Laut China Selatan

China Kembangkan Drone Siluman Anti-Rudal

BeritaBintangChina Kembangkan Drone Siluman Anti-Rudal

Perusahaan pembuat peluru kendali terbesar di China tengah mengembangkan pesawat nirawak atau drone siluman yang bisa menghindari tembakan senjata dari darat. Langkah baru di tengah program modernisasi negara dengan ekonomi terbesar dunia ini dilaporkan oleh surat kabar setempat, China Daily.

“Drone jadi senjata yang mesti dimiliki di era modern karena berperan penting dalam pengintaian resolusi tinggi, serangan presisi jarak jauh, operasi anti-kapal selam dan pertempuran udara,” kata wakil General Manager China Aerospace Science and Industry Corp sebagaimana dikutip Reuters.

Berkeras tidak berniat melakukan serangan, China berinvestasi miliaran dolar untuk memperbarui peralatan pertahanannya dan mengembangkan senjata baru, termasuk pesawat tempur siluman dan kapal induk.

Baca Juga: “ Delon Ingin Indonesia ada Musik Seriosa

Pengeluaran besar-besaran ini, walau demikian, membuat gerah kawasan yang selama ini dilanda sengketa soal Laut China Selatan dan permasalahan Taiwan–negara yang diakui Beijing sebagai provinsi pembangkang.

Wei mengatakan kepada koran berbahasa Inggris itu bahwa perusahaannya juga tengah mengembangkan drone yang bisa terbang menempuh jarak jauh dengan ketinggian hampir mencapai luar angkasa.

Surat kabar tersebut mendeskripsikan China Aeropspace Science and Industry Corp sebagai satu-satunya produsen rudal jelajah di negara ini.

Belakangan, China meningkatkan penelitian terkait drone, berharap merebut pasar yang selama ini dikuasai Amerika Serikat dan Israel lewat teknologi lebih murah. Selain itu, Beijing juga tidak akan segan-segan menjual peralatannya ke negara yang tidak dilayani negara Barat.

Menhan Trump: Rusia Pecah-belah NATO

BeritaBintangMenhan Trump: Rusia Pecah-belah NATO

Calon Menteri Pertahanan Amerika Serikat James Mattis menuduh Rusia ingin memecah-belah NATO dan, di bawah pemerintahan baru, negeri Paman Sam akan mencegahnya.

Kritik tajam jenderal purnawirawan marinir ini berkebalikan dari sikap Donald Trump, presiden terpilih AS yang memilihnya sebagai menteri.

Trump telah berulang kali memuji kualitas kepemimpinan Presiden Rusia Vladimir Putin dan menyatakan berniat menjalin hubungan lebih baik.

Diberitakan AFP, Jumat (13/1), Mattis mengatakan dia meyakini keberlangsungan dunia modern saat ini sedang mengalami ancaman terbesar sejak Perang Dunia II.

“Dan itu datang dari Rusia, dari kelompok teroris dan dari perbuatan China di Laut China Selatan,” kata Mattis kepada Komite Senat Layanan Militer AS.

Pernyataan ini dilontarkan sehari setelah calon Menteri Luar Negeri Rex Tillerson juga mengatakan akan mengambil sikap keras dengan Rusia.

Baca Juga: ” Ditolak Label, masa kelam Vidi Aldiano di Industri Musik

Mattis mencatat, seperti Trump, dia terbuka akan kemungkinan kerja sama lebih baik dengan Rusia. Namun, dia menekankan, dirinya tidak berharap banyak.

“Saya sangat terbuka untuk bekerja sama. Tapi kita juga harus menyadari kenyataan dan apa yang ingin dilakukan Rusia,” ujarnya.

“Semakin sedikit bidang di mana kita bisa bekerja sama dan semakin banyak bidang di mana kita harus berkonfrontasi dengan Rusia.”

Di luar permasalahan ini, belakangan intelijen AS juga menyebut Rusia campur tangan dalam pemilihan Trump sebagai presiden. Selain itu, dalam laporan yang belum terverifikasi, belakangan mencuat dugaan Moskow lama punya hubungan dekat dengan penasihat Trump.

Ketika berkampanye, Trump mempertanyakan peran NATO dan mengisyaratkan negara-negara mesti berkontribusi besar secara finansial pada organisasi trans-atlantik itu jika ingin diperhatikan.

Mattis mengatakan organisasi itu “penting untuk kepentingan nasional kita” dan mempertegas dengan mengatakan, “jika kita tidak punya NATO, kita harus membuatnya.”

