Bradley Smith

Bradley Smith Minta Dorna Ultimatum Panpel Sirkuit Catalunya

BeritaBintangBradley Smith Minta Dorna Ultimatum Panpel Sirkuit Catalunya

Rider Tim KTM, Bradley Smith, mengimbau kepada otoritas MotoGP, Dorna, untuk memberikan ultimatum kepada panitia penyelenggara (panpel) Sirkuit Catalunya memperbaiki kondisi lintasan jika ingin menyelenggarakan balapan musim depan. Pasalnya, Sirkuit Catalunya sudah 10 tahun tidak pernah diaspal ulang.

Ajang balap seri keenam MotoGP 2017 yang berlangsung di Sirkuit Catalunya, Barcelona, memang mendapat kecaman dari sejumlah pembalap. Kebanyakan dari mereka mengeluhkan kondisi aspal yang dianggap tidak layak untuk menyelenggarakan ajang balap sekelas MotoGP.

[ Baca Juga : ” Nicholas Saputra Curhat Merasa Sulit Cari Sutradara Muda ” ]

Oleh karena itu, Smith berharap agar panpel Sirkuit Catalunya mau mengaspal ulang sirkuit yang memiliki panjang lintasan mencapai 4,6 kilometer tersebut. Jika tidak, maka rider asal Inggris tersebut yakin kalau Catalunya tidak akan menjadi tuan rumah gelaran MotoGP 2018.

“Semoga kita tidak akan datang ke sana (Catalunya). Itu adalah keputusan final. Ini adalah satu-satunya trek di kalender yang tidak memedulikan komisi disiplin, serta permintaan para rider,” ungkap Smith, seperti dikutip dari AGEN BOLA, Senin (19/6/2017).

“Jadi poin pentingnya, Anda (Dorna) harus memberikan mereka ultimatum, dan saya pikir ini adalah tahun terakhir mereka (Catalunya) menyelenggarakan balapan jika mereka tidak melakukan pembenahan,” tuntas mantan pembalap Monster Yamaha Tech3.

Pol Espargaro Kecewa dengan Hasil Seri Sachsenring

BeritaBintang  –  Pembalap Tim Monster Yamaha 3, Pol Espargaro, mengaku kecewa atas hasil yang dikantonginya di Sirkuit Sachsenring, akhir pekan lalu. Espargaro memang gagal tampil impresif pada balapan yang digelar di Jerman tersebut.

Pembalap berpaspor Spanyol tersebut gagal menyentuh garis finis. Sementara rekan setim Espargaro, Bradley Smith, hanya dapat finis di posisi ke-13.

Espargaro mengaku, dirinya sudah merasa tidak nyaman dengan kondisi motornya. Balapan di Sirkuit Sachsenring tersebut diawali dengan wet race. Namun ternyata, Espargaro justru lebih nyaman bersaing di atas lintasan basah ketimbang kering.

“Mudah untuk menebak bahwa saya merasa sangat kecewa setelah apa yang telah kami tampilkan di sepanjang pekan. Sayangnya, sejak awal balapan, saya sudah merasa tidak nyaman karena kondisi yang telah banyak berubah dan lintasan telah lebih kering,” Espargaro, sebagaimana dikutip dari laman Bintangbola.co, Rabu (20/7/2016).

“Saya sudah bekerja keras sejak awal balapan. Tentu saja, saya merasa sedih menutup paruh musim dengan hasil seperti ini, tetapi setidaknya saya dapat berada di posisi keenam (klasemen sementara MotoGP),” tandasnya.

Smith Girang Kembali Berkolaborasi dengan Espargaro di Tim KTM

BeritaBintang – Kolaborasi antara Bradley Smith dan Pol Espargaro memang bakal kembali berlanjut di gelaran MotoGP musim 2017. Namun bukan bersama Tim Monster Yamaha Tech 3 seperti musim ini, melainkan di tim pendatang baru, yakni KTM.

Seperti diketahui, Espargaro resmi memutus kerja sama dari Tim Monster Yamaha Tech 3 yang sudah terjalin hampir tiga tahun. Pembalap asal Spanyol tersebut lalu memilih bergabung dengan Tim KTM dengan durasi kontrak hingga MotoGP 2018 berakhir.

Melihat kondisi tersebut lantas mendapatkan komentar langsung dari Smith beberapa saat lalu. Ia pun mengaku sangat senang dengan keputusan manajemen Tim KTM yang memilih nama Espargaro sebagai tandemnya di MotoGP 2017.

