Mark Webber

Silverstone, Sirkuit Penuh Tantangan untuk Para Pembalap Lantaran Cuaca yang Sulit Ditebak

BeritaBintang –  Silverstone, Sirkuit Penuh Tantangan untuk Para Pembalap Lantaran Cuaca yang Sulit Ditebak

SIRKUIT Silverstone, merupakan salah satu sirkuit yang digunakan untuk dua ajang balapan terbesar di dunia, yakni Formula One (F1) dan MotoGP. Spesialnya, Silverstone kerap kali menjadi batu sandungan bagi para pembalap karena kondisi cuaca yang sulit ditebak.

Silverstone merupakan sirkuit yang terletak di Inggris dan memiliki panjang lintasan sejauh 5.891 kilometer.Sirkuit tersebut dibangun di atas sebuah situs stasiun bomber Angkatan Udara Kerajaan Perang Dunia II.

Untuk ajang F1, Silverstone telah digunakan untuk berlaga sejak masa awal ajang balap mobil tersebut digelar, yakni pada 1950. Kendati demikian, pada 2010, gelaran F1 di Inggris tidak menggunakan Silverstone lagi karena dipindahkan ke Donnington Park. Meski begitu, karena persiapan di Donningtan Park yang belum siap sepenuhnya, maka Silverstone kembali digunakan kembali, setidaknya sampai 2027.

{ Baca Juga : ” Ingin Mulai Karier sebagai Manajer, Ryan Giggs Tertarik Tangani Southampton}

Sedangkan untuk ajang MotoGP, Silverstone pertama kali digunakan untuk balapan adalah pada 1977. Namun, pada 1987, arena balap untuk MotoGP di Inggris dipindahkan ke Donnington Park. Barulah, pada 2010, Silverstone kembali digunakan kembali untuk ajang MotoGP.

Sejauh ini, rekor putaran tercepat di Sirkuit Silverstone dipegang oleh pembalap Australia, Mark Webber, dari ajang F1. Webber berhasil mencatatkan waktu 1 menit 33,401 detik pada 2013 ketika masih berseragam Tim Red Bull.

Untuk ajang F1, rekor kemenangan terbanyak dipegang oleh pembalap Prancis, Alain Prost, yang telah memenangkan sebanyak lima kali di Silverstone. Meski begitu, catatan tersebut masih sangat mungkin dikejar oleh Lewis Hamilton. Pasalnya, Hamilton sudah mengemas empat kemenangan di Silverstone dan hingga saat ini masih aktif balapan.

Sedangkan untuk ajang MotoGP, rekor kemenangan terbanyak berhasil diraih oleh Kenny Roberts dan Jorge Lorenzo. Tercatat, kedua pembalap tersebut sama-sama telah mengemas tiga kemenangan di Silverstone.

Tim Williams Cetak Rekor Pitstop Tercepat di GP Eropa

BeritaBintangBAKUSeri kedelapan Formula One (F1) 2016 di Sirkuit Baku telah usai. Namun, usai perlombaan ada catatan menarik yang diraih oleh Tim Williams, yaitu membubuhkan waktu tercepat di pitstop dengan 1,92 detik.

Ya, Felipe Massa yang memasuki pitstop dalam perlombaan tersebut mengukir waktu tercepatnya. Ia sukses mengalahkan waktu yang dibuat oleh pembalap Reb Bull, Mark Webber di GP Amerika Serikat pada 2013.

Kendati gagal meraih podium, Massa mengakhiri balapan di urutan ke-10. Lantas usai balapan, ia terkejut dengan pencapaiannya dan bangga dengan kerja keras timnya.

“Saya terkejut mencatat pitstop pertama yang tercepat. Kami tak tampil sesuai dengan harapan, namun saya bangga dengan tim yang sudah melakukan pekerjaannya dengan baik,” ucap Massa menukil TaruhanBolaOnline, Selasa (21/6/2016).

