Sementara Rossi

Perseteruan Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo Kembali Dimulai

BeritaBintang –  SEJAK insiden di seri akhir MotoGP 2015, kondisi internal Tim Movistar Yamaha yang melibatkan dua pembalapnya, Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo, menjadi sangat panas ketimbang musim-musim sebelumnya. Namun begitu memasuki MotoGP 2016, kondisi tim pabrikan asal Jepang itu bisa dibilang tak terlalu bergejolak.

Meski demikian Menurut Agen Bola Terpercaya, semua itu berubah usai balapan GP San Marino, Minggu 11 September 2016, berlangsung. Kondisi internal Tim Movistar Yamaha kembali bergejolak setelah Rossi dan Lorenzo terlibat perseteruan.

Di GP San Marino, posisi pertama menjadi milik pembalap Tim Repsol Honda, Dani Pedrosa. Sementara Rossi finis di posisi dua dan Lorenzo di posisi tiga. Perseteruan pun bermula ketika X-Fuera -julukan Lorenzo- mempermasalahkan gaya balap The Doctor -julukan Rossi.

Jorge Lorenzo Sebut Gaya Balap Valentino Rossi Terlalu Agresif

Saat konferensi pers usai GP San Marino, Lorenzo secara terang-terangan menyebut gaya balap Rossi terlalu agresif. Pembalap berkebangsaan Spanyol bahkan menilai aksi VR46 sangat berbahaya, karena bisa saja menyebabkan pembalap lain kecelakaan.

Mendengar komentar tersebut, Rossi langsung memotong perkataan rekan setimnya. Juara dunia tujuh kali MotoGP itu mengungkapkan ketidaksetujuannya atas ucapan Lorenzo. Menurutnya, apa yang dilakukannya sama dengan yang kerap dilakukan para pembalap lain, bahkan juga yang kerap dilakukan Lorenzo.

“Saya rasa Marc Marquez melakukan yang sama pada saya di Silverstone beberapa kali. Anda juga selalu melakukan salipan dengan agresif,” kata Rossi saat itu.

Disebut seperti itu, Lorenzo kembali memberikan sangkalan. Pembalap berkebangsaan Spanyol itu tidak merasa pernah membalap dengan gaya seperti yang Rossi lakukan. Pada akhirnya, Lorenzo mengakui The Doctor lebih baik ketimbang dirinya di GP San Marino, meski dengan penekanan bahwa tidaklah perlu membalap dengan terlalu agresif.

Disebut Agresif, Valentino Rossi Justru Banjir Dukungan

Rossi bisa dibilang menjadi pihak yang tertuduh dalam insiden ini, sementara Lorenzo adalah “korban”. Meski demikian, dukungan justru banyak mengalir untuk Rossi. Dalam hal ini, banyak yang tak setuju dengan komentar Lorenzo.

Dukungan pertama diberikan oleh rival utama kedua pembalap, yakni Marc Marquez. Menurut Marquez, apa yang dilakukan Rossi kepada Lorenzo bukanlah overtaking yang berlebihan. The Baby Alien menilai, Rossi melalukan itu dengan bersih karena berada di dalam bagian trek.

Berikutnya giliran pengamat MotoGP, Carlo Pernat, yang memberikan dukungan untuk Rossi. Bahkan, Pernat tak segan menyebut Lorenzo sebagai penjahat MotoGP. Pernat menyorot kepada insiden di atas trek yang pernah melibatkan Lorenzo dengan pembalap Ducati, Andrea Iannone, dan mendiang Marco Simoncelli.

Dukungan selanjutnya datang dari legenda MotoGP, Randy Mamola. Menurut Mamola, apa yang dilakukan Rossi kepada Lorenzo adalah hal yang wajar. Sebab, ia menilai sudah banyak overtaking seperti itu yang terjadi pada dunia balap MotoGP saat ini.

Pada akhirnya, agresif atau tidaknya overtaking Rossi kepada Lorenzo ditentukan oleh otoritas MotoGP. Dan Race Director MotoGP, Mike Webb, pun bersuara bahwa manuver yang dilakukan The Doctor kepada X-Fuera adalah sesuatu yang normal.

“Pada kejadian terpisah itu, kedua pembalap yang menyalip mengambil sisi dalam tikungan, sehingga rider lain tak bisa masuk karena ada motor lain. Tak ada masalah dengan overtaking itu. Kasusnya berbeda jika pembalap memotong jalur dan menyenggol motor pembalap lain. Namun menyalip dari samping itu merupakan hal yang normal dalam balapan,” jelas Panduan Judi Online

Marquez Pegang Kendali MotoGP 2016

BeritaBintang –Pembalap Repsol Honda, Marc Marquez, kini bisa dikatakan sebagai pembalap yang paling konsisten dibandingkan rider lainnya seperti duo Yamaha, Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo. Hal itu ditunjukkannya di empat seri terakhir MotoGP musim ini.

Penampilan apik Marquez yang selalu finis di zona podium dalam empat race terakhir menuai komentar dari rider legendaris MotoGP, Mick Doohan. Menurutnya, saat ini Marquez memegang kendali pada persaingan musim ini.

Saat ini Marquez masih berada di posisi pertama klasemen sementara dengan raihan 82 poin. Lorenzo berada satu strip di bawahnya dengan nilai 65 poin. Sementara Rossi berada di posisi ketiga dengan 58 poin.

