Presiden Putin

Rusia dan Inggris Sepakat Kolaborasi Musnahkan ISIS

BeritaBintang –   Kantor Perdana Menteri Inggris, Downing Street nomor 10, menyatakan Rusia dan Inggris sepakat kolaborasi untuk musnahkan ISIS. Kesepakatan tersebut dicapai setelah David Cameron melakukan pembicaraan via telefon dengan Vladimir Putin.

Cameron menelefon Putin untuk menanyakan kabar terbaru dari pasukan mereka yang sedang melakukan serangan udara di Suriah. Pada kesempatan yang sama, Putin juga meminta bantuan Inggris untuk membantu menganalisa kotak hitam pesawat bomber Su-24. Cameron pun menyatakan diri turut berduka cita bagi Letnan Kolonel Oleg Peshkov yang tewas dalam insiden tersebut.

“Perdana Menteri dan Putin sepakat Inggris dan Rusia harus bekerja sama, juga dengan koalisi lainnya, untuk membasmi ISIS. Keduanya juga sepakat melakukan proses politik untuk menciptakan kedamaian di Suriah,” ujar juru bicara Downing Street, dilansir Bioskop168 , Kamis (10/12/2015).

Cameron dan Putin juga sepakat pembicaraan damai di Wina beberapa waktu lalu harus membawa perubahan dalam pemerintahan Suriah dalam enam bulan. Termasuk di dalamnya mengadakan pemilihan umum presiden. Keduanya pun seiya sekata untuk menutup aliran dana bagi ISIS.

“Perdana Menteri Cameron dan Presiden Putin sepakat untuk memotong aliran dana bagi ISIS. Cameron menekankan bahwa target serangan Inggris di Suriah adalah ladang minyak yang digunakan sebagai sumber pendanaan mereka dari perdagangan ilegal,” tutup jubir itu.

Militer Rusia Tingkatkan Ketegangan di Wilayah Baltik

BeritaBintang –   Ketegangan di wilayah Baltik semakin meningkat karena mendadak Rusia mengirimkan tentara di wilayah yang dekat dengan daratan Lithuania.

Menteri pertahanan (Menhan) Lithuania Juozas Olekas mengatakan, pihak militer Rusia menurunkan tentara di dekat wilayah Lithuania dan mendadak Negeri Beruang Merah tersebut mengadakan latihan militer di sekitar wilayah Baltik, sehingga meningkatkan ketegangan di regional tersebut.

Kekhawatiran ini dilaporkan berdasarkan apa yang dilakukan Rusia tahun lalu ketika mendadak mendukung separatis pro-Rusia di wilayah Ukraina, sehingga negara di wilayah Baltik seperti Estonia, Latvia, Lithuania dengan Polandia merasa ‘ketar-ketir’ bila ada indikasi agresi militer dari Rusia.

“Keamanan di regional Baltik tidak meningkat semenjak Rusia melakukan Intervensi di Suriah. Kami masih melihat aktivitas militer Rusia di perbatasan kami,’ kata Olekas ketika kunjungannya ke London, Inggris,” sebagaimana dilansir dari Reuters, Kamis (3/12/2015).

Olekas juga mengatakan bahwa tindakan Presiden Putin mendukung pembangunan pangkalan udara di Belarus merupakan bagian dari strategi Rusia dalam menunjukkan kapabilitas militer mereka.

“Kita tidak bisa mengecualikan bahwa apa yang dilakukan Rusia adalah untuk melihat reaksi negara kami serta reaksi dari NATO,” ujarnya.

Hingga kini pejabat Rusia menolak untuk memberikan komentar atas hal ini.

Ketika Warga Suriah Memandang Rusia Sebagai Juru Selamat

BeritaBintang – Seorang jurnalis Inggris, Lindsey Hilsum, melaporkan bahwa banyak warga Suriah menganggap Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai teman dan memandang Rusia sebagai sang penyelamat.

Penduduk di kota Tartous dan Latakia di Suriah meyakini bahwa operasi militer Rusia melawan kelompok teroris ISIS akan mengakhiri perang di negeri tersebut, tulis Hilsum.

Selain itu, mereka percaya bahwa Amerika Serikat patut disalahkan karena memperkuat teroris dan sekutunya.

sebagian orang yang tinggal di kawasan yang dikontrol Presiden Suriah, Bashar al-Assad, mengatakan bahwa mereka siap mengabdi kepada pemerintah, namun berharap bahwa perang akan segera berakhir dan mobilisasi militer dihentikan.

Lanjut Hilsum, warga Suriah sangat menyambut baik militer Rusia yang memulai operasi di negara tersebut atas permintaan Assad.

“Rusia adalah pahlawan. Warga menyapa beberapa orang Rusia dengan salam ceria ‘Dobry den!’ (hari yang baik) dan meneriakkan antusias mereka kepada Presiden Putin yang diyakini akan membebaskan mereka dari terorism,” kata Hilsum.

Krisis Krimea 2014, Rusia Sempat Ancam Tembakkan Nuklir

BeritaBintang – Rusia telah mempersiapkan senjata nuklirnya dan tidak segan-segan untuk menggunakannya dalam jika diperlukan dalam situasi krisis. Hal itu dijelaskan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin dalam sebuah wawancara di sebuah program televisi untuk memperingati satu tahun aneksasi Rusia atas Krimea yang disiarkan stasiun televisi Rosiya One, pada Minggu 15 Maret malam.

Dalam wawancara tersebut, Putin menuduh Amerika Serikat (AS) sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam kudeta yang menjatuhkan mantan Presiden Ukraina Viktor Yanukovich dari tampuk kekuasaan Februari 2014.

Presiden Rusia itu menganggap pihak Washington, berusaha meyakinkan dunia bahwa pergantian kekuasaan di Ukraina adalah sesuatu yang didukung oleh negara-negara Eropa. Dia juga menuding AS merancang dan mendorong terjadinya krisis di Ukraina.

“Mereka membantu melatih pasukan nasionalis, mempersenjatai kelompok-kelompok di Ukraina Barat, di Polandia, dan di Lituania. Mereka membantu terjadinya kudeta tersebut,” demikian terjemahan wawancara yang dikutip The Independent, Senin (16/3/2015).

Putin juga mengakui Rusia telah siap untuk menggunakan senjata nuklirnya dalam krisis Krimea tahun lalu. “Kami telah siap untuk melakukannya (menggunakan senjata nuklir), dilihat dari sejarah (Krimea) adalah wilayah kami, warga Rusia tinggal di sana, mereka berada dalam bahaya. Kita tidak bisa menelantarkan mereka,” kata Putin.

Program televisi itu memberikan banyak informasi mengenai pandangan-pandangan sang Presiden Rusia saat memutuskan untuk menganeksasi Krimea tahun lalu. Putin mengakui keterlibatan pasukan Rusia dalam proses terjadinya referendum, dan beberapa informasi mengenai kudeta Presiden Viktor Yanukovich, yang menurutnya menjadi target rencana pembunuhan pada kudeta 2014.

Sampai saat ini, Presiden Putin masih belum diketahui keberadaannya, dia telah menghilang dari sorotan publik sejak 5 Maret lalu. Pria 62 tahun ini telah membatalkan beberapa pertemuan penting dengan kepala-kepala negara dan pejabat tinggi Rusia.

Juru bicara Kremlin telah berulang kali menepiskan rumor mengenai alasan sang presiden menghilang. Hari ini pemimpin Rusia itu dijadwalkan bertemu dengan Presiden Kirgiztan Almazbek Atambayev di St. Petersburg yang mungkin akan menjadi kemunculan perdananya sejak 10 hari ini.