“Ya, tentu saja itu (kembali bekerja sama dengan Espargaro) merupakan hal yang menyenangkan. Terlebih kami sudah mengetahui seperti apa karakter masing-masing,” ucap Smith, seperti dikutip dari Panduan Judi Online  Sabtu (4/6/2016).

“Kami sudah bersama-sama di Tim Yamaha hampir tiga musim, dan kami akan kembali menjadi tandem di KTM untuk dua tahun. Saya tidak sabar untuk menantikan momen itu,” tutup pembalap berkebangsaan Inggris tersebut.

Pol Espargaro Resmi Tinggalkan Yamaha

BeritaBintang – Pol Espargaro resmi meninggalkan Tim Monster Yamaha Tech 3. Namun, pembalap berpaspor Spanyol itu takkan meninggalkan Monster Yamaha Tech 3 pada musim ini, melainkan pada MotoGP 2017.

“Yamaha Motor Ltd mengumumkan bahwa Yamaha dan Monster Yamaha Tech 3 resmi berpisah pada akhir musim ini. Pembalap asal Spanyol itu bakal mencari tantangan di tim lain,” tulis pernyataan perwakilan Monster Yamaha Tech 3, mengutip dari Panduan Judi Online, Kamis (2/6/2016).

“Espargaro bergabung dengan Monster Yamaha Tech 3 pada 2014 setelah memenangi kelas Moto2 semusim sebelumnya. Ia mampu beradaptasi dengan cepat dan sanggup menjadi rookie of the year pada 2014,” urai pernyataan di situs tersebut.

Hengkangnya Pol membuat Monster Yamaha Tech 3 bakal dihuni dua pembalap anyar pada MotoGP 2017. Sebab rekan satu tim Pol yakni Bradley Smith, sudah memutuskan hengkang ke Tim KTM.

Kabarnya, Pol juga mengikuti jejak Smith dengan hengkang ke KTM. Namun, kejelasan mana tim yang dibela Pol musim 2017  bakal terjawab dalam beberapa hari ke depan.

Lorenzo Menang Dramatis di Mugello

BeritaBintang – Juara bertahan Jorge Lorenzo keluar sebagai pemenang di MotoGP Italia. Lorenzo mengalahkan Marc Marquez menjelang garis finis untuk memenangi balapan.

Dalam balapan di Sirkuit Mugello, Minggu (22/5/2016), pebalap Movistar Yamaha itu tampil sebagai yang tercepat dengan catatan waktu 41 menit 36,535 detik. Lorenzo unggul hanya 0,019 detik dari Marquez di belakangnya.

Start dari posisi kelima, Lorenzo mengawali balapan dengan sangat baik sehingga bisa bersaing dengan pebalap dengan start terdepan, Valentino Rossi. Kedua rekan setim itu terlibat pertarungan sengit tapi kemudian berakhir usai Rossi mengalami masalah di motornya.

Lorenzo kemudian mendapat persaingan dari Marquez. Keduanya saling salip di lap-lap terakhir sebelum akhirnya Lorenzo keluar sebagai pemenang.

Andrea Iannone berhasil finis ketiga di depan Dani Pedrosa dan rekan setimnya Andrea Dovizoso.

Dengan kemenangan ini, Lorenzo masih di peringkat teratas klasemen dengan 115 poin, unggul 10 poin dari Marquez. Sedangkan Rossi di posisi ketiga dengan perolehan 78 poin.

Jalannya Balapan

Lorenzo melakukan start apik dengan melesat di barisan terdepan membuntuti Rossi di posisi pertama. Namun di tikungan pertama, Lorenzo berhasil mengambil posisi terdepan. Tiga pebalap crash: Loris Baz, Jack Miller, dan Alvaro Bautista.

Lap kedua, Rossi nyaris menyalip Lorenzo tapi buru-buru diambil alih kembali karena melebar saat melewati tikungan. Aleix Espargaro tetap di peringkat ketiga diikuti Marquez dan Pedrosa.

Di lap kelima, Marquez mulai unjuk kecepatan untuk bergabung dengan Lorenzo dan Rossi di barisan terdepan. Dovizioso berhasil menyalip Espargaro sedangkan Pedrosa tercecer di urutan keenam.

Rossi masih mencari cara melewati Lorenzo. Beberapa kali upayanya sejauh ini masih gagal. Sampai lap ketujuh, jarak kedua pebalap anya 0,09 detik. Marquez dan Dovizioso dibelakang duo Yamaha, diikuti Pedrosa di posisi lima besar.

