PSK

Sebar Ribuan Kondom ke PSK Jadi Cara Penanggulangan HIV/AIDS di Daerah Ini

BeritaBintangSebar Ribuan Kondom ke PSK Jadi Cara Penanggulangan HIV/AIDS di Daerah Ini

Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) membagikan 1.400 kondom kepada Pekerja Seks Komersial (PSK) yang tinggal di Dukuh Mola (Kalimati Baru), Desa Pasir Panjang, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah.

“Kondom kami bagikan ke pengelola dan ada yang langsung dibagikan ke PSK,” terang Sekretaris KPA Kobar Muhammad Erfin Hidayat di Pangkalan Bun.

Pembagian kondom, terang Erfin, merupakan langkah untuk mencegah penularan HIV/AIDS dari para PSK dan pengguna jasa. Saat ini, kondom masih menjadi satu-satunya alat paling efektif untuk mencegah penularan virus tersebut.

[Baca Juga -“Anies-Sandi Jadi Gubernur, Haji Lulung: KJP dan KJS Akan Lebih Baik!“]

Erfin mengatakan, cara yang ditempuh KPA Kobar membagikan kondom ini untuk menekan penularan HIV/AIDS. “Pembagian kondom dilakukan sesuai dengan petunjuk KPA pusat, supaya daerah bisa menekan temuan kasus baru,” imbuhnya.

Selain itu, KPA Kobar juga menggandeng sejumlah perkumpulan dan komunitas peduli HIV/AID. Selain membagikan Kondom, pihaknya juga melakukan pemeriksaan kesehatan. “Pemeriksaan dilakukan untuk mendeteksi penyakit infeksi menular seksual (IMS),” lanjut Erfin.

Data dari KPA Provinsi Kalteng, di Kobar terdapat 152 PSK yang terinfeksi HIV/AIDS, dengan rincian 134 orang terdeteksi HIV dan 18 divonis tertular AIDS. Dari jumlah itu, mendudukan Kabupaten Kobar masuk peringkat ketiga se-Kalteng.

Tak Mau Bayar, Penis Pria Malaysia Digigit Waria

BeritaBintang –  Seorang pria Malaysia menderita luka serius di bagian alat vitalnya usai seorang waria pekerja seks komersial (PSK) menggigitnya. Waria tersebut menggigit penis akibat pria berusia 25 tahun itu menolak membayar setelah menggunakan jasanya.

Sebagaimana diwartakan BintangBola.Online, Selasa (5/7/2016), seorang pejalan kaki melihat pria yang tidak sadarkan diri di dekat mobilnya yang terparkir di pusat perbelanjaan di Kuching, Malaysia, pada Jumat 1 Juli 2016.

Usut punya usut, ternyata pria malang tersebut menderita luka cukup serius di bagian penis dan lehernya. Kepolisian Kuching menuturkan, pria itu langsung dilarikan ke Rumah Sakit Kuching.

Awalnya pria yang tidak disebutkan namanya itu menolak mengatakan apa yang sebenarnya yang terjadi ketika polisi coba merekam pernyataannya.

Namun akhirnya, ia mengungkapkan baru saja menggunakan jasa waria PSK yang dilakukan di dalam mobilnya. Tapi, pria tersebut menuturkan tidak punya uang untuk membayar waria itu.

Kesal karena tidak dibayar, si waria langsung menggigit penis dan mencekik leher pria Malaysia tersebut menggunakan kabel telefon hingga pingsan.

UU Baru Larang “Pembelian Seks”, Para PSK Prancis Protes

BeritaBintang –Sebuah undang-undang baru di Prancis kini coba membatasi aktivitas “bisnis lendir” alias prostitusi. Dalam UU yang baru saja disetujui Rabu (6/4/2016) lalu itu, disebutkan antara lain bahwa “pelanggan (prostitusi) akan dikenai hukuman denda dan diharuskan menghadiri kelas (kepedulian) mengenai dampak bisnis seks.”

Munculnya UU baru tersebut pun segera menuai protes, khususnya dari kalangan pekerja seks (PSK). Bahkan sebagaimana antara lain diberitakan Associated Press (AP), tepat di hari pemungutan suara untuk UU tersebut, Persatuan PSK Prancis yang dikenal dengan nama Strass, menggelar unjuk rasa di pusat kota Paris.

