Sumatera Barat

Sedang Transaksi Kulit Harimau, Dua Orang Ditangkap

BeritaBintangSedang Transaksi Kulit Harimau, Dua Orang Ditangkap

Tim Balai Besar Taman Nasional Kerinci Sebelat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan wilayah Bengkulu-Sumatera Selatan-Jambi dan Sumatera Barat bersama Polres Mukomuko, Provinsi Bengkulu, Rabu 12 Juli 2017 malam, meringkus dua terduga pelaku perdagangan kulit harimau Sumatera atau panthera tigris sumatrae.

Kedua terduga pelaku itu, berinisial Si warga Tapan, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat dan Rd warga Kabupaten Mukomuko, Bengkulu.

Dari tangan terduga pelaku, tim gabungan berhasil mengamankan barang bukti, berupa dua lembar kulit harimau (basah), dan sejumalh tulang harimau sumatera.

[Baca Juga -“Ini Pemicu Aksi Pembacokan Hermansyah Pakar IT ITB“]

”Tim berhasil mengamankan dua orang. Barang bukti dua lembar kulit harimau, dan tulang harimau Sumatera,” kata Kepala Balai Besar Taman Nasional Kerinci Sebelat (BB TNKS), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, wilayah Bengkulu – Sumatera Selatan – Jambi dan Sumatera Barat, M Arief Toenkagie, saat dihubungi via telepon genggamnya, Rabu 12 Juli 2017 malam.

Arief mengatakan, keduanya diringkus saat bertransaksi di Kecamatan Penarik Kabupaten Mukomuko. ”Kedua terduga pelaku masih dimintaib keterangan di Polres Mukomuko,” pungkas Arief.

Lagu Nasi Padang Ciptaan Pria Norwegia Bikin Heboh

BeritaBintang – Seorang pria asal Norwegia bernama panggung Kvitland menggambarkan pengalamannya melancong ke Indonesia dalam sebuah lagu.

Selama musim panas, Audun, nama asli Kvitland, berkunjung ke Indonesia. Rupanya, Audun sangat menyukai salah satu makanan khas Sumatera Barat, yaitu Nasi Padang. Sebuah video berjudul Kvitland – Nasi Padang diunggahnya di halaman Agen Judi Online  (08/10/2016).

“Musim panas ini aku berjalan-jalan di Indonesia. Ketika aku di sana, aku jatuh cinta dengan negara yang beranekaragam dan cantik ini, aku jatuh cinta dengan orang-orang yang ramah dan dermawan, alam yang menakjubkan, dan terakhir tapi penting aku jatuh cinta dengan makanannya. Ketika aku kembali ke Norwegia aku memutuskan untuk membuat lagu ini sebagai persembahan untuk Indonesia dan Nasi Padang,” ungkap Audun.

Menurut Audun, Nasi Padang adalah makanan terenak di dunia. Dalam lagu tersebut, Audun mengungkapkan,”Jika kau adalah manusia, aku akan menikahimu.”

Audun melanjutkannya dengan pengalamannya yang sangat berharga, dan mengingat-ingat harus memakan Nasi Padang dengan tangan. Selain itu, Audun mengingat-ingat rasanya menggunakan kobokan.

Tentunya, banyak orang Indonesia yang memuji Audun. Beberapa memuji Audun karena lagu dan suaranya yang enak didengar, dan beberapa mengomentari lirik yang dipilihnya.

“Aku tertawa saat mendengar “i feel the kobokan on my finger,” ucap seorang netizen.

“Suaranya keren bro XD aku menunjukkan ini ke ibuku dan dia menyukainya! Pertahankan kerja bagusnya dan tetap kreatif ,” ucap seorang netizen lain.

Lubang Jepang Wisata Ternama di Tanah Padang

BeritaBintang –  ADA pengalaman yang menarik ketika peserta bisa menikmati pemandangan alam dalam ajang Tour de Singkarak.

Pasaman Barat merupakan titik finis pada etape 3 hari ini. Abdi Surya, Kepala Dinas Pariwisata Pasaman Barat, berharap agar para peserta dapat singgah menikmati pesona alam di kabupaten ini.

“Jadi bagi mereka yang sudah menikmati dengan indahnya alam kita di Pasaman Barat, kita berharap mereka dapat membawa informasi destinasi alam kita ke kerabatnya,” ujar Abdi kepada BintangBola.Co , di Kantor Bupati Pasaman Barat, Sumatera Barat

Ia menyebutkan salah satu destinasi wisata yang harus dikunjungi peserta Tour de Singkarak ialah Lubang Jepang.

Lubang ini menjadi tempat pertahanan para pejuang untuk memperjuangkan kemerdekaan semasa penjajahan Jepang.

Abdi mengungkapkan bahwa Tour de Singkarak 2016 dapat menjadi media promosi destinasi wiaaya Sumatera Barat.

Apalagi lagi di era digital ini semakin mempermudah orang untuk mengetahui destinasi menarik di Pasaman Barat.

“Wisatawan sudah mulai banyak yang berdatangan. Terutama dari Pulau Jawa. Harapan kami dengan adanua Tour de Singkarak dan adanya media sosial dapat mempublikasikan destinasi wisata kita,” ujarnya.

Perlu diketahui, Tour de Singkarak merupakan ajang sport tourism internasional yang didukung oleh Kementerian Pariwisata Indonesia.

Pada etape 4 besok peserta akan memulai titik start di Kabupaten Padang Panjang dan finis di Kabupaten Agam.

