Scott Redding

Pedrosa Sebut Balapan di Assen Seperti Lotre

BeritaBintang – Pembalap MotoGP dari tim Repsol Honda, Dani Pedrosa menilai balapan di Assen, Minggu (27/6/2016) seperti lotre. Hal itu tak terlepas dari perubahan cuaca yang terjadi saat balapan.

Cuaca tidak menentu terjadi saat GP Assen akhir pekan lalu. Di awal, balapan berlangsung dalam kondisi sirkuit yang kering. Namun tak lama kemudian hujan deras mengguyur sirkuit.

Balapan bahkan sempat dihentikan karena hujan yang turun terlalu deras. Saat balapan kembali dilanjutkan, beberapa pembalap termasuk Valentino Rossi terjatuh lantaran kondisi sirkuit yang basah.

Jack Miller dari tim Estrella Galicia 0,0 Marc VDS keluar sebagai juara. Menyusul di podium kedua dan ketiga ada pembalap Repsol Honda, Marc Marquez dan Scott Redding dari Pramac Ducati.

“Balapan yang sangat sulit di akhir pekan, tapi balapan kemarin itu seperti lotre,” ujar Pedrosa seperti dikutip Panduan Judi Online .

Pedrosa mengungkapkan untuk mengakali kondisi cuaca itu, dirinya memakai strategi yang berbeda. Saat hujan belum turun, dirinya menggunakan strategi pemakaian ban lembut. Namun saat balapan dihelat kembali dirinya menggunakan ban berbeda.

Alih-alih mujarab, Pedrosa mengaku strategi tersebut justru menjadi bumerang bagi dirinya. “Saya merasa tidak beruntung karena berpikir untuk menggunakan strategi berbeda ternyata tidak menguntungkan,” ujar Pedrosa yang finis di posisi 12 dalam balapan di Assen.

“Di balapan kedua, saya terjatuh di lap pertama karena ban baru saya tidak memiliki cengkeraman yang bagus. Balapan kemarin telah menjadi balapan yang sulit, tapi kami akan mencoba menemukan solusi untuk balapan selanjutnya,” kata Pedrosa mengakhiri.

Pembalap Pramac Ducati Akui Alami Masalah di Catalunya

BeritaBintang – Hasil kurang baik kembali harus rela ditelan pembalap Tim Pramac Ducati, Scott Redding di seri ketujuh di Catalunya, Barcelona, Spanyol. Redding hanya dapat finis di posisi ke-16.

Pria berusia 23 tahun itu mengaku motornya tidak dapat beradaptasi dalam beberapa seri terakhir. Ia menilai ban Michelin yang tidak dapat beradaptasi dengan motor Ducati menjadi penyebab utama dirinya gagal meraih hasil manis di Catalunya.

“Menurut saya, mereka lebih memikirkan mengenai masalah ban daripada perangkat lainnya. Saya juga merasa ada masalah tidak hanya pada tenaga, tetapi juga dengan sasis. Namun jika Anda terlalu memikirkannya, Anda akan meraih hasil yang lebih buruk,” tutur Redding, sebagaimana dikutip dari Bintangbola.co, Rabu (15/6/2016).

Redding menambahkan bahwa hingga saat ini timnya masih mencari faktor utama motornya tidak dapat tampil kompetitif. Ia merasa masalah yang dirasakannya tidak hanya pada ban, tetapi juga pada bagian-bagian lainnya.

“Di akhir saya menjadi tidak dapat mengendarainya. Saya berusaha untuk melupakannya, tetapi saya tidak bisa. Saya merasakan masalah pada motor, Michelin, dan pengaturan elektronik. Masalah yang dirasakan tidak hanya di satu bagian,” jelasnya.

Jelang Seri Belanda, Redding Tidak Tertarik Lakukan Perubahan

BeritaBintang –Pembalap Tim Pramac Ducati, Scott Redding mengaku tidak tertarik melakukan perubahan jelang seri Belanda, akhir Juni 2016. Dalam tujuh seri terakhir, Redding belum berhasil menunjukkan performa yang memuaskan.

Di GP Catalunya, Redding hanya berhasil finis di posisi ke-16. Hasil tersebut tentu tidak sesuai dengan yang ia inginkan. Sejauh ini, Redding hanya mampu duduk di posisi ke-18 dengan raihan 16 poin.

Kendati demikian, Redding mengaku dirinya tidak tertarik melakukan perubahan. Ia mengaku telah cukup puas dengan performa ban dan pengaturan elektroniknya sejauh ini.

