Khonghuchu Adji Chandra

Tradisi Tionghoa yang Masih Melekat di Tanah Air

BeritaBintang –   TRADISI sembahyang Ching Bing bagi warga Tionghoa yang tergabung dalam Majelis Agama Khonghucu Indonesia terus dipertahankan hingga kini.

Upacara Ching Bing dilaksanakan di halaman rumah duka Thiong Ting, Jebres Solo, di depan Kelenteng Hok Tek Cing Sien (Dewa Bumi).

Upacara ini sendiri diawali dengan sembahyang di Kelenteng Hok Tek Cing Sien (Dewa Bumi). Tujuannya meminta izin pada Dewa Bumi sebagai utusan Tuhan yang mengatur, merawat dan memelihara alam semesta.

Selanjutnya dilaksanakan pembakaran dupa besar oleh pendeta Khonghucu. Umat Khonghucu juga menyalakan masing-masing dua dupa.

Makna penyalaan lima dupa besar oleh Pendeta Konghuchu adalah manusia itu harus mengembangkan Ngo Siang (lima kebajikan), yaitu Jien (cinta kasih), Gie (kebenaran), Lie (susila), Ti (bijaksana), dan terakhir Sin (dapat dipercaya).

Saat upacara Ching Bing disiapkan beberapa altar. Altar pertama ditujukan untuk Thi Kong (Tuhan YME) kemudian altar yang kedua untuk sesaji bagi vegetarian dan altar dengan sesajian umum.

Aneka ragam sesaji disiapkan di setiap altar. Isinya beragam mulai dari tiga jenis daging antara lain daging ayam, daging babi, bandeng. Tiap jenis yang disajikan juga bermakna khusus.

Masing-masing memiliki makna khusus. Ayam sebagai lambang hewan yang rajin, bandeng adalah lambang penghematan. Sedangkan babi diibaratkan sebagai bentuk celengan atau tabungan.

Selain daging juga disediakan bermacam buah juga kue seperti pisang, jeruk, kue wajik, kue kura, kue mangkok, dan kue moho. Semua sesaji buah dan juga kue juga memiliki arti.

Pisang adalah buah yang asa di setiap musim, jeruk buah yang mempunyai banyak biji. Artinya nanti rejeki yang diperoleh bisa berkembang turun temurun ke anak cucu.

Kue mangkok dan kue moho sebagai llambang pengharapan rejeki yang berkembang, kue kura lambang panjang umur, dan kue wajik agar saling dekat dengan siapapun.

Menurut rohaniawan Khonghuchu Adji Chandra setiap bulan April, umat Khonghucu berkewajiban menyelenggarakan upacara Ching Bing.

Jaman dahulu Ching Bing merupakan saat yang tepat untuk membersihkan makam. Kemudian bersembahyang di makam leluhur.

Namun lanjut Adji Chandra 10 hari setelah Ching Bing berakhir, masyarakat Konghucu di Surakarta memiliki kewajiban untuk melakukan upacara Ching Bing bersama.

“Jadi selain untuk mengormati leluhur sendiri, kita juga diwajibkan menghormati leluhur orang lain,” jelas Adji Chandra di Solo Jawa Tengah.

Bahkan di Solo sendiri, upacara sembahyang Ching Bing (sembayang arwah) juga dikenal dengan sebutan Cembengan.

Istilah tersebut muncul ketika dahulu di lokasi Tiongting masih banyak pemakaman warga Thinghoa sebelum sekarang dipindahkan ke wilayah Delingan.

Lokasi makam dulunya bersebelahan dengan kebun tebu. Dan saat sembahyang antaran dahulu banyak pemakanan warga Tionghoa yang terletak disebelah perkebunan tebu, kemudian disaat upacara ini digelar selalu bersamaan dengan panen tebu.

Masyarakat mennyebutnya Ching Bing-an, yang akhirnya berubah penyebutan menjadi Cembengan. Bahkan di dekat lokasi Thiong Ting ada tugu di perempatan yang dikenal dengan tugu cembeng.