New York City

Saykoji, Master Rapper Indonesia Rekaman di New York

BeritaBintangSaykoji, Master Rapper Indonesia Rekaman di New York

Saykoji menjadi salah satu rapper berkualitas milik Indonesia saat ini. Bahkan VOA Indonesia menyebut jika pemilik nama lengkap Ignatius Rosoinaya Penyami (Igor) ini sebagai Master Rapper Indonesia.

http://www.voaindonesia.com/embed/player/0/3818587.html?type=video

Saykoji terus berusaha untuk mengangkat genre musik hip-hop di Tanah Air. Tak tanggung-tanggung, Saykoji bahkan harus mencari inspirasi ke New York City sebagai pusat hip-hop dunia, untuk bekal dirinya mengeluarkan karya terbaru. Berjalan ke sudut Brooklyn mencari representasi musik hip-hop.

“Kita di hip-hop tuh sangat suka dengan apa yang namanya metafora. Nulis lirik agak puitis, kita membandingkan sesuatu dengan hal sehari-hari yang mungkin akhirnya bisa gue pakai, kaya naik subway, karena nanti kita berharap nanti Jakarta MRT-nya jadi kita akan punya pengalaman yang mirip. Lalu jalannya ketemu berbagai macam orang lihat kota dengan gedung-gedung tinggi yang padat, jadi hal memicu gue untuk nulis lirik,” jelas Saykoji dalam VOA Indonesia.

Ternyata, Saykoji tak hanya mencari inspirasi. Ia turut rekaman bersama sahabatnya, seorang rapper lokal di studio di kawasan New York.

[Baca Juga -“Lupakan Ketegangan Pilkada, Yukk Nonton Lima Gitaris Dunia di Jakarta!“]

“Gua di sini lagi ada beberapa proyek, yang ada hubungannya dengan musik, salah satunya recording bareng temen gue. Jadi kolaborasi dengan rapper sini. Gua bikin musiknya, gua rekaman di studio nanti gw bawa hasil rekamannya dan kemudian mixing di rumah,” sambungnya.

Menyambangi New York, Saykoji ingin benar-benar menampilkan musik hip-hop berkualitas. Ia mengambil tema semangat hip-hop era 90-an awal yang dianggap periode masa keemasan.

“Terus syuting video klip sama ada gue yang udah dibikin, temanya musik hip-hop akhir 80-an, awal 90-an, yang identik dengan zaman hip-hop masa keemasan. Kita keliling-keling nyari apa yang bisa orang lihat, New York tuh kaya gimana,” tandasnya.

Potongan Kuku Diubah Jadi Karya Seni Bernilai Tinggi

BeritaBintang –   Seorang pria asal Queens, daerah timur New York City, Amerika Serikat memiliki hobi yang terbilang unik. Jika bagi orang lain, potongan kuku sekadar sampah. Mike Drake (45) mengumpulkan setiap potongan kukunya dan menyimpannya di kantong plastik bening zip lock selama 10 tahun terakhir.

“Saya punya kebiasaan menggigit kuku sejak kecil. Saya juga pernah memanjangkan kuku untuk mengetahui seberapa panjang kuku itu bisa tumbuh. Kemudian saya berpikir, berapa banyak potongan kuku yang bisa saya kumpulkan,” tuturnya, sebagaimana diwartakan Bioskopsemi , Kamis (7/1/2016).

Sejak saat itulah ia mulai mengoleksi potongan kukunya. Setahun lalu ia sempat terpikir untuk membuang koleksinya. Namun, tiba-tiba ide cemerlang merasuki pikirannya. Pria paruh baya ini pun mengubah potongan kukunya jadi karya seni bernilai tinggi.

Ia mengolah kumpulan potongan kuku itu menjadi pemberat kertas, beberapa juga ia masukkan ke dalam bola bening dan dikreasikan dengan acrylic. Satu karyanya bisa terjual dengan harga USD300 hingga USD500, yang jika dirupiahkan sekira Rp4,1 juta sampai Rp6,9 juta.

“Beberapa orang mengatakan kepada saya kalau potongan kuku ini bisa dimanfaatkan orang jahat untuk praktik ilmu hitam. Mereka khawatir dan meminta saya berhenti menjualnya supaya tidak kena guna-guna. Tapi sampai saat ini saya baik-baik saja, dan karya saya dilirik oleh Ripley’s Believe it or Not,” ujarnya.

Faktanya, acara bergengsi pimpinan Robert Ripley yang suka menyiarkan kegiatan-kegiatan aneh di dunia itu telah menjadi konsumen utama produk Drake. Beberapa koleksinya dibeli oleh Ripley untuk dipamerkan di berbagai Odditorium di Amerika.

Terapi Seks Ingatkan Kesibukan Kerja Bisa ‘Bunuh’ Gairah Bercinta

BeritaBintang – Dr Shirley Zussman adalah seorang terapis seks tertua di dunia. Lahir saat awal Perang Dunia I pecah. Ayahnya seorang dokter dan ibunya seorang asisten dokter bedah.

