Pakistan

Prostitusi Pakistan, Sekolah Khusus PSK & Gemerlap “Pasar Berlian”

BeritaBintang –  KENDATI beberapa wilayahnya masih terus dirongrong kelompok Taliban dan teroris Al-Qaeda yang acap bikin ulah, bukan berarti geliat kehidupan “hitam” yang berbalut bisnis ‘esek-esek’ di Pakistan serta-merta lenyap.

Sejatinya seperti di negara-negara berpenduduk mayoritas muslim, pemerintah Pakistan menyatakan bisnis seks merupakan hal yang tabu. Meski demikian, para pekerja seks komersial (PSK) jalanan, rumah-rumah bordil hingga eksistensi mucikari tetap ada – tidak secara terselubung, melainkan terbuka.

Ya, politisi Pakistan sendiri seolah tutup mata akan masalah prostitusi. Sementara sebagian besar polisi di Pakistan, justru ikut menerima suap dari para mucikari dan bos-bos rumah bordil agar tak dirazia, lantaran gaji polisi di Pakistan pun relatif memprihatinkan.

Awal geliat prostitusi di Pakistan, tak lepas dari kebijakan Inggris saat masih mencengkeram Asia Selatan (India dan Pakistan). British Raj atau Kemajarahaan Inggris di Asia Selatan, justru banyak mendirikan rumah bordil dan menyediakan PSK untuk para tentara Inggris di Kota Tua Lahore.

“Selama (rezim) British Raj, rumah-rumah bordil didirikan untuk jadi wadah hiburan tentara Inggris. Hal itu membuat tempat-tempat budaya tradisional, perlahan kehilangan nilai-nilai estetiknya dan justru jadi pusat prostitusi,” ungkap seorang jurnalis Pakistan, Zohaib Saleem, disitat DESIblitz.

Sementara pasca-kemerdekaan Pakistan pada 1947, rumah-rumah bordil serta “red-light district” atau lokalisasi peninggalan kolonialisme Inggris, masih bertahan hingga sekarang, baik di kawasan Serey Ghat di Kota Hyderabad, Kota Multan, Rawalpindi, Karachi, Faisalabad dan terutama area Heera Mandi dan di Lahore.

Bicara “pusat” prostitusi di Pakistan, Kota Lahore terbilang yang paling marak, tidak hanya PSK jalanan dan rumah bordil, tapi juga para gadis panggilan, tempat-tempat khusus penari sensual “Mujras”, hingga para PSK laki-laki yang melayani pelanggan penyuka sesama jenis.

Di Lahore, kawasan yang paling ternama soal urusan bisnis birahi, terletak di Heera Mandi atau acap disebut “Pasar Berlian”. Ironisnya, lokalisasi-lokalisasi di Heera Mandi terdapat di beberapa gang yang bersebelahan dengan tempat ibadah ikonik di Lahore, Mashid Badshahi.

Khusus tempat-tempat penari Mujras, biasanya hanya buka pada jam 11 malam hingga pukul 1 dini hari. Namun maraknya “kupu-kupu malam” yang ‘kelayapan’, justru baru eksis pada dini hari.

Hampir semua PSK di Heera Mandi, mestilah ada “maminya” atau “papinya”. Dengan berbekal 200-400 rupee (atau sekira Rp25-50 ribu). Untuk turis asing, banderolnya bisa ‘double’. Mirisnya, para PSK hanya ‘kebagian’ jatah 40 persen atau paling banyak 50 persen dari tarif itu, setelah dipotong komisi mucikari.

Akan tetapi, pelesiran ke Pakistan untuk tujuan wisata seks juga mesti dibarengi kehati-hatian. Sejumlah kasus pemerasan dan bahkan perampokan juga bercokol yang tak lain hasil dari kongkalikong PSK, mucikari dan kelompok kriminal.

Di sisi lain, bicara tentang motif dan alasan para wanita mau jadi penjaja seks, biasanya mereka digolongkan pada tiga kelompok.

Yang pertama para PSK yang jadi korban trafficking atau perdagangan manusia, PSK yang sengaja menjadikan prostitusi sebagai profesi dan PSK yang memang lahir sebagai pemuas nafsu pemburu syahwat.

PSK pada golongan “ketiga” di atas tergolong unik dan hampir mirip situasinya dengan yang terjadi di India. Para orangtua yang sudah lama bergelut dengan prostitusi, acap menjadikan anak perempuan mereka jadi calon PSK.