Taiwan: Kapal Perang China Unjuk Kekuatan

BeritaBintangTaiwan: Kapal Perang China Unjuk Kekuatan

Kementerian Pertahanan Taiwan mengatakan sejumlah kapal perang China yang dipimpin oleh satu-satunya kapal induk negara itu telah melewati perairan di selatan negara menuju arah barat daya.

Kementerian Pertahanan Taiwan mengatakan Liaoning, kapal induk China, dengan lima kapal lain melintas pada selasa (27/12) melalui Selat Bashi yang memisahkan Taiwan dan Filipina.

“Bersikap siaga dan fleksibel merupakan metode yang biasa diterapkan dalam menjaga keamanan wilayah udara,” ujar Chen Chung-chi, juru bicara kementrian yang menolak berkomentar apakah jet tempur atau kapal selam yang dikerahkan.

Chen mengatakan pihaknya terus “mengawasi dan mempelajari situasi yang terjadi”.

Pergerakan kapal perang China ini terjadi ketika terjadi ketegangan baru terkait Taiwan yang diklaim Beijing sebagai wilayahnya, setelah Presiden Terpilih AS Donald Trump menghubungi presiden Taiwan yang membuat Beijing marah.

Anggota parlemen Taiwan yang beroposisi, Johnny Chiang, mengatakan aksi kapal induk Liaoning merupakan isyarat China kepada AS bahwa negara itu telah menembus “rantai kepulauan pertama”, wilayah yang meliputi Pulau Rkyukyu milik Jepang dan wilayah Taiwan.

Di Beijing, tabloid milik pemerintah yang berpengaruh Global Times mengatakan bahwa aksi kapal perang ini memperlihatkan bahwa kapal induk itu meningkatkan kemampuan berperang dan sekarang bisa berlayar lebih jauh lagi.

“Cepat atau lambat iring-iringan kapal China akan berlayar ke arah Pasifik Timur. Ketika satu saat kapal induk China mencapai wilayah lepas pantai AS, akan muncul pembicaraan panas terkait hukum maritim,” tulis editorial koran itu yang dikutip Reuters.

Baca Juga: “ Sembuh, Avril Lavigne siap luncurkan album Baru

China marah dengan kegiatan patroli kapal perang AS di dekat kepulauan Laut China Selatan yang diklaim negara itu. Bulan ini, satu kapal perang China menangkap drone bawah air milik AS di Laut China Selatan. Drone itu kemudian dikembalikan ke AS.

Sementara itu, pada Minggu (25/12) malam Jepang menyatakan telah melihat enam kapal perang China termasuk Liaoning bergerak di jalur antara Miyako dan Okinawa menuju Laut Pasifik.

Juru bicara pemerintah Jepang mengatakan perjalanan kapal perang itu memperlihatkan peningkatan kemampuan militer China dan negaranya terus mengawasi perkembangan itu.

Angkatan udara China juga melakukan latihan jarak jauh di wilayah udara Laut China Selatan dan Laut China Timur yang membuat Jepang dan Taiwan siaga.

China sendiri mengatakan latihan itu adalah kegiatan rutin belaka.

Lianoing, kapal induk buatan Uni Soviet, sebelumnya telah berpartisipasi dalam latihan militer yang dilakukan di Laut China Selatan. Tetapi China masih jauh ketinggalan dalam kekuatan angkatan laut dibandingkan Amerika Serikat yang sudah beberapa dekade melakukan kegiatan serupa.

Desember tahun lalu, kementerian pertahanan China membenarkan bahwa pemerintah negara itu sedang membangun kapal induk kedua meski belum diketahui jadwal penyelesaiannya. Program pembangunan kapal induk ini masuk dalam kategori rahasia negara.

Tahun lalu Pentagon melaporkan bahwa Beijing kemungkinan sedang membangun sejumlah kapal induk dalam 15 tahun ke depan.

China Kembalikan Drone Bawah Laut AS yang Disita di LCS

BeritaBintangChina Kembalikan Drone Bawah Laut AS yang Disita di LCS

Kementerian Pertahanan China telah mengembalikan drone bawah laut milik Amerika Serikat yang sempat disita oleh militer China di wilayah Laut China Selatan pekan lalu.

“Usai menggelar konsultasi bersahabat antara China dan AS, drone bawah laut Amerika sudah dikembalikan pada Selasa siang ini,” ungkap Kemhan China, Rabu (21/12).

