Rio Hondo

Makin Pede Melaju, Johann Zarco Pasang Target Tinggi di GP 2017

BeritaBintangMakin Pede Melaju, Johann Zarco Pasang Target Tinggi di GP 2017

Berhasil menempati urutan kelima dalam Grand Prix (GP) Argentina, pembalap Monster Yamaha Tech3, Johann Zarco  mengaku telah menetapkan standar yang tinggi dalam musim 2017 ini. Ia mengklaim dirinya bisa disejajarkan dengan rival lain sekelas Cal Crutchlow dan Alvaro Bautista.

“Memulai laga di Qatar sangat penting bagi kepercayaan diri dan kekuatan mental saya. Jika saya kembali ke situasi seperti ini, saya bisa menguasai itu lebih baik lagi,” ungkap Zarco mengutip dari AGEN BOLA, Minggu (16/4/2017).

[ Baca Juga : ” Peter Capaldi Mundur Lebih Cepat, Selamat Tinggal Doctor Who ke-12 ” ]

Sempat menjadi monster di kelas Moto2 dengan dua gelar juara dunia, Zarco mengatakan tidak terlalu merasakan perbedaan setelah mencicipi MotoGP. Pembalap berusia 26 itu juga mengakui pilihan ban depan lunaknya menjadi faktor kemenangan dari pembalap lain. Ia juga mengatakan tidak berada di bawah tekanan sehingga bisa menikmati balapan.

“Secara keseluruhan, GP Qatar memang tidak terlalu bagus. Tapi kini tekanan bagi saya tidak terlalu besar. Jika tidak bisa memiliki kecepatan yang bagus, saya mungkin akan kaget! Tapi sungguh bagus bisa memulai race dengan raihan ini,” tutup Zarco percaya diri.

Membawa YZR-M1 andalannya, pembalap asal Prancis itu memang boleh jemawa dengan keberhasilan di GP Argentina. Sang rider mampu meraih 11 poin usai menyelesaikan balapan di Sirkuit Termas de Rio Hondo di urutan kelima.

Pulang dengan Tangan Kosong di GP Argentina, Alex Rins Move On ke GP Amerika Serikat

BeritaBintangPulang dengan Tangan Kosong di GP Argentina, Alex Rins Move On ke GP Amerika Serikat

Tak hanya mengalami cedera selama tiga hari di gelaran Grand Prix (GP) Argentina 2017, pembalap Tim Suzuki Ecstar, Alex Rins juga harus menerima kenyataan pahit usai dirinya gagal menyelesaikan balapan di Sirkuit Termas de Rio Hondo, Senin 10 April 2017 dini hari WIB itu.

“Kenyataannya, ini adalah minggu yang sulit (di Argentina). Kami tahu balapan akan menjadi sulit karena cedera yang saya alami. Cedera itu membuat saya kesakitan selama tiga hari penuh, tapi kami ingin mengikuti balapan, dan pada akhirnya semua itu bisa terlaksana,” ungkap Rins mengutip dari situs resmi AGEN BOLA, Kamis (13/4/2017).

[ Baca Juga : ” Movie Trailer: Sifat Jahat Optimus Prime Terungkap Transformers: The Last Knight ” ]

Meski bisa mengikuti race sesungguhnya, namun cedera yang dialami pembalap asal Spanyol itu mempersulit penampilannya dalam membawa GSX-RR –motor andalan sang rider. Ia mengaku merasa nyaman dengan kondisi pergelangan kakinya yang cedera, namun hal itu membuat dirinya kesulitan mengerem.

“Saya kesakitan saat mengerem. Setelah beberapa putaran dan berada di posisi 15, saya mencoba menyalip di setiap tikungan, dan itu berhasil membuat saya maju ke posisi 14. Tapi kemudian saya hilang kontrol dan terjadilah tabrakan,” timpal rider berusia 21 tahun itu.

Rins pun harus gigit jari karena tidak berhasil menyelesaikan balapan selama 25 lap itu. Hal yang tak kalah buruk juga dialami rekan setimnya, Andrea Iannone. Maniac Joe –sapaan akrab Iannone– hanya finis di posisi 16 dan gagal meraih poin.

