Penuhi Panggilan Polisi

Desainer Terkenal Bandung Diciduk Polisi

BeritaBintangDesainer Terkenal Bandung Diciduk Polisi

Lama menjadi incaran petugas Satres Narkoba Polrestabes Bandung, dua mantan disk jockey (DJ), yakni Tagor Abadi dan Ahmad ditangkap karena menyimpan narkoba. Mereka dibekuk polisi pada Rabu 4 Januari 2017 di Jalan Tamblong, Kota Bandung, Jawa Barat.

Saat polisi mendapati barang bukti berupa narkotika jenis sabu dan beberapa butir pil dumolid, keduanya pun tak bisa mengelak. Dari tangan Tagor, polisi memperoleh sabu, sedangkan hasil penggeledahan terhadap Ahmad, polisi menemukan beberapa butir pil dumolid.

[Baca Juga -“Penuhi Panggilan Polisi, Dhani: Semoga Pertanyaannya Tak Mengulang“]

“Keduanya ini memang incaran jajaran kami,” ujar Kasat Reserse Narkoba Polrestabes Bandung AKBP Febri Kurniawan Ma’aruf di Bandung, Jumat (6/1/2017).

Ia menambahkan, salah satu pelaku juga merupakan desainer pakaian terkenal di Bandung.

Saat ini keduanya masih diperiksa oleh penyidik guna pengembangan kasus. “Kita masih dalami dari mana mereka mendapatkan narkoba ini,” kata Febri.

Penuhi Panggilan Polisi, Dhani: Semoga Pertanyaannya Tak Mengulang

BeritaBintangPenuhi Panggilan Polisi, Dhani: Semoga Pertanyaannya Tak Mengulang

Musisi sekaligus calon wakil Bupati Bekasi, Jawa Barat Ahmad Dhani kembali diperiksa penyidik Ditreskrimum Polda Metro Jaya terkait dugaan makar. Kali ini, Dhani diperiksa sebagai saksi untuk tersangka makar Rachmawati Soekarnoputri.

“Hari ini Mas Dhani kembali datang terkait pemanggilan sebagai saksi terhadap Bu Rachmawati Soekarnoputri,” ujar pengacara Dhani, Ali Lubis di Mapolda Metro Jaya.

Ahmad Dhani pernah diperiksa sebagai saksi kasus dugaan makar dengan tersangka Sri Bintang Pamungkas. Pada pemeriksaan kali ini, Dhani berharap, penyidik tidak akan mempertanyakan pertanyaan yang mengulang.

“Pertanyaan kemarin mudah-mudahan enggak ditanya lagi, karena sudah selesai bahwa saya datang tanggal 2 (Desember) nginep di Hotel Sari Pan Pacific. Saya tidur dengan anak saya, namanya Dul,” ujar Dhani.

Dhani menegaskan kalau dirinya pada Kamis 1 Desember 2016 malam memang menginap di Hotel Sari Pan Pacisif sebelum aksi 212. Rencananya, usai Salat Jumat, dia akan membuat video klip dengan judul iman 212. Namun, dirinya keburu ditangkap polisi.

“Niatnya mau Salat Jumat setelah itu saya mau bikin video klip judul lagunya iman 212 tapi ya paling penting sebenarnya saya telah gagal bikin video klip di Bekasi Senen dan Selasa besok. Harusnya video klip di Monas. Jadi, saya dirugikan polisi karena ditangkap dan tidak jadi bikin video klip,” paparnya.

[Baca Juga -” DPR Minta Pemerintah Kaji Ulang Kenaikan Biaya Urus STNK & BPKB“]

Dhani menambahkan, seharusnya dia menjalani pemeriksaan pada Selasa 3 Januari 2017. Namun, dia meminta penjadwalan ulang karena tidak bisa menjalani pemeriksaan hingga malam lantaran ada agenda kampanye di Bekasi, Jawa Barat.

Polisi pun menjadwalkan pemeriksaan pada hari ini pukul 10.00 WIB. Namun, Dhani baru mendatangi Gedung Ditreskrimum Polda Metro Jaya sekira pukul 17.00 WIB.

“Seenaknya saya saja (mau datang jam berapa). Wartawan enggak boleh tahu. Itu kan urusan dalaman saya,” tandasnya.

Diberitahukan, sebanyak 11 aktivis dan tokoh nasional ditangkap di beberapa tempat dalam waktu yang hampir bersamaan, Jumat 2 Desember 2016 pagi atau sesaat jelang aksi damai 212 di Monas, Jakarta Pusat. Mereka diduga kuat terlibat upaya makar.

Tujuh tersangka yakni Kivlan Zein, Adityawarman, Ratna Sarumpaet, Firza Husein, Eko, Alvin Indra, dan Rachmawati Soekarnoputri dijerat dengan Pasal 107 jo 110 jo 87 KUHP tentang Makar. Namun, mereka langsung dipulangkan setelah menjalani pemeriksaan selama hampir 24 jam di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok.

Begitu juga terhadap Ahmad Dhani yang dalam penangkapan tersebut ditetapkan sebagai tersangka penghinaan terhadap Presiden Joko Widodo berdasarkan Pasal 207 KUHP.

Sementara tiga lainnya, yakni Sri Bintang Pamungkas, Jamran, dan Rizal Kobar masih ditahan di Polda Metro Jaya hingga saat ini. Ketiganya dijerat dengan Pasal 28 Ayat (2) UU ITE dan juga Pasal 107 jo Pasal 110 KUHP tentang Makar dan Permufakatan Jahat.