RI

Berlibur ke Indonesia, Turis Malaysia Pasti Cari Ini

BeritaBintang –INDONESIA kaya destinasi pariwisata, dari sekian banyak nyatanya ada satu hal yang kerap dicari turis Malaysia ketika berlibur ke Tanah Air.

Indonesia bisa dibilang surga dunia, betapa tidak, hampir semua destinasi wisata dimiliki Indonesia sehingga turis asing pun berbondong-bondong ke Indonesia termasuk dari Malaysia.

Namun, bukan berarti hal tersebut membuat kita berpuas diri. Masyarakat Malaysia rupanya juga mengidamkan sebuah hal baru di Indonesia.

“Kalau sekedar pantai, masyarakat disini sudah terlalu biasa, sudah tidak asing, mereka ingin sebuah wisata yang tentunya berbeda, misalnya wisata religi, itu menarik, dan orang Malaysia juga suka itu,” ujar Akhmad Daya selaku konsulat jenderal RI untuk wilayah Kota Kinabalu, Malaysia di Kinabalu, Malaysia, baru-baru ini.

Rupanya hal tersebut menjadi pekerjaan rumah Indonesia, meskipun kita sudah memiliki candi Borobudur ataupun masjid Istiqlal, tampaknya minat masyarakat asing terhadap wisata religi patut dipertimbangkan.

Diharapkan dengan adanya karakter destinasi wisata, masyarakat asing dapat lebih banyak datang ke Indonesia.

“Kita berharap agar kedepannya destinasi wisata kita semakin berkembang, dan tentunya minat wisatawan asing juga semakin bertambah,” tutupnya.

Kala Media Belanda Penasaran Isu Narkoba dan LGBT di RI

BeritaBintang –Para jurnalis senior Belanda kian antusias mengikuti perkembangan isu-isu di Indonesia, yang kian beragam dan dinamis. Mulai dari program-program besar ekonomi yang tengah diterapkan pemerintah Indonesia, pemberantasan narkoba secara nasional, hingga isu LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender), yang tengah menjadi kontroversi di masyarakat.

Isu-isu itu mereka bahas bersama dengan Duta Besar baru Indonesia untuk Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja. Ini terjadi saat Dubes Puja mengundang mereka santap siang di Wisma Duta Rabu kemarin, demikian ungkap Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag.

“Tantangan terbesar sebagai Duta Besar Indonesia di Belanda adalah bagaimana terus menjaga dan meningkatkan hubungan bilateral yang selama ini sudah berjalan dengan sangat baik,“ kata Puja.

Para wartawan yang hadir pada acara makan siang bersama tersebut dari berbagai media cetak dan elektronik terkemuka di Belanda, seperti De Telegraaf, Algemeene Dagblad, Elsevier, Diplomatic Magazine, Geassocieerde Pers Diensten, Jurjenz Production, Wassenaarse Krant,  dan Indo Radio, salah satu media online dari Indonesia.

Puja mengungkapkan, selain menjelaskan tantangan terbesar dalam menjalankan hubungan bilateral, tantangan besar lain adalah isu ekonomi yakni bagaimana dapat terus meningkatkan nilai investasi dan perdagangan. “Selama ini Belanda merupakan mitra dagang Indonesia yang besar dan merupakan pintu gerbang masuknya ekspor Indonesia ke Eropa,” kata Puja.

Kerjasama dengan pihak swasta Belanda yang menyangkut water management juga disinggung. Kepada para jurnalis ini disampaikan bahwa hubungan kedua negara semakin dekat dengan disepakatinya Joint Declaration on Comprehensive Partnership yang ditandatangani kedua kepala pemerintahan tahun 2013 lalu.

Selain itu Dubes Puja juga menjelaskan bagaimana pemerintah menangani masalah narkoba dengan banyaknya korban narkoba di Indonesia. Dia menyampaikan data angka korban narkoba yang meninggal setiap hari dan jumlah pemakai narkoba yang direhabilitasi di Indonesia. Kondisi ini menyebabkan pemerintah memutuskan hukuman yang berat terhadap pembawa, pengedar dan pembuat narkoba di Indonesia.

