Andrew Chan

Indonesia Wajib Hormati Syarat Australia Terkait Kasus Jessica

BeritaBintang –    Kasus pembunuhan racun sianida dalam kopi yang melibatkan Jessica Kumala Wongso sebagai tersangka terus bergulir. Kepolisian Federal Australia (AFP) menyatakan kesediaan mereka membantu pengusutan kasus.

Namun, AFP mengajukan syarat yakni pengadilan Indonesia tidak akan menjatuhkan hukuman mati kepada Jessica yang memiliki status permanent resident di Australia itu.

Terkait permintaan tersebut, tokoh Hukum Internasional Profesor Jawahir Thontowi menyatakan pengajuan syarat tersebut merupakan hak Australia. Indonesia wajib menghormati syarat tersebut.

“Negara wajib saling menghormati karena itu bagian dari diplomasi Internasional. Adalah hak dari Australia untuk mengajukan syarat,” ujar Thontowi saat dihubungi BintangBoLa.

Lebih lanjut pria yang juga dosen di Universitas Islam Indonesia itu menyatakan syarat yang diajukan Australia ini bukanlah yang pertama kali. Thontowi menyebut kasus bandar narkoba Andrew Chan dan Myuran Sukumaran sebagai contoh.

“Biasa kok Australia mengajukan syarat seperti itu. Ini juga bukan yang pertama kali. Contohnya kasus bandar narkoba itu. Namun, jika dibilang etis atau tidak, itu urusan lain,” pungkas Thontowi.

Reaksi Jokowi Setelah Australia Menarik Dubesnya

BeritaBintang – Pelaksaan tembak mati terhadap delapan terpidana mati di Pulau Nusakambangan Rabu (29/4) dini hari masih berbuntut. Salah satunya adalah pemerintah Australia langsung menarik duta besarnya untuk Indonesia Paul Grigson. Penarikan Paul adalah bentuk protes pemerintah Negeri Kanguru atas dieksekusinya dua warganya, yakni Andrew Chan dan Myran Sukumaran atau yang disebut-sebut sebagai sindikat Bali Nine.

Tapi ternyata Presiden Joko Widodo bereaksi tenang atas ditariknya dubes Australia untuk Indonesia.  “Ini kedaulatan hukum kita. Saya ndak akan mengulang-ngulang lagi. Jangan ditanya itu lagi,” tegas Presiden di Bidakara, Jakarta, Rabu.

Ditanya soal kekhawatiran sejumlah kalangan terkait terganggunya hubungan kerjasama ekonomi Australia dan Indonesia yang selama ini terjalin,  presiden juga tidak menjawabnya.

“Ini kedaulatan tentang hukum kita,” ulang presiden.

Presiden mengaku Indonesia juga sudah pernah menarik Dubes RI di Yaman saat terjadi aksi bom di negara itu dari Arab Saudi. Sehingga penarikan Dubes Australia tidak menjadi soal baginya.

Sebelumnya diberitakan, Perdana Menteri Australia Tony Abbott mengumumkan bahwa Dutabesar Australia untuk Indonesia ditarik untuk konsultasi menyusul eksekusi terhadap terpidana mati narkoba Andrew Chan dan Myuran Sukumaran.

PM Abbott mengukuhkan hal tersebut hari Rabu (29/4) beberapa jam setelah Chan dan Sukumaran ditembak mati di Nusa Kambangan.

Persiapan Jelang Eksekusi Mati di Nusakambangan

Agen Bola

Persiapan Jelang Eksekusi Mati di Nusakambangan

BeritaBintangDua kendaraan pembawa perlengkapan teratak masuk ke Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, menjelang pelaksanaan eksekusi sejumlah terpidana mati kasus narkoba.

Dari pantauan di Dermaga Wijayapura, Cilacap, Sabtu, dua kendaraan yang terdiri atas truk dan mobil bak terbuka tiba di tempat penyeberangan menuju Pulau Nusakambangan sekira pukul 08.15 WIB.

Dua kendaraan tersebut sempat berhenti cukup lama di depan gerbang Dermaga Wijayapura guna menunggu izin menyeