Jadi Tunanetra

Odometer Cuma 10 Km, Porsche Lawas Ini Laris Rp26 M

BeritaBintangOdometer Cuma 10 Km, Porsche Lawas Ini Laris Rp26 M

Porsche 911 Carrera RSR 3.8 tahun 1993 terjual seharga 2,016 juta euro atau sekira Rp26,4 miliar dalam lelang yang digelar oleh RM Sotheby di Villa Erba, Italia, akhir pekan lalu.

Porsche hanya membuat 51 unit model kendaraan ini di dunia. Namun yang dilelang ini merupakan satu dari hanya dua unit yang interiornya sudah full-trimmed. Seluruh komponen mobil juga masih orisinal.

Hal yang membuat mobil ini lebih istimewa lagi adalah odometernya hanya menunjukkan 6 mil atau sekira 10 kilometer.

Pemilik sebelumnya meminta Porsche untuk mengecat mobil dengan warna polar silver metallic serta pelek menggunakan cat amethyst metallic. Kaliper rem menggunakan warna emas untuk menonojolkan sisi kontras.

{ Baca Juga, ” LIFE STORY #3: ”Jadi Tunanetra, Saya Tak Mau Ngoyo Menunggu Keajaiban ” }

Porsche 911 Carrera RSR 3.8 diperkuat mesin 3,8 liter naturally aspirated yang mampu memproduksi tenaga 350 hp dan torsi 385 nm. Tenaga disalurkan ke roda dengan sistem transmisi percepatan lima percepatan manual gearbox.

Mobil sport ini bisa berakselerasi dari 0-96 kilometer per jam dalam 3,7 detik. Dengan catatan itu, Porsche Carrera RSR 3.8 sedikit lebih cepat dibanding pesaingnya, Ferrari F40.

Sayangnya, pemiliknya saat ini belum pernah mencoba secara serius performanya. Hal ini bisa diketahui dari odometer yang baru menunjuk angka 6 mil.

Tidak disebutkan identitas siapa pemilik baru dari Porsche 911 Carrera RSR 3.8 ini.

LIFE STORY #3: ”Jadi Tunanetra, Saya Tak Mau Ngoyo Menunggu Keajaiban”

BeritaBintangLIFE STORY #3: ”Jadi Tunanetra, Saya Tak Mau Ngoyo Menunggu Keajaiban”

TAK ada yang perlu disalahkan dari keadaan ini. Usaha keluarga untuk menyembuhkan penglihatan saya sudah sangat maksimal. Bahkan ibu ikhlas bila ikhtiarnya dipermainkan orang-orang yang janji ingin menolong.

Segala pengobatan sudah dicoba, segala yang tidak mungkin dilakukan karena optimis saya mungkin masih bisa sembuh. Sampai beberapa orang menipu keluarga saya dengan menjanjikan kesembuhan. Semua harta orangtua habis. Jual tanah, jual perhiasan, bobol tabungan, semua itu demi saya, anaknya. Rina Prasarani harus sembuh.

Namun, apalah usaha manusia jika Tuhan tidak berkehendak? Berkali-kali gagal, keadaan semakin buruk. Bapak yang terkena stroke tidak bisa bekerja lagi. Untungnya perusahaan bapak bekerja tetap memberi gaji meski tak ada tunjangan apa pun dan kenaikan jabatan.

LIFE STORY #3: ”Jadi Tunanetra, Saya Tak Mau Ngoyo Menunggu Keajaiban”

Melihat kegigihan ibu dan saya termotivasi untuk bisa hidup mandiri. Saya tak ingin berpangku tangan menerima nasib seperti ini saja sampai tua. Saya harus jadi orang berguna dan hidup mandiri.

{ Baca Juga, ” Profil Sirkuit Mugello yang Selalu Lekat dengan Valentino Rossi ” }

Suatu titik menyadarkan, bahwa sibuk mengurus kesembuhan saya agar bisa kembali melihat sepertinya hanya buang-buang waktu, tenaga, dan biaya. Seharusnya, ketika vonis dokter menyatakan kebutaan ini tidak bisa disembuhkan kami harus menerima dan mencari cara bagaimana merehabilitasi saya menjadi orang yang mandiri.

Akhirnya, usaha pengobatan pun dihentikan. Ibu memilih merehabilitasi saya. Perihal saya harus bisa melihat lagi suatu hari nanti biarlah keajaiban yang bicara. Itu pun bila terjadi.

Mulai saat itu ibu fokus membawa saya ke tempat rehabilitasi tunanetra. Di sana para tunanetra diajarkan bagaimana cara bersosialisasi, bagaimana cara mereka bermobilitas, dan belajar huruf braille, hingga menggunakan komputer bersuara.

LIFE STORY #3: ”Jadi Tunanetra, Saya Tak Mau Ngoyo Menunggu Keajaiban”

Saya merasa rehabilitasi untuk orang-orang berkebutuhan khusus itu lebih realistis daripada sibuk memikirkan cara untuk sembuh. Seharusnya dokter yang sejak awal mengetahui, memberi edukasi dan referensi tentang apa yang harus dilakukan dan cara merehabilitasi yang baik agar orang-orang seperti saya bisa hidup mandiri, tidak bergantung dengan orang lain.

Sejak ikut rehabilitasi, motivasi saya terbangun. Apalagi melihat ibu yang tidak pernah mengeluh. Saya malu kalau harus menangis atau marah meratapi nasib ini. Saya bukan orang yang paling menderita di dunia atas keadaan ini. Ada ibu yang seharusnya sangat hancur karena kondisi keluarga sudah sangat merepotkan dirinya.

Andai saya marah, sedih, menangis sepanjang hari, atau menyakiti diri sendiri bisa mengubah keadaan, saya akan lakukan itu. Tapi, saya sadar itu tidak mungkin. Saya harus bangkit dan berjuang sendiri menolong diri ini agar tak selalu bergantung pada orang lain.

Ingin mengetahui kelanjutan kisah hidup Rina Prasarani? Apakah setelah mengikuti rehabilitasi hidupnya tetap gelap atau ia akan bersinar? Nantikan kisahnya setiap pukul 20.00 WIB