“Kami dapat tampil baik di beberapa lap. Pengaturan elektronik dan motor kami pun cukup baik. Kami berhasil menampilkan kemajuan. Kami berhasil melalui 21 lap dengan satu set ban dan kami hanya tertinggal 48 detik dalam dua lap terakhir,” tutur Redding, sebagaimana dilansir TaruhanBolaOnline, Rabu (15/6/2016).

“Saya tidak ingin mencoba ban baru. Saya ingin menggunakan ban yang lama. Dengan kondisi seperti ini, ban kami dapat bekerja dengan baik,

Bautista Tabrak Mekanik, Rossi dan Marquez Usulkan Pembatasan Kecepatan di Pit

BeritaBintang – Valentino Rossi dan Marc Marquez satu suara soal keamanan dan keselamatan di pit stop. Setelah apa yang dialami Alvaro Bautista, keduanya mengusulkan pembatasan kecepatan di pit stop.

MotoGP Argentina di akhir pekan lalu menjadi flag to flag race setelah Race Direction memutuskan pebalap wajib mengganti motor di tengah lomba. Langkah itu diambil sebagai respons dari insiden pecah ban yang dialami Scott Redding di sesi latihan bebas.

Tapi insiden terjadi saat seluruh pebalap bergantian masuk pit di lap 9, 10, dan 11. Bautista kehilangan kendali motornya dan terjatuh di depan garasi timnya. Yang kemudian jadi kekhawatiran adalah Bautista menabrak salah seorang mekaniknya hingga jatuh terguling. Beruntung mekanik itu tak mengalami cedera parah.

“Buat saya itu berbahaya, tapi tentu saja situasi flag to flag adalah kondisi khusus saat balapan dimulai di bawah hujan seperti di Argentina,” ucap Marquez.

“Kita harus memikirkan hal tersebut, tapi mungkin mengurangi kecepatan bisa menjadi opsi yang bagus. Para pebalap mungkin akan memprotes karena kehabisan banyak waktu, tapi yang jelas itu untuk keselamatan. Juga akan lebih baik jika lebih sedikit orang di pit, kadang terlalu banyak orang di sana dan itu berbahaya,” lanjut Maruqez di Bintangbola.com

Pada ajang MotoGP, flag to flag race mulai diperkenalkan pada tahun 2005 silam. Pada umumnya kondisi tersebut berlaku saat hujan, sehingga membuat pebalap bisa mengganti ban motornya sesuai dengan kondisi lintasan.

Dari tahun ke tahun flag to flag beberapa kali mengundang perdebatan. Termasuk yang terakhir di MotoGP Argentina.

“Itu terjadi di F1, si pebalap membuat kesalahan dan menabrak mekanik. Seperti yang dialami Bautista. Saya melihat videoanya, dan saya tidak tahu apakah Bautista terlambat mengerem atau kondisinya basah di depan garasinya, mungkin dia datang terlalu cepat. Membuat perubahan pada pembatasan kecepatan akan menjadi ide bagus,” timpal Rossi.

Cerita Bautista Tabrak Mekaniknya Saat Pit Stop

BeritaBintang – Banyak kejadian menarik di pit MotoGP Argentina pada akhir pekan lalu. Selain kewajiban mengganti motor, ada juga kecelakaan yang melibatkan Alvaro Bautista dengan mekaniknya.

MotoGP Argentina diwarnai banyak cerita menarik, yang hampir seluruhnya terkait dengan kondisi ban. Race Direction memutuskan pebalap wajib mengganti motor di putaran 9, 10, atau 11 dan memotong durasi balapan menjadi hanya 20 laps –awalnya 25 lap. Keputusan ini diambil sebagai respons dari insiden pecah ban yang dialami Scott Redding di sesi latihan bebas keempat.

Alhasil pada tiga lap tersebut keseibukan besar terjadi di pit. Seluruh pebalap berdasarkan strateginya masing-masing mampir ke garasinya dan bergegas mengganti tunggangan.

Di tengah suasana menegangkan itu, seorang mekanik tim Aprilia Racing Team Gresini jadi korban. Tengah membantu Alvaro Bautista yang akan mengganti motor, dia malah ditabrak oleh ridernya itu.

Menuju garasinya masih dalam kecepatan cukup tinggi, Bautista kehilangan keseimbangan dan terjatuh saat masih berada di atas motor. Dia terseret beberapa meter dan menabrak mekanik malang tersebut.

Bautista bisa langsung bangkit dan menunggangi motor barunya untuk melanjutkan balapan. Sementara si mekanik korban tabraknya terlihat memegangi lutut menahan sakit dan tak bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Beberapa rekan mekanik langsung menghampir mencoba memberi bantuan.

