BAP

Polisi Resmi Tetapkan Habib Rizieq Tersangka Kasus Penistaan Pancasila

BeritaBintangPolisi Resmi Tetapkan Habib Rizieq Tersangka Kasus Penistaan Pancasila

Polisi resmi menetapkan status Habib Rizieq sebagai tersangka terkait kasus penistaan Pancasila, setelah tiga kali melakukan gelar perkara.

“Hasil gelar perkara semuanya sudah masuk unsur terpenuhi alat bukti, juga penetapan Rizieq Sihab naikan jadi tersangka,” ujar Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Yusri Yunus.

Dikatakannya, setelah kurang lebih tujuh jam gelar perkara ketiga pada hari ini, dari hasil keterangan saksi-saksi maupun bukti dokumen yang dimiliki penyidik Polda Jabar, semua unsur gelar perkara terpenuhi. “Semua unsur diramu di Pasal 154 a KUHP dan 320 tentang penistaan lambang negara dan nama baik,” jelasnya.

[Baca Juga -“Awas! Pemerintah Harus Waspadai Ideologi Radikal yang Menyasar Perkantoran“]

Terkait bukti yang menguatkan Rizieq untuk menjadi tersangka, yakni dari keterangan saksi ahli yang menyebutkan adanya unsur yang menguatkan penistaan lambang negara. “Minta waktu seminggu ini untuk kita hadirkan dengan status tersangka,” ucapnya.

Meski begitu, pihaknya tidak melakukan penahanan, sebab, pasal yang diterapkan tak lebih dari lima tahun. “Di sini enggak ada penahanan, Pasal 154 itu 4 tahun dan 320 itu 9 bulan, di bawah 5 tahun enggak ada penahanan. Tapi status tersangka untuk di BAP mudah-mudahan seminggu layangkan pemanggilan,” katanya.

Jika nanti ada pelayangan gugatan ke sidang praperadilan, pihaknya mempersilakan pihak Rizieq melakukan hal tersebut. “Silakan, itu mekanisme hukum. Silakan, kita akan terima,” tandasnya.

Barista Disebut Terima Uang Rp140 Juta, Khrisna Murti: ‎Itu Tidak Ada!

BeritaBintang –  Ketua tim pengacara Jessica Kumala Wongso menyebut salah seorang barista Olivier Rangga Dwi Saputra menerima uang Rp140 juta dari Arief Sumarko, suami Mirna yang diduga untuk meracun Mirna.

Merespons hal itu, Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Krishna Murti mengatakan, pernyataan tersebut pernah dilakukan pemeriksaan oleh tim psikiater.

“Tapi tidak ada di BAP. Itu kan kami memprofile semua potential suspect. Jadi salah satu caranya kami membawa ke psikater. Itu adalah hasilnya, psikiater hasil dari curhatannya Rangga,” ujar Krishna saat dikonfirmasi, Jakarta, Kamis (28/7/2016).

Krishna menjelaskan, saat diperiksa Rangga mengaku telah ditanyai oleh wartawan terkait adanya transfer aliran dana tersebut.‎

“Saat itu Rangga curhat ke psikiater ada wartawan yang menuduh dia, datangi dia dan bilang Rangga mendapatkan transferan dari Arief, jadi itu curhatan Rangga di psikiater. Itu catatan medis dari psikiater,” tegasnya.

Khrisna menambahkan, bahwa pihak kepolisian tidak hanya melakukan pemeriksaan secara psikiater kepada Rangga. Namun, kepada seluruh terduga dalam kasus ‘racun sianida’.

“Jadi itu bukan hanya Rangga yang kami bawa ke psikater, yang lain juga kami periksa, kami profile, supaya untuk mencari tahu keterangan itu valid atau tidak,” pungkas Khrisna.

Dua Bendera Mirip Lambang GAM Ditemukan di Lapas Lhokseumawe

BeritaBintang –Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Provinsi Aceh menggelar inspeksi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Lhokseumawe, Aceh, Kamis, 17 Maret 2016.

Pantauan VIVA.co.id, inspeksi dilakukan Kanwil dengan melibatkan kepolisian, Badan Narkotika Nasional (BNN) serta Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Dalam inspeksi ini, petugas menemukan dua bendera berlambang bulan sabit dan bintang, mirip lambang Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Selain itu, uang tunai senilai total Rp11.520.000, dan empat ringgit Malaysia.

Tak hanya itu, petugas juga menemukan 25 unit kipas angin, 17 telepon seluler, kartu ATM, SIM, KTP, dan kompor minyak.

Barang yang ditemukan itu akan disita Kanwil untuk dimusnahkan. Sementara untuk uang tunai, akan dikembalikan kepada narapidana melalui keluarga mereka.

“Terkait dengan temuan uang tunai, sesuai ketentuan, uang tersebut akan dipegang oleh Kalapas. Kita panggil keluarganya, akan kita serahkan kepada keluarganya. Namun, yang uangnya lebih besar akan diperiksa, akan di BAP, kenapa bisa masuk uang sebanyak itu,” ujar Suwandi, Kepala Kanwil Kemenkumham Aceh, usai inspeksi.

Tes Urine

Dalam inspeksi ini, beberapa narapidana juga dites urinenya. Hasilnya, satu orang kedapatan positif menggunakan narkoba.

Polisi juga menemukan sisa alat yang digunakan napi tersebut menggunakan narkoba jenis sabu. Meski satu orang yang terbukti positif, namun polisi memeriksa 3 narapidana untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut.

“Ada 3 napi yang terindikasi menggunakan narkoba, dari tiga napi tersebut satu diantaranya positif, tapi kita bawa ketiga-tiganya untuk kita lakukan penyelidikan kemungkinan keterlibatan mereka dalam jaringan pemasok narkoba ke dalam lapas,” ujar Kapolres, Lhokseumawe, AKBP Anang Triarsono

Pengacara Jessica Enggan Ajukan Penangguhan Penahanan

BeritaBintang –    Usai diperiksa selama 12 jam, penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, akhirnya menahan Jessica Kumala Wongso, tersangka pembunuhan terhadap Wayan Mirna Salihin yang tewas usai menenggak kopi yang dicampuri sianida di Cafe Olivier, Grand Indonesia, 6 Januari 2016 lalu selama 20 hari.

Pengacara Jessica, Yudi Wibowo usai mendampingi kliennya menjalani pemeriksaan menjelaskan pihaknya tak akan mengajukan penangguhan penahanan untuk kliennya yang disangkakan dengan pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana dan bisa dikenakan hukuman maksimal yakni hukuman mati.

“Saya enggak ajukan (penangguhan penahanan),” ujar Yudi singkat kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu (30/1/2016).

Yudi tak menjelaskan alasan dirinya tak mengajukan penangguhan penahanan. Ia malah memprotes tindakan kepolisian yang tak memberikan salinan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) kliennya itu. Menurutnya, polisi memberikan alasan akan memberikan salinan BAP bila penyidikan terhadap Jessica telah dinyatakan lengkap oleh Kejaksaan atau P21.

“Saya tidak dikasih copy BAP tersangka. Ditunggu sampai P21 katanya. Itu melanggar KUHP. Seharusnya penasihat hukum diberikan salinan BAP,” tegas Yudi.

Yudi merasa kepolisian takut untuk bisa membuktikan keterlibatan Jessica dalam pembunuhan itu. “Kenapa, (polisi) takut? Jangan takut. (Pengacara) harus diberi salinan (BAP),” tantang Yudi.

@tyasmirasih : ‘ASIKKKKK Siap2 aja nih ya bakal banyak yang bisa kena’

 BeritaBintang –Infografis penjelasan hate speech alias ujaran kebencian muncul di akun Instagram @tyasmirasih yang disebut sebagai milik artis cantik Tyas Mirasih.

Infografis dengan judul ‘Jangan nekat jadi haters’ di akun Instagram @tyasmirasih menjabarkan apa yang dimaksud hate speech sesuai Surat Edaran Kapolri Jenderal Badrodin Haiti. (Baca juga “Buka-bukaan Soal Bisa Di-booking Pria Hidung Belang Rp 25 Jutaan”)

Setelah judul infografis, tertulis kalimat pembuka, “Hati-hati ! Jadi haters bisa bikin kami dijebloskan ke penjara.

