Novel Baswedan

Awas! Ini Bahaya jika Kulit Tersiram Air Keras

BeritaBintangAwas! Ini Bahaya jika Kulit Tersiram Air Keras

PENYIDIK senior KPK, Novel Baswedan diserang orang tidak dikenal menggunakan air keras pada Selasa 11 April 2017. Air keras sudah tentu sangat berbahaya terhadap kesehatan, termasuk ketika terpapar pada kulit.

Air keras merupakan larutan asam kuat yang cukup pekat. Karenanya, saat air keras mengenai kulit, akan menimbulkan nyeri yang hebat, bahkan bisa sampai luka bakar. Salah satu contoh air keras adalah asam sulfat yang biasa digunakan untuk Aki.

Dalam kasus Novel Baswedan, air keras mengenai wajah atau kulitnya. Luka di bagian mata sebelah kiri Novel juga cukup parah. Lalu, apa bahaya dari air keras?

{ Baca Juga, ” Wih! Ini Video Tiga Pembalap Saling Berebut Posisi Dua MotoGP Argentina 2017 ” }

Kulit yang terpapar air keras dapat menyebabkan nyeri, kemerahan dan luka bakar, serta jaringan parut permanen. Jika air keras mengenai mata, maka dapat menyebabkan luka bakar yang parah dengan kemerahan, pembengkakan, nyeri dan penglihatan kabur. Kerusakan yang permanen bisa sampai mengakibatkan kebutaan.

Selain itu, jika air keras tertelan, maka dapat membakar bibir, lidah, tenggorokan dan perut. Gejalanya mungkin akan mengalami mual, muntah, kram perut, dan diare. Demikian seperti dikutip dari laman JUDI ONLINE, Kamis (13/4/2017).

Jokowi Perintahkan Kapolri Tangkap Pelaku Penyiram Air Keras ke Novel Baswedan

BeritaBintangJokowi Perintahkan Kapolri Tangkap Pelaku Penyiram Air Keras ke Novel Baswedan

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengutuk keras aksi penyiraman air keras ‎kepada penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Presiden memerintahkan Kapolri Jendral Tito Karnavian segera menangkap pelaku teror tersebut.

“Itu tindakan brutal yang saya mengutuk keras, dan saya perintahkan kepada Kapolri untuk cari siapa (pelakunya). Jangan sampai orang-orang yang punya prinsip teguh seperti itu dilukai dengan cara-cara yang tidak beradab!” tegas Jokowi di Istana Negara, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (11/3/2017).

[Baca Juga -“Selamat Menempuh Ujian Nasional Siswa SMA “]

Jokowi mengecam aksi teror tersebut. Terlebih saat kejadian Novel Baswedan baru saja usai Salat Subuh di Masjid Al Ikhsan, Jalan Deposito, Kelapa Gading, Jakarta Utara.‎ Presiden menekankan agar peristiwa serupa tidak boleh kembali terjadi.

“Saya kira ini tidak boleh terulang hal-hal yang seperti itu,” ‎terangnnya.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menambahkan, agar semua penyidik lembaga antirasuah ‎dapat waspada setelah adanya kejadian kriminal ini. Namun, Jokowi meminta agar penyidik KPK tetap semangat dalam memberantas kasus korupsi yang terjadi di Indonesia.

“‎Ya tetep semangat. Tetep semangat bekerja. Saya kira ini urusan karena kriminal urusannya Kapolri untuk cari ya,” tandasnya.

Jokowi Kian Kehilangan Wibawa

BeritaBintangJAKARTA – Penangkapan penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan, semakin menegaskan tergerusnya wibawa Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai kepala negara sekaligus panglima tertinggi.

Pasalnya, beberapa waktu lalu, Presiden Jokowi menginstruksikan kepada KPK dan Polri agar saling menghormati dan tidak melakukan upaya kriminalisasi.

“Saya kira semakin kentara indikasi Presiden semakin kehilangan wibawa karena instruksinya diabaikan begitu saja oleh Polri,” ujar pengamat hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Masnur Marzuki.

Direktur Asia Pacific Law Institute & Constitutional Reform (Aplicore) UII tersebut menambahkan, Presiden Jokowi harus segera mengambil sikap tegas dan cepat terkait kisruh KPK-Polri, termasuk penetapan tersangka pimpinan KPK dan penangkapan penyidik KPK, Novel Baswedan.

“Bila hal itu tidak segera direspons cepat, wibawa dan citra Presiden Jokowi yang dalam janji kampanyenya akan memperkuat KPK, akan semakin anjlok karena mengecewakan publik. Apalagi, instruksi Presiden diabaikan begitu saja,” pungkasnya.

Seperti diberitakan, Novel Baswedan ditetapkan menjadi tersangka pada 2012 lalu, atas kasus penembakan seorang pencuri sarang burung walet di Bengkulu pada 2004 silam. Kejadian itu berlangsung saat Novel menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Bengkulu.

Alasan penyidik Bareskrim menangkap Novel Baswedan di rumahnya, kawasan Kelapa Gading, Jakarta Timur pada Jumat, 1 Mei 2015 dini hari, karena dua kali mangkir dari panggilan tanpa alasan yang sah.

Kasus Novel, Polisi Diminta Tunduk Perintah Presiden

BeritaBintang – Perintah Presiden Jokowi untuk segera melepaskan Novel Baswedan, harus dipatuhi Polri sebagai aparat pemerintah dalam penegakan hukum untuk menciptakan kondisi kondusif dan harmonis antara Polri dengan KPK, kata DPP PROJO.

“Presiden ingin semua lembaga penegakkan hukum bekerja sama , bersinergi dan menjaga harmonisasi. Bukannya malah membuat situasi tambah kisruh, ” ujar Budi Arie Setiadi, Ketua Umum PROJO dalam keterangan pers nya di Jakarta, Sabtu, (2/5/2015).

Projo (Pro Jokowi) adalah barisan relawan pendukung Presiden Jokowi prihatin terhadap penahanan penyidik KPK Novel Baswedan oleh Polri terkait dengan dugaan kekerasan Novel saat bertugas sebagai polisi di Lampung tahun 2004.

Pada Februari 2004, Polres Bengkulu menangkap enam pencuri sarang walet, setelah dibawa ke kantor polisi dan diinterogasi di pantai, keenamnya ditembak sehingga satu orang tewas diduga dilakukan oleh Novel Baswedan.

“POLRI harus membantu KPK serius dan bekerja keras dalam upaya pemberantasan korupsi, bukan malah menghambat nya. Rakyat sudah cerdas dan mulai bosan dengan tindakan dan upaya memperlemah KPK, ” ujar Budi.

“Kalau sampai polisi tidak mematuhi perintah presiden dapat disimpulkan telah terjadi insubordinadasi dan pembangkangan. Presiden itu Panglima tertinggi.Oknum polisi seperti itu harus di copot karena merusak lembaga kepolisian yang kita cintai bersama, ” pungkas mantan aktivis UI 98 ini.