Autoevolution menyebut mekanik tersebut tidak mengalami cedera parah.

Ini Kata Lorenzo tentang Posisi Start dan Situasi Terkait Ban

BeritaBintang – Jorge Lorenzo bicara mengenai posisi startnya di MotoGP Argentina, juga keputusan Michelin terkait ban yang ia sebut bakal bikin balapan jadi amat sulit.

Lorenzo akan memulai balapan di Autodromo Termas de Rio Hondo, Minggu (3/4/2016) waktu setempat atau Senin (4/4) dinihari WIB, dari posisi tiga.

Sesi kualifikasi Lorenzo sendiri diganggu oleh kecelakaan yang dialami rider Movistar Yamaha tersebut pada sesi free practice 4. Saat itu Lorenzo dan motor M1-nya mental ke gravel. “Saya sedikit tidak beruntung dengan insiden crash itu karena dengan dua motor kami sebenarnya masih bisa menggunakan ban depan baru dan bisa sedikit lebih cepat pada bagian akhir. Tapi ini tempat start bagus untuk memulai balapan,” kata Lorenzo di Crash.net.

Dalam dua kesempatan melaju di MotoGP Argentina, Lorenzo belum pernah naik podium teratas. Ia finis di posisi tiga pada 2014 dan finis kelima musim lalu.

“Kami tahu Argentina dan Austin bukanlah sirkuit terbaik buat kami, tapi kami harus bisa menemukan solusi terhadap situasi itu sebaik mungkin. Saya akan berusaha menang kalau memungkinkan dan kalau tidak bisa maka saya akan membidik podium,” tuturnya.

Sebuah insiden pecah ban dari Scott Redding pada free practice 4 membuat Michelin memutuskan untuk menarik kompon medium dan hard ban belakangnya. Ban medium dengan bahan berbeda, yang lebih keras, akan diperkenalkan jelan g balapan.

“Ini merupakan sebuah situasi yang amat aneh yang belum pernah saya alami sebelumnya. Sayangnya di masa lalu kami pernah punya masalah dengan ban dan sudah pasti bukan sebuah situasi yang nyaman untuk tim-tim dan para rider, tapi begitulah situasinya,” ucap Lorenzo.

“Saya punya rasa hormat besar kepada Michelin dan atas segala usaha yang mereka lakukan dalam beberapa bulan terakhir untuk meningkatkan ban-ban 2016. Kendatipun ada ketidaknyamanan saat ini, saya yakin mereka akan terus bekerja karena keselamatan adalah prioritas dalam balapan. Balapan nanti akan berjalan dengan amat sulit. Kami harus memulai dari nol lagi, tapi setidaknya semua rider merasakannya,” bebernya.

Elektronik Baru Bikin Rider Ini Tambah Girang

BeritaBintang –Pembalap Pramac Racing, Scott Redding, menyatakan elektronik baru akan membuat dirinya lebih hebat pada MotoGP 2016. Dia pun mematok target yang cukup tinggi di musim ketiganya berlaga di MotoGP.

Bersamaan dengan pergantian periode dari Bridgestone ke Michelin, MotoGP juga menyeragamkan elektronik mulai musim 2016 dengan memercayakan Magneti Marelli. Awalnya, para pembalap menilai hal penggunaan Magneti Marelli sebagai langkah mundur.

Adapun Pramac Ducati tampil meyakinkan dalam tes-tes pramusim yang sudah digelar. Bahkan, Redding finis kedua di belakang Jorge Lorenzo saat di Doha, Qatar.

“Bahkan saat tes pertama, saya langsung memulai dengan elektronik baru. Saya dan tim mengatakan, ‘benar, kami akan mengalami kerugian di tes ini, tapi saat long run akan membantu’. Apa poinnya mengaspal dengan elektronik lama?” kata Redding, seperti dimuat Autosport, Sabtu (12/3/2016).

“Kami pun memulai tes dengan elektronik baru dan mendapatkan datanya. Sangat bagus, saya tidak memiliki masalah dengan elektronik. Memang ini sedikit lebih agresif dan banyak pembalap yang komplain. Tapi, itu bukanlah saya. Saya merasa ini merupakan sebuah keuntungan (elektronik baru),” jelasnya.

Rider Ducati Kini Tak Lagi Dipandang Sebelah Mata

BeritaBintang – Pembalap Pramac Ducati, Scott Redding, menyatakan bahwa dirinya semakin percaya diri bisa memenuhi targetnya di MotoGP 2016, yakni menembus peringkat enam di klasemen akhir rider. Optimisme ini sebagai buntut hasil menjanjikan yang diperoleh rider Inggris itu dalam rangkaian uji coba pramusim di Sirkuit Losail, Qatar, pekan lalu.