Pihak PSK menyebut UU tersebut sebagai sesuatu yang “berbahaya”. Selain menilai bahwa lahirnya UU tersebut akan membuat para PSK berada dalam posisi yang sangat berisiko, sebagaimana diungkapkan poster-poster demonya, mereka juga pada dasarnya menolak (kebutuhan) para pelanggan mereka dibatasi oleh peraturan.

Dalam UU baru tersebut, seperti dikutip AP, pelanggan PSK akan dikenai sanksi denda sebesar US$1.700 (sekitar Rp22,5 juta) untuk pelanggaran pertama kali. Besaran denda akan meningkat lebih besar ketika terjadi pelanggaran untuk kedua kalinya, bisa menjadi sebesar US$4.300 (sekitar Rp56,8 juta).

UU baru yang disebut-sebut sebagai pendekatan komprehensif demi mengurangi prostitusi itu pun mendapatkan tanggapan beragam dari kelompok-kelompok LSM. Amnesty International misalnya, mengeluarkan pernyataan senada dengan Strass, dengan menyebut bahwa UU tersebut “membahayakan” para PSK.

“(UU itu) Berarti bahwa para PSK harus berada dalam risiko lebih besar demi melindungi pelanggannya dari deteksi polisi,” ungkap pihak Amnesty International seperti dikutip BBC, sembari menjelaskan bahwa selama ini sudah banyak PSK yang harus meladeni “panggilan rumah” para pelangannya untuk menghindari polisi.

Sebaliknya, kelompok aktivis Le Mouvement du Nid justru mendukung penuh keluarnya UU baru tersebut. LSM yang memang berkampanye menentang prostitusi itu menyebut UU ini sebagai “kemenangan bersejarah”. Selain menilai bahwa secara hukum PSK akan bisa berbuat lebih banyak lewat UU ini, mereka juga menilainya dapat mengurangi kejahatan perdagangan manusia.

Sebagaimana catatan AP, UU ini sekaligus juga membatalkan legislasi tahun 2003 lalu yang melarang permintaan bayaran oleh PSK. Prostitusi (dalam arti penawaran jasa seksual) sendiri sejauh ini legal di Prancis, meski keberadaan rumah bordil, juga aktivitas mucikari dan prostitusi di bawah umur tergolong ilegal.

Sementara Reuters mencatat, langkah Prancis ini mengikuti jejak beberapa negara lainnya, seperti Irlandia Utara, Swedia, Norwegia, Islandia, juga Kanada. Pada intinya, UU ini disebut sebagai langkah “memindahkan hukuman ke pihak pelanggan” ketimbang di pihak PSK yang dinilai mungkin saja menjalani profesinya karena terpaksa.

Kantor Pusat Penanganan Penyelundupan Manusia mencatat saat ini terdapat sekitar 30.000 hingga 37.000 PSK di Prancis. Kepada Reuters, Le Mouvement du Nid menyebut, sebanyak hampir 85 persen dari mereka adalah korban perdagangan manusia, yang kebanyakan berasal dari Bulgaria, Rumania, juga Nigeria, Kamerun dan Cina

Berpakaian Kelewat Seksi, Napoli Denda PSK Rp7 Juta!

BeritaBintang –Prostitusi jadi salah satu pekerjaan rumah (PR) yang jadi beban Wali Kota Salerno, Enzo Napoli. Oleh karenanya, Napoli lewat persetujuan dewan kota, memperkenalkan aturan baru.

Aturan anti-perilaku buruk di muka umum yang diberlakukan untuk pekerja seks komersial (PSK) jalanan khususnya dan wanita secara keseluruhan. Regulasi ini keluar setelah Napoli menerima banyak keluhan para warga Kota Salerno.

Hukum “Urban Decorum” ini meliputi larangan PSK dan para wanita secara umum, untuk mengenakan pakaian super seksi, menerawang atau berperilaku menggoda dan merayu secara berlebihan.

Para PSK atau wanita lain yang melanggar aturan ini, maka siap-siap dijatuhi denda sebesar 500 euro atau Rp7,4 juta!

