BNN

Klarifikasi BNN Soal Siswi SMA Mengaku Anak Brigjen Arman Depari

BeritaBintang –Badan Narkotika Nasional (BNN) mengklarifikasi terkait adanya beberapa waktu terakhir ini di media cetak, elektronik dan “online” telah beredar berita dan informasi yang tidak benar.

Terkait aksi seorang siswi SMA di Medan yang mengaku anak Brigjen Pol Arman Depari, saat hendak ditertibkan petugas Satlantas Polresta Medan pada Rabu (6/4).

“Sehubungan dengan hal tersebut melalui Deputi Pemberantasan BNN, Brigjen Pol Arman Depari, menyatakan bahwa siswi SMA tersebut bukan anak beliau,” kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Kabag Humas) Kombes Pol Slamet Pribadi dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Diinformasikan bahwa Arman Depari saat ini memiliki tiga orang anak berjenis kelamin laki-laki dan semuanya berdomisili di Jakarta, katanya.

“Selanjutnya diimbau kepada masyarakat untuk mewaspadai informasi yang tidak benar tersebut. Diharapkan tidak ada lagi oknum yang mengaku-ngaku sebagai anak/kerabat petinggi BNN ketika mendapat permasalahan hukum,” kata Slamet.

Sebelumnya, beredar video yang memperlihatkan perdebatan antara sejumlah siswi SMA dengan seorang polisi wanita (polwan) di Medan. Para siswi tak terima mobil yang mereka tumpangi diberhentikan saat sedang berkonvoi dalam rangka merayakan selesainya ujian nasional. Kemudian, salah satu di antara para siswi, sembari mengaku sebagai putri dari Brigjen Arman Depari, mengancam akan menurunkan jabatan sang polwan

Budi Waseso: Yang Penting Berantas Narkoba Bukan Gedung Baru

BeritaBintang –Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisaris Jenderal Polisi Budi Waseso belum berencana pindah gedung apabila lembaga yang dipimpinnya disejajarkan dengan kementerian.

“Nantilah ya, kan ini belum putus. Lihat perkembangannya. Tentunya nanti dengan segala konsekuensinya akan ada  perubahan-perubahan itu. Sambil berjalanlah nanti. Kurang lebih begitu,” kata Budi Waseso, Jumat malam, 11 Maret 2016.

Buwas, sapaan akrab Budi Waseso, enggan menyimpulkan jika dirinya nanti akan ditingkatkan jabatannya setingkat menteri, apakah meminta gedung baru atau tidak. Diketahui, selama ini kantor BNN yang berada di Cawang, Jakarta Timur, masih milik Polri.

“Saya sendiri tidak seperti itu. Sekarang khususnya kita bekerja dalam kondisi apapun. Ada atau tidaknya gedung, diberi atau tidak, itu bukan menjadi halangan atau hambatan, yang penting komitmen kita berantas itu,” tuturnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Luhut Binsar Panjaitan, menuturkan bahwa Kepala BNN Komjen Pol Budi Waseso akan ditingkatkan statusnya menjadi setara menteri. Sebab, permasalahan narkotika ini sudah menjadi bahaya akut di Tanah Air.

“BNN harus diperkuat dan BNN sudah setuju. Dalam waktu dekat Perpres (Peraturan Presiden) akan keluar, status (kelembagaan) ditingkatkan,” kata Luhut Binsar Panjaitan.

BNN Kembali Temukan Narkoba Jenis Baru, FUB-AMB

BeritaBintang –  Badan Narkotika Nasional (BNN) kembali menemukan narkotika jenis baru. Zat yang tergolong dalam synthetic cannabinoid itu, diberi nama FUB-AMB.

“Iya kita temukan new psychoactive substances (NPS). Berupa FUB-AMB yang masuk dalam golongan synthetic cannabinoid,” ujar Kepala Humas BNN Kombes Pol Slamet Pribadi saat dikonfirmasi BintangBola, Minggu (21/2/2016).

