Grand Prix Inggris

Balapan di Sirkuit Silverstone Bukan Race Terakhir Button

BeritaBintang – Pembalap McLaren-Honda, Jenson Button, menampik kabar yang mengatakan musim 2016 merupakan musim terakhirnya tampil di Formula One (F1). Kabarnya, seri ke-10 Formula One (F1) di Sirkuit Silverstone, Inggris, akan menjadi ajang perpisahan pemuda asal Inggris tersebut.

Memang kontrak driver berusia 36 tahun tersebut bersama McLaren akan berakhir pada musim ini. Namun, Button masih memiliki ambisi untuk tetap mengendarai jet darat pada tahun depan.

Posisi Button musim ini tersaingi dengan kehadiran pembalap muda, Stoffel Vandoorne. Sebab pembalap muda tersebut mampu memberikan poin bagi McLaren kala mengaspal di GP Bahrain.

“Tentu dengan cara seperti itu akan menjadi cara yang memalukan bagi saya untuk jalani Grand Prix Inggris terakhir kali ini. Saya masih memiliki emosi yang kuat dalam ajang balapan, terutama di Silverstone,” ujar Button menukil Bintangbola.co, Kamis (7/7/2016).

“ Saya hanya akan pergi untuk menjalani akhir pekan yang baik dan menampik semuanya (balapan terakhir). Saya hanya tahu bahwa saya akan melakukan yang terbaik dengan apa yang saya miliki, dan menghibur fans yang datang ke sini,” tuntas pembalap berusia 36 tahun tersebut.

Lorenzo Punya Hoki di Sirkuit Inggris

BeritaBintang – Perhatian pecinta balapan MotoGP akan tertuju pada dua pebalap Yamaha, Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo, di Sirkuit Silverstone, Inggris, akhir pekan ini. Rivalitas kedua pebalap yang kian memanas di lintasan, membuat seri balap ke-12 nanti jadi tontonan yang layak ditunggu.

Kemenangan Lorenzo di Sirkuit Masaryk, Brno, Republik Ceko, membuat pebalap Spanyol itu berhasil merebut tampuk pemimpin klasemen pebalap sementara. Berkat kemenangan di Brno, poin Lorenzo kini menjadi 211, menyamai torehan Rossi, yang memimpin klasemen pebalap sejak awal musim.

Persaingan kedua pebalap Yamaha ini pun seolah flashback ke awal musim. Meski demikian, Grand Prix Inggris yang akan bergulir pada Minggu (30/8) nanti sedikit lebih berpihak pada Lorenzo.

Bukan tanpa alasan Lorenzo punya peluang lebih besar menang di Silverstone. Sejak sirkuit sepanjang 5,9 km itu digunakan pada tahun 2010, pebalap 28 tahun itu sudah tiga kali meraih podium tertinggi. Kemenangannya pada tahun 2010 silam bahkan mengantarkan Lorenzo menjadi juara dunia pertama kali.

Di banding pebalap lain, Lorenzo juga tercatat sebagai pengoleksi kemenangan terbanyak di Silverstone. Hanya Casey Stoner dan Marc Marquez yang berhasil mengganggunya menjadi juara pada 2011 dan 2014 lalu.

Bagaimana dengan Rossi? Inggris sebenarnya tempat yang bersahabat bagi The Doctor. Setidaknya, total tujuh kali ia pernah meraih kemenangan di Britania Raya (5 kali kelas 500cc/MotoGP serta sekali kelas 125 dan 250cc).

Namun sayangnya semua kemenangan yang diraih Rossi itu terjadi hampir satu dekade silam. Terakhir, pebalap Italia itu berjaya di Inggris pada musim 2005, ketika MotoGP masih digelar di Sirkuit Donington. Setelah itu, prestasi terbaiknya hanyalah menjadi runner up, bahkan ia juga sempat absen akibat cedera.

Di Silverstone sendiri Rossi juga kerap bermasalah. Beberapa kali ia mendapat sial. Yang paling diingat adalalah ketika ia sempat tergelincir saat menjalani kualifikasi pada tahun 2012. Ketika itu Rossi masih bergabung di Ducati.
Rossi bahkan baru mendapat podium pertamanya di Silverstone pada tahun lalu, ketika finish di tempat ketiga di bawah Marc Marquez dan Lorenzo. Berdasarkan statistik itulah, Lorenzo dinilai memiliki peluang lebih besar untuk membuat Rossi keok di Inggris.

Meski demikian, menurut legenda balap motor Grand Prix, Wayne Rainey, persaingan Lorenzo dan Rossi dipastikan akan berlangsung hingga seri terakhir. Menurut Rainey, pebalap yang tidak melakukan kesalahan lah yang nantinya akan merebut gelar juara dunia.

“Rossi dan Lorenzo sama-sama menunggangi Yamaha, ban yang sama, peralatan yang sama, tim yang sama. Jadi kedua pebalap tahu, satu kesalahan saja akan membuat mereka kehilangan gelar juara dunia,” ujar Rainey seperti dilansir situs resmi MotoGP.

“Rossi dan Lorenzo akan memaksa lawan masing-masing melakukan kesalahan. Menurut saya, gelar juara dunia akan ditentukan dengan cara itu, bukan balap-balapan di trek. Semua tergantung siapa yang melakukan kesalahan.”

Jika harus bertaruh, Rainey mengaku lebih menjagokan Lorenzo. Selain karena tren positif yang dimiliki pebalap Spanyol itu, Rainey juga menganggap juara dunia MotoGP 2010 dan 2012 itu memiliki kecepatan yang lebih baik daripada Rossi. “Lorenzo punya kecepatan, pengalaman, dan determinasi. Saya akan menjagokan Lorenzo, karena dia punya kecepatan murni. Tapi, dalam balap motor, semuanya bukan hanya masalah kecepatan,” tegas Rainey.

Rainey juga tidak menutup peluang juara bertahan, Marc Marquez, yang saat ini masih tertinggal 52 poin dari Lorenzo dan Rossi. “Yamaha akan berusaha sekuat mungkin agar Marquez tidak kembali ke persaingan. Tapi, jangan kesampingkan Marquez. Jika Marquez secara matematis tidak bisa mengejar, maka di baru akan menyerah,” ucap Rainey.