KTP

Hati Hati, Situs Palsu Cek Nomor KTP Menipu demi Dapat Uang

BeritaBintang – Situs web beralamat https://ektp.cektkp.com/ sedang mengalami kenaikan trafik karena tipu daya mengajak warga mengecek Nomor Induk Kependudukan (NIK) pada KTP, padahal Kementerian Dalam Negeri telah meminta warga untuk tidak memasukkan NIK KTP mereka di situs tersebut.

Kenaikan trafik pada situs ini terjadi setelah beredar pesan broadcast di WhatsApp atau BlackBerry Messenger, yang meminta warga untuk mengecek NIK KTP guna memudahkan pengurusan administrasi bank, BPJS, SIM, dan lain-lain, di masa depan. Tetapi pesan itu bukan berasal dari pemerintah, melainkan dari oknum tak bertanggungjawab.

“Untuk perhatian. Mendagri minta masyarakat segera mengurus rekam E-KTP, karena akan ditutup 30 September, bagi yg blm terdata rekam E-KTP, data yg lama semua akan dihapus, sehingga nanti susah dlm pengurusan bank, bpjs, sim/stnk dll, tolong dishare keteman-teman lain yg blm tahu. Silahkan cek KTP anda di https://ektp.cektkp.com/ apakah sdh terdaftar,” demikian isi pesan palsu yang beredar.

Direktorat Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil Kemdagri Zudan Arif Fakrullah mengatakan, situs tersebut tidak dikembangkan atau bukan berasal dari Kemdagri. Untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tak dinginkan, Zudan mengimbau masyarakat untuk tidak menggunakan situs tersebut, apalagi memasukkan data NIK ke sana.

“Data tersebut bukan bersumber dari Dukcapil. Kami tidak pernah membuka data penduduk agar dapat diakses oleh publik, karena hal tersebut rawan penyalahgunaan. Kalau pemerintah yang buat, domainnya memakai .go.id bukan .com,” kata Bintangbola, Sabtu (27/8).

Pesan broadcast yang meminta warga mengunjungi situs https://ektp.cektkp.com/ itu beredar di tengah momen Kemdagri mengajak warga untuk membuat KTP elektronik alias e-KTP, dan hal itu membuat banyak warga terkecoh. Dalam pembuatan e-KTP ini, Kemdagri hanya meminta warga untuk datang, mengecek, atau bikin e-KTP di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil di mana saja. Sejauh ini Kemdagri tidak menyediakan fasilitas pengecekan atau mengurus KTP lewat situs web.

Situs https://ektp.cektkp.com/ sangat jelas memakai domain berakhiran .com yang berarti commercial (atau komersial), di mana siapa saja bisa membeli domain tersebut dengan harga sekitar Rp150.000. Sementara situs yang dikembangkan oleh pemerintah Indonesia dan ditujukan ke publik, selalu memakai domain .go.id yang merupakan domain tingkat dua untuk lembaga atau institusi pemerintah.

Alfons Tanujaya, pendiri dan CEO perusahaan keamanan siber Vaksincom, menduga pembuat situs tersebut melakukan penipuan yang berusaha mengarahkan warga mengunjungi situs https://ektp.cektkp.com/. Di sana terdapat ruang penempatan iklan digital, yang jika semakin banyak kunjungan ke situs tersebut, maka si pemilik situs semakin banyak meraih uang dari iklan digital.

Alfons dan Vaksincom saat ini sedang mencari tahu, apakah https://ektp.cektkp.com/ memiliki data valid tentang KTP atau tidak. Jika mereka tidak punya database valid, maka ada dua kemungkinan dibuatnya situs linkalternatif.info tersebut.

Pertama, si pemilik ingin mendapatkan keuntungan dari iklan. Kedua, pemilik berpotensi mencuri data asli KTP yang dimasukkan ke situs tersebut.

“Jadi, disarankan untuk menghindari memasukkan data asli. Nanti bisa disalahgunakan,” ujar Alfons dalam pesan singkat kepada Panduan Judi Online.

Saat ini Kementerian Dalam Negeri sedang bekerjasama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk memblokir situs tersebut, dan masih dilakukan penyelidikan.

Jelang Lebaran, Ratusan Pemudik Berburu Tiket KA Hasil Pembatalan

BeritaBintang –   Ratusan pemudik berharap masih mendapatkan tiket kereta api menjelang Hari Raya Idul Fitri di Stasiun Besar Gambir dan Stasiun Pasar Senen Jakarta Pusat, Minggu (3/7/2016). Ratusan calon penumpang tersebut bertujuan ke sejumlah daerah di Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebenarnya telah menerapkan sistem pembelian tiket dalam jaringan, dimana para calon penumpang tidak perlu datang langsung ke stasiun untuk memesan tiket kereta. Namun, masih ada penumpang yang mengandalkan “nasib baik” untuk memperoleh tiket kereta hasil pembatalan.

Arimbi Sari (34), salah seorang calon penumpang di Stasiun Pasar Senen, mengatakan dengan datang langsung ke stasiun dia berharap dapat memperoleh satu tiket perjalanan kereta api tujuan Solo. “Karena saya mudiknya sendirian, mudah-mudahan bisa dapat tiket untuk malam ini,” kata Arimbi.