“Lorenzo sudah pernah tidak finis, Rossi juga sudah mengalaminya,” ujar Doohan seperti dikutip dari Indowins, Senin (2/5/2016).

“Ini bisa jadi Marquez saat ini memegang kendali permainan. Kartu AS-nya ada padanya dan dia sejauh ini menunjukkan dominasinya,” tambahnya.

Rossi dan Lorenzo Kembali Terlibat Perseteruan

BeritaBintang –Perseteruan antara duo pembalap Tim Movistar Yamaha yakni Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo kembali terulang. Setelah sempat terlibat friksi di pengujung MotoGP 2015, Rossi dan Lorenzo sempat terlibat adu argumen saat menjalani free practice empat di Sirkuit Losail, Qatar, Minggu (20/3/2016) dini hari WIB.

The Doctor –julukan Rossi– yang tengah memacu motornya melihat Lorenzo keluar dari pit. Bukan mengerem untuk menghormati Rossi yang tengah menggeber YZR-M1, X-Fuera –julukan Lorenzo– seakan menantang dengan menghampiri rekan setimnya tersebut.

Sikap yang ditunjukkan Lorenzo itu tidak disukai Rossi. Setelah sempat terlibat sedikit perdebatan, Lorenzo langsung meninggalkan Rossi.

“Ia datang dari pit tanpa melihat kondisi trek. Ketika ia tiba di tikungan pertama, ia sempat mengerem, namun masuk ke tengah sirkuit. Masalahnya ialah mengapa ia mengatakan ‘kenapa?’ di saat saya mengharapkan kata ‘maaf’ darinya. Ia justru melihat saya secara sinis,” jelas Rossi mengutip dari situs resmi MotoGP, Minggu (20/3/2016).

Terlepas dari perseteruan tersebut, Lorenzo akan memulai balapan yang berlangsung Senin 21 Maret 2016 dini hari WIB dari posisi terdepan. Sementara Rossi akan start dari tangga kelima.

Rossi Tak Mampu Mengatasi Masalah Hidupnya

BeritaBintang –  Pembalap Tim Movistar Yamaha, Valentino Rossi, mengaku masih kesal karena dicurangi Jorge Lorenzo dan Marc Marquez yang berujung kegagalan meraih gelar juara MotoGP 2015. Rider berjuluk The Doctor itu bahkan menyebut kegagalannya melupakan kecurangan yang dibuat Lorenzo dan Marquez, membuatnya seperti tak bisa mengatasi masalah hidup.

“Saya mengaku tak bisa mengatasi masalah hidup saya sepenuhnya,” jelas Rossi seperti mengutip dari Motorsport, Minggu (29/11/2015).

Rossi yang menguasai puncak klasemen MotoGP 2015 dari seri pertama hingga ke-17 (pengecualian pada seri ke-11 karena posisi Rossi sempat digeser Lorenzo) harus rela kehilangan gelar di race terakhir. Pada balapan terakhir yang berlangsung di Sirkuit Ricardo Tormo, Rossi sebenarnya unggul tujuh poin dari Lorenzo.

Namun karena harus memulai balapan dari posisi paling belakang, Rossi kesulitan finis di depan X-Fuera – julukan Lorenzo– yang memulai race dari pole position.

Ujung-ujungnya Lorenzo berhasil finis terdepan dan meraih kampiun kelas MotoGP untuk ketiga kalinya. Sementara Rossi menyelesaikan balapan di posisi empat setelah melewati 22 pembalap di depannya.

Nasi sudah menjadi bubur, sekarang merupakan momen yang tepat bagi Rossi untuk meningkatkan skill membalap serta berharap mendapat motor YZR-M1 yang kompetitif untuk bersaing pada MotoGP 2016. Tentu tujuannya meraih gelar juara dunia kedelapan di kelas utama pada musim depan.

Momen Overtaking Favorit Rossi

BeritaBintang –  Pembalap andalan Movistar Yamaha, Valentino Rossi, menyebut pertarungan dengan Casey Stoner di Laguna Seca pada 2008 sebagai momen overtaking yang paling memuaskan untuknya. Pertarungan sengit lainnya seperti melawan Sete Gibernau di Jerez pada 2005.

Seperti dimuat oleh Speedweek, Jumat (20/11/2015), pada tahun tersebut kedua pembalap memang sedang sengit-sengitnya bersaing. Saat itu, Stoner yang musim sebelumnya menjadi juara dunia berada dalam puncak performa. Sementara Rossi tengah mengejar gelar kelimanya.

Sejak lap awal keduanya bersaing sengit. Bahkan mereka berdua meninggalkan jauh lawan-lawannya. Stoner dan Rossi pada saat itu saling serang di tikungan cepat ala Laguna Seca. Rossi yang cukup lihai dalam memanfaatkan celah ditikungan untuk menyalip tak membiarkan Stoner mengudeta posisinya.

Pada tikungan Corkscrew, Rossi menyalip Stoner dan hampir saja menyenggol mantan pembalap Repsol Honda tersebut. Bahkan selepas balapan, Stoner menyatakan ketidakpuasannya akan manuver yang dilakukan Rossi.

Tekanan yang diberikan oleh Rossi ternyata tak mampu dihadapi dengan baik oleh Stoner. Jelang akhir balap, rider asal Australia tersebut terjatuh dan otomatis membuat The Doctor melenggang jauh meninggalkan The Kurri Kurri Boy.

“Saya pikir momen terbaik saya saat melibas Stoner di Corkscrew, Laguna Seca,” ujar Rossi.