“Sekarang, sudah saatnya untuk melihat ke depan dan berharap untuk Austin (GP Amerika Serikat). Saya suka sirkuit di sana! Saya akan melakukan pemulihan dengan istirahat serta fisioterapi, sehingga saya bisa tiba di Texas dengan kondisi prima,” tutup Rins optimis.

Wih! Ini Video Tiga Pembalap Saling Berebut Posisi Dua MotoGP Argentina 2017

BeritaBintangWih! Ini Video Tiga Pembalap Saling Berebut Posisi Dua MotoGP Argentina 2017

Balapan seri kedua MotoGP 2017 di Sirkuit Termas de Rio Hondo, Senin 10 April 2017 dini hari WIB, berlangsung dramatis. Pasalnya, sejumlah pembalap unggulan, seperti Marc Marquez (Honda), Jorge Lorenzo (Ducati), dan Dani Pedrosa (Honda) tidak dapat melanjutkan balapan karena terjatuh. AGEN BOLA

Pada balapan tersebut, Marquez memulai balapan dari posisi pertama lantaran meraih pole position dari hasil sesi kualifikasi. Namun, malapetaka menghampiri The Baby Alien –julukan Marquez– saat dirinya terjatuh setelah memimpin tiga lap awal.

[ Baca Juga : ” Pernah Ikut Main, Joe Taslim Puji ‘Fast & Furious 8’ Semakin Gokil ” ]

Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh tiga pembalap lain di belakang Marquez. Alhasil, pembalap Maverick Vinales (Yamaha) mengambil alih urutan terdepan usai Marquez terjatuh.

Sebelumnya, Vinales berhasil mencuri posisi dua dari pembalap LCR Honda, Cal Crutchlow. Top Gun –julukan Vinales– tidak hanya menyalip Crutchlow, tetapi juga berada di depan rekan setimnya, Valentino Rossi.

Vinales pun mampu menyelesaikan balapan di garis terdepan MotoGP Argentina 2017. Pembalap berpaspor Spanyol itu mencatatkan waktu terbaik 41 menit 45,060 detik.

Rossi Ogah Jabat Tangan Marquez

BeritaBintang –Musim lalu gesekan antara Valentino Rossi dan Marc Marquez menjadi cerita utama yang banyak diperbincangkan. Semuanya berawal dari tuduhan Rossi kepada Marquez yang dianggap bekerja sama dengan Jorge Lorenzo untuk menjegalnya menjadi juara dunia.

Lalu klimaksnya terjadi ketika Marquez tersenggol Rossi di Sirkuit Sepang, Malaysia. Tampaknya rasa kesal Rossi kepada rider yang mengaku mengidolainya tersebut masih begitu membekas di hati Rossi.

The Doctor – julukan Rossi – bahkan mengaku enggan untuk berjabat tangan dengan rider yang membela Repsol Honda tersebut. Masih kesalnya Rossi dengan Marquez sebenarnya juga sudah ditunjukkan pada musim ini.

Pada balapan di Rio Hondo, Argentina, pembalap asal Italia tersebut tidak merayakan podium bersama dengan Marquez. Rider yang total telah membukukan sembilan gelar juara dunia tersebut memilih untuk berlari ke pojok dan merayakan podium dengan staf timnya yang berada di bawah.

“Sayangnya Marquez bukan rekan satu tim saya.. Jadi saya tidak mau menjabat tangannya,” ujar Rossi seperti dikutip dari Indowins, Rabu (13/4/2016).

Rossi Bilang Marquez Pandai Bersilat Lidah

BeritaBintang  – Valentino Rossi sudah tak lagi mempercayai setiap perkataan yang keluar dari mulut Marc Marquez. Ini bukan terkait insiden kecelakaan di Sepang musim lalu melainkan juara dunia sembilan kali itu menuduh joki Repsol Honda selalu bisa memainkan kata-kata di depan wartawan, terutama ketika ditanya tentang strategi balapan di musim ini.

Sejak insiden di Sepang, perseteruan Rossi dan Marquez akan selalu menyita perhatian penikmat balap. Apalagi ketika menyangkut nasib kedua pembalap lintasan kuda besi MotoGP ini. Bahkan ada anggapan bahwa mereka tampaknya tidak akan pernah bersahabat.

