Pemerintah China

China Tarik Seluruh Paspor Milik Warga Uighur di Xinjiang

BeritaBintang – Jutaan warga provinsi Xinjiang yang kebanyakan beretnis Uighur ditarik paspornya oleh pemerintah China. Kini warga Xinjiang harus izin ke aparat jika ingin keluar negeri, sebuah tindakan yang dianggap pengekangan kebebasan bergerak oleh rezim Partai Komunis.

Diberitakan Bandar Bola Terbaik, Sabtu (26/11), perintah penarikan paspor oleh aparat diumumkan oleh Badan Imigrasi Biro Keamanan Publik Shihezi di Xinjiang pada 19 Oktober lalu. Dalam perintah itu, paspor harus diserahkan ke aparat untuk “pemeriksaan tahunan.”

Warga Xinjiang yang ingin menggunakan paspor untuk pergi ke luar negeri harus meminta izin kepada aparat setempat. Mereka yang tidak menyerahkan paspor tidak akan bisa keluar dari China.

Xinjiang adalah provinsi kaya minyak dengan sedikitnya 10 juta penduduk Muslim Uighur dan 8 juta warga etnis Han.

Tidak ada alasan apa pun yang diberikan pemerintah China atas perintah penarikan paspor tersebut. Namun Kongres Uighur Dunia, organisasi HAM Uighur yang berbasis di Jerman, mengatakan langkah China itu untuk membatasi pergerakan warga.

“Walau peraturan itu terlihat menargetkan semua warga, namun pemerintah China di masa lalu telah mengambil langkah yang jelas dalam membatasi hak-hak mobilitas komunitas Uighur,Linkalternatif.info” ujar pernyataan Kongres.

China dalam berbagai kesempatan juga membatasi kebebasan beribadah warga Uighur. Setiap bulan Ramadhan, China mengeluarkan maklumat yang melarang siswa berpuasa atau mengikuti ibadah di masjid.

Pemerintah China menyalahkan kelompok separatis Uighur dalam berbagai serangan beberapa tahun terakhir, termasuk September 2015 yang menewaskan 50 orang.

Organisasi HAM mengatakan, bentrokan dan kekerasan di Xinjiang justru timbul akibat dari pengekangan beribadah dan marjinalisasi ekonomi oleh pemerintah China.

“Pemerintah China tidak punya alasan yang kredibel untuk mengambil paspor seseorang, itu pelanggaran atas hak-hak kebebasan bergerak. Tindakan yang dilakukan terhadap warga seluruh kawasan adalah hukuman kolektif dan akan mengobarkan kemarahan di wilayah yang ketegangannya memang tinggi,” kata Sophie Richardson, Direktur China di lembaga Human Right Watch dalam pernyataannya.

Kampanye, Ibu-Ibu Menyusui di Depan Publik

BeritaBintang –Aksi nekat dilakukan sejumlah ibu di Provinsi Fujian, China. Mereka rela menyusui di depan publik demi mengampanyekan ruang laktasi atau menyusui di fasilitas-fasilitas umum. Terang saja aksi tersebut menarik perhatian warga yang tengah melintas.

Berita Online

Ibu-ibu ini melakukan aksi nekatnya di tengah jalan, tempat kerja, mal, dan halte. Mereka meminta lebih banyak ruang menyusui disediakan di seluruh kota, tidak hanya toilet umum.

“Pikirkan ini. Maukah Anda makan di toilet?” seru seorang peserta aksi untuk menjawab kritik kenapa mereka tidak menyusui saja di toilet, seperti dimuat Taruhan Bola Online, Rabu (25/5/2016).

Berita Online

Saat ini angka ibu menyusui di China hanya sebesar 28 persen. Angka tersebut masih jauh di bawah angka yang dicatatkan negara-negara berkembang. Kampanye yang dilakukan produsen susu formula ditengarai menjadi penyebab enggannya ibu-ibu di Negeri Tirai Bambu menyusui bayinya.

Beberapa tahun terakhir, Pemerintah China gencar menyarankan agar para ibu menyusui anaknya. Pemerintah bahkan melarang iklan-iklan susu formula bayi di depan publik.

