Sulawesi Tengah

Wah.. Rencanakan Serang Polisi, 9 Terduga Teroris Ditangkap di Sulteng

BeritaBintangWah.. Rencanakan Serang Polisi, 9 Terduga Teroris Ditangkap di Sulteng

Aparat kepolisian menangkap sembilan orang terduga teroris di wilayah Sulawesi Tengah. Penangkapan dilakukan di dua tempat yakni Kabupaten Toli-Toli dan Kabupaten Parigi.

“Memang ada penangkapan sembilan orang, enam di Kabupaten Toli-Toli dan tiga di Parigi,” kata Karopenmas Divisi Humas Polri, Brigjen Rikwanto, Sabtu (11/3/2017).

Para terduga teroris ini diduga akan menyerang polisi dan objek vital lainnya di Sulawesi Tengah.

[Baca Juga -“Disebut Terima Uang Haram E-KTP, Yasonna Siap Beri Kesaksian di Persidangan“]

“Rencananya akan melakukan upaya pengrusakan atau sasaran satuan-satuan kepolisian setempat dan objek vital lainnya,” sambungnya.

Saat ini, aparat masih mengembangkan proses penyelidikan terhadap sembilan orang yang ditangkap ini. Termasuk tergabung ke jaringan maupun sel-sel teror mana mereka berafiliasi. “Kita masih telusuri pelaku-pelaku yang diduga mejadi kelompoknya,” tukasnya.

Ada Keterkaitan Antara Kelompok Santoso dengan Abu Sayyaf

BeritaBintang – Pengamat intelijen Wawan Purwanto menilai pelaku penyanderaan terhadap WNI di Filipina, Abu Sayyaf mempunyai hubungan dengan pimpinan Mujahidin Indonesia Timur (MIT), Santoso yang tertembak mati dalam operasi Tinombala, Poso, Sulawesi Tengah.

Menurut Wawan, Abu Sayyaf sering mengajak Santoso dan anak buahnya untuk bergabung menjalankan gerakan khilafah di Filipina dan Indonesia. Tidak tertutup kemungkinan, komunikasi itu dilanjutkan oleh anak buah Santoso yang masih belum tertangkap.

“Memang mereka menganggap seperti kolaborator, bahkan mereka mengajak dari pada jauh-jauh ke Suriah mending ikut kelompok Abu Sayyaf sama-sama menegakkan khilafah,” ungkap Wawan saat dihubungi Agen Judi Bola, Selasa (04/10/2016).

Meski demikian, Wawan menyampaikan aksi kelompok Abu Sayyaf tidak bisa sepenuhnya dicurigai sebagai aksi balas dendam atas kematian Santoso, melainkan lebih kepada motif uang untuk membiayai gerakan mereka.

“Kalau motifnya lebih ke uang, karena mereka ini kehilangan pasokan selama ini, sehingga perlu ada pasokan logistik untuk biaya pergerakan mereka, energi makanan, dan biaya komunikasi,” pungkas Wawan

12 Jenazah Korban Helikopter TNI AD Dibawa ke Palu

BeritaBintang – Sebanyak 12 jenazah dari korban kecelakaan helikopter TNI AD di Poso telah dievakuasi pada Minggu malam dan selanjutnya di bawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

Dari RSUD Poso ke 12 jenazah itu selanjutnya diberangkatkan menuju RS Bhayangkara Polda Sulawesi Tengah yang berada di Palu.

Selama di RSUD Poso, 12 jenazah korban helikopter TNI AD yang jatuh langsung diidentifikasi dan diautopsi. Kemudian jenazah di masukan ke dalam peti untuk selanjutnya diberangkan menuju RS Bhayangkara Polda Sulawesi Tengah di Palu.

Berdasarkan manifest, ada 13 penumpang di dalam helikopter ketika terjadinya kecelakaan. Namun, satu korban hingga kini masih dalam proses upaya evakuasi.

Dilaporkan ke 13 anggota TNI menjadi korban dalam kecelakaan helikopter jenis Bell 412 EP dengan nomor HA 5171 di Ddusun Pattiro Bajo, Kelurahan Kasiguncu, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

Helikopter TNI yang jatuh di Poso itu sebelumnya terbang dari Desa Watutau, Kecamatan Lore Peore dengan membawa 13 penumpang termasuk di antaranya tujuh perwira.

Mereka adalah Danrem 132/Tadulako Kolonel Inf Syaiful Anwar, Kolonel Inf Otang (BIN),

Kolonel Inf Herry (BAIS), Letkol CPM Teddy (Dandenpom Palu), Mayor Faqih (Kapenrem 132/ Tadulako), Kapten Yanto (Dokter Korem 132/ Tadulako), Prada kiki dan enam orang kru helikopter.

Puluhan Tahun Kakak dan Adik Ini Dipasung oleh Keluarga

BeritaBintang – Dua kakak beradik di Desa Biak Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, terpaksa menderita selama puluhan tahun di rumahnya. Lantaran mengidap gangguan jiwa, keduanya, Sardin (32) dan Said (40), dipasung dalam kondisi memprihatinkan.