“Pertumbuhan prostitusi belakangan ini terjadi selaras dengan kedatangan turis asing. Jadi, penting buat kami untuk melindungi reputasi kota kami,” ujar juru bicara Dewan Kota Salerno, dikutip The Sun, Sabtu (26/3/2016).

“Tapi sayangnya Anda tak bisa mendenda seseorang tentang niat untuk melakukan prostitusi, di mana fenomena ini sangat sulit untuk diatasi,” tambahnya.

Prostitusi Pakistan, Sekolah Khusus PSK & Gemerlap “Pasar Berlian”

BeritaBintang –  KENDATI beberapa wilayahnya masih terus dirongrong kelompok Taliban dan teroris Al-Qaeda yang acap bikin ulah, bukan berarti geliat kehidupan “hitam” yang berbalut bisnis ‘esek-esek’ di Pakistan serta-merta lenyap.

Sejatinya seperti di negara-negara berpenduduk mayoritas muslim, pemerintah Pakistan menyatakan bisnis seks merupakan hal yang tabu. Meski demikian, para pekerja seks komersial (PSK) jalanan, rumah-rumah bordil hingga eksistensi mucikari tetap ada – tidak secara terselubung, melainkan terbuka.

Ya, politisi Pakistan sendiri seolah tutup mata akan masalah prostitusi. Sementara sebagian besar polisi di Pakistan, justru ikut menerima suap dari para mucikari dan bos-bos rumah bordil agar tak dirazia, lantaran gaji polisi di Pakistan pun relatif memprihatinkan.

Awal geliat prostitusi di Pakistan, tak lepas dari kebijakan Inggris saat masih mencengkeram Asia Selatan (India dan Pakistan). British Raj atau Kemajarahaan Inggris di Asia Selatan, justru banyak mendirikan rumah bordil dan menyediakan PSK untuk para tentara Inggris di Kota Tua Lahore.

“Selama (rezim) British Raj, rumah-rumah bordil didirikan untuk jadi wadah hiburan tentara Inggris. Hal itu membuat tempat-tempat budaya tradisional, perlahan kehilangan nilai-nilai estetiknya dan justru jadi pusat prostitusi,” ungkap seorang jurnalis Pakistan, Zohaib Saleem, disitat DESIblitz.

Sementara pasca-kemerdekaan Pakistan pada 1947, rumah-rumah bordil serta “red-light district” atau lokalisasi peninggalan kolonialisme Inggris, masih bertahan hingga sekarang, baik di kawasan Serey Ghat di Kota Hyderabad, Kota Multan, Rawalpindi, Karachi, Faisalabad dan terutama area Heera Mandi dan di Lahore.

Bicara “pusat” prostitusi di Pakistan, Kota Lahore terbilang yang paling marak, tidak hanya PSK jalanan dan rumah bordil, tapi juga para gadis panggilan, tempat-tempat khusus penari sensual “Mujras”, hingga para PSK laki-laki yang melayani pelanggan penyuka sesama jenis.

Di Lahore, kawasan yang paling ternama soal urusan bisnis birahi, terletak di Heera Mandi atau acap disebut “Pasar Berlian”. Ironisnya, lokalisasi-lokalisasi di Heera Mandi terdapat di beberapa gang yang bersebelahan dengan tempat ibadah ikonik di Lahore, Mashid Badshahi.

Khusus tempat-tempat penari Mujras, biasanya hanya buka pada jam 11 malam hingga pukul 1 dini hari. Namun maraknya “kupu-kupu malam” yang ‘kelayapan’, justru baru eksis pada dini hari.

Hampir semua PSK di Heera Mandi, mestilah ada “maminya” atau “papinya”. Dengan berbekal 200-400 rupee (atau sekira Rp25-50 ribu). Untuk turis asing, banderolnya bisa ‘double’. Mirisnya, para PSK hanya ‘kebagian’ jatah 40 persen atau paling banyak 50 persen dari tarif itu, setelah dipotong komisi mucikari.

Akan tetapi, pelesiran ke Pakistan untuk tujuan wisata seks juga mesti dibarengi kehati-hatian. Sejumlah kasus pemerasan dan bahkan perampokan juga bercokol yang tak lain hasil dari kongkalikong PSK, mucikari dan kelompok kriminal.

Di sisi lain, bicara tentang motif dan alasan para wanita mau jadi penjaja seks, biasanya mereka digolongkan pada tiga kelompok.