Pemerintah China juga mendorong para ibu dengan menyediakan ruang menyusui di fasilitas umum serta membuat aplikasi yang memudahkan mereka menemukan ruangan menyusui.

 

China Larang Penayangan Video Wanita Mengulum Pisang

BeritaBintang –  Pemerintah China telah melarang penayangan secara online video yang menampilkan seorang wanita seksi memakan pisang. Pasalnya, video tersebut dianggap tidak pantas dan dapat membangkitkan hasrat seksual.

Baru-baru ini, Pemerintah China tampaknya semakin memperketat kontrol terhadap acara live-streaming di website.

Hal itu ditunjukkan dengan adanya larangan terhadap video yang menampilkan adegan erotis dan sensual dengan mengulum pisang dan juga memakai kaus kaki transparan, serta menggunakan pakaian seksi saat melakukan.

Berdasarkan peraturan tersebut, perusahaan yang menyediakan jasa live-streaming diminta memonitor acara sepanjang waktu untuk mencegah munculnya perilaku yang tidak pantas, saat mengadakan streaming video. Demikian sebagaimana dilansir dari Bintangbola.co , Selasa (10/5/2016).

Kendati demikian, kebijakan pelarangan memakan pisang saat streaming video banyak diragukan dan dianggap sia-sia oleh para netizen.

Mereka mempertanyakan bagaimana cara Pemerintah China melarang hal tersebut. Karena selain pisang, terdapat jenis buah dan sayuran lainnya yang memiliki kesamaan dengan pisang.

Berikut ini adalah video yang dilarang oleh Pemerintah China:

Trump: China “Perkosa” AS dengan Kebijakan Perdagangan

BeritaBintang –Kandidat Presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Republik, Donald Trump, mengkritik kebijakan Pemerintah China terkait perdagangan. Trump menuduh Beijing “memerkosa” negaranya.

Dalam pidatonya di sebuah sesi kampanye di Indiana pada Minggu 1 Mei 2016, miliarder New York itu mengatakan bahwa China telah merusak persaingan bisnis dan pekerja AS.

“Kita tidak bisa terus-menerus membiarkan China menginjak negara kita. Kita harus membalikkan kedudukan. Ada kok kartu mereka yang bisa kita buka. Kita punya kuasa atas mereka,” tegas Trump, sebagaimana dikutip dari Indowin, Selasa (3/4/2016).

Trump selama ini telah berulang kali menuduh China memanipulasi mata uang. Dalam sejumlah kampanyenya, pengusaha sukses tersebut berjanji akan melakukan kesepakatan yang lebih baik dengan China untuk membantu para pebisnis AS dan juga para pekerja untuk tetap bersaing dalam dunia usaha.

Trump tidak marah dengan apa yang dilakukan Negeri Tirai Bambu terhadap AS. Akan tetapi, dia marah pada Pemerintah AS yang sangat tidak kompeten dalam mengelola negara.

Namai Tokonya ISIS, Pengusaha Ini Berurusan dengan Polisi

BeritaBintang – Gara-gara nama berurusan dengan polisi. Sebuah butik di Shenzen, China, memberi nama tokonya dengan kata ISIS.

Sontak nama tersebut menarik perhatian banyak orang, termasuk kepolisian.

Perlu diketahui, Pemerintah China bersumpah untuk membawa kelompok Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS (Islamic State of Iraq dan Syria) ke pengadilan setelah organisasi teror itu mengeksekusi salah satu warganya di Suriah.

Pasca-kejadian itu, China kian memperketat keamanan serta mencurigai hal-hal yang berbau ISIS, termasuk toko di Shenzen yang memberi nama “ISIS”.

Namun, dalam penyelidikan itu, dengan memeriksa pemilik butik “ISIS”, polisi tidak menemukan keterkaitan bos butik tersebut dengan ISIS.

Pemilik butik “ISIS”, Chen Hing, kepada polisi menjelaskan bahwa kata “ISIS” itu berasal dari istilah China Mandarin, yaitu “yisi-yisi”.

Karena menuai kontroversi, akhirnya Chen mengubah nama butik tersebut.

Menurut Chen, kemungkinan butiknya yang bernama “ISIS” tidak bagus untuk bisnisnya.