Sebab, Kapolri Jenderal Badrodin sudah keluarkan surat edaran penanganan ujaran kebencian”.

Setelah itu ada penjelasan apa saja hate speech yang meliputi penghinaan, pencemaran nama baik, penistaan, perbuatan tidak menyenangkan, provokasi, penghasutan dan penyebaran berita bohong.

Tujuan hate speech disebutkan berupa menghasut dan menyulut kebencian terhadap individu dan atau kelompok masyarakat dalam berbagai komunitas.

Sasaran hate speech adalah suku agama, aliran keagamaan, keyakinan atau kepecayaaan, ras, antar golongan, warna kulit, etnis, jenis kelamin, kaum difabel dan orientasi seksual.

Cara hate speech menyebar menurut infografis itu melalui orasi kampanye, spanduk, media sosial, penyampaian pendapat di muka umum atau demonstrasi, ceramah keagamaan, media massa dan pamflet.

Demokrasi gak boleh seenaknya” sebuah kutipan dengan tulisan Jenderal Badrodin Haiti (Kapolri) turut melengkapi infografis hatespeech di akun @tyasmirasih.

Pengguna akun @tyasmirasih pun menulis komentar terhadap penjelasan soal hate speech itu.

ASIKKKKK!!! Siap2 aja nih ya bakal banyak yang bisa kena” demikian @tyasmirasih menulis di kolom komentarnya.

Hingga Jumat (6/11/2015) siang pukul 10.00 WIB, postingan itu telah mendapat 2.468 like dan 64 komentar.

Pemilik akun tuthy_sd menulis, “Intinya sih untuk jadi kritikus kau perlu cerdas, untuk jadi penghina kau tak butuh sekolah,be a smart people

“Bagus nih, biar org2 bisa jaga mulutnya, benci boleh gak suka boleh, itu wajar sifat manusiawi banget, ini memang jaman demokrasi bebas mengeluarkan pendapat tp bukan brarti tnpa batasan, klu smua ngmong berdasarkan fatwa “bebas mengeluarkan kritik & pendapat” org bakal seenaknya ngmong, tnpa mikir bakal nyakitin org malah jd perang komentar,” tulis pemilik akun nurwidi_handayani.

Sedangkan pemilik akun hardiva_pears mencoba menganalisa soal kemunculan haters

Klo benar haters yg komen parah bget bisa masuk penjara..skrg jg harus ada artis yg memang terbukti dia salah atw knyataannya benar apa yg dituduhkan media..itu jg wajib kena jg malah klo bisa jgn nongol lg dtv karna dia pemicu smuanya..bilang aja fitnah tp knyataan benar..gmna donk??soalnya bnyak artis bgitu..padahal kn gk pantes karna mereka pusat perhatian masyarakat..jd klo ada hukum komen yg parah atw membuli terlalu jauh ok dihukum tp klo ada artis yg munafik jg harus ditindak..haters gk kenal sama artis tersebut mereka hanya terpengaruh media..dan media mereka mencari salah benar itu artis. Jd masa iya haters smua yg di salah kan smua ada sebab..slam dari saya ini smua hanya pendapat saya ka tyas“.

Klarifikasi Soal Prostitusi

Sebelumnya, di akun Instagram @tyasmirasih ini juga muncul semacam klarifikasi tentang gosip keterkaitan nama artis cantik Tyas Mirasih dengan perkara mucikari RA yang melibatkan artis dalam praktik prostitusi kelas atas di Tanah Air.

Sore semua teman2, skrg saya mau buat pernyataan dan klarifikasi terkait perkara yg saat ini menyeret nama saya. Alhamdulillah krn perkara ini sudah berkekuatan hukum tetap, saya akan buat pernyataan dan klarifikasi, bahwa saya sama sekali tidak terlibat dalam kasus RA maupun perbuatan asusila lainnya, bahwa dlm sidang putusan kasus RA, tidak benar nama saya disebut terbukti melakukan perbuatan asusila. Maka dengan ini saya minta agar pihak-pihak yang terus menyudutkan saya dengan menyebar berita tidak benar, untuk mencabut dan menstop pernyataannya terkait pemberitaan tentang saya yang tidak benar tersebut,” tulis mantan pacar Raffi Ahmad itu.