Kabar terbaru yang muncul sekarang adalah Rossi menuduh Marquez pandai bersilat lidah. Ini bukan sekadar rumor, tapi joki Movistar Yamaha selalu terjebak dengan perkataan Marquez kepada wartawan ketika dia disinggung mengenai kendala sebelum menghadapi balapan.

Di GP Qatar misalnya, Marquez yang gagal bersaing di sesi latihan pertama dengan hanya menempati posisi kedelapan mengeluh soal perangkat elektronik baru yang menempel pada bagian RC213V miliknya. Tapi di kualifikasi ia malah mampu menempel kecepatan Jorge Lorenzo dan menyelesaikan balapan seri perdana MotoGP di podium ketiga.

Hal serupa juga dilakukan Marquez saat mengaspal di Argentina. Pemilik nomor 93 itu mengeluhkan butiran debu halus di Sirkuit Termas de Rio Hondo selama menjalani sesi latihan bebas pertama (FP1). Akibatnya Marquez kalah cepat dari Andrea Dovizioso dengan selisih 0.094 detik setelah mencatatkan waktu terbaik kedua 1 menit 43.778 detik.

Seperti pembahasan sebelumnya, meski mengeluhkan kendala sebelum menjalani balapan. Namun Marquez malah sukses merebut pole position dan podium pertama di seri kedua tersebut. Pengalaman itu yang ingin dijadikan Rossi sebagai pelajaran bahwa ia sudah tak lagi mempercayai perkataan Marquez tentang masalah apapun jelang balapan.

Dikatakan Rossi, setiap Marquez mengeluh semua pembalap akan terjebak. Karena dia selalu bisa menyudutkan mekanik Honda seakan tidak becus mengurus kuda besi RC213V miliknya. Padahal disisi lain, ia justru tampil kompetitif dan itu terlihat ketika juara dunia dua kali di kelas utama merebut posisi tercepat di FP1 dan FP2 di Circuit of The Americas (COTA).

“Saya selalu menganggap dia (Marquez) sangat berbahaya dan ia selalu mengatasi situasi dengan baik (perubahan). Selama sesi latihan di Qatar, Lorenzo tampil sebagai yang tercepat. Tapi kemudian Marquez malah berhasil mengambil podium,” kata Rossi seperti dikutip Berita Bintang, Sabtu (9/4/2016).

“Kesalahan saya terjadi di Argentina. Saya tidak pernah menyangka jika Marquez bisa merebut pole position dan menyelesaikan balapan dengan kemenangan. Menurut saya, ketika dia berbicara tentang masalah pada motor Honda, Marquez seperti sedang memainkan taktik untuk melakukan serangan balik. Padahal ia tahu betul bahwa motor yang digunakannya sangat kompetitif,” tukas Rossi.

Lorenzo Pilih Kubur Kenangan Pahit di Argentina

BeritaBintang –  Jorge Lorenzo tak ingin berlama-lama menyesali kegagalannya di Grand Prix Argentina, Senin (4/4/2016) dini hari WIB. Sebab joki Movistar Yamaha itu telah mengubur kenangan pahit tersebut untuk mengalihkan perhatiannya menuju balapan seri ketiga musim ini di Sirkuit Austin, Texas, akhir pekan ini.

Perlu diketahui sejak Sirkuit Termas de Rio Hondo masuk kalender MotoGP pada 2014 lalu. Lorenzo tercatat hanya satu kali berdiri di podium, sehingga tak heran jika juara dunia musim lalu itu menempatkan trek yang memiliki panjang 4.805 km sebagai sirkuit angker untuk dirinya.

Pasalnya Lorenzo merasakan insiden kecelakaan yang menyebabkannya kehilangan poin. Namun ia mengakui bahwa peristiwa memalukan itu adalah kesalahannya sendiri saat dirinya berusaha keras menaklukan balapan dalam kondisi basah.

“Kami memiliki masalah selama sesi latihan. Tapi untungnya kami mendapatkan baris pertama di kualifikasi dan ini merupakan awal yang baik. Namun dengan kondisi basah seperti ini dan ada beberapa bagian kecil di sudut membuat saya kurang nyaman. Saya pikir itu adalah kesalahan saya, karena sebagai pembalap saya tidak merasa cukup nyaman untuk mempertahankan barisan pertama. Teruma ketika pembalap mulai mempertaruhkan segalanya demi merebut podium,” beber Lorenzo seperti dikutip MCN, Selasa (5/4/2016).