Sepanjang 2016 ini pembalap Williams kerap menciptakan waktu tercepat di pitstop, selain Massa, rekan setimnya, Valtteri Bottas, berada di bawahnya. Bottas mencatatkan waktu dengan 2,09 detik dengan mengalahkan driver Red Bull Daniel Ricciardo urutan ketiga.

Daniel Ricciardo Bakal Beri Kejutan di GP Kanada

BeritaBintang –Mantan pembalap Formula One (F1), Mark Webber, mengaku terpukau dengan penampilan pembalap Tim Red Bull, Daniel Ricciardo, di sepanjang F1 2016. Ia menilai, Ricciardo berhasil tampil gemilang hampir di semua seri pada musim ini.

Webber mengaku yakin pembalap asal Spanyol itu akan dapat mencuri perhatian di GP Kanada, pekan depan. Kendati demikian, ia memperingatkan Ricciardo untuk tetap waspada. Sebab, persaingan F1 2016 kian ketat.

“Dia adalah pembalap hebat dan telah dapat menunjukkan performanya. Namun ini adalah pertandingan dan terkadang tidak beruntung,” tutur Webber, seperti dikutip dari Taruhan Bola Online, Selasa (7/6/2016).

Webber tidak menampik bahwa seorang pembalap pasti akan merasa kecewa jika gagal mendapat hasil manis. Namun ia yakin Ricciardo akan mencuri poin di seri selanjutnya.

“Itu sangat menyedihkan bagi seorang pembalap saat Anda dapat melakukannya, tetapi Anda tidak mendapatkan hasil yang diinginkan. Itu sangat membuat frustrasi. Namun dia pasti akan tampil optimal kembali,

Ferrari Dicap sebagai Tim Terburuk F1 2016

BeritaBintang – Tim Ferrari belum dapat menunjukkan taringnya hingga gelaran Formula One (F1) 2016 memasuki seri keenam. Kedua pembalap Ferrari, Sebastian Vettel dan Kimi Raikkonen, masih belum dapat finis sebagai pembalap tercepat di F1 musim ini.

Mantan pembalap F1, Mark Webber menyebutkan bahwa Tim Ferrari merupakan tim paling mengecewakan pada musim ini. Pendapat Webber tersebut bukan tanpa alasan.

Sebab, Tim Ferrari telah menyiapkan mesin dengan performa apik sebelum musim 2016 bergulir. Namun, kemampuan Tim Ferrari ternyata masih belum kelihatan.

“Ferrari adalah tim paling mengecewakan sejauh ini. Mereka belum dapat menunjukkan kemapuan terbaiknya,” tutur Webber, seperti dilansir dari Bintangbola.co, Sabtu (4/6/2016).

Kendati demikian, Webber yakin Ferrari akan tampil lebih maksimal di Kanada, pekan depan. “Saya memperkirakan bahwa mereka akan tampil maksimal di Kanada,” pungkasnya.

Legenda F1 Bela Rio Haryanto

BeritaBintang – Legenda mobil balap Formula One (F1), Mark Webber, membela pilot Tim Manor Racing, Rio Haryanto, terkait insiden kecelakaan dengan Romain Grosjean. Ia menilai driver Tim Haas tersebut ceroboh dengan tak melihat Rio keluar dari garasi.

“Itu kecerobohan, bisa dikatakan sebagai sesuatu yang luar biasa. Maksudnya, saya merasa aneh dengan Grosjean. Apakah dia tidak melihat Rio keluar dari garasi? kata Webber mengutip Yahoo Sports, Minggu (20/3/2016).

Buah dari insiden tersebut, pembalap asal Indonesia itu harus memulai balapan GP Australia dari posisi buncit. Bahkan Race Director memutuskan Rio dijatuhi hukuman dua poin penalti yang bakal terekam di Superlicence miliknya.

Mantan pembalap Red Bull tersebut menambahkan kecelakaan yang dialami Rio merupakan yang pertama terjadi jelang seri perdana F1 di Australia. Alhasil pilot bernomor 88 itu harus start di posisi 22.

“Ini kecelakaan pertama yang terjadi di Formula one,” tutup sosok berusia 39 tahun tersebut.