Ketentuan pembatalan tiket kereta api berlaku hingga 30 menit sebelum jadwal keberangkatan. Sehingga masih ada harapan kecil bagi para penudik untuk mendapatkan tiket mudik Lebaran. Namun, hal itu tidak diimbangi dengan mekanisme pembelian tiket yang dapat dilakukan secara online.

Selain itu, PT KAI juga tidak memberikan fasilitas penggantian nama bagi calon penumpang yang ingin mengalihkan tiketnya kepada penumpang lain. Sehingga penumpang yang telah membawa tiket atas nama orang lain untuk dialihkan, belum tentu mendapatkan jadwal perjalanan.

Seperti yang dialami Anggi (25), dia tidak dapat menggantikan tiket kereta api milik temannya, sehingga tidak dapat mudik Lebaran. Anggi berencana ingin menggantikan tiket kereta api tujuan Purwokerto milik temannya. Dia telah membawa tiket dan KTP milik temannya itu untuk ditukar dengan identitasnya. Namun ternyata, setelah tiket itu dibatalkan, PT KAI telah menjualnya kepada orang lain secara online. “Sebenarnya saya kecewa, ini tiket punya teman saya yang mau saya gantikan, tetapi malah orang lain yang dapat,” katanya.

Dua Bendera Mirip Lambang GAM Ditemukan di Lapas Lhokseumawe

BeritaBintang –Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Provinsi Aceh menggelar inspeksi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Lhokseumawe, Aceh, Kamis, 17 Maret 2016.

Pantauan VIVA.co.id, inspeksi dilakukan Kanwil dengan melibatkan kepolisian, Badan Narkotika Nasional (BNN) serta Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Dalam inspeksi ini, petugas menemukan dua bendera berlambang bulan sabit dan bintang, mirip lambang Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Selain itu, uang tunai senilai total Rp11.520.000, dan empat ringgit Malaysia.

Tak hanya itu, petugas juga menemukan 25 unit kipas angin, 17 telepon seluler, kartu ATM, SIM, KTP, dan kompor minyak.

Barang yang ditemukan itu akan disita Kanwil untuk dimusnahkan. Sementara untuk uang tunai, akan dikembalikan kepada narapidana melalui keluarga mereka.

“Terkait dengan temuan uang tunai, sesuai ketentuan, uang tersebut akan dipegang oleh Kalapas. Kita panggil keluarganya, akan kita serahkan kepada keluarganya. Namun, yang uangnya lebih besar akan diperiksa, akan di BAP, kenapa bisa masuk uang sebanyak itu,” ujar Suwandi, Kepala Kanwil Kemenkumham Aceh, usai inspeksi.

Tes Urine

Dalam inspeksi ini, beberapa narapidana juga dites urinenya. Hasilnya, satu orang kedapatan positif menggunakan narkoba.

Polisi juga menemukan sisa alat yang digunakan napi tersebut menggunakan narkoba jenis sabu. Meski satu orang yang terbukti positif, namun polisi memeriksa 3 narapidana untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut.

“Ada 3 napi yang terindikasi menggunakan narkoba, dari tiga napi tersebut satu diantaranya positif, tapi kita bawa ketiga-tiganya untuk kita lakukan penyelidikan kemungkinan keterlibatan mereka dalam jaringan pemasok narkoba ke dalam lapas,” ujar Kapolres, Lhokseumawe, AKBP Anang Triarsono

Dua Lelaki Ini Tak Saling Kenal, Bukan Kembar, tapi Amat Mirip

BeritaBintang – Mereka juga memiliki hobi yang sama.

 Ini benar-benar nyata. Ada dua lelaki di dunia tak saling kenal, bukan dari keluarga yang sama, bukan saudara kembar pula, tapi memiliki wajat teramat mirip.

Ya, mereka adalah Neil Richardson, 69 dan John Jemison 74. Keduanya tinggal di kota yang sama di Braintree, Essex, Inggris.

Meski tinggal di kota yang sama, keduanya tak pernah saling kenal, sampai akhirnya bertemu beberapa waktu lalu.

“Jadi ada banyak orang yang menyapa saya “halo John”,” kata Neil seperti dikutip dari laman express.

“Saya bingung kenapa mereka memanggil saya John. Begitu juga dengan pemilik kafe yang saya singgahi. Dia juga memangggil saya John,” lanjut Neil.

“Untuk membuktikan saya bukan John, saya sampai-sampai menunjukkan KTP dan SIM, juga kartu kredit kepada pemilik kafe itu. Dia pun kebingungan,” ujar Neil sambil tertawa.

Neil yang penasaran siapa John, akhirnya memutuskan untuk mecarinya lewat Google. “Tapi tak ada data yang saya dapatkan di sana. Sampai suatu hari saya mendengar nama John dari seseorang. Saya langsung pergi dan menemuinya dan terkejut melihat sosoknya,” ujar Neil.

John yang ditemui Neil ternyata amat mirip dengannya. Dia telah menikah selama 51 tahun dengan Jenny yang berusia 72 tahun.

Orang-orang amat mengenal John karena warga lama di daerah itu. Sedangkan Neil, baru pindah ke Braintree 18 bulan.

Rupanya, Neil dan John tak cuma mirip di wajah. Keduanya juga memiliki sejumlah kesamaan seperti hobi bernyanyi, dan menulis puisi.