Lorenzo menceritakan kronologis kejadian tersebut. Saat itu ia tengah memacu kecepatan penuh di lap ke-15, namun ketika masuk ke tikungan pertama ia mulai kehilangan keseimbangan. Alhasil, motor YZR M1 2016 Yamaha hancur sehingga X-Fuera tidak bisa meneruskan balapan.

“Saya membuat kesalahan di tikungan pertama lap 15. Saya mengambil bagian kecil yang lebih basah dan saya bermanuver terlalu melebar. Sehingga saya kehilangan ban depan dan tidak bisa melanjutkan. Ini adalah ajang balap, terkadang Anda menang dan terkadang Anda kalah. Saya harus menerimanya dan berpikir positif,” tukas Lorenzo.

Ini Kata Lorenzo tentang Posisi Start dan Situasi Terkait Ban

BeritaBintang – Jorge Lorenzo bicara mengenai posisi startnya di MotoGP Argentina, juga keputusan Michelin terkait ban yang ia sebut bakal bikin balapan jadi amat sulit.

Lorenzo akan memulai balapan di Autodromo Termas de Rio Hondo, Minggu (3/4/2016) waktu setempat atau Senin (4/4) dinihari WIB, dari posisi tiga.

Sesi kualifikasi Lorenzo sendiri diganggu oleh kecelakaan yang dialami rider Movistar Yamaha tersebut pada sesi free practice 4. Saat itu Lorenzo dan motor M1-nya mental ke gravel. “Saya sedikit tidak beruntung dengan insiden crash itu karena dengan dua motor kami sebenarnya masih bisa menggunakan ban depan baru dan bisa sedikit lebih cepat pada bagian akhir. Tapi ini tempat start bagus untuk memulai balapan,” kata Lorenzo di Crash.net.

Dalam dua kesempatan melaju di MotoGP Argentina, Lorenzo belum pernah naik podium teratas. Ia finis di posisi tiga pada 2014 dan finis kelima musim lalu.

“Kami tahu Argentina dan Austin bukanlah sirkuit terbaik buat kami, tapi kami harus bisa menemukan solusi terhadap situasi itu sebaik mungkin. Saya akan berusaha menang kalau memungkinkan dan kalau tidak bisa maka saya akan membidik podium,” tuturnya.

Sebuah insiden pecah ban dari Scott Redding pada free practice 4 membuat Michelin memutuskan untuk menarik kompon medium dan hard ban belakangnya. Ban medium dengan bahan berbeda, yang lebih keras, akan diperkenalkan jelan g balapan.

“Ini merupakan sebuah situasi yang amat aneh yang belum pernah saya alami sebelumnya. Sayangnya di masa lalu kami pernah punya masalah dengan ban dan sudah pasti bukan sebuah situasi yang nyaman untuk tim-tim dan para rider, tapi begitulah situasinya,” ucap Lorenzo.

“Saya punya rasa hormat besar kepada Michelin dan atas segala usaha yang mereka lakukan dalam beberapa bulan terakhir untuk meningkatkan ban-ban 2016. Kendatipun ada ketidaknyamanan saat ini, saya yakin mereka akan terus bekerja karena keselamatan adalah prioritas dalam balapan. Balapan nanti akan berjalan dengan amat sulit. Kami harus memulai dari nol lagi, tapi setidaknya semua rider merasakannya,” bebernya.

Rossi Ngaku Sulit Bersaing dengan Marquez

BeritaBintang –Pembalap Tim Movistar Yamaha, Valentino Rossi, agak merendah jelang tampil di race kedua MotoGP yang berlangsung di Sirkuit Termas de Rio Hondo, Senin 4 April 2016 dini hari WIB. The Doctor –julukan Rossi– mengaku sulit bersaing dengan pembalap Tim Repsol Honda, Marc Marquez, di balapan nanti.

Marquez dan Rossi mendapat posisi start yang baik. Baby Alien –julukan Marquez– berhasil meraih pole position, sementara Rossi berada tepat di bawahnya.