Bencana bagi Rossi. Di lap kedelapan Rossi melebar dari lintasan sehingga tercecer di urutan belakang. Tampak motornya mengalami kerusakan dan mengeluarkan banyak asap. Rossi terpaksa retired, keuntungan besar bagi Lorenzo.

Di lap kesepuluh, Lorenzo cukup nyaman di urutan pertama. Marquez berada di belakangnya dengan tertinggal 0,7 detik. Dovizioso di urutan ketiga.

Balapan belum berakhir. Marquez mampu membayangi Lorenzo di lap ketiga belas dengan jarak kedua pebalap kini hanya terpaut 0,3 detik saja. Dovizioso di posisi ketiga dengan jarak lebih dari dua detik. Iannone membuntuti diikuti Pedrosa.

Di lap ke-16, Iannone akhirnya mampu menyalip Dovizioso untuk menduduki posisi ketiga. Dovizioso kembali mendapatkan posisi ketiga saat balapan tersisa enam lap. Pedrosa berhasil mendekati duo Ducati itu untuk memperebutkan posisi ketiga di akhir balapan.

Kesalahan Dovizioso yang melebar di tikungan pada lap ke 18 dimanfaatkan Pedrosa untuk merebut urutan keempat di belakang Iannone. Vinales di urutan keenam di depan Bradley Smith, Espargaro, dan Petrucci.

Marquez sempat menyalip Lorenzo dalam tikungan di lap ke 19, tapi Lorenzo segera mendapatkan kembali tempatnya setelah Marquez sedikit melebar. Iannone, Pedrosa, dan Dovizioso di barisan kedua.

Di lap ke-20, Pedrosa sukses menyalip Iannone guna mendapatkan urutan ketiga. Di balap berikutnya, Marquez kembali mendahului Lorenzo di tikungan pertama, tapi lagi-lagi tak mampu menjaga posisinya. Pedrosa dan Iannone masih teribat pertarungan tapi pebalap yang disebut terakhir mampu memperoleh tempatnya kembali.

Marquez akhirnya benar-benar mampu menyalip Lorenzo di lap terakhir. Saling salip kembali terjadi, tapi Marquez kali ini bisa menjaga posisi terdepan. Akan tetapi beberapa saat menjelang finis, Lorenzo bisa mendahului Marquez dalam menyentuh garis finis.

Hasil Lengkap MotoGP Italia
Nama Pebalap-Tim-Waktu

1. Jorge Lorenzo ESP Movistar Yamaha MotoGP (YZR-M1) 41m 36.535s
2. Marc Marquez ESP Repsol Honda Team (RC213V) 41m 36.554s
3. Andrea Iannone ITA Ducati Team (Desmosedici GP) 41m 41.277s
4. Dani Pedrosa ESP Repsol Honda Team (RC213V) 41m 41.445s
5. Andrea Dovizioso ITA Ducati Team (Desmosedici GP) 41m 42.791s
6. Maverick Viales ESP Team Suzuki Ecstar (GSX-RR) 41m 45.205s
7. Bradley Smith GBR Monster Yamaha Tech 3 (YZR-M1) 41m 49.875s
8. Danilo Petrucci ITA Octo Pramac Yakhnich (Desmosedici GP15) 41m 51.133s
9. Aleix Espargaro ESP Team Suzuki Ecstar (GSX-RR) 41m 55.178s
10. Michele Pirro ITA Ducati Team (Desmosedici GP) 41m 58.833s
11. Cal Crutchlow GBR LCR Honda (RC213V) 42m 4.471s
12. Hector Barbera ESP Avintia Racing (Desmosedici GP14.2) 42m 12.247s
13. Eugene Laverty IRL Aspar MotoGP Team (Desmosedici GP14.2) 42m 14.567s
14. Stefan Bradl GER Factory Aprilia Gresini (RS-GP) 42m 16.629s
15. Pol Espargaro ESP Monster Yamaha Tech 3 (YZR-M1) 42m 36.346s
16. Yonny Hernandez COL Aspar MotoGP Team (Desmosedici GP14.2) 42m 40.932s

Tidak Finis
Valentino Rossi ITA Movistar Yamaha MotoGP (YZR-M1)
Scott Redding GBR Octo Pramac Yakhnich (Desmosedici GP15)
Jack Miller AUS Estrella Galicia 0,0 Marc VDS (RC213V)
Alvaro Bautista ESP Factory Aprilia Gresini (RS-GP)
Loris Baz FRA Avintia Racing (Desmosedici GP14.2)

4 Pembalap Calon Pengganti Lorenzo di Yamaha

BeritaBintang  – Jorge Lorenzo terus memberi sinyal bakal mengakhiri pengabdiannya di Yamaha akhir musim ini. Itu terlihat dari terus diundurnya tanda tangan kontrak baru dengan tim Garpu Tala. Kontrak Lorenzo berakhir musim ini dan dia digadang-gadang bakal gabung dengan Ducati.