Kemhan China tidak menjelaskan secara rinci proses pengembalian perangkat nirawak bawah laut itu kepada AS.

Drone milik angkatan laut AS itu disita oleh militer China sekitar 90 kilometer barat laut dari Subic Bay di Filipina pada Kamis (15/12). Insiden tersebut terjadi saat sejumlah kru sipil kapal angkatan laut AS, USNS Bowditch, mengambil perangkat ‘glider angkatan laut’ yang rutin dipasang guna mengumpulkan informasi kadar garam dan suhu air di wilayah itu.

Sebuah kapal selam penyelamat China, Dalang-III, tiba-tiba berhenti sekitar 500 meter di bawah kapal Bowditch dan menyita salah satu drone AS tersebut. Sementara salah satu drone lainnya berhasil diangkut kru USNS ke kapal mereka.

Angkatan Laut AS memiliki sekitar 130 drone bawah laut. Salah satu drone bernilai sekitar US$150 ribu, atau sekitar Rp2 miliar, dan kerap digunakan untuk mengontrol situasi serta mengumpulkan data kelautan di sejumlah wilayah perairan.

Penyitaan ini menimbulkan protes diplomatik dari AS di tengah ketegangan hubungan antar kedua negara yang meningkat, menyusul sejumlah komentar Presiden terpilih AS Donald Trump tentang isu Taiwan yang menuai kritik dari China.

Kementerian Peetahanan AS mengatakan, drone tersebut telah diserahkan China pada kapal perusak rudal USS Mustim di lokasi dekat tempat penyitaan.

Pentagon meminta China mematuhi hukum internasional agar tidak menghambat “aktivitas sah” AS di wilayah LCS tersebut, termasuk patroli kapal. Selama ini, Washington menganggap perairan LCS sebagai perairan internasional, sementara China bersikukuh mengklaim salah satu jalur perdagangan terbesar dunia itu sebagai bagian dari perairan tradisionalnya.

Baca Juga: “ Yuk, Kenali sisi unik Natasha Mannuela, Sang Juara ketiga Miss World 2016

“AS tetap berkomitmen menjunjung tinggi prinsip dan norma internasional khususnya mengenai kebebasan bernavigasi dan berlayar di wilayah LC,  dan akan terus berpatroli di wilayah itu,” kata Sekretaris Pers Pentagon Peter Cook.

Penyitaan drone AS ini memicu kekhawatiran Washington tentang agresifitas militer China di perairan tersebut.

Baru-baru ini, Beijing bahkan disebut telah memasang sistem persenjataan seperti peralatan anti-serangan udara dan antirudal di tujuh pulau buatan yang dibuat negara itu di perairan LCS.

China mencurigai setiap kegiatan militer AS di wilayah LCS, termasuk penggunaan drone bawah laut tersebut. Berbagai media dan pakar di China bahkan menyebut drone itu digunakan AS untuk mengawasi aktivitas dan keadaan di perairan yang bersengketa itu.

Selama ini, China memiliki sengketa wilayah di LCS dengan sejumlah negara seperti Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Vietnam.

Meski AS tidak memiliki klaim wilayah di perairan itu, Washington berulang kali menekankan “kebebasan bernavigasi” di perairan internasional itu dengan melayarkan sejumlah kapalnya di perairan itu. Langkah Washington itu memicu amarah Beijing.

Tank Disita China, Singapura Tak Ambil Pusing

BeritaBintang – Singapura tidak mempermasalahkan dampak penyitaan sembilan tank pembawa personel oleh otoritas China di Hong Kong.

Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan, Selasa (29/11), mengatakan penyitaan itu “bukan insiden strategis.”

“Saya tidak akan bereaksi berlebihan. Kami berharap penyedia layanan komersial untuk menaati hukum,” kata Balakrishnan dikutip Bandar Bola Terbaik.

Dia mengatakan masing-masing negara memahami hubungan antar kedua negara bersifat “tahan lama, beraneka dan saling menguntungkan.”

Walau demikian, dia mengakui kejadian ini menjadi catatan terkait masalah ketaatan pada hukum.

Sembilan tank tersebut disita otoritas China dalam perjalanan melalui Hong Kong dari Taiwan.

Negara tirai bambu memprotes keberadaan tank itu karena Taiwan dianggap sebagai provinsi yang melepaskan diri dari kekuasaannya.

Pada Rabu (30/11), pemerintah China secara resmi mengajukan protes akan keberadaan tank tersebut dan meminta Singapura mematuhi hukum berlaku di Hong Kong.