Said diketahui sudah 25 tahun dipasung. Sementara Sardin sudah 13 tahun. Masing-masing kaki mereka diikat dengan kayu besar dan diletakkan di kamar terpisah berukuran 3×4 meter yang hanya berlantai papan dan beratap seng bocor.

Sarif, ayah kedua pria tersebut mengaku sedih dengan kondisi kejiwaan kedua anaknya tersebut. Namun karena kemiskinan membelit mereka, maka keduanya tak dibawa ke rumah sakit.

“Dulu mereka sering membuat resah warga. Jujur saja tak tega sebenarnya melihat mereka. Tapi mau bagaimana lagi, kami tidak mampu,” kata Sarif, Rabu 7 Oktober 2015.

Sarif memiliki empat orang anak, beruntung dua diantaranya tidak mengalami gangguan jiwa. Sehingga masih bisa membantu mengurus Said dan Sardin.

“Saya cuma buruh kasar, penghasilan tak jelas. Bantuan raskin saja kadang tak cukup. Jadi mau tak mau kami bertahan dengan kondisi ini,” kata Sarif.

Saat ini dengan segala keterbatasannya, keluarga Sarif tetap setia merawat kedua saudaranya yang mengalami gangguan jiwa tersebut. Ia berharap pemerintah dapat membantu mereka menolong kedua anaknya.

Menembak Mati Teroris Tak akan Menyelesaikan Masalah!

BeritaBintang –   Warga Jakarta digegerkan dengan aksi teror dan ledakan bom di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat. Bom meledak di halaman gerai Starbucks dan Pos Polisi Jalan MH Thamrin.

Laksda TNI AL, Soleman B. Ponto mengatakan, aksi yang dilakukan oleh Afif Cs adalah sebagai ajang unjuk eksistensi.

“Kalau saya melihat dari target itu mereka hanya ingin memperlihatkan ‘ini loh saya masih ada, saya masih kuat, saya masih mampu’,” kata Soleman saat berbincang dengan Bioskopsemi , di Jakarta, Minggu (18/1/2016).

Purnawirawan TNI itu mengatakan, Polisi jadi sasaran aksi yang menelan puluhan korban itu. Itu terbukti dengan adanya enam korban dari aparat kepolisian.

Korps bhayangkara jadi sasaran lantaran ingin balas dendam. Pasalnya, selama ini kelompoknya selalu diburu di Poso, Sulawesi Tengah. Bahkan, polisi memberlakukan Operasi Tinombala guna mengejar kelompok pimpinan Santoso itu.

“Polisi selama ini dikenal memburu teroris Santoso. Dibunuh kemudian diburu. Jangan lupa, teroris itu juga punya saudara, punya anak, punya paman. Bagi mereka, saudara saya ini dibunuh, titik. Terus apa hukumnya? Balas dendam,” jelas Soleman.

Budaya teroris Poso adalah solidaritas untuk setiap anggota yang bernasib buruk di tangan polisi. “Makanya saya bilang teroris itu dipidana. Jadi mereka ditangkap kemudian dihukum. Misalnya orang Poso, budaya mereka itu kalau ada yang dibunuh ya balas dendam. Tapi kalau ditangkap, dimasukkan penjara dia bilang ‘biarin saja ini orang mati di penjara, bikin malu keluarga’,” analisisnya.

Dia menambahkan, kelompok teror tidak bisa dilawan dengankepala panas. Menembak mati teroris tidak akan menyelesaikan masalah.

“Kalau hanya dibunuh, dibunuh, dibunuh. Dia juga bisa balas dendam selama ada kesempatan. Beri saja hukuman pidana.Taruh saja gitu di penjara batu yang tidak bisa berhubungan dengan orang lain,” tuntasnya.

Soal Foto-Foto Mesra, Pasha: Enggak Ngaruh!

BeritaBintang – Beredarnya foto mesra dua orang mirip vokalis Pasha “Ungu” (36) dan artis peran Angel Karamoy (27) hingga kini masih menyimpan misteri.

Pasalnya, kelima foto itu tersebar menjelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak yang akan digelar pada 9 Desember 2015 mendatang, di mana Pasha mencalonkan diri sebagai calon wakil wali kota Palu, Sulawesi Tengah.

Ditemui di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan, Senin (7/12/2015), Pasha yang tengah berbahagia setelah kelahiran anak ketiga dari pernikahanya bersama Adelia Wilhelmina, mengaku tak terpengaruh pada gosip yang beredar berkait tersebarnya foto-foto itu.

“Insya Allah, doakan dong, aman. Show must go on, enggak ngaruh,” katanya.

Sayang, saat ditanya lebih lanjut soal hubungannya dengan Angel, lelaki bernama lahir Sigit Purnomo Syamsuddin Said itu memilih menghindar.

“Sudah ya, gue mau salat dulu,” ungkapnya seraya meninggalkan kerumunan wartawan.