Sejumlah fans Tyas pun merespons dengan memintanya memberikan klarifikasi di depan publik.

“Klarifikasi depan wartawan donk…,” tulis pengikut menyarankan.

“Iya kak tyasss, mungkin lebih baik juga kakak adakan konferensi pers untuk klarifikasi berita tentang kakak, soalnya beritanya itu melulu di media online maupun tv. Semoga kakak diberi ketabahan melalui ini semua…just saran ya kakkk, maaf klo ada yg slh kata,” tulis pengikut lainnya.

Bermula di BAP

Sebelum mencuat di persidangan, nama Tyas Mirasih sudah beredar di berita acara pemeriksaan di kepolisian.

Dalam BAP kasus prostitusi yang melibatkan mucikari artis, Robby Abbas (RA), tertulis sejumlah nama artis yang menjadi saksi, di antaranya Tyas Mirasih. (Baca juga Terbongkarnya Praktik Prostitusi Artis AS Bermula dari Razia Hotel)

Nama Tyas Mirasih sebelumnya disebut-sebut dalam berbagai isu mengenai artis yang terlibat dalam bisnis prostitusi RA.

Entah dari mana sumbernya, muncul daftar belasan inisial yang kemudian disebut-sebut sebagai nama artis yang diduga ada “hubungan bisnis” dengan RA.

Dalam daftar tersebut ada inisial TM.

Banyak orang yang mengaitkan inisial TM dengan Tyas Mirasih. Namun, Tyas sendiri membantah mengenal RA.

Ihwal munculnya kembali nama Tyas Mirasih, bermula dari pengacara RA, Pieter Ell.

“Ada tiga nama artis, saya tak bisa membacakan, tapi baca sendiri, ya. Ini versi BAP, ya,” kata Pieter Ell di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Ampera Raya, Jakarta Selatan, Rabu (2/9/2015), seperti yang dilaporkan Tabloidnova.com

Dalam BAP itu tertulis jelas nama asli Tyas Mirasih, yakni Mirasih Tyas Endah. Di bawah nama Tyas, terdapat beberapa poin yang menjadi keterangan Tyas kepada penyidik.

Ramdan Alamsyah: Farhat Abbas Seharusnya Sudah Ditahan

BeritaBintang – Ramdan Alamsyah, selaku kuasa hukum Ahmad Dhani, menegaskan Farhat Abbas seharusnya sudah ditahan aparat kepolisian atas kasus pencemaran nama baik.

Aparat Subdit Cyber Crime Dit Reskrimsus telah menetapkan status tersangka kepada Farhat Abbas. Berkas acara pemeriksaan (BAP) sudah dilimpahkan ke pihak kejaksaan dan dinyatakan P21. Namun, sampai saat ini tahap kedua belum dapat dilakukan.

Hal ini karena pria yang berprofesi sebagai pengacara itu tidak memenuhi pemanggilan penyidik sebanyak dua kali. Sehingga, tersangka dan BAP belum dilimpahkan ke kejaksaan.

“Kami memastikan agenda tahap dua yang semestinya sudah dilakukan kemarin sampai saat ini belum terlaksana. Yang bersangkutan tidak memenuhi panggilan penyidik,” tutur Ramdan Alamsyah ditemui di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (10/9).

Dia menjelaskan secara normatif aparat kepolisian berhak membawa paksa ataupun menangkap Farhat Abbas. Sebab, telah disampaikan surat pemanggilan sebanyak dua kali yang dikirimkan ke rumahnya di Bogor.

Menurut dia, penyidik sedang berupaya mencari mantan suami Nia Daniaty. “Kami harap polisi menahan, membawa, dan menangkap untuk dilakukan tahap dua,” tambahnya.