Isu LGBT di Indonesia pun ditanyakan oleh Wouter de Winther,  wartawan De Telegraaf. Dubes Puja menjawab bahwa hal tersebut merupakan isu global yang juga dihadapi negara lain dan belum selesai dibahas di forum internasional termasuk di PBB.

Di Indonesia terdapat kelompok LGBT yang berhasil membuat Yogyakarta Declaration yang dicontoh oleh organisasi serupa di negara lain.

Untuk masalah pariwisata, disampaikan bahwa angka kunjungan wisatawan dari Belanda terus meningkat. Tahun 2015 lalu hampir mencapai 170 ribu orang.

Namun Indonesia perlu menyasar lebih banyak generasi muda Belanda sebagai wisawatan yang potensial.  Pelarangan mengenai penjualan alkohol juga disampaikan, dan dijelaskan bahwa pemerintah daerah telah mengatur penjualan alkohol di wilayahnya, seperti contohnya di Bali.

Sementara itu Maaike Kraaijeveld  dari Algemeen Dagblad menanyakan tentang penyelenggaraan Pasar Malam Indonesia (PMI). Puja mengungkapkan bahwa kemungkinan PMI sebagai salah satu sarana promosi Indonesia di Belanda akan diselenggarakan kembali pada tahun-tahun mendatang, bekerjasama dengan pihak swasta.

Jamuan makan siang Kepala Perwakilan RI ini merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh KBRI Den Haag untuk membuat jejaring dengan media guna mempromosikan dan menjelaskan tentang Indonesia terkini kepada publik Belanda, ungkap Azis Nurwahyudi, Minister Counsellor Pensosbud di KBRI Den Haag

Pada jamuan makan siang kali ini disajikan makanan tradisional Indonesia berupa Laksa Betawi, Nasi Rendang, Kue Pandan dan Brownies Ketan Hitam oleh kumpulan Chef Indonesia di Belanda yang tergabung dalam organisasi Indonesia Satu

Indonesia Desires Impermanent UN Security Council Membership

BeritaBintang – In the midst of Asia-Africa Conference event, Indonesian Minister of Foreign Relations, Retno Marsudi took the time to undergo a number of bilateral meetings with various countries representatives.

One of them was Nepal Foreign Relations Minister, Mahendra Bahadur Pandey.

Minister Retno viewed such meeting as imperative as discussion was not limited to only the efforts to strengthen the already established bilateral relations, between the two nations but also Indonesia’s hopefulness of Nepal support for RI’s future membership as the impermanent United Nation Security Council (DK PBB).

Additionally, such meeting allows for Minister Retno to perform diplomatic lobbying that would be mutually beneficial for both involving parties.

Indonesia’s official nomination into the council will occur this year.

“Indonesia’s interest that was proposed to Nepal centred around request for its support to nominate Indonesia as the impermanent member of The United Nation Security Council for the period 2015 through to 2020,” Minister Retno informed at JCC Senayan, Jakarta on Sunday 19 April 2015.

Moreover, Minister Retno also informs how discussion on peacekeeping was not overlooked and prioritized.

“During that meeting, we also agree to strengthen our bilateral relations particularly on peacekeeping endeavours. This is of a great importance especially with Nepal being the number 6 country that has contributed so largely for peacekeeping effort. Indonesia itself is situated at level 11 for large-scale contribution on peacekeeping,” Minister Retno continued.

Fortunately for Indonesia, Nepal Minister Pandey saw such proposition as very important and therefore led to his full support.

Minister Pandey views cooperation between the two countries as playing key role in constituting worldwide peace.

“Two nations have agreed to popularize the notions of peace and prosperity,” Minister Pandey added.

“We have hitherto contributed to world peace. It is the 21st century, a crucial period of time where crucial aspects such as peace and prosperity are widely popularized. In the absence of peace there will be no prosperity or improved human welfare.”

“In the absence of prosperity of each individual, there will be no peacefulness and there will be nothing to assure everyone’s safety,” he concluded.