Kantor Urusan Taiwan

Petinggi China: Seluruh Rakyat China Takkan Membiarkan Taiwan Merdeka

BeritaBintang –   Seluruh 1,3 miliar rakyat China bersatu dalam tekad mereka untuk tak pernah membiarkan Taiwan menjadi negara merdeka.

Seorang pejabat China di Beijing mengungkapkan hal itu dalam pada Kamis (26/5/2016) dalam upaya untuk menyerang Taipe, pusat pemerintahan Taiwan.

China telah berulangkali memperingatkan partai pro-kemerdekaan Taiwan, Partai Progresif Demokratik (DPP), yang dipimpin Tsai Ing-wen .

Tsai sendiri telah dilantik menjadi perempuan presiden pertama Taiwan. Acara pelantikannya dihadiri 20.000 orang di Istana Presiden di Taipe.

Hingga saat ini China juga telah berulangkali mengkampanyekan ‘satu China’, yang berarti Beijing tidak mengakui Republik China, nama resmi Taiwan, sebagai sebuah negara.

Beijing tetap mengakui Pulau Taiwan sebagai wilayah provinsi yang terikat dengan China hanya oleh sebuah selat yang dangkal dan tipis.

Presiden baru Taiwan, Tsai Ing-wen, menyerukan perlunya “dialog yang positif” dengan China dalam pidato pelantikannya, Jumat (20/5/2016).

Nada damai yang begitu mencolok dalam pidato Tsai itu tentu saja karena ia ingin mengirim pesan untuk mengakhiri ketegangan dengan Beijing.

“Kedua belah pihak … harus menyingkirkan beban sejarah, dan terlibat dalam dialog yang positif, untuk kepentingan rakyat di kedua belah pihak,” kata Tsai.

Hubungan dengan Beijing mendingin sejak Tsai, yang berasal dari DPP,  memenangkan kursi kepresidenan pada pemilu 16 Januari lalu.

Bertemu dengan sebuah kelompok pebinis Taiwan di Beijing,  Zhang Zhijun, kepala Kantor Urusan Taiwan di China, mengatakan, apa pun yang bertentangan dengan prinsip “satu China” hanya akan membawa ketegangan dan pergolakan hubungan.

“Tidak ada masa depan bagi kemerdekaan Taiwan, dan ini tidak bisa menjadi pilihan untuk masa depan Taiwan. Ini kesimpulan sejarah,” kata kantor berita resmi Xinhua mengutip Zhang.

“Beberapa orang mengatakan Anda harus memperhatikan opini publik yang luas di Taiwan, dan bahwa seseorang dapat memahami sikap dan perasaan orang Taiwan yang dibentuk oleh pengalaman sejarah khusus dan lingkungan sosial,” tambah Zhang.

“Namun, masyarakat Taiwan harus memahami dan mementingkan perasaan 1,37 miliar penduduk daratan,” katanya.

China telah menganggap Taiwan sebagai provinsi yang tersesat, yang akan diambil dengan paksa jika perlu.

Taiwan menjadi terpisah sejak kaum Nasionalis melarikan diri ke Taiwan pada tahun 1949 setelah perang sipil dengan komunis China.

Petinggi China: Seluruh Rakyat China Takkan Membiarkan Taiwan Merdeka

BeritaBintang –Seluruh 1,3 miliar rakyat China bersatu dalam tekad mereka untuk tak pernah membiarkan Taiwan menjadi negara merdeka.

Seorang pejabat China di Beijing mengungkapkan hal itu dalam pada Kamis (26/5/2016) dalam upaya untuk menyerang Taipe, pusat pemerintahan Taiwan.

China telah berulangkali memperingatkan partai pro-kemerdekaan Taiwan, Partai Progresif Demokratik (DPP), yang dipimpin Tsai Ing-wen .

Tsai sendiri telah dilantik menjadi perempuan presiden pertama Taiwan. Acara pelantikannya dihadiri 20.000 orang di Istana Presiden di Taipe.

Hingga saat ini China juga telah berulangkali mengkampanyekan ‘satu China’, yang berarti Beijing tidak mengakui Republik China, nama resmi Taiwan, sebagai sebuah negara.

Beijing tetap mengakui Pulau Taiwan sebagai wilayah provinsi yang terikat dengan China hanya oleh sebuah selat yang dangkal dan tipis.

Presiden baru Taiwan, Tsai Ing-wen, menyerukan perlunya “dialog yang positif” dengan China dalam pidato pelantikannya, Jumat (20/5/2016).

Nada damai yang begitu mencolok dalam pidato Tsai itu tentu saja karena ia ingin mengirim pesan untuk mengakhiri ketegangan dengan Beijing.

“Kedua belah pihak … harus menyingkirkan beban sejarah, dan terlibat dalam dialog yang positif, untuk kepentingan rakyat di kedua belah pihak,” kata Tsai.

Hubungan dengan Beijing mendingin sejak Tsai, yang berasal dari DPP,  memenangkan kursi kepresidenan pada pemilu 16 Januari lalu.

Bertemu dengan sebuah kelompok pebinis Taiwan di Beijing,  Zhang Zhijun, kepala Kantor Urusan Taiwan di China, mengatakan, apa pun yang bertentangan dengan prinsip “satu China” hanya akan membawa ketegangan dan pergolakan hubungan.

“Tidak ada masa depan bagi kemerdekaan Taiwan, dan ini tidak bisa menjadi pilihan untuk masa depan Taiwan. Ini kesimpulan sejarah,” kata kantor berita resmi Xinhua mengutip Zhang.

“Beberapa orang mengatakan Anda harus memperhatikan opini publik yang luas di Taiwan, dan bahwa seseorang dapat memahami sikap dan perasaan orang Taiwan yang dibentuk oleh pengalaman sejarah khusus dan lingkungan sosial,” tambah Zhang.

“Namun, masyarakat Taiwan harus memahami dan mementingkan perasaan 1,37 miliar penduduk daratan,” katanya.

China telah menganggap Taiwan sebagai provinsi yang tersesat, yang akan diambil dengan paksa jika perlu.

Taiwan menjadi terpisah sejak kaum Nasionalis melarikan diri ke Taiwan pada tahun 1949 setelah perang sipil dengan komunis China.