Ducati dikabarkan sudah memberikan tawaran menggiurkan yang sulit untuk ditolak Lorenzo. Meski belum bicara terang-terangan sudah berikan tawaran, tapi Ducati tak menampik jika mereka tertarik rekrut Lorenzo.

Lorenzo sudah jadi andalan bagi Yamaha sejak 2008. Namun rivalitasnya dengan Rossi yang seakan-alam didewakan Yamaha membuat X Fuera, julukannya, kerap tersudut. Contohnya di MotoGP 2015 dimana Lorenzo disebut-sebut sudah tak fair karena mendapatkan bantuan dari Marc Marquez untuk mendapatkan gelar juara.

Rossi pun terus menyindir Lorenzo apakah punya nyali pindah ke Ducati seperti yang dia lakukan pada 2011. Jika Lorenzo pasti pindah, siapa kira-kira kandidat pengganti yang bakal mendampingi Rossi di musim berikutnya? Berikut ulasannya yang diambil dari berbagai sumber:

1.Maverick Vinales

Pembalap yang masih tampil bersama Suzuki ini dikabarkan bikin kepincut Yamaha. Dilihat dari usia, Vinales memang sangat prospektif. Dia baru berusia 21 tahun, tapi sudah dipercaya menjadi pembalap pabrikan sekelas Suzuki Ecstar mulai 2015 lalu.

Prestasi terbaiknya yaitu berhasil finis di posisi enam sebanyak dua kali, yaitu di MotoGP Katalunya dan Australia. Untuk pembalap debutan, prestasi ini sudah lumayan. Dia juga mampu merampungkan 16 seri dari 18 seri balapan sepanjang musim MotoGP 2015.

Bakat gemilang Vinales mulai terlihat ketika gabung KTM di Moto3. Di musim 2013, dia berhasil menjadi juara. Ini membawanya loncat ke Moto2 bersama Kalex. Di Moto2, dia hanya tampil semusim dan merebut posisi tiga klasemen.

2.Alex Rins

Pembalap Paginas Amarillas yang tampil di Moto2 ini juga digadang bakal menjadi pengganti ideal bagi Valentino Rossi dan juga Jorge Lorenzo. Penampilan pembalap berusia 20 tahun ini dinilai cukup menjanjikan.

Di Moto2 pada 2015, Rins berhasil finis jadi runner-up. Dia hanya kalah poin dari Johan Zarco yang keluar sebagai juara. Untuk saat ini, Rins memilih untuk bertahan di Moto2.

Manajer Movistar Yamaha, Lin Jarvis, mengakui bahwa Rins punya masa depan yang cerah. Jika naik ke MotoGP, Rins kemungkinan dimasukkan terlebih dahulu di tim satelit Yamaha Tech 3.

“Dia mengambil keputusan tepat bertahan di Moto2 tahun ini. Tak diragukan lagi, dia pembalap berbakat dan kandidat tunggangi Yamaha di masa depan. Dia masuk daftar incaran kami. Dia membuat kesalahan di 2015, tapi dia kencang,” kata Jarvis.

3. Pol Espargaro

Pol Espargaro sudah dua musim tampil di MotoGP. Dia menjadi andalan di Yamaha Tech 3 bersama Bradley Smith. Namun musim lalu, Espargaro mengalami penurunan prestasi.

Dia hanya meraih posisi 9, menurun ketimbang diraihnya pada MotoGP 2014, yaitu posisi enam. Sebaliknya dengan Smith yang naik ke posisi enam klasemen akhir musim lalu, lebih baik ketimbang posisi ke-8 pada 2014.

MotoGP 2016 diharapkan jadi ajang bagi Espargaro untuk unjuk gigi. Maklum, kesempatan untuk naik kelas jadi pembalap pabrikan amat terbuka, meski harus menunggu apakah Rossi atau Lorenzo memperpanjang kontrak atau tidak.

Bos Yamaha Tech 3, Herve Poncharal melecut dua pembalap untuk bersinar di musim ini. ” Mereka harus tunjukkan bisa bersinar sehingga dapatkan kursi di 2017,” ujar Poncharal.