Tumbuh kembang di Berlin, Jerman, dengan keluarga berlatarbelakang dunia medis, Zussman pun memutuskan untuk mendalami pendidikan di ranah serupa, tetapi fokus pada masalah seksual manusia.

Suaminya seorang ginekologis dan merupakan dokter pertama yang melakukan aborsi legal pertama di New York, AS.

Sekarang, di usia mencapai100 tahun, Dr. Zussman masih membuka praktek di New York City.

Lebih kurang selama 50 tahun sudah dia berkecimpung di dunia konseling seksual. Dia mengaku telah menjadi saksi mata dari berbagai masalah seksual manusia dari waktu ke waktu.

Berikut pandangannya terhadap kehidupan seksual sekarang dan dahulu:

Tanggapannya tentang kehiduapan seksual zaman sekarang

“Penggunaan waktu oleh masyarakat sekarang, begitu berbeda dengan zaman dulu. Orang-orang sekarang sibuk sepanjang waktu. Saat ini, kita ingin melakukan, mengetahui, mengkontrol segalanya,” ujar Dr Zussman.

Lalu, dia mengatakan kesibukan mencukupi kebutuhan harian ini, membatasi energi, gairah, dan waktu bercinta.

Masalah paling banyak yang ditemui pada orang-orang sekarang adalah kurang gairah dan kurang ketertarikan.

Sibuk kerja, kata Zussman, bisa memadamkan dan membunuh gairah bercinta terhadap pasangan.

“Aku memiliki pasien yang mengatakan, dia mencintai suaminya, dia juga menyukai bercinta dengannya, tetapi sepulangnya dari tempat kerja, setelah seharian menghabiskan waktu dengan banyak orang, hal yang ingin dia lakukan hanyalah beristirahat,” terangnya.

Tanggapannya tentang keterbukaan seksual sekarang

“Aku tak berpikir, bahwa stigma seputar sex therapy sekarang tidak seperti di masa lalu. Dahulu, orang-orang begitu malu untuk pergi ke pskiater atau pekerja sosial karena mereka takut dikira memerlukan bantuan. Banyak orang yang menampik ide, bahwa seseorang perlu memberitahu mereka bagaimana melakukan hubungan seksual yang lebih baik,” urainya.

Namun, menurut Dr Zussman, sekarang ada perubahan dalam kebudayaan. Ada revolusi seksual. Penemuan pil anti hamil, membuat wanita merasa lebih aman.

“Semua majalah dan program televisi berbicara tentang seks. Setiap iklan menggunkan seks untuk menjual produknya. Sekarang seks lebih dipikirkan untuk kebahagiaan bukan hanya tuntutan memiliki keturunan,” jelasnya.

Tanggapannya mengenai pornografi dari internet

” Tidak ada yang baru tentang pornografi. Hal itu sudah ada sejak zaman prasejarah. Aku rasa setiap orang memiliki kemampuan dan kebebasan untuk berfantasi dan itu adalah hal yang biasa,” sebut Dr Zussmann.

Namun, Dr Zussman mengisahkan dia memiliki banyak pasien yang kerjanya duduk dan menonton pornografi lewat internet. Alhasil, mereka kehilangan gairah terhadap pasangannya.

“Aku melihat banyak pria lajang yang tidak berusaha untuk menghadapi dunia, menghadapi penolakan yang mungkin bisa terjadi, dan mereka memuaskan kebutuhan seksual mereka lewat duduk di depan komputer dan masturbasi,” pungkasnya.

Persahabatan Wade – Lebron Masih Kokoh

BeritaBintangNEW YORK – LeBron James dan Dwyane Wade bertemu dalam reuni kecil-kecilan di New York City untuk partai NBA All-Star pada akhir pekan ini. Keduanya tentu sangat bahagia bisa bertemu kembali setelah James dipinang Cleveland Cavaliers pada awal musim.

Meski Wade dipastikan takkan mengikuti pertandingan yang digelar hari Minggu karena cedera, pastinya pecinta NBA akan disuguhkan pemandangan yang menarik di arena. Terhitung sudah 11 kali secara berturut-turut dua bintang tersebut tampil di All-Star bersama-sama.

Jumat pagi waktu setempat, Wade tampil sebagai reporter untuk NBA TV dan duduk di samping James. Bintang Miami Heat itu lantas bertanya kepada James tentang perubahan hidup setelah pindah ke kota Cleveland.

Keduanya lantas hanya tertawa ringan mengingat masa-masa indah yang pernah dibina saat James masih membela Heat. Air muka keduanya menyiratkan bahwa tali pertemanan takkan pernah putus.

Ketika Wade bertanya mengenai anak perempuannya, James menjawab, “Dia pasti akan memanggil pamannya (Wade) jika ada yang diminta,” ucap bintang Cavaliers itu, seperti dilansir Fox Sport, Sabtu (14/2/2015).

Wade dengan cepat menjawab, ”Paman D Wade, Paman CP, Paman ‘Melo, kami semua tersedia. Kami pasti di sana itu sudah pasti.”