SMPN

Kasus Yuyun, Komnas PA: Pelaku di Bawah Umur Tak Bisa Dipidana Penjara

BeritaBintang –Sebanyak tujuh terdakwa pelaku pemerkosaan dan pembunuhan Yuyun (14) , siswi SMPN 5 Kecamatan Padang Ulak Tanding, Kabupaten Rejanglebong, Provinsi Bengkulu telah dituntut hukaman 10 tahun penjara dalam sidang di Pengadilan Negeri Curup. Ketujuhnya diketehui masih di bawah umur.

Ketua Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait, mengatakan, bahwa para pelaku yang di bawah usia 18 tahun tak bisa dihukum pidana sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak.

“Sekali lagi, kita tidak bisa memberlakukan hukuman yang sama kepada pelaku anak di bawah umur, sudah ada UU-nya. Tapi untuk sekarang, karena dalam UU-nya anak di bawah umur yakni dibawah 18 tahun, tidak dapat dipidanakan lewat pengadilan dan dituntut 10 tahun. Itu tidak bisa,” kata Arist saat berbincang dengan Indowins, Sabtu (7/5/2016).

Menurut dia, penegak hukum tak bisa menyamakan hukuman bagi pelaku pidana yang masih di bawah umur dengan orang dewasa di atas 18 tahun. Namun, apabila dikehendaki hukuman yang sama, pemerintah perlu merivisi payung hukum tersebut.

“Jadi kalau dikatakan apakah adil, sebenarnya saya melihat tidak adil. Namun kan kita sudah mempunyai payung hukum yang berlaku, yakni UU Sistem Peradilan Anak. Dalam UU sendiri telah menjelaskan, bahwa pelaku yang dibawah umur tidak dapat disamakan dengan pelaku orang dewasa,” tukas dia.

Seperti diketahui, Yuyun (14), siswi SMPN 5, diperkosa dan dibunuh oleh 14 orang saat pulang sekolah menuju rumahnya di Dusun IV Desa Kasie Kasubun, Kecamatan Padang Ulak Tanding. Korban diperkosa 14 pelaku secara berulang-ulang dalam kondisi tangan dan kaki terikat di kebun karet hingga meninggal dunia.

Jenazah korban ini kemudian ditinggalkan begitu saja dengan ditutupi dedauan. Mayat korban ini ditemukan pada 4 April 2016 oleh polisi bersama keluarga korban serta dibantu masyarakat desa tersebut.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, 7 dari 12 tersangka yang sudah ditangkap dituntut jaksa dengan hukuman 10 tahun penjara karena melanggar Pasal 80 ayat (3) dan Pasal 81 ayat (1) junto pasal 76 d Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Ketujuh tersangka ini yaitu D alias J (17), A (17), FS (17), S (17), DI (17), EG (16), S (16) yang tercatat kakak kelas korban di SMPN 5 Padang Ulak Tanding. Sedangkan lima tersangka lainnya Tomi Wijaya (19), Suket (19), Bobi (20), Faisal alias Pis (19) dan Zainal (23).

–Polisi Ditantang Cari Penyebar Foto Bocah Mesra di Ranjang

BeritaBintang – Krimolog Universitas Indonesia Bambang Widodo Umar mendorong pihak Kepolisian untuk menindak pelaku yang menyebar foto bocah mesra di ranjang dalam akun Facebook Ina si Nononk.

“Tetap harus diambil tindakan memang. Polisi harus mencari siapa yang mem-posting itu yang diselidiki sampai ditemukan pelaku yang sesungguhnya. Seandainya memang anak-anak ya diberlakukan dengan undang-undang anak bukan KUHP umum,” kata Bambang kepada Berita Bintang, Sabtu (5/3/2016).

Menurutnya, polisi ditantang mengusut kasus ini supaya pengaruh teknologi informasi tidak berdampak negatif. Selain itu, pemerintah juga harus memikirkan bagaimana hukum di dunia maya bisa berjalan dengan maksimal.

“Jadi tetap diusut dan polisi temukan pelaku. Jadi tidak dibiarkan saja pengaruh IT meluas. Harus ada pemikiran juga dari pemerintah bagaima undang-undang cyber law (ITE) diberlakukan maksimal. Misalnya Kemenkominfo mengatur bagaiman teknologi tidak dibuka secara lebar. Harus ada filter mengenai hal ini,” paparnya.

Sebelumnya, Kapolres Karawang AKBP Andi Mochamad Sicky Pastika Gading mengatakan Kasat Reskrim AKP Doni Satrio Wicaksono bersama Kapolsek Cimalaya AKP Dadang Gunawan telah melakukan pengecekan identitas akun Ina Si Nononk ke SMPN 1 Cimalaya, pada Jumat 4 Maret 2016.

“Menurut keterangan Wakepsek SMPN 1 Cimalaya, siswi (Nononk) yang mengaku murid di sekolahnya tidak benar. Namanya tidak terdaftar. Penelusuran tetap dilaksanakan ke sekolah lain untuk mencari keberadaan korban yang diposting pada akun facebook tersebut,” kata Andi.

Polres Karawang telah bekerja sama dengan dengan Cyber Crime Mabes Polri untuk mengungkap kasus beredarnya foto bocah mesra di ranjang melalui peralatan IT untuk mengetahi pemilik akun yang memasang foto tersebut.

“Polres Karawang menghimbau kepada masyarakat apabila ada yang mengenali wajah korban Ina si Nononk untuk menghubungi Polres Karwang ke nomor 02678616994 agar yang bersangkutan mendapat perlindungan dan pembinaan dari aparat kepolisian,” pungkasnya.