4. Bradley Smith

Dibandingkan Espargaro, Smith memang lebih senior. Kengototannya untuk selalu meraih hasil lebih baik berbuah manis.

Dari musim ke musim, Smith terus naik posisi. Sejak bergabung Yamaha Tech 3 pada 2013, Smith terus mengalami peningkatan prestasi.

Kini di musim keempatnya bersama Yamaha Tech 3, Smith diharapkan meraih hasil yang mengejutkan. Ini bisa jadi jalan lapang bagi Smit untuk menjadi penerus Rossi dan Lorenzo.

“Smith sangat memukau kami pada 2015. Dia bersama Rossi satu-satunya pembalap yang cetak poin di setiap balapan. Dia konsisten, sesuatu yang sangat penting,” kata Herve Poncharal, bos Yamaha Tech 3.

Betapa Sialnya Dovizioso

BeritaBintang  –  Kandas lagi harapan Andrea Dovizioso untuk naik podium. Seperti di seri Argentina, di MotoGP Austin kali ini dia kembali ‘dijatuhkan’ pebalap lain.

Dalam balapan di Circuit of The Americas, Senin (11/4/2016) dinihari WIB, Dovizioso yang memulai dari posisi tujuh punya kans bagus untuk finis di podium. Selepas start dia mampu menyodok ke posisi depan dan kemudian menempati urutan tiga di belakang Marc Marquez dan Jorge Lorenzo.

Dari posisi itu, rider Ducati ini sedang menguntit Lorenzo dan punya kans bagus untuk melewati rivalnya di Movistar Yamaha tersebut di trek lurus. Sementara di belakang Dovizioso, Pedrosa yang membesut Repsol Honda juga punya laju cukup bagus.

Sampai kemudian kesialan Dovizioso terjadi. Di tikungan pertama saat balapan memasuki putaran ketujuh, Dovi yang sedikit melebar akhirnya terjatuh. Bukan karena kehilangan kontrol motor, melainkan terhantam motor Pedrosa.

Pedrosa saat itu tampaknya memasuki tikungan terlalu kencang, lantas kehilangan kendali motornya saat tengah berusaha mengerem dan terjatuh. Nahas bagi Dovizioso, motor Pedrosa meluncur ke arahnya dan akhirnya menabraknya sampai ikut terseret ke gravel.

“Unluckiest man in the MotoGP,” demikian sahut komentator balapan.

Ya, Dovizoso bisa dibilang pebalap paling tak beruntung di MotoGP saat ini. Sebelumnya di Argentina dia juga gagal naik podium dua yang sudah di depan mata karena terjatuh karena tertabrak rekan setimnya, Andrea Iannone.

Padahal pebalap 30 tahun itu memulai musim dengan cemerlang, saat finis runner-up pada seri pembuka di MotoGP Qatar. Sial di daratan Amerika, Dovizioso tentu berharap peruntungannya berubah di Eropa. Mulai seri berikutnya balapan memang akan beralih ke daratan Eropa, dengan MotoGP Spanyol di sirkuit Jerez menjadi pembuka.

Di MotoGP Austin sendiri, tak cuma Dovizioso dan Pedrosa yang akhirnya gagal menuntaskan balapan. Valentino Rossi juga mengakhiri balapannya lebih cepat karena kehilangan grip ban depan. Sejumlah pebalap lain juga mengalami insiden, yakni Loris Baz, Cal Crutchlow, dan Bradley Smith, meski akhirnya bisa melanjutkan balapan.

Alasan Yamaha Lepas Pembalapnya

BeritaBintang –Pembalap Yamaha Tech 3, Bradley Smith, dipastikan hengkang dari timnya musim depan. Managing Director Movistar Yamaha, Lin Jarvis, mengungkapkan performa yang tidak memuaskan menjadi alasan utama Yamaha Tech 3 melepas Smith.

Jarvis mengungkapkan, tidak mudah bagi Herve Poncharal, selaku bos Yamaha Tech 3, melepas Smith. Sebab seperti yang diketahui, pembalap berusia 25 tahun itu sudah lima tahun di Tech 3, tepatnya sejak masih membalap di kelas Moto2.

“Secara mendasar, Tim Tech 3 dijalankan oleh Herve Poncharal. Pada akhirnya, keputusan pembalap berada di tangannya. Tapi ini bukan hal yang mudah (untuk diputuskan),” kata Jarvis, seperti diberitakan Speedweek, Minggu (27/3/2016).

