Gus Dur

TOP NEWS: Pria Bertopi Santa di Acara Haul Gus Dur

BeritaBintangTOP NEWS: Pria Bertopi Santa di Acara Haul Gus Dur

Seorang pria yang memakai topi santa khidmat mengikuti peringatan ke-7 wafatnya (haul) Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di Komplek Al-Munawwaroh, Jalan Warung Silah 10, Ciganjur, Jakarta Selatan, Jumat (23/12/2016).

Terlihat pria itu mengenakan topi santa dipadu dengan baju koko. Ia tampak khidmat mengikuti salawat dan lantunan tahlil yang dibawakan oleh salah seorang kiai.

[Baca Juga – Indonesia Pastikan Keluar dari Enam Organisasi Internasional“]

Dalam acara yang mengusung tema ‘Ngaji Gus Dur: Menebar Damai Menuai Rahmat’ ini juga dihadiri sejumlah tokoh dan pejabat publik lainnya, seperti  Presiden RI Joko Widodo (Jokowi), Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan dan Ketua PBNU Said Aqil Siradj.

Selanjutnya, ada juga Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Ketua Setara Institute Hendardi, Budayawan Jaya Suprana, Rohaniawan Franz Magnis Suseno, tokoh agama Kristen, Buddha, Hindu, tokoh partai politik, beserta tokoh-tokoh lainnya.

Ahok Nangis di Pengadilan, Haji Lulung: Itu Mah Akting

BeritaBintang –  Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Abraham Lunggana alias Haji Lulung, menganggap tangisan Gubernur DKI Jakarta non aktif, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat membacakan eksepsi dalam sidang perdana kasus dugaan penistaan agama hanyalah pura-pura.

“Ha ha ha, akting nangis dia. Masa bapaknya dibawa-bawa, Gus Dur dibawa-bawa, itu mah akting namanya,” ujar Lulung, seperti dikutip dari Judi Bola, Rabu (14/12/2016).

Lulung menilai, Ahok tidak menunjukkan penyesalan. Padahal, kata dia, seharusnya Ahok menyampaikan permohonan maaf saja, sambil berjanji tidak mengulanginya lagi.

Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, Dwiyarso Budi Santiarto mengatakan, akan melanjutkan sidang kasus tersebut pada pekan depan, Selasa 20 Desember 2016.

“Persidangan hari ini kami tunda untuk acara tanggapan nota keberatan terdakwa dan penasehat hukum pada Selasa 20 Desember 2016 pukul 09.00 WIB,” ujarnya.

Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) meminta waktu selama satu pekan untuk menyusun tanggapan atas nota keberatan terdakwa dan penasihat hukum.

Negara-Negara Ini Berlakukan Imlek sebagai Libur Nasional

BeritaBintang –   TAHUN baru China atau yang lebih dikenal dengan Imlek diberlakukan sebagai Hari Libur Nasional di Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan Gus Dur.

Sebelumnya pada 1968-1999, rezim Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto melarang segala hal berbau Tionghoa termasuk Imlek. Larangan ini diperkuat dengan Instruksi Presiden No 14 tahun 1967.

Gus Dur pun mencabut Inpres No 14/1967 itu pada 2000. Pria kelahiran Jombang itu lalu mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) No 19/2001 tertanggal 9 April 2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif (hanya berlaku bagi yang merayakan).

Baru pada 2002, suksesor Gus Dur yakni Presiden Megawati Soekarnoputri menyatakan Imlek sebagai hari libur nasional yang efektif berlaku mulai 2003.

Ternyata tidak hanya China dan Indonesia saja yang menjadikan Imlek sebagai hari libur nasional. Beberapa negara utamanya dengan populasi keturunan Tionghoa cukup besar juga mengikuti langkah Negeri Tirai Bambu dan Indonesia.

Brunei Darussalam

Masuknya nama Brunei Darussalam sebagai salah satu negara yang memberlakukan Imlek sebagai hari libur nasional cukup mengejutkan. Betapa tidak, negeri dengan penduduk mayoritas Muslim ini dikabarkan melarang warganya merayakan Hari Natal pada 2015. Bahkan, bagi mereka yang nakal akan dijatuhi hukuman hingga lima tahun penjara.

Namun, pemberlakuan ini diperkuat dengan data pada 2013 bahwa sekira 10,3 persen penduduk negeri kaya minyak itu berasal dari etnis Tionghoa. Bahkan, bahasa Mandarin merupakan salah satu bahasa yang cukup banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari selain bahasa Melayu dan Inggris.

Hari libur nasional hanya diberlakukan pada hari perayaan Imlek. Meski begitu, satu hari sebelum Tahun Baru, warga Brunei yang merayakan Imlek mendapatkan kesempatan untuk mengakhiri aktivitasnya lebih cepat dari biasanya.

Malaysia

Masuknya Malaysia ke dalam daftar ini tidaklah mengejutkan. Negeri Melayu merupakan salah satu negara yang memiliki keragaman budaya terutama etnis Melayu, India, dan Tionghoa. Berdasarkan data sensus penduduk pada 2010, sekira 24,6 persen warga negeri Jiran merupakan etnis Tionghoa.

Jika di Brunei hari libur nasional diberlakukan tepat pada hari pergantian tahun sesuai kalender Masehi, tidak demikian halnya dengan Malaysia. Mereka memberlakukan dua hari libur nasional agar warganya dapat merayakan Imlek dengan lebih leluasa.

Saat Imlek, warga Malaysia yang bukan merupakan etnis Tionghoa biasanya ikut tumpah ruah ke jalan dalam berbagai festival yang diselenggarakan di beberapa daerah seperti Kuala Lumpur, Penang, dan Klang.

Singapura

Sama halnya dengan Malaysia, Singapura juga merupakan salah satu negara dengan keragaman etnis. Negeri Singa memiliki tiga suku utama dalam demografi penduduk mereka yakni Melayu, India, dan Tionghoa.

Berbeda dengan Malaysia, Singapura justru didominasi oleh penduduk beretnis Tionghoa. Pada 2015, sekira 74,1 persen penduduknya merupakan keturunan Tionghoa. Hal ini tidak mengejutkan mengingat Singapura menjadikan Lee Kuan Yew – etnis Tionghoa – sebagai pendiri sekaligus bapak bangsa.

Selayaknya Malaysia, Singapura juga memberlakukan dua hari libur nasional bagi warganya untuk merayakan Tahun Baru Imlek. Pusat perayaan sendiri biasanya digelar di daerah Chinatown dan dimeriahkan festival kebudayaan seperti barongsai.

Filipina

Sejarah kedekatan Filipina dengan China dimulai pada 1898 di mana sekira 2 juta etnis Tionghoa asal Fujian menjadi imigran di Negeri Pinoy. Letak Filipina yang berada di tengah-tengah jalur laut yang menghubungkan barat dengan timur membuat negeri tersebut memiliki keragaman etnis yang cukup banyak.

Saat ini diperkirakan 18 juta warga Filipina merupakan keturunan etnis Tionghoa baik yang merupakan keturunan langsung maupun hasil pernikahan campuran. Sama seperti halnya Indonesia, negara kepulauan itu hanya memberlakukan satu hari libur nasional saat Imlek yang kali ini jatuh pada 8 Februari.