John Kerry

Menlu AS John Kerry Pertegas Resolusi PBB atas Israel

BeritaBintangMenlu AS John Kerry Pertegas Resolusi PBB atas Israel

Menteri Luar Negeri AS, John Kerry mempertegas keputusan AS untuk meneruskan resolusi yang dikeluarkan PBB meminta Israel mengakhiri pendudukannya atas Palestina.

Kerry memberikan parameter untuk konflik Israel-Palestina, dengan menyampaikan bahwa AS tidak dapat berdiam diri begitu saja sementara ada kesempatan untuk mengarah pada perdamaian.

Dalam pidato khusus yang ia sampaikan hanya beberapa pekan sebelum pemerintahan Presiden AS Barack Obama lengser dan berganti pada presiden AS terpilih Donald Trump, Kerry mempertahankan keputusan AS yang memberikan jalan pada resolusi PBB yang ingin mengakhiri pendudukan Israel di Palestina.

Menurutnya, itu adalah solusi yang paling memungkinkan bagi kedua negara.

“Di luar upaya keras kita selama bertahun-tahun, solusi kedua negara saat ini berada di dalam keadaan genting,” ujarnya di Kantor Kementrian Luar Negeri.

“Kita tidak dapat, dalam kesadaran penuh, berdiam diri, dan tidak mengatakan apapun, ketika melihat ada harapan akan adanya perdamaian,” ujarnya.

Baca Juga: ” Kamboja Hukum Penjara Ketua Partai Oposisi

Tanggapan PM Israel

Secara terpisah, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu kemudian mengatakan pidato yang disampaikan John Kerry pada Rabu (28/12) tersebut sangat bias dan menentang Israel.

Dalam sebuah pernyataan resmi berbahasa Inggris yang disampaikan kementerian Perdana Menteri, Netanyahu menyampaikan: “Seperti mempertegas resolusi yang disampaikan PBB, Kerry dalam pidatonya berbalik arah menentang Israel.”

Para pejabat tinggi Israel mengatakan Kerry ‘sangat terobsesi dengan kesepakatan’ dalam pidatonya, yang justru tidak sejalan dengan AS. Netanyahu menuding Kerry telah menyentuh ‘akar konflik oposisi Palestina terhadap Yahudi dalam batas manapun.’

Sebelumnya, PBB pada Jumat pekan lalu mengeluarkan resolusi menuntut “Israel dengan segera dan sepenuhnya menghentikan kegiatan pemukiman Yahudi di wilayah pendudukan Palestina, termasuk Yerusalem Timur”. Isi resolusi tersebut menetapkan bahwa pemukiman Yahudi “tidak memiliki dasar hukum yang sah” dan “berbahaya bagi penerapan solusi dua negara.”

Netanyahu mengklaim bahwa Obama dan Kerry berada di balik langkah Dewan Keamanan PBB tersebut. Dengan memutuskan untuk tidak memveto langkah PBB itu, AS mengambil langkah yang jarang dilakukan dan membuat marah Israel.

Netanyahu juga menuduh Obama meninggalkan sekutu dekatnya di Timur Tengah itu di akhir masa jabatannya sebagai presiden. Resolusi PBB itu lolos dengan dukungan dari 14 anggota Dewan Keamanan lainnya dengan diiringi tepuk tangan riuh di ruang sidang.

Kerry Kutuk Serangan Warga Palestina Terhadap Israel

BeritaBintang –  Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), John Kerry mengutuk gelombang kekerasan yang dilakukan oleh warga Palestina.

Hal itu ia ucapkan ketika menjumpai Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu, Selasa (24/11/2015) untuk membantu mengakhiri kekerasan yang terjadi selama dua bulan terakhir.

Kerry mengatakan ia berupaya untuk berbicara dengan Netanyahu dan Presiden Palestina, Mahmud Abbas untuk mencairkan ketegangan antar dua negara.

“Jelas, tidak seharusnya orang tinggal dengan ancaman kekerasan setiap hari, dimana terjadi serangan di jalan-jalan, penusukan, serangan menggunakan mobil” kata Kerry kepada wartawan di kantor Perdana Menteri Israel, jelang pembicaraan dengan Netanyahu.

“Dan itu sangat jelas bagi  kami bahwa terorisme, tindakan-tindakan teroris, layak menerima kutukan , dan saya mengucapkan kecaman terhadap setiap tindakan teror yang mengambil nyawa orang tak berdosa,” lanjutnya, Selasa (24/11/2015).

Dalam kesempatan itu Kerry juga menyebutkan mengenai insiden serangan terhadap tiga warga negara AS, yang terjadi setelah pasukan keamanan Israel menyerbu Masjid al-Aqsa di Yerusalem.

Setelah bertemu Netanyahu, Kerry akan mengadakan pembicaraan dengan Presiden Israel, Reuven Rivlindi Yerusalem, lalu kemudian secara terpisah dengan Abbas di Ramallah.

Kerry menjelaskan ia mengemban misi untuk mendorong perang melawan terorisme, dan mengkahiri kekerasan antara Palestina-Israel.

Setidaknya sudah 91 orang warga Palestina tewas, termasuk seorang berkebangsaan Arab Israel, serta 17 warga Israel, termasuk dua orang berkewarganegaraan Israel-Amerika, satu orang warga negara Amerika dan Eritrea.

Banyak dari warga Palestina yang tewas diduga sebagai pelaku serangan atau yang ditembak oleh otoritas Israel saat melakukan aksi demonstrasi