“Kami telah membicarakan soal hal ini. Kami memiliki rencana dan strategi yang sama. Terkadang, kami (Movistar Yamaha) juga akan dilibatkan terkait masalah kontrak pembalap. Kami selalu berkata, jika pembalap memiliki performa yang baik, maka mungkin bagi Bradley (Smith) untuk bertahan di 2017,” sambungnya.

Pembicaraan mengenai masa depan Smith di Tech 3 memang sudah menyeruak dalam beberapa pekan ke belakang ini. Bahkan, Poncharal sempat terang-terangan mengaku tidak puas dengan performa yang ditunjukkan rider asal Inggris itu di musim lalu.

(zan)

Perjuangan Rider Inggris Menuju Tim Pabrikan pada MotoGP 2017

BeritaBintang –    Sebagian pembalap yang bertanding untuk tim pabrikan belum memutuskan apakah akan memperpanjang kontrak atau tidak. Hal tersebut pun menjadi kesempatan besar bagi para pembalap yang mentas untuk tim satelit seperti Bradley Smith.

Smith yang membalap untuk Tim Monster Yamaha Tech 3 memiliki ambisi tersendiri dalam mengarungi musim balap 2016. Bahkan pembalap asal Inggris tersebut menyatakan akan bertanding untuk memperebutkan satu kursi di tim pabrikan.

Tampil bersama tim pabrikan jelas akan menjadi langkah besar bagi Smith. Bagaimana tidak, di usia yang baru menginjak 25 tahun, pemuda kelahiran Oxford, Inggris itu sudah bisa bergabung dengan tim pabrikan.

“Musim ini akan menjadi balapan yang  lebih sengit karena adanya kesempatan mendapat kontrak dengan tim pabrikan,” kata Smith, seperti disadur dari situs resmi MotoGP, Jumat (12/2/2016).

“Tahun lalu saya tahu saya hanya bertanding untuk menjaga saya tetap dengan Tech 3. Tahun ini, saya akan bertanding sekuat tenaga untuk masuk ke tim pabrikan. Kami tidak yakin ada kursi yang tersedia, namun musim ini saya benar-benar bisa mendapatkan lebih dari itu,” lanjutnya.

Pemicu Terjadinya Perselisihan Antar Rider Satu Tim

BeritaBintang –   Bos Tim Monster Yamaha Tech 3, Herve Poncharal, yakin para rider MotoGP terkadang terlalu dimanjakan dengan dibiarkan bertarung sesuka hati baik di luar maupun di dalam lintasan. Poncharal menyampaikan hal ini dalam sebuah wawancara dengan Bioskopsemi , Rabu (20/1/2016).

Menurut Poncharal, hal tersebut bisa menjadi pemicu perselisihan dalam tim. Contoh nyatanya bisa dilihat pada rivalitas duo Movistar Yamaha, Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo di penghujung MotoGP 2015.

Poncharal sendiri mengaku menaruh rasa hormat pada para rider atas aks-aksi memukau mereka di trek. Tapi untuk melakukannya, Poncharal yakin mereka tak bisa serampangan sendiri.

“Ada banyak orang yang bekerja sangat keras untuk membantu mereka unjuk gigi. Saya rasa, terkadang para rider ini terlalu dimanjakan. Ada kalanya kita harus mengingatkan bahwa mereka ada di sini karena mereka adalah yang terbaik, tapi untuk menunjukkan talenta supernya, ada banyak orang yang mereka butuhkan. Mereka tak bisa semaunya sendiri,” ucap Poncharal.

Pria berkebangsaaan Prancis ini mengaku bersyukur tak menaungi bintang-bintang besar macam Rossi, Lorenzo atau Marc Marquez, yang sudah pasti akan sangat sulit diatur berkat keinginan dan ego mereka menjadi yang terbaik.

Poncharal pun senang Bradley Smith dan Pol Espargaro punya hubungan yang baik nan harmonis. Ini sesuai dengan keinginannya menjadikan Tech 3 seperti keluarga.

“Saya senang mereka (Smith dan Espargaro) selalu makan bersama di hospitality. Mereka boleh melakukan apapun, tapi mereka harus berpikir secara tim. Tentu mereka sangat ingin saling mengalahkan, tapi tim harus mengingatkan mereka seperti orang tua memperingatkan anak-anaknya. Jika Anda tak menunjukkan batasannya, maka tak akan ada batasnya pula,” pungkas Poncharal.