahnya. Benar atau tidak. Tapi yang sudah menjadi fakta dan harus di-clear-kan, Teman Ahok sudah pernah terima Rp500 juta dari Cyrus Network. Itu dasarnya apa? Rembesannya apa?‎” tandasnya.

Sebelumnya, Ahli hukum Teman Ahok, Andi P Syafrani menganggap tudingan anggota Komisi III DPR dari Fraksi PDIP, Junimart Girsang soal aliran uang sebesar Rp30 miliar dari salah satu pengembang proyek reklamasi di Teluk Jakarta adalah palsu.

“Kami meyakini, itu sesuatu yang tidak benar. Laporan keuangannya disiapkam terbuka jadi tuduhan itu menurut kami palsu. Kami tidak mau menanggapi tuduhan palsu,” tegas Andi di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (18/6/2016).

Kumpulkan KTP di Singapura, Menkumham Minta Teman Ahok Jujur

BeritaBintang –  Dua pendiri Teman Ahok, Amalia Ayuningtyas dan Richard Handris Saerang, diamankan Otoritas Imigrasi Singapura lantaran diketahui akan mengelar agenda bernuansa politik di Singapura, pada Sabtu 4 Juni 2016.

Diduga mereka melakukan kegiatan politik dengan cara mengumpulkan dukungan lewat pengumpulan KTP kepada Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) untuk maju sebagai Gubernur DKI Jakarta 2017.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Yasonna H Laoly mengatakan, Teman Ahok harus jujur jika maksud mereka ke luar negeri adalah untuk mengumpulkan dukungan.

“Ya di mana pun kita kan harus hargai hukum negara lain. Jadi sebelum berangkat itu kalau ada kegiatan kita cek dulu yang benar. Supaya jangan ada masalah seperti itu,” ujar Yasonna di Gedung Dhanapala Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (7/6/2016).

Kendati demikian, mantan anggota Komisi II DPR RI tersebut menilai apa yang dilakukan oleh Otoritas Imigrasi Singapura sudah benar. Karena hal itu juga akan berlaku di Otoritas Imigrasi Indonesia, jika ada warga negara asing (WNA) datang ke Indonesia tidak sesuai tujuan visa.

“Ada juga yang kita deportasi langsung dari bandara. Misalnya visanya tidak sesuai visa enggak match,” pungkasnya.

KBRI Singapura: Tidak Benar Teman Ahok Diperlakukan seperti Teroris

BeritaBintang –   Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura membantah bahwa dua aktivis Teman Ahok telah ditahan dan diperlakukan seperti teroris oleh Otoritas Singapura.

“Dua WNI aktivis Teman Ahok tidak ditahan seperti diberitakan di sosial-media,” sebagaimana tertulis dalam pernyataan pers yang diterima BintangBola.Co , Minggu (5/6/2016).

Penyataan KBRI itu terkait dengan tudingan Teman Ahok bahwa kedua WNI yang ditahan oleh Otoritas Singapura telah diperlakukan seperti para teroris.

Kendati demikian, pihak KBRI Singapura mengakui bahwa dua aktivis Teman Ahok menang telah diinterogasi oleh Otoritas Singapura.  Itu disebabkan pemerintah Negeri Singa tidak mengizinkan negara lain melakukan aktivitas politik di Singapura.

Diketahui bahwa dua WNI aktivis Teman Ahok bernama Amelia dan Richard terbang menuju Singapura untuk menghadiri undangan sebagai pembicara dalam acara Food Festival dengan tema “Menuju Indonesia Lebih Baik, Festival Makanan Indonesia”.  

Namun, saat di Bandara Internasional Changi, keduanya dibawa ke ruang isolasi oleh petugas imigrasi bandara.

Terkait kejadian ini, komunitas Teman Ahok mengancam akan menyerbu Kedubes Singapura di Jakarta, jika kedua WNI tersebut tidak segera dibebaskan.