Presiden Dilma Rousseff

Jaksa Agung Brasil: Presiden Dilma Rousseff Tidak Akan Menyerah

BeritaBintang –Jaksa Agung Brasil Eduardo Cardozo meyakini, Presiden Dilma Rousseff tidak akan menyerahkan jabatannya begitu saja tanpa perlawanan. Meski kini kedudukannya sedang sangat terdesak dan hanya selangkah lagi menuju pemakzulan.

“Presiden tidak akan berkecil hati dan berhenti melawan. Jika ada orang yang berpikir dia akan tunduk sekarang, mereka hanya membodohi diri,” tukas Cardozo, sebagaimana diwartakan Indowins, Selasa (19/4/2016).

Keputusan penggulingan Rousseff diperkirakan sudah keluar pada pertengahan Mei tahun ini. Sebelum majelis tinggi mengambil keputusan untuk menurunkannya atau tidak. Media lokal melaporkan, sejauh ini sudah ada 41 dari 81 senator yang berlawanan dengan Presiden dan mendukung kuat pemakzulan terhadap dirinya.

Jika ekonom sekaligus politisi kelahiran Minas Gerais 1947 itu benar-benar dilengserkan dari jabatannya di periode kedua kepemimpinannya, maka Wakil Presiden Michel Temer (75) akan menggantikan dia.

Namun begitu, banyak pihak meragukan kredibilitasnya. Sebab, ditaksir ia juga terlibat dalam kasus korupsi yang sama dengan Rousseff. Menyebabkan tingkat popularitasnya kian merosot akhir-akhir ini.

Kini, Parlemen Brasil tengah menggelar pengambilan suara, terkait pengajuan mosi terhadap Rousseff. Hasilnya akan dibawa ke Kongres Senat Brasil untuk memutuskan Rousseff diskors dari jabatannya dan menjalani persidangan.

Gerakan impeachment ini digalakkan kubu oposisi di Brasil, setelah menduga kuat Rousseff terlibat skandal korupsi besar, serta membawa ekonomi Brasil kian memburuk.

Sejuta Orang Turun ke Jalan Tuntut Presiden Brasil Dipecat

BeritaBintang – Sekitar satu juta orang turun ke jalan di kota-kota Brasil, Minggu, 15 Maret 2015 waktu setempat. Mereka memprotes terpuruknya perekonomian, kenaikan harga dan korupsi, bahkan menuntut dipecatnya Presiden Dilma Rousseff.

Dikutip dari Reuters, Senin, 16 Maret 2015, Dilma yang menganggap perdagangan Brasil dan Indonesia tidak cukup berarti nilainya, saat ini dalam tahun periode keduanya sebagai presiden.

Sekalipun dengan ekonomi yang stagnan dan skandal korupsi dalam lima tahun pemerintahannya, posisi Dilma yang baru terpilih kembali lima bulan silam, dinilai masih aman dari pemecatan.

Tapi besarnya aksi protes, Minggu, memperlihatkan polarisasi di Brasil, dengan meningkatnya ketidakpuasan publik atas kepemimpinan Dilma, yang meraih kemenangan dengan dua putaran pilpres.

Pada konferensi pers, Minggu malam, dua anggota kabinet Dilma mengaku hak para pemrotes, tapi menepis perlunya aksi protes. Mereka menilai demonstrasi sebagai ekspresi pihak oposisi yang kalah.

Seorang asisten Dilma, Miguel Rossetto, juga mendiskreditkan seruan pemecatan presiden. Dia mengkritik apa yang disebutnya upaya oposisi untuk melakukan kudeta.

Aecio Neves, rival kuat Dilma dalam pilpres Oktober 2014, mengatakan demonstrasi menandai satu hari, ketika rakyat Brasil turun ke jalan untuk bersatu kembali dengan nilai-nilai dan mimpi mereka.

Aksi protes berjalan damai, dibandingkan demonstrasi massal pada 2013, ketika rakyat Brasil memprotes miliaran dolar yang dihabiskan untuk persiapan Piala Dunia 2014, di tengah terpuruknya perekonomian.

Tapi jumlah pemrotes diperkirakan sama, bahkan lebih luas dalam hal wilayah. Di Sao Paulo saja, polisi mengatakan ada satu juta orang turun ke jalan di sekitar Avenida Paulista.

“Rakyat merasa dikhianati,” kata Diogo Ortiz, pekerja berusia 32 tahun, yang menyebut skandal Petrobas sebagai aib nasional dan internasional.