Tak heran Rossi berpendapat demikian. Marquez begitu dominan sejak mengawali Free Practice (FP) hingga kualifikasi.

Terlepas dari hasil tersebut, persaingan sengit antara Marquez dan Rossi bukan tak mungkin dapat terjadi. Sebab keduanya sempat bersaing ketat pada balapan yang berlangsung di Sirkuit Termas de Rio Hondo pada MotoGP 2015.

Saat itu Marquez dan Rossi bersaing ketat dari awal hingga lap terakhir. Namun, Marquez mengalami nasib sial karena terjatuh usai menyenggol ban belakang motor Rossi. Pada ujungnya Rossi berhasil meraih kemenangan, sementara Marquez gagal finis.

“Saya pikir bertarung dengan Marquez akan menyulitkan sebab ia sangat cepat,” tegas Rossi mengutip dari Crash, Minggu (3/4/2016).

Marquez Belajar dari Kegagalan Musim Lalu

BeritaBintang –    Penampilan Marc Marquez musim lalu memang jauh dari ekspektasi. Berbagai kegagalan dialami oleh rider bertubuh mungil tersebut pada musim lalu. Meski demikian, menurut Manajer Honda Racing Corporation, Livio Suppo, kegagalan yang ia dapatkan musim lalu merupakan pelajaran.

Pembalap Repsol Honda yang menggunakan nomor motor 93 tersebut tercatat gagal finis di enam seri yakni di seri Rio Hondo, Mugello, Barcelona, Silverstone, Aragon, dan Sepang. Pada seri Sepang, dirinya bahkan terlibat kejadian kontroversial yakni bersenggolan dengan rider Movistar Yamaha, Valentino Rossi.

Pembalap andalan Repsol Honda tersebut pada akhirnya menyudahi musim 2015 di posisi ketiga klasemen dengan raihan total 242 poin. Musim lalu, total ia mengepak sembilan kali finis di zona podium.

“Musim lalu adalah pelajaran untuk Marc. Dia untuk kali pertama merasakan bagaimaan pejuangannya di kompetisi ini. Dia berlajar banyak pada 2015, bahkan ia mengakui jika ia kehilangan gelar karena sikapnya dan masalah pada ban,” ujar Suppo seperti dikutip dari BintangBoLa, Minggu (13/3/2016).

“Sekarang kami berada di awal musim dan belum 100 persen. Kami bagaimana pun juga akan bertindak lebih protektif, dan hal itu normal adanya,” tuntasnya.

Masih Ada Kans Stoner Kembali Mengaspal

BeritaBintang –   Casey Stoner kembali memperkuat Ducati sebagai test rider untuk dua musim ke depan mulai MotoGP 2016. Dia juga memiliki kans mengaspal di beberapa seri seperti GP Australia dan GP Italia sebagai wildcard rider.

Alasan terbesar Stoner meninggalkan Honda disebut-sebut karena dia kecewa atas perlakuan manufaktur asal Jepang tersebut. Saat Dani Pedrosa absen dalam lomba di Austin, Rio Hondo, dan Jerez, pembalap berkebangsaan Australia tersebut justru diacuhkan Honda yang lebih memilih Hiroshi Aoyama.

Ditambah lagi dengan feedback Stoner terhadap motor RC213V yang tak diindahkan Honda, sehingga dia akhirnya memilih kembali ke Ducati. Bersama tim asal Italia tersebut, dalam kontrak terdapat klausul yang menyebutkan The Kurri-Kurri Boy –julukan Stoner– bisa membalap sebagai wildcard rider.

“Stoner telah memberitahu kami bahwa dia akan sangat senang mengambil posisi Dani di Austin, karena Dani tak bisa membalap setelah menjalani operasi. Namun, ide kembali sebagai pembalap reguler tak terbersit di benak dia. Kami pikir situasinya akan sama saat ini,” papar Sporting Director Ducati, Paolo Ciabatti, seperti dilansir Bioskop168 , Minggu (27/12/2015).

“Soal ini kami nanti akan menanyakan kepada Casey apakah dia ingin menggantikan salah satu pembalap kami. Terdapat bunyi dalam kontraknya bahwa kami harus menanyakan dia, tapi yang memutuskan tetap dia. Jika dia setuju, maka terjadilah,” jelasnya.