Ia menambahkan, zat tersebut berasal dari sampel tembakau selanjutnyya distimulasikan oleh zat synthetic cannabinoid. Hasilnya, berdasarkan diidentifikasi oleh balai laboratorium, BNN menggolongkan zat tersebut sebagai narkotika jenis baru sejak Rabu 17 Februari kemarin.

“Hasil labnya keluar Rabu kemarin. Bentuk fisiknya adalah tembakau biasa disemprot dengan ganja sintetis,” lanjutnya

Adapun dampak mengonsumsi FUB-AMB, dapat mengakibatkan Halusinogen, di mana pengguna melihat warna acak, pola, peristiwa, dan bahkan bisa melihat sesuatu yang tidak ada seolah menjadi nyata. Halusinogen juga menimbulkan halusinasi yang bersifat mengubah perasaan, pikiran, dan dapat menciptakan daya pandang yang berbeda, sehingga menyebabkan seluruh perasaan dapat terganggu.

Dengan ditemukannya zat baru tersebut, hingga saat ini, BNN telah mengidentifikasi 38 NPS. Namun, tidak semua zat baru tersebut termasuk di dalam daftar lampiran Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No 13 Tahun 2014.

“Saat ini dari 38 NPS hanya 18 yang sudah masuk dalam Permenkes dan masih terdapat 20 NPS lagi yang belum masuk dalam Permenkes, termasuk zat baru yang ditemukan BNN saat ini,” pungkasnya.

BNN: Banyak PNS Batam Gunakan Narkoba

BeritaBintang – Para PNS diduga baru sebatas pemakai, bukan pengedar.

Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Kepri mengindikasi banyak oknum PNS Pemkot Batam yang menggunakan narkoba, salah satunya MA yang diamankan saat mengonsumsi sabu pada sebuah hotel di Batam Centre pada 5 Mei 2015.

“Saat pemeriksaan, MA mengeluhkan kenapa hanya dia yang ditangkap. Padahal banyak PNS lain yang juga menggunakan narkoba,” kata Kepala Bidang Berantas BNNP Kepri, Abdul Hasyim Pangabean di Batam, Minggu (17/5/2015) kepada bintangbola.

Berdasarkan keterangan MA, kata dia, sudah sejak lama banyak oknum PNS Pemkot Batam yang menjadi pecandu barang terlarang tersebut.

“Kalau menurut pengakuan MA, oknum-oknum PNS tersebut baru sebatas pemakai. Namun kami akan telusuri kebenarannya termasuk kemungkinan adanya yang terlibat jaringan,” kata dia.

BNN, kata dia, juga akan melakukan tes urine untuk memastikan seberapa banyak PNS-PNS Pemkot Batam yang menjadi pengguna narkoba.

“Ya, kami akan sering lakukan tes urin pada mereka. Tentu tidak terjadwal, sifatnya mendadak agar tidak diketahui,” kata Hasyim.

Sebelumnya, BNN menangkap MA atas laporan masyarakat bahwa ada pesta sabu disalah satu hotel diwilayah Batam Centre. Saat ditangkap ditemukan barang bukti 0,6 gram sabu dan alat hisap.

Usai ditangkap, setelah dilakukan tes urine teryata MA positif mengunakan amfetamin dan merupakan pecandu kelas akut, namun tidak terlibat jaringan pengedar.

Setelah diproses penyidik satu minggu, penyidik berkesimpulan bahwa tersangka perlu disembuhkan dari ketergantungan dari narkoba dengan direhap rawat inap di tempat Rehabilitas BNNP Kepri selama tiga bulan.

Pada 2015, Panti Rehabilitasi BNN Kepri ditargetkan mampu menangani 1.313 orang pecandu baik yang rawat inap maupun rawat jalan dengan harap akan mampu menekan jumlah pengguna narkoba di Kepri.