Pemerintah Jerman

Terlibat Kelompok Ekstremis, Pegawai Intelijen Jerman Ditahan

BeritaBintang – Seorang pegawai lembaga intelijen Jerman (BfV) ditahan karena diduga terlibat dengan kelompok ekstremis Islam.

Juru bicara BfV mengatakan bahwa pria berusia 51 tahun itu kedapatan mendeklarasikan keterlibatan dirinya dengan kelompok ekstremis seraya membeberkan beberapa dokumen internal lembaga intelijen tersebut di internet.

Namun, pejabat BfV itu enggan memberikan klarifikasi dari pemberitaan harian lokal, Die Welt, yang menyebutkan bahwa pria tersebut berencana meledakkan bom di markas besar BfV di Cologne.

“Belum ada bukti konkret yang menunjukkan ancaman keamanan di BfV maupun karyawannya. Yang bersangkutan diduga telah membuat pernyataan menggunakan nama palsu dan membocorkan materi internal BfV di internet,” kata pejabat BfV itu seperti dikutip Bandar Bola Terbaik , Kamis (01/12).

Juru bicara itu juga menyatakan bahwa tersangka tak pernah bersikap tidak wajar, apalagi menarik perhatian selama bekerja BfV. Pria itu juga dinilai tidak pernah menarik perhatian pengawas, bahkan sejak dalam masa pelatihan hingga bekerja sebagai pegawai di lembaga tersebut.

Sementara itu, majalah Der Spiegel melaporkan bahwa BfV telah mengawasi gerak-gerik pria ini sejak empat minggu lalu.

Pemerintah Jerman memang sedang terus menggenjot pengamanan terhadap berbagai potensi ancaman kelompok teroris dan militan yang dapat menyerang negara itu pasca terjadinya serangan teror pada Juli lalu. ISIS mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.

BfV memperkirakan ada sekitar 40 ribu terduga teroris berada di Jerman, termasuk 9.200 anggota kelompok ultra-konservatif yang dikenal sebagai Salafi yang dipimpin oleh Hans-Georg Maassen Linkalternatif.info.

Otoritas Jerman selama ini juga telah menangkap sejumlah simpatisan ISIS yang berada di negara itu dalam beberapa pekan terakhir, termasuk seorang pengungsi Suriah berusia 20 tahun yang mencoba melarikan diri ke Denmark dengan membawa bahan pembuat bom.

“Kami merasa masih menjadi target sasaran terorisme. Kami harus mengasumsikan bahwa ISIS dan kelompok teroris lain dapat menyerang Jerman kapan saja saat mereka bisa,” katanya.

Seperti Pesawat, Mobil Otonom di Jerman Akan Gunakan Black Box

BeritaBintang –  Teknologi otonom memang telah menjadi perangkat yang banyak dikembangkan produsen automotif. Namun penerapan teknologi ini justru menimbulkan beberapa polemik dari kecelakaan yang terjadi.

Menanggapi kondisi tersebut, Pemerintah Jerman tengah merancang undang-undang baru yang mengharuskan produsen mobil menggunakan black box seperti yang digunakan pada pesawat.

Seperti dikutip dari BintangBola.Co , penggunaan black box dianggap bisa membantu penyelidikan ketika terjadi kecelakaan pada kendaraan otonom. Sehingga black box bisa mencatat ketika sistem autopilot aktif, saat pengemudi melaju dan ketika sistem meminta agar sopir mengambil alih kemudi.

Saat ini Pemerintah Jerman melalui Menteri Transportasi, telah mengajukan proposal peraturan tentang kendaraan otonom. Dalam proposal juga disebutkan pengaturan pengemudi yang harus tetap berada di balik kemudi meski teknologi otonom tengah diaktifkan.

Sebelumnya, kecelakaan fatal yang dialami pengemudi Tesla akibat teknologi otonom membuat beberapa negara serta produsen automotif lebih memperketat peraturan maupun pengembangan sistem teknologi otonom yang akan digunakan. Dalam kecelakaan tersebut, diperkirakan teknologi otonom pada Tesal Model S tidak bekerja dengan baik.

Jika peraturan penggunaan black box disetujui, tentunya BMW, Mercy, dan Volkswagen Group menjadi produsen pertama yang menggunakan black box untuk mobil otonomnya. Jika peraturan ini disahkan, diperkirakan penggunaan black box mulai dilakukan pada 2020.

Beli Mobil Hybrid Dapat Diskon Rp59 Juta dan Bebas Pajak 10 Tahun

BeritaBintang –Kebijakan beberapa negara memberikan insentif berupa potongan harga untuk pembelian mobil ramah lingkungan. Hal itu juga dilakukan Pemerintah Jerman yang baru-baru ini memberikan insentif diskon sebesar 4 ribu euro atau sebesar Rp59 juta.

Seperti dikutip dari Indowins, jenis kendaraan yang mendapat insentif salah satunya kendaraan bermesin hybrid, listrik, dan mobil dengan bahan bakar hidrogen. Insentif ini akan diberlakukan mulai bulan depan dengan total biaya yang dikeluarkan Pemerintah setempat mencapai USD1,4 miliar atau sebesar Rp18 triliun.

Namun insentif akan diberikan khusus untuk kendaraan yang diproduksi di Jerman seperti BMW, Mercedes Benz, dan Volkswagen. Dil uar produk tersebut, pemerintah tidak memberikan insentif bagi pembelian mobil ramah lingkungan.

Selain insentif, Jerman juga mengalokasikan dana sebesar USD340 juta atau sekira Rp4,4 triliun yang akan digunakan untuk membangun fasilitas infrastruktur pengisian tenaga dan bahan bakar ramah lingkungan. Sedikitnya 15 ribu stasiun pengisian akan dibangun di seluruh kota Jerman.

Tercatat, populasi kendaraan ramah lingkungan di Jerman saat ini telah mencapai 30 ribu unit. Pemerintah Jerman sendiri menargetkan jumlah kendaraan ramah lingkungan mencapai 1 juta unit hingga 2020.

Bahkan untuk memberi stimulan, mereka juga berencana membebaskan pajak kendaraan selama 10 tahun untuk pembelian mobil ramah lingkungan sebelum 2020.