Hubungan antara kedua negara meregang beberapa bulan belakangan ini, terutama karena sengketa Laut China Selatan.

Sementara Taiwan diketahui adalah Linkalternatif.info rekan Singapura dalam hal militer sejak era 1970-an. Negara tersebut juga kerap mengadakan pelatihan militer di Taiwan.

China Akan Pamerkan Jet Tempur Siluman J-20 ke Publik

BeritaBintang – China akan memamerkan jet tempur siluman Chengdu J-20 dalam pameran angkatan udara pekan depan di kota Zhuhai. J-20 yang disebut-sebut sebagai tandingan jet tempur siluman Amerika Serikat akan memperkecil celah teknologi pertahanan kedua negara.

Diberitakan Bandar Bola Terbaik, Sabtu (29/10), jet tempur siluman generasi kelima China ini akan menjadi primadona di Pameran Penerbangan dan Antariksa Internasional China pekan depan, seperti yang disampaikan dalam pernyataan Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat.

Pentagon mensinyalir, jet tempur J-20 dan J-31 yang baru akan meningkatkan kemampuan pertahanan dan penyerangan China di wilayah-wilayah rawan, seperti perairan sengketa Laut China Selatan dan Laut China Timur.

Menurut juru bicara Angkatan Udara China Shen Jinke, produksi J-20 berjalan sesuai rencana dan akan segera terlibat dalam misi “mempertahankan kedaulatan dan keamanan nasional.”

“Ini akan menjadi penampilan publik pertama jet tempur siluman generasi terbaru yang diproduksi di dalam negeri,” kata Shen.

J-20 adalah jet tempur yang mampu menghindari tangkapan radar, bermesin ganda, yang diproduksi oleh Chengdu Aerospace Corporation Linkalternatif.info. Jet tempur yang disebut dibuat untuk menandingi jet tempur siluman Raptor F-22 milik AS ini pertama kali uji terbang pada 11 Januari 2011 dan diprediksi beroperasi pada 2018.

Selain J-20, China juga akan memamerkan pesawat transportasi militer Y-20 dalam pameran penerbangan dua tahunan di Zhuhai. Dalam pameran sebelumnya pada 2014, China memamerkan jet tempur J-31, bertepatan dengan kunjungan Presiden AS Barack Obama yang tengah menghadiri KTT APEC.

J-31 merupakan pesaing langsung jet siluman F-35 milik AS. Selain bersaing di udara, keduanya juga akan bersaing di pasar, berebut pembeli dari berbagai negara.

Pemerintah China memang tengah tancap gas dalam pengembangan teknologi pertahanan. Selain armada tempur udara, China juga mengembangkan kapal selam, kapal induk dan rudal anti-satelit.

Vietnam Diduga Tempatkan Peluncur Roket Baru di LCS

BeritaBintang –  Vietnam diduga diam-diam menempatkan beberapa peluncur roket baru di pulau-pulaunya yang berada di wilayah sengketa Laut China Selatan. Peluncur roket ini diduga dijadikan bagian dari pengamanan untuk menangkal manuver militer China di wilayah sengketa tersebut.

Sebagaimana dikutip dari BintangBola.Co , Rabu (10/8/2016) informasi ini didapatkan dari para pejabat negara Barat yang tidak disebutkan secara spesifik negara mana. Dilaporkan, mereka menuturkan dari data intelijen yang ada dalam beberapa bulan ini, Vietnam telah menempatkan beberapa peluncur roket di lima markas militer yang mereka miliki di Pulau Spratly.

Berdasarkan sumber tersebut, peluncur tersebut ditempatkan di lokasi yang tersembunyi dari pengintaian udara dan hingga kini masih belum aktif. Namun, sumber itu menambahkan, peluncur roket tersebut dapat langsung dioperasional dalam kurun waktu dua hingga tiga hari saja.

Reuters juga mewartakan infomasi ini disanggah oleh Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Vietnam. Pihak Kemlu Vietnam mengatakan, informasi itu tidak akurat namun mereka menolak untuk memberikan komentar lain.

Tampaknya, tindakan yang dilakukan Vietnam ini demi menunjukkan mereka siap menangkal pengaruh China di LCS, khususnya di kepulauan Spratly. Dilaporkan, penempatan peluncur roket ini juga bisa sebagai bentuk respons Vietnam terhadap pembangunan instalasi militer dan radar oleh China di wilayah LCS.