Yang pertama para PSK yang jadi korban trafficking atau perdagangan manusia, PSK yang sengaja menjadikan prostitusi sebagai profesi dan PSK yang memang lahir sebagai pemuas nafsu pemburu syahwat.

PSK pada golongan “ketiga” di atas tergolong unik dan hampir mirip situasinya dengan yang terjadi di India. Para orangtua yang sudah lama bergelut dengan prostitusi, acap menjadikan anak perempuan mereka jadi calon PSK.

Hal semacam ini terjadi turun-temurun dan bahkan, para PSK ini awalnya “disekolahkan” di rumah masing-masing dengan dimentori orangtua atau kerabat, untuk belajar bagaimana menjadi PSK!

Di lain pihak, prostitusi di Pakistan tidak hanya diramaikan para PSK wanita, tapi juga PSK pria yang melayani para homoseksual. Khusus prostitusi gay sangat diharamkan pemerintah Pakistan.

Sang PSK maupun pelanggan yang tepergok bertransaksi dan beraktivitas seks, bakal diganjar hukuman 100 kali cambukan, serta dua tahun penjara, berdasarkan hukum pidana ayat 371A dan ayat 317B.

Prostitusi Selbar Nan Bebas hingga Diiklankan Layar Kaca

BeritaBintang –    SECARA perlahan, Selandia Baru (Selbar) mulai menyaingi Australia sebagai destinasi wisata di Oseania bagi para turis Asia, hingga Eropa dan Benua Amerika.

Selbar sebagai destinasi pelesiran yang terbilang anyar, tak lepas dari peran sejumlah situs dan tempat pembuatan film box office ternama.

Sebut saja film-film franchise “The Lord of the Rings”, di mana Ibu Kota Wellington dan Kota Queenstown merupakan dua dari berbagai lokasi pembuatan filmnya selain di Gunung Tongariro.

Mau lihat situs rumah-rumah Hobbit yang turut jadi bagian film garapan Peter Jackson? Di Matamata, kawasan Waikato, tepatnya dua jam dari Auckland, Selbar lokasinya.

Cukup bicara tentang “The Lord of the Rings”, Negeri Kiwi yang belum lama ini mengganti bendera nasionalnya itu juga dikenal dengan wisata seksnya. Untuk diketahui, sejak 2003 Selbar baru melegalkan prostitusi, berdirinya rumah bordil, serta bisnis mucikari.

Sejak saat itu, rumah-rumah bordil hingga kios-kios pijat ‘plus-plus’ meningkat jumlahnya dan tak lagi beroperasi secara terselubung. Sedari kala itu pula, Selbar jadi salah satu negara paling liberal soal bisnis ‘esek-esek’ dengan berupa-rupa bentuk.

Perubahan lewat “Prostitution Reform Act”, membolehkan para pekerja seks komersial (PSK) berusia 18 tahun ke atas, mendapat pengakuan, hak-haknya serta akses perlindungan kepolisian.

Kini, para PSK jalanan juga bebas menjajakan transaksi seks pada malam hari di beragam “red-light district” atau lokalisasi, baik di Wellington, Auckland, hingga Christchurch.

Spot-spot PSK jalanan di Auckland sendiri biasanya marak di area-area seperti Karanghape Road, Hunters Corner. Sementara di Wellington, bisnis seks berpusat di pusat kota, tepatnya di sudut Jalan Cuba dan Marion.

Adapun di Christchurch, para kupu-kupu malam ini biasanya ‘mangkal’ di Ferry Road dan Manchester Street.

Tidak hanya PSK jalanan dan rumah bordil, di Selbar juga marak terkait eksisnya biro-biro “escort” atau wanita pendamping, serta klub-klub striptis (penari telanjang), hingga klub-klub “swinger” atau pertukaran pasangan.

Meningkatnya wisata seks di Selbar juga tak lepas dari peran periklanan. Ya, prostitusi di Selbar turut diiklankan di berbagai media, baik cetak maupun elektronik sebagai pemandu singkat para turis yang “buta” akan kawasan di Selbar.