Jokowi Ternyata Anak Mapala, Ini Penampakannya

BeritaBintang –  Presiden Joko Widodo (Jokowi) memang suka melakukan blusukan ke mana saja termasuk pelosok. Kegemaran itu ternyata sudah dilakukan Jokowi sejak masih kuliah. Maklum, ia merupakan mahasiswa pencinta alam (mapala) yang doyan naik gunung.

Baru-baru ini, beredar foto Jokowi saat masih kuliah di Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta. Dalam gambar tampak 13 anak muda berpose dengan ‘gaya jadul’ memperlihatkan selembar bendera kuning. Di bawah bendera, terlihat seorang anak muda berkaus dan mengenakan sandal berjongkok. Rambutnya urakan. Itulah Jokowi muda.

Pria kelahiran Surakarta, Jawa Tengah pada 21 Juni 1961 itu, semasa kuliah memang hobi mendaki gunung. Dalam keterangan di foto tersebut, tertulis ‘Ekspedisi Gunung Kerinci Tahun 1983 Mahasiswa Pencita Alam Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada (Mapala Silvagama)’.

Wajar saja, saat menjadi Wali Kota Surakarta, Gubernur DKI Jakarta, hingga Presiden RI, Jokowi tak pernah lelah melakukan blusukan, sebuah hal langka dan jarang dilakukan presiden-presiden sebelumnya yang sangat protokoler dan ‘kaku’.

Dalam foto tersebut, suami dari Iriana tampak santai memilih berpose di bawah bendera Mapala Silvagama. Penampilan Jokowi hanya berkaus hitam yang dipadupadankan celana jins dan bersendal jepit, sangat sederhana.

Koordinator Tim Komunikasi Presiden, Sukardi Rinakit, membenarkan jika foto tersebut adalah Presiden Jokowi sewaktu masih muda. “Iya (foto itu asli), itu sewaktu mereka mau mendaki ke Gunung Kerinci,” ujar Sukardi, Jumat (3/6/2016).

Kerinci merupakan gunung tertinggi kedua di Indonesia atau pertama di Sumatera. Ketinggiannya mencapai 3.805 meter dari permukaan laut (mpl). Gunung Kerinci berada di wilayah Jambi, Bengkulu dan Sumatera Barat.

Sukardi mengatakan bahwa Jokowi merupakan alumnus mapala UGM. “Pak Jokowi dulu adalah anggota Mapala UGM,” katanya.

Jokowi muda memang gemar berpetualang ke pelosok negeri, mendaki gunung-gunung dan mendekatkan dirinya dengan alam. Sebuah kebiasaan yang terbawa hingga sekarang.

Kisah Tan Malaka Menyamar Saat Proklamasi

BeritaBintang –Tan Malaka bernama asli Ibrahim. Sebagai putra bangsawan Minangkabau, ia bergelar Datoek Tan Malaka. Gelar itu diberikan tahun 1913 dalam suatu upacara adat yang khidmat.

Ia lahir (kemungkinan) tahun 1894 di desa kecil bernama Pandan Gadang, tak jauh dari Suliki, Sumatera Barat. Tata kemasyarakatan di tempat kelahirannya akan mewarnai radikalitas gerakan yang ia lakukan di kemudian hari.
Tan Malaka merupakan tokoh pejuang Indonesia yang pertama kali mempublikasikan gagasan Indonesia Merdeka, jauh sebelum gagasan yang sama disuarakan Hatta dan Sukarno.
Berbeda dengan Sukarno, berbeda dengan Hatta, berbeda dengan Soedirman, Tan Malaka memilih jalan sendiri. Aliran kiri yang dianut serta kiprahnya dalam pusaran komunis dunia, membuat nama Tan Malaka tidak lebih kecil dari nama Sukarno. Ia bukan saja diburu intel pemerintah Hindia Belanda, tetapi juga diburu intel-intel negara-negara di belahan dunia lain.
Karena itu, Tan Malaka sering menyamar menjadi orang lain, termasuk saat hari-hari penting sedang berlangsung di Jakarta, menjelang proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Banyak orang yang menanyakan di mana Tan Malaka saat Sukarno membacakan teks proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur.
Dalam buku Total Bung Karno karya Roso Daras diceritakan ternyata Tan Malaka ada di sekitar Jakarta. Ia datang dari Banten, bukan sebagai Tan Malaka, melainkan sebagai pemuda Banten bernama Hussein. Lengkapnya Iljas Hussein. Ia bahkan sempat menemui sejumlah tokoh pergerakan dari kalangan pemuda, antara lain Soekarni.
Bahkan Soekarni yang tidak tahu sedang berbicara dengan Tan Malaka, sempat menyuruh Hussein pulang ke Banten dan menghimpun para pemuda guna menyambut proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus.
Selain Soekarni, Tan Malaka yang menyamar sebagai Hussein itu juga menemui Chaerul Saleh. Chaerul dan Soekarni paham benar dengan semua gagasan dan pemikiran Hussein. Mereka menyadari bahwa Hussein sedang mengemukakan ide-ide Tan Malaka. Tapi sungguh keduanya tidak menduga bahwa Hussein itulah Tan Malaka.
Dalam biografinya, Tan Malaka juga sempat menyinggung peristiwa pembacaan teks proklamasi. Ia menuliskan begini, “Rupanya, sejarah Proklamasi 17 Agustus tiada mengizinkan saya campur tangan, hanya mengizinkan campur jiwa saja. Ini sangat saya sesalkan! Tetapi sejarah tiada memedulikan  penyesalan seseorang manusia atau pun segolongan manusia.