Fidel Castro

Adik Fidel Castro Enggan Datangi Pemakaman

BeritaBintang – Juanita Castro, adik perempuan dari mendiang mantan Presiden Kuba, Fidel Castro, yang telah tinggal di Miami, Florida, Amerika Serikat, selama beberapa dekade, dikabarkan tidak akan datang dalam acara pemakaman, seperti yang dilansir Bandar Bola Terbaik pada Senin(28/11).

“Saya ingin mengklarifikasi isu yang beredar, kalau saya akan datang ke Kuba untuk pemakaman. Saya ingin menyatakan kalau tidak akan kembali ke sana dan tidak akan berencana untuk datang ke pemakamannya,” kata Juanito, seperti yang dikutip dari El Nuevo.

“Saya tidak merayakan kematian seseorang, meskipun ia berbagi nama keluarga dengan saya. Sebagai adik Fidel, saya akan melalui semua itu,” lanjutnya.

Presiden Kuba Raul Castro, adik laki-laki dari Castro, telah mengumumkan kabar kematian kakaknya melalui siaran televisi nasional pada Sabtu dini hari.

Castro dan Raul adalah kakak beradik dari tujuh bersaudara.

Juanita, yang lahir pada 1933, Linkalternatif.info menjadi anggota keluarga pertama yang berani menentang kebijakan komunis kakaknya.

Ia telah tinggal di Miami sejak 1964, dan dikabarkan juga bekerjasama dengan CIA untuk menggulingkan kekuasaannya.

Fidel Castro di Mata Musuh-musuhnya

BeritaBintang – Memimpin Kuba selama lima dekade, Fidel Castro yang tutup usia pada Minggu (27/11),Agen Bola online tak pernah kekurangan musuh.

Berikut adalah beberapa komentar tentang pemimpin revolusi Kuba itu dari mereka yang menjadi sahabat dan juga musuh-musuhnya selama bertahun-tahun.

“Bagi saya, Fidel adalah seorang pemikir ulung. Seorang yang bijak seharusnya tak bolah mati; lelaki seperti Fidel takkan pernah mati, karena ia akan selalu jadi bagian dari rakyatnya,” mantan presiden Venezuela, Hugo Chavez, dalam pidatonya pada 2007.

“Castro bukan diktator Amerika Latin seperti yang lain, seorang tirani pelit yang rusak hanya karena kekuatan dan keuntungan pribadi. Ambisinya melampaui kekuatan sendiri.” — Mantan presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy.

“Fidel Castro membuat orang-orang Amerika terbunuh secara ilegal, dan hal itu salah. Saya bangga kami menghentikan hubungan dengan orang-orang yang membunuh rakyat Amerika yang tak berdosa,” mantan presiden Amerika Serikat, Bill Clinton, pada 1996, setelah Kuba menembak dua pesawat sipil dan menewaskan empat orang.

“Dari hari-hari pertama, revolusi Kuba telah menjadi sumber inspirasi bagi semua orang yang menghargai kemerdekaan. Kami mengagumi pengorbanan rakyat Kuba dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan di wajah imperialis yang jahat yang merancang kampanye untuk menghancurkan kekuatan revolusi Kuba yang mengagumkan. Hidup Revolusi Kuba! Hidup kamerad Fidel Castro!” – Mantan presiden Amerika Selatan, Nelson Mandela, dalam pidatonya pada 1991.

“Saya mengingat laporan Herbert Matthews soal Castro sebelum ia memegang kekuasaan, menyebutnya seorang demokrat dan juga harapan bagi Kuba. Untuk sebagian dari Anda yang terlalu muda untuk mengingat ini, bahkan orang-orang di negara kami memanggilnya George Washington dari Kuba. Dan George merana di kuburnya.” Mantan presiden Amerika Serikat, Ronald Reagan, pada 5 Maret 1986.

“Saya tak membutuhkan banyak dorongan untuk bergabung dengan revolusi apapun, melawan tirani manapun. Tapi Fidel berkesan di mata saya sebagai lelaki yang luar biasa… Ia punya keyakinan teguh bahwa ketika kami pergi menuju Kuba (dari Meksiko) kami akan tiba di sana. Dan bahwa setibanya kami di sana, kami akan berjuang. Dan ketika kami berjuang, kami akan menang. Saya merasakan optimismemnya. Saya harus berperang. Untuk mencapai sesuatu. Berhentilan menangis dan berjuang.” — Ernesto “Che” Guevara,Linkalternatif.info dalam surat kepada orang tuanya, 1955.

“Lelaki dengan kharisma yang hebat. Ia berani. Seorang politisi dengan tangan besi. Ia tetap kuat. Ia akan menempatkan sahabat-sahabatnya sendiri untuk menghadapi regu penembak. Saya akan memberikan hukuman seumur hidup atau mengeluarkannya (Jenderal A. Ochoa) dari negara ini, tapi ia (Castro) justru menembaknya.” Mantan diktator Chile, Jenderal Augusto Pinochet, soal perlakuan Castro pada Ochoa, yang dieksekusi mati pada Juli 1989.

Ketahuan punya bisnis di Kuba, Donald Trump jadi bulan-bulanan

BeritaBintang – Borok calon presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Donald Trump, kembali terekspos setelah perusahaannya diketahui pernah berbisnis di Kuba, dan ini mendorong lawannya dari Partai Demokrat, Hillary Clinton, angkat bicara dengan menyatakan Trump telah melanggar undang-undang Amerika Serikat.

Judi Bola Online lalu melaporkan bahwa sebuah perusahaan hotel dan kasino milik Trump diam-diam menjalin bisnis dengan Kuba yang adalah ilegal karena waktu itu AS menerapkan sanksi kepada pemerintahan presiden Kuba (waktu itu) Fidel Castro.

“Hari ini kita mengetahui usaha-usahanya untuk berbisnis di Kuba yang jelas menyalahi undang-undang AS, jelas-jelas mencemooh kebijakan luar negeri Amerika, dan dia dengan konsisten menyesatkan rakyat dalam menjawab pertanyaan apakah dia telah berusaha berbisnis di Kuba,” kata Hillary kepada wartawan di pesawat kekampanyeannya.

Hillary dan Trump bersaing sengit menjelang Pemilu Presiden 8 November.

Newsweek, mengutip wawancara dengan bekas eksekutif Trump, dokumen internal perusahaan dan berkas pengadilan, melaporkan bahwa perusahaan Trump telah mengeluarkan paling tidak 68.000 dolar AS untuk kunjungan ke Kuba pada 1998 ketika perjalanan bisnis ke Kuba dilarang oleh pemerintah AS.

Perusahaan Trump itu tidak secara langsung membelanjakan uangnya, namun menyalurkan dana tunai untuk kunjungan ke Kuba itu melalui sebuah perusahaan konsultan Amerika, lapor Linkalternatif.info.

Mengutip bekas eksekutif Trump, Newsweek menyebutkan bahwa tujuan kunjungan ke Kuba itu adalah memberikan batu pijakan kepada perusahaan Trump sebagai ancang-ancang seandainya embargo AS ke Kuba dicabut oleh Washington.

Bekas eksekutif itu mengaku Trump ikut dalam pembahasan tentang kunjungan ke Kuba itu dan tahu itu terjadi.