Lingkungan Hidup

Thailand Terpaksa Tutup Pulau Terindahnya untuk Turis

BeritaBintang –   Hampir semua taman nasional bahari yang jadi destinasi wisata di Thailand, tutup sepanjang musim penghujan dari Mei hingga Oktober. Tapi pulau terindahnya, Koh Tachai takkan kembali dibuka lagi ketika musim penghujan berakhir.

Pulau yang berada di Provinsi Phang Nga dan merupakan bagian dari Taman Nasional Similan ini, mengalami kerusakan parah, terutama di beberapa bagian pantainya.

Pulau Koh Tachai merupakan salah satu pulau terindah di Negeri Siam itu dan jadi satu dari sejumlah destinasi terfavorit para turis, baik turis domestik maupun mancanegara.

Akibatnya, pulau itu selalu kebanjiran turis dan tak jarang melebihi kapasitas. Pulau itu normalnya hanya bisa didatangi 70 turis. Tapi tak jarang pulau ini justru didatangi lebih dari 1.000 wisatawan.

Belum lagi dengan kegiatan warga lokal yang mendirikan banyak kedai makanan dan minuman, serta toko dengan bangunan permanen yang menyewakan perahu, maupun alat-alat snorkeling dan menyelam.

“Kami harus menutupnya agar bisa merehabilitasi lingkungannya, baik di pulau dan lautnya,” ujar Tunya Netithammakul, Dirjen Taman Nasional, Lingkungan Hidup dan Konservasi dari Kementerian Sumber Daya Alam dan Lingkungan Thailand.

“Kami harus merehabilitasinya tanpa terganggu oleh aktivitas-aktivitas pariwisata, sebelum kerusakan pulau tersebut tak lagi bisa diperbaiki,” lanjutnya, dikutip Bintangbola.Co, Selasa (17/5/2016).

Atasi Asap, 200 Ribu Ton Garam Ditabur Agar Turun Hujan

BeritaBintang – Pemerintah telah melakukan berbagai cara untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan di tengah kemarau berkepanjangan. Salah satu caranya dengan menabur garam agar menjadi musim hujan.

Kepala Pusat Humas Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup Eka W. Soegiri memaparkan pemerintah sudah mengirimkan 27 pesawat yang di dalamnya terdapat 89 ribu liter air dan 200 ribu ton garam.

“Dalam konteks pemadaman api ada 27 pesawat, penaburan garam untuk modifikasi cuaca,” ujar Eka di diskusi Energi Kita, di gedung Dewan Pers, Jakarta, Minggu (25/10/2015).

Pemerintah kata Eka juga menurunkan 22 ribu personil untuk menutup kanal yang telah dibuka pada lahan gambut diisi air.

Karena selama ini kanal dibuka oleh pihak tak bertanggung jawab untuk menghilangkan jejak pelaku kebakaran, sehingga abunya masuk ke dalam kanal tersebut.

“Kalau kawasan gambut basah otomatis dia padam. Asap muncul ada pemantik manusia, oksigen, dan gambut,” ungkap Eka.

Eka pun menghimbau kepada masyarakat di sekitar lingkungan kawasan hutan lindung agar berhati-hati tidak membuang puntung rokok dan menyalakan api sembarangan.

Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup meminta tanggung jawab dimiliki tak hanya pemerintah pusat tetapi juga pemerintah daerah dan masyarakat sekitar.

“Di kawasan pemerintah kawasan lindung kita berikan tanggung jawab penuh sarana dan prasarana, kerjasama dengan pemda,” papar Eka.

Beda, Penyebab Kebakaran Hutan di Kalimantan dan Sumatera

BeritaBintang – Kepala Pusat Humas Kementerian Hutan dan Lingkungan Hidup Eka W Soegiri memaparkan latar belakang permasalahan kebakaran hutan di Kalimantan berbeda dengan Sumatera.

Eka menyebut sumber kebakaran hutan di Sumatera akibat adanya konsesi sedangkan di Kalimantan dekat pemukiman.

“Artinya problem tidak sama,” ujar Eka pada diskusi Energi Kita di gedung Dewan Pers, Jakarta, Minggu (25/10/2015).

Menurut Eka, titik kebakaran yang terjadi saat ini ada yang berada di dalam pengawasan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup dan ada yang berada di tanggung jawab Badan Pertanahan Nasional.

Kendati demikian proses pembakaran hutan sudah menjadi budaya di beberapa wilayah untuk mendapatkan lahan tanaman pangan baru.

“Ada di beberapa tempat mempunyai budaya membuka lahan tanaman pangan menggunakan cara membakar,” kata Eka.

Eka menambahkan jika musim hujan sudah bisa diprediksi, maka hutan yang terbakar tidak akan terlalu lama seperti sekarang ini.

“Biasanya masyarakat daerah sekitar (hutan) lebih tahu waktunya turun hujan,” jelas Eka.

Eka memaparkan pemerintah sudah memberikan tanggung jawab terhadap masyarakat dan pemerintah daerah sekitar kehutanan menjaga dan merawat. Dalam hal ini jika terjadi pembakaran hutan harus mengetahui waktu yang tepat sebelum musim hujan tiba.

“Sekarang masyarakat menebang dan membakar secara masif,” kata Eka.