Seperti dikutip gonewzealand.about, sejumlah rumah bordil dan biro wanita pendamping, relatif mudah ditemukan lewat internet, koran-koran nasional maupun lokal, majalah, hingga iklan di televisi yang biasanya ditayangkan channel-channel lokal pada tengah malam.

Di sisi lain sebagaimana di beberapa negara, prostitusi anak di bawah umur juga jadi pekerjaan rumah tersendiri buat otoritas Selbar. Beberapa waktu silam, lembaga swadaya masyarakat (LSM) penentang PSK anak, ECPAT New Zealand, sempat mencatatkan adanya 210 PSK anak.

Mereka berusia di bawah 18 tahun dan bahkan pada beberapa kasus di Auckland, ditemukan PSK anak berumur 10,11 hingga 13 tahun. Diduga kuat, kebanyakan dari mereka dijadikan PSK oleh anggota-anggota geng.

Meski otoritas Selbar beberapa kali melancarkan razia dan menangkapi para PSK anak yang menjajakan diri di pinggir jalan, namun eksistensi PSK anak dan pelajar masih muncul secara terselubung.

Geliat Prostitusi Kamboja yang Diramaikan PSK Impor

BeritaBintang –   Dari berakhirnya konflik berdarah beberapa dekade silam, perlahan Kamboja mulai membangun situasi politik dan kemasyarakatan yang lebih baik. Pariwisata dan budaya jadi salah satu modal negara kerajaan ini, termasuk eksis dan tumbuhnya wisata seks.

Perdagangan seks, sedianya sudah muncul di Kamboja sejak berabad-abad lalu. Seks bahkan acap jadi bahan transaksi kebutuhan hidup sehari-hari. Tapi di saat Kamboja “digoyang” konflik Khmer Merah (1975-1979), prostitusi di Kamboja jadi hal yang diharamkan.

Para militan komunis Khmer Merah bahkan dengan tega mengeksekusi para pekerja seks komersial (PSK) yang ketahuan menjajakan diri.

Namun ketika situasi mulai pulih, prostitusi mulai kembali marak, terlebih sejak kedatangan para personel pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Tak cukup bicara sejarah, tentu tak lengkap jika tak pula mengulas geliat bisnis ‘esek-esek’ Kamboja sekarang ini. Prostitusi itu sendiri sebenarnya dilarang oleh pemerintah Kamboja. Namun bisnis seks di sejumlah kawasan Kamboja jadi hal yang dimaklumkan masyarakatnya sendiri.

Terkait red-light district atau lokalisasi, sedianya Kamboja tak diketahui memiliki lokalisasi yang terpusat. Tapi yang pasti, sejumlah bisnis seks sebagai daya tarik wisatawan, terhampar di berbaga area Ibu Kota, Pnom Penh.

Mulai dari rumah bordil terselubung, PSK jalanan, bar-bar striptis, hingga layanan pijat ‘plus-plus’. Salah satu kawasan yang paling dikenal terkait wisata seks, berlokasi di Svay Pak. Sebuah areal di Distrik Russey Keo. Lokalisasi ini juga acap dikenal dengan sebutan Kilometer 11 atau K11.

Di Svay Pak ini, para PSK yang menjajakan diri tidaklah didominasi PSK asli Kamboja, melainkan “diimpor” dari negara tetangga, Vietnam. Mereka biasa menjajakan diri dengan pelayanan seks dengan sejumlah gubuk yang sudah disediakan.

Selain di Svay Pak, wisata seks di bar-bar Pnom Penh juga “gemerlapan” di pinggir Sungai Mekong, seperti di Jalan 51, 102, 118, 130 dan 136. Berjalan lebih jauh, para penjaja layanan birahi lainnya juga bisa ditemukan dekat Mal Golden Sorya, hingga area Wat Phom dekat Sungai Promenade.

Bar-bar itu buka hampir 24 jam dan menyediakan para penari telanjang yang bisa disewa untuk layanan seksual, baik di malam hari maupun siang ‘bolong’.

Tapi para PSK jalanan di area itu, biasanya baru muncul di atas jam 11 malam. Mereka ini biasanya para PSK freelance, alias tak terikat bar maupun rumah bordil manapun.

Akan tetapi, pemerintah Kamboja terus menghadapi pekerjaan rumah (PR) yang seakan tiada habisnya. Problem itu tak lepas dari kasus-kasus perdagangan anak. Angka prostitusi sampai kasus pemerkosaan terbilang sangat tinggi.

