Nottingham Forest

Leicester Mengukir Histori Gemilang

BeritaBintang – Leicester City sukses mengukir histori gemilang setelah berhasil merebut gelar juara Premier League pertamanya. Klub asuhan Claudio Ranieri itu berhasil mempertahankan asa sejak awal musim 2015–2016.

Menurut statistik Opta Joe, Leicester menjadi klub pertama yang berhasil menjadi juara usai promosi ke divisi tertinggi setelah Nottingham Forest pada 1978. The Foxes –julukan Leicester– sukses membukukan gelar juara usai Chelsea menahan imbang 2-2 Tottenham Hotspurs pada Selasa dini hari tadi WIB.

“1 – Leicester adalah klub pertama yang berhasil memenangkan gelar juara Premier League usai promosi setelah Nottingham Forest pada 1978. Luar biasa,” tulis akun Kamusjudi.com, Selasa (3/5/2016).

Sejauh ini Leicester berhasil mempertahankan posisi puncak klasemen dengan raihan 77 poin. Sementara Hotspurs duduk di tempat kedua dengan raihan 70 poin.

Klopp Senang dengan Vonis Insiden Hillsborough

BeritaBintang –Manajer Liverpool, Jurgen Klopp, menganggap vonis pada kasus Hillsborough merupakan momen yang sangat luar biasa bagi keluarga dari 96 pendukung yang meninggal pada bencana mengerikan 1989.

Saat itu kekisruhan terjadi pada semifinal FA Cup antara Liverpool dan Nottingham Forest di stadion Hillsborough. kejadian tersebut murni karena kesalahan perencanaan yang dibuat oleh kepolisian Yorkshire Selatan.

“Ini merupakan momen yang sangat besar bagi seluruh keluarga, dan saya benar-benar senang atas kebahagiaan mereka. Saya sangat senang karena mereka telah mendapatkan keadilan yang mereka inginkan,” tutur Klopp, sebagaimana dilansir Indowins, Kamis (28/4/2016).

“Saya senang karena mereka telah menanti keadilan sejak 27 tahun lalu. itu merupakan waktu yang sangat lama. Mereka berjuang untuk kebenaran dan cukup sabar menanti sehingga vonis tersebut dapat terjadi,” tambahnya.

Kapten Leicester Beberkan Kisah Pilu Masa Lalu

BeritaBintang  –  Perjalanan Leicester City menaklukkan Liga Premier Inggris mencuri perhatian pecinta sepak bola Eropa. Usai menjuarai Divisi Championship dua musim lalu, Leicester terus mengancam tim-tim elit hingga sampai di posisi puncak klasemen sementara saat ini.

Seorang produser film di Inggris bahkan berniat untuk membuat film kebangkitan The Foxes. Tak tanggung-tanggung, aktor Hollywood Robert de Niro dibidik sebagai calon pemeran manajer Claudio Ranieri.

Di luar kisah tim secara keseluruhan, ada cerita pilu dari kapten Leicester Wes Morgan. Bek 32 tahun asal Kota Nottingham ini rupanya harus melalui kehidupan keras di masa kecil sebelum bisa setenar seperti sekarang.

Seperti yang diberitakan Daily Mail pada Sabtu (16/4/2016) malam, dia menghabiskan sebagian besar kariernya di Divisi Championship, baik bersama Nottingham Forest maupun Leicester sampai 2014 lalu.

“Musim lalu adalah penampilan pertama saya di Liga Premier dan kami hanya menghindari degradasi, tentu saja, semua ini tak pernah terlintas di benak saya,” kata Morgan.

Morga bermain untuk Nottingham sejak 2002 hingga 2012. Namun, klub juara Piala Champions dua kali itu sempat meminjamkannya ke Kidderminster Harriers FC yang kini bermain di Divisi Lima Liga Inggris.

Tumbuh dan besar di Nottingham, Nottinghamshire, Morgan tak serta merta diterima masuk klub kebanggaan warga kota itu. Dia ditolak akademi Nottingham Forest pada usia 15 tahun lalu memilih Notts County sebagai pelabuhan pertamanya.

“Pada saat itu, Anda tidak tahu tentang uang atau kemewahan dalam hidup. Anda sangat senang dengan apa yang Anda miliki, dan saya jadi anak bahagia dengan apa yang saya miliki,” tutur Morgan.

Dari gaji orang tua yang bekerja di panti jompo, Morgan dapat mensyukuri apapun yang diterimanya. Dia selalu punya sebuah bola untuk selalu dimainkan, benda yang juga menghindarinya dari lingkungan penuh kriminalitas.

“Jika Anda dari Nottingham, semua orang telah mendengar tentang The Meadows. Ini adalah daerah yang keras, dikenal karena obat-obatan, kejahatan, bahkan senjata.”

“Teman-teman saya kedapatan terlibat dengan hal-hal semacam itu, dan masuk penjara, tapi saya selalu punya bola. Kami bermain di depan kebun orang, garasi mobil, taman umum, benar-benar di mana saja. Kami bermain di setiap kesempatan yang kami punya,” Morgan mengakhiri.