Redding berhasil menduduki posisi kedua dalam daftar kombinasi catatan waktu, hanya kalah dari jagoan Movistar Yamaha yang juga jawara MotoGP 2015, Jorge Lorenzo. Padahal, Redding ‘hanya’ mengendarai motor Desmosedici GP15, bukan GP16 yang merupakan motor Ducati teranyar.

“Banyak media menertawakan saya ketika saya berkata pasti mampu menembus enam besar tahun ini, tapi ini bukan candaan! Uji coba Qatar adalah tempat di mana saya lebih ngotot untuk menunjukkan potensi, dan saya berhasil. Saya melaju cepat dengan ban baru. Jadi ini sisi yang benar-benar positif bagi saya,” celoteh Redding, seperti dimuat RACER, Selasa (8/3/2016).

“Saya sangat puas untuk progress yang saya raih, dan rasa percaya diri saya sangat meningkat jauh. Ducati sedikit kesulitan di Phillip Island, tapi kami tampil baik di Sepang dan Jerez. Saya percaya diri di atas Michelin dan semakin baik memahami elektronik baru. Jadi saya sangat optimis menatap musim ini,” urainya.

Semua Pembalap Bisa Mengejutkan pada MotoGP 2016

BeritaBintang –   Pembalap Tim Repsol Honda, Marc Marquez, meyakini  banyak kejutan muncul pada MotoGP 2016. Bahkan rider berjuluk Baby Alien itu meyakini bukan tak mungkin pembalap yang membela tim satelit mampu mengganggu dominasi tim pabrikan.

Benar saja, sewaktu menjalani sesi tes pramusim di Sirkuit Ricardo Tormo dan Jerez pada November 2015, beberapa tim mampu mengejutkan. Tim Suzuki Ecstar lewat pembalapnya Maverick Vinales mampu menjadi yang tercepat kedua pada hari pertama tes di Ricardo Tormo.

Sementara pembalap Tim Pramac Ducati, Scott Redding, sempat menjadi yang tercepat saat menjalani tes di Jerez. Sekaligus mengasapi Marquez yang harus puas duduk di posisi dua.

Bisa dibilang hal-hal tersebut terjadi karena adanya perubahan regulasi pada MotoGP 2016. Regulasi yang mengalami perubahan yakni bergantinya pemasok ban dari Bridgestone ke Michelin serta kewajiban menggunakan perangkat elektronik buatan Magneti Marelli dari Dorna.

“Semua pembalap bisa membuat kejutan dan sulit mengatakan di mana nantinya kami akan berdiri. Yang pasti, saat ini kami terus melakukan pengembangan,” jelas Marquez seperti mengutip dari Bioskopsemi , Senin (18/1/2016).

Hal yang Bikin Jorge Lorenzo Terpelanting dari Motor di GP San Marino

BeritaBintang – Pebalap Movistar Yamaha, Jorge Lorenzo, mengaku sempat terburu-buru setelah sempat terbalap oleh pebalap Marc VDS, Scott Redding.

Ketergesaan tersebut menyebabkan dirinya terjatuh dan tidak dapat menyelesaikan balapan pada GP San Marino di Sirkuit San Marino, Minggu (13/9/2015).

“Ketika Redding melewati saya sangat cepat, saya kehilangan kesabaran karena saya rasa saya terlalu lambat dan harus cepat-cepat atau mereka semua membalap saya.” ujar Lorenzo yang dilansir laman Crash.

Menurutnya setelah mengganti ban basah dengan kering di pit stop, dirinya mengaku kesulitan untuk memacu motornya dengan ban baru ini.

Dirinya mengaku seharusnya dia memakai ban basah lagi. Akibatnya, Jorge Lorenzo mengaku menjadi tidak konsentrasi sehingga menyebabkan kecelakaan.

“Itulah kenapa pada satu titik saya tidak memperhatikan bahwa sudut ini kiri setelah banyak belokan ke kanan.” ujarnya.

“Itu kesalahan, karena jika saya lebih sabar, setidaknya posisi kedua atau ketiga jadi milik saya.” ujarnya.

Jorge Lorenzo gagal menyelesaikan balapan di GP San Marino. Kegagalan ini menyebabkan dirinya tertinggal jauh oleh Rossi di klasemen pebalap.

Valentino Rossi memimpin klasemen pembalap setelah mengantongi 247 poin. Pebalap asal Italia ini menjauhkan jarak dari Lorenzo hingga 23 poin.