Di Svay Pak sendiri, dikenal sebagai area yang ramai mempekerjakan PSK anak, baik yang berasal dari Kamboja sendiri, hingga PSK anak asal Vietnam. Bahkan di beberapa bar dan rumah bordil, ditemukan PSK anak yang masih berusia lima tahun!

Biasanya para PSK anak itu diburu para mucikari dari keluarga yang kurang mampu. Dengan dalih akan diberikan pekerjaan pelayan restoran, anak-anak itu malah dijadikan budak.

Derita PSK anak diperparah dengan penyekapan, terutama yang masih “perawan”, untuk kemudian dilelang kepada para pelanggan “VIP” (Very Important Person) macam perwira tinggi militer, politisi, pebisnis, hingga wisatawan asing nan kaya.

Para PSK anak itu diperbudak tanpa menerima bayaran apapun dan hanya diberi makanan yang terbilang memprihatinkan. Tak jarang, PSK anak juga turut jadi korban kekerasan fisik.

Prostitusi di Negeri Samba

BeritaBintang –  Selain dikenal sebagai negeri sepakbola dan penghasil kopi, Brasil tak kalah dikenal dengan pariwisatanya. Tapi seperti halnya di beberapa negara destinasi wisata, para turis yang pelesiran ke Brasil tak hanya memburu keindahan alam, tapi juga dunia ‘esek-eseknya’.

Bicara soal wisata seks, Negeri Samba tak melarang eksistensi prostitusi. Hanya saja, pemerintah negara yang kini masih dipimpin Presiden Dilma Roussef tersebut melarang berdirinya rumah-rumah bordil dan adanya mucikari.

Pun begitu, tentu saja rumah-rumah bordil terselubung dan sejumlah mucikari masih eksis. Red-Light District juga tak secara terang-terangan beroperasi.

Tapi secara “gelap”, tempat-tempat prostitusi semacam itu masih ada di beberapa area tujuan wisata, seperti Fortaleza, Ceara, Pantanal Amazon dan tentunya Rio de Janeiro.

Angka prostitusi di Brasil sempat meledak selama penyelenggaraan Piala Dunia 2014 lalu. Di Rio de Janeiro, sekira 886 ribu turis, tak hanya menyerbu demi pesta sepakbola sejagad tersebut, tapi juga menikmati wisata seks.

Setidaknya, sebuah red-light district terselubung – Vila Mimosa, yang hanya berjarak setengah mil dari Stadion Maracaña, sangat disibukkan dengan tingginya “permintaan” para pekerja seks komersial (PSK).

Sekira 300 rumah bordil “gelap” jadi tujuan para turis di di kawasan Vila Mimosa tersebut. Diperhitungkan, ledakan prostitusi ini akan kembali terjadi seiring gelaran Olimpiade 2016. Disebutkan, Brasil masih menggodok regulasi yang mengatur profesi dan hak-hak prostitusi.

Hal itu demi mencegah meningkatnya (lagi) kejahatan seksual dan yang pasti, menekan angka perdagangan anak-anak di bawah umur. Pasalnya, Brasil merupakan negara tertinggi soal jumlah PSK di bawah umur selain Thailand.

Sekira 250 ribu anak-anak saat ini yang tercatat dipekerjakan sebagai PSK. Sebuah pekerjaan rumah (PR) buat pemerintah Brasil untuk ditangani dengan serius. Sisi lain soal prostitusi Brasil, adalah menyebarkan para prostitusi di negeri itu ke beberapa negara lain.

Sejumlah PSK berkewarganegaraan Brasil acap ditemukan di sejumlah negara, seperti Argentina, Cile, Uruguay, Suriname, Amerika Serikat, hingga ke Portugak, Spanyol, Belanda dan Inggris.

Di samping itu soal urusan birahi, Brasil juga ternyata populer sebagai tujuan para turis gay alias penyuka sesama jenis, selama hampir 10 tahun terakhir.

Pemerintah Kota Rio de Janeiro sempat merilis pernyataan, bahwa mereka mendapati sekitar satu juta turis gay dalam setahun.