Hal semacam ini terjadi turun-temurun dan bahkan, para PSK ini awalnya “disekolahkan” di rumah masing-masing dengan dimentori orangtua atau kerabat, untuk belajar bagaimana menjadi PSK!

Di lain pihak, prostitusi di Pakistan tidak hanya diramaikan para PSK wanita, tapi juga PSK pria yang melayani para homoseksual. Khusus prostitusi gay sangat diharamkan pemerintah Pakistan.

Sang PSK maupun pelanggan yang tepergok bertransaksi dan beraktivitas seks, bakal diganjar hukuman 100 kali cambukan, serta dua tahun penjara, berdasarkan hukum pidana ayat 371A dan ayat 317B.

Gempa Kuat Guncang Asia Selatan, 70 Tewas

BeritaBintang – Gempa 7,5 skala Richter (SR) yang mengguncang Asia selatan, yakni Afganistan, Pakistan, dan India, menyebabkan 70 orang tewas, Senin (26/10/2015).

Korban tewas di antaranya 12 siswi yang gagal menyelamatkan diri dari sekolah yang roboh di kota Taluqan, Afganistan utara.

Kepala Departemen Pendidikan Enayat Naweed kepada AFP mengatakan, mereka tewas akibat berdesak-desakan untuk keluar dari sekolah.

Secara terpisah, di Provinsi Nangarhar yang berbatasan dengan Pakistan, sebanyak enam orang terbunuh dan 69 orang terluka, kata Najeeb Kamawal, kepala rumah sakit umum lokal kepada AFP.

Selain itu, dilaporkan 28 orang tewas di Pakistan utara, 20 orang di Pakistan barat laut, tiga di Gilgit-Baltistan, dan satu di Kashmir. Dari korban tewas di Pakistan, enam di antaranya anak-anak.

Gempa tersebut berpusat di dekat Jurm di tenggara Afganistan, 250 kilometer dari ibu kota Kabul dengan kedalaman 213,5 km, kata Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat.

Pusat gempa berjarak hanya ratusan kilometer dari pusat gempa 7,6 SR yang pernah mengguncang negara itu dan menewaskan 75.000 orang.

Selain korban tewas, gempa juga menyebabkan ratusan bangunan hancur dan rusak serta ratusan orang terluka

Gempa Susulan Terus Terjadi, Korban Tewas Melebihi 3.904

BeritaBintang –  Gempa susulan terus terjadi mengikuti gempa berkekuatan 7,9 Skala Richter (SR) yang mengguncang Nepal, Sabtu 25 April 2015. Gempa-gempa ini termasuk guncangan berkekuatan 6,7 SR yang terjadi pada Minggu, 26 April.

“Ada sekira 100 gempa dan gempa susulan, yang membuat upaya penyelamatan menjadi sulit. Bahkan tim penyelamat ketakutan dan menghindar karena gempa-gempa ini,” demikian kata Kepala Administrasi Distrik Kathmandu, Ek Narayan Aryal kepada AP yang dikutip Al Jazeera, Selasa (28/4/2015).

Jumlah korban akibat gempa terus bertambah. Laporan terakhir dari Kepolisian Nepal menyatakan korban tewas mencapai lebih dari 3.904 dan yang terluka lebih dari 7.180. Longsoran salju yang terjadi di Gunung Everest menewaskan 18 orang. Korban tewas juga dilaporkan dari India sebanyak 61 orang, dan Tibet sebanyak 25 orang.

Kelangkaan bahan makanan, air bersih, dan tenda darurat menyebabkan perkelahian antar penduduk di Bhaktapur. Reporter Al Jazeera di Kathmandu mengatakan bahwa jumlah korban diperkirakan masih akan bertambah, dan tim penyelamat masih berusaha menjangkau desa-desa terpencil di Nepal.

Bantuan terus berdatangan baik dari organisasi internasional, lembaga bantuan, dan masyarakat internasional. Negara-negara yang pertama kali merespons bencana ini adalah India, China, dan Pakistan yang merupakan negara tetangga terdekat Nepal.

Beberapa negara lain yang terlibat dalam upaya penyelamatan adalah Prancis, Uni Emirat Arab, Israel, dan Amerika Serikat (AS). Negara lainnya juga ada yang berjanji akan mengirimkan bantuan seperti obat-obatan, tim penyelamat, dan tenaga medis. Indonesia, melalui pernyataan dari Wakil Presiden Jusuf Kalla telah berjanji akan memberikan bantuan senilai USD1 juta (sekira Rp12,9 miliar), Tim Search and Rescue (SAR), dan obat-obatan.