Di Asia Tenggara

Trump Menang, China Diprediksi Pimpin Perdagangan Bebas Asia

BeritaBintang – China diperkirakan akan mulai membidik posisi sebagai pemimpin dalam perdagangan bebas di Asia setelah nasib perjanjian Kerja Sama Trans Pasifik (TPP) tak jelas ketika Donald Trump menjadi pemenang pemilihan presiden Amerika Serikat.

Selama ini, TPP dianggap sebagai kerja sama gagasan 12 negara yang merupakan cara AS untuk mengisolasi China dari perdagangan bebas di Pasifik. Namun, Trump menganggap TPP hanya akan mematikan industri manufaktur AS dan membuat warganya kehilangan lapangan pekerjaan.

Dalam bocoran memo kerangka kebijakan perdagangan Trump dalam 200 hari pertamanya, terungkap bahwa salah satu fokus presiden terpilih tersebut adalah untuk menghentikan TPP.

Sementara itu, TPP baru bisa dijalankan jika sudah ada kesepakatan dari setidaknya enam negara yang mencapai 85 persen dari total GDP 12 negara penggagas. AS sendiri memegang 60 persen dari total GDP tersebut.

“Jika AS melepas peran kepemimpinan di sini, tentu China akan mengambil alih,” ujar seorang ahli perdagangan dari Universitas Bisnis dan Ekonomi Internasional di Beijing, Tu Xinquan, seperti dikutip Agen Bola Online.

Presiden China, Xi Jinping, diperkirakan akan memanfaatkan ketidakpastian itu dengan memasarkan kesepakatan perdagangan bebas Kerja Sama Ekonomi Komprehensif Kawasan (RCEP) yang digagas oleh Beijing dan sejumlah negara di kawasan.

RCEP yang tidak mengikutsertakan AS dianggap sebagai saingan terberat TPP. RCEP pun tak mengikutsertakan AS dalam keanggotaannya. Namun, salah satu media negara China mengimbau agar AS ikut serta dalam RCEP agar tak terisolasi.

Sementara itu, Peru sebagai tuan rumah pertemuan APEC pun sebelumnya sudah mengatakan bahwa negara-negara Pasifik dapat membentuk kesepakatan perdagangan bebas baru untuk menggantikan TPP Linkalternatif.info, yang mengikutsertakan China dan Rusia, tapi tidak untuk AS.

Pekan ini, Menteri Perdagangan Peru pun sudah mengatakan akan menggandeng China agar dapat ikut serta dalam negosiasi RCEP. Keikutsertaan Peru dalam pembicaraan itu diperkirakan akan memicu negara-negara Amerika Latin peserta TPP lainnya untuk mempertimbangkan gagasan RCEP.

Dari Asia Pasifik sendiri, pergerakan akibat kecemasan atas ketidakpastian TPP pun mulai bermunculan. Australia sebagai sekutu AS bahkan sudah mengatakan ingin mencari pilihan perdagangan bebas lainnya dengan Asia.

Di Asia Tenggara, Vietnam dan Malaysia juga sudah menyatakan kemungkinan membatalkan ratifikasi TPP karena perubahan politik di washington.

“Realita geopolitik dan diplomasi ekonomi China akan memperkecil kemungkinan negara-negara di kawasan untuk menolak kepemimpinan China,” kata Tu Xinquan.

Bom Motor Sering Digunakan ISIS dan Al Qaeda

BeritaBintang – Sebuah bom motor meledak di Bangkok, Thailand Senin (17/8/2015) malam waktu setempat. Serangan teroris itu mengagetkan banyak pihak dan disebut sebagai serangan terbesar di Thailand dalam beberapa tahun terakhir.

Pakar kontra terorisme Ridlwan Habib, menilai bom motor adalah salah satu ciri khas serangan militan ISIS dan Al Qaeda. “Di Irak dan Afghanistan sudah digunakan sejak 2003, di Asia Tenggara mulai digunakan kelompok Abu Sayyaf tahun 2008,” ujar Ridlwan di Jakarta (18/8/2015).

Koordinator eksekutif Indonesia Intelligence Institute itu menyebut serangan bom di Thailand harus menjadi kewaspadaan bersama negara-negara Asia Tenggara.

“Jangan lupa, 7 Agustus Abu Sayyaf menyerang tentara Filipina, lalu tanggal 13 Agustus Polri menggagalkan jaringan ISIS di Solo Indonesia, tanggal 17 Agustus bom meledak di Bangkok. Ada semacam pola atau timeline analysis,”ujar Ridlwan.

Ridlwan mengingatkan, pada Juni 2013, serangan bom motor pernah dilakukan di Polres Poso, Sulawesi Tengah, namun gagal.

“Pelakunya saat itu tewas, diketahui berasal dari Lamongan dan pernah berinteraksi dengan kelompok Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Santoso,” ujar Ridlwan.

Bom motor sudah digunakan di era Al Qaeda, dan disempurnakan oleh ISIS setelah kedua organisasi militan itu pecah dan saling serang. “Di Asia Tenggara, kelompok Abu Sayyaf di Filipina Selatan sudah berbaiat pada ISIS, di Indonesia, ISIS juga mempunyai ratusan pendukung,” kata Ridlwan.

Meski masih terlalu dini, Ridlwan menduga bom di Thailand ada hubungannya dengan kelompok ISIS. “Investigasi ledakan bom biasanya akan mencari bomb signature atau ciri khas rakitan, namun dari pola dan type-nya, sangat besar kemungkinan dirancang oleh kelompok yang pernah belajar menggunakan bom motor,” katanya.

Kakao Beli Path Demi Pasar Indonesia?

BeritaBintang – Aplikasi jejaring sosial Path secara resmi mengumumkan bahwa dua layanan mereka Path dan dan Path Talk dijual ke perusahaan internet asal Korea Selatan, Daum Kakao. Seperti diketahui, Daum Kakao terkenal dengan layanan pesan instan KakaoTalk.

Memang tidak ada jumlah pasti berapa nilai akuisisi yang disebutkan oleh kedua belah pihak. Namun dalam postingan di blog resminya, kedua perusahaan sepakat bahwa pembelian ini tak terlepas dari penetrasi pasar di Asia.

“Path dan Daum Kakao berbagi nilai inti penting: kami berdua berusaha untuk lebih baik menghubungkan Anda dengan orang-orang, tempat dan hal-hal yang paling penting bagi Anda,” tulis CEO dan salah satu Pendiri Path Dave Morin, dalam blog resminya.

Morin menambahkan bahwa kendati sudah menjadi bagian tersendiri, antara Path dan Daum Kakao diyakini olehnya akan berjalan seperti biasa. “Kami mengumumkan perjanjian definitif dengan Daum terkait akusisi Path dan Path Talk. (Sementara) Kong akan melanjutkan operasi dalam bagian Path, Inc.” kata Morin lagi.

Di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, Path memang begitu perkasa. Mungkin ini salah satu alasan mengapa Kakao tertarik untuk membeli layanan jejaring sosial asal Amerika Serikat tersebut.

“Kami percaya bahwa ada potensi besar untuk Daum Kakao dan Path di pasar global. Kami berharap untuk dapat membawa sinergi yang kuat dengan layanan Daum Kakao lainnya dan memberikan nilai tambah yang lebih besar untuk para pengguna kami,” kata Head of Daum Kakao Indonesia, Alex Kim, melalui blog resmi Daum Kakao seperti dilansir Bintangbola.

Kim juga mengatakan, dengan basis pengguna Path yang kuat di Indonesia maka layanan ini berpotensi menjadi kandidat kuat untuk berkembang.