Nikita Mirzani: Saya Tidak Pernah Menjual Diri

BeritaBintang – Nikita menangis, tak kuasa menahan air matanya saat hadir di Indonesia Lawyers Club (ILC), yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta,  Selasa (15/12/2015) malam. Tayangan itu kemudian diunggah di youtube.

Nikita dalam tayangan itu kemudian berujar, saat dirinya diamankan, handphone miliknya juga  ikut diamankan oleh Polisi. Ia menegaskan, siap dikonfrontir seraya membantah mengenal tersangka F dan O. Nikita kemudian balik bertanya, penangkapan dirinya yang dikaitkan dengan kasus prostitusi.

“Prostitusinya darimana? Kalau mau dikonfrontir (dengan F dan O), ayo sama-sama. Jangan dengar salah satu pihak. Karena saya yang merasa dirugikan karena saya punya keluarga besar, single parent, anak saya dua,” kata Nikita.

“Nama saya sudah jelek di luaran sana dengan orang men-judge (menghakimi) saya, PSK dan lain sebagainya,” kata Nikita. Kedua matanya, kemudian terlihat menahan air matanya.

Sebelumnya diberitakan, selain F dan O, penyidik Badan Reserse Kriminal Polri juga menetapkan seorang pria berinisial A sebagai tersangka. “Berdasarkan pemeriksaan O dan F sampai Minggu malam kemarin, ada tersangka baru, inisialnya A,” ujar Kepala Subdirektorat Tindak Pidana Perdagangan Orang Bareskrim Polri Ajun Komisaris Besar Polisi Arie Dharmanto, Senin (14/12/2015) siang.

“Sekarang saya harus memperbaiki nama saya yang sudah jelek ini bagaimana caranya? Saya tidak pernah menjual diri, sampai detik inipun saya tidak pernah terbesit menjual diri saya,” kata Nikita lirih.

Dalam acara itu, Nikita juga mengaku berani difoto telanjang, tanpa berbusana sekalipun.

“Karena apa, saya dibayar. Lebih baik saya melakukan itu daripada menjual diri saya sama orang-orang. Lebih baik saya telanjang, saya dibayar, tidak merugikan orang lain. Dan saya dibilang PSK, saya ngga terima,” tegas Nikita. Saat mengungkapkan itu, dalam tayangan terlihat mata Nikita berkaca-kaca.

Hari ini, rencananya penyidik Bareskrim Polri menjadwalkan pemeriksaan ‎terhadap Nikita Mirzani dan Puty Revita untuk diambil keterangannya sebagai saksi korban. Pemeriksaan ini masih terkait dengan kasus dugaan perdagangan orang dengan tersangka O dan F yang saat ini sudah mendekam di tahanan Bareskrim.

Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan kedua. Sebelumnya, setelah diamankan pada Kamis (10/12/2015) malam hingga Jumat (11/12/2015) pagi, Nikita dan Revita juga diperiksa oleh Bareskrim.

Pramugari Ini Sukses jadi PSK di Pesawat, Dapat Keuntungan Rp 14 Miliar

BeritaBintang – Luar biasa. Seorang pramugari mampu meraup 650.000 poundsterling atau Rp 14 miliar selama 2 tahun melayani hubungan seks bagi penumpang pesawat.

Hubungan seks biasanya dilakukan di dalam toilet pesawat.

Kegiatan terlarang itu berlangsung tanpa diketahui kru lain hingga akhirnya dia tertangkap basah seusai berhubungan seks di toilet. Akhirnya, sang pramugari itu dipecat.

Nama maskapai penerbangan tersebut tidak disebutkan secara pasti. Namun, menurut laporan, dia adalah pramugari maskapai di Timur Tengah. Pramugari tersebut sudah dipecat dan dideportasi.

Seorang sumber kepada media Arab Saudi berbahasa Inggris, Sada, mengatakan, “Dia (pramugari) mengakui telah berhubungan seks dengan banyak penumpang selama penerbangan. Dia lebih suka penerbangan jarak jauh antara negara-negara teluk dan Amerika Serikat.”

Seorang sumber maskapai mengatakan, perempuan tersebut menetapkan tarif seks 1.500 poundsterling atau Rp 32 juta untuk sekali berhubungan seks, dan ada saja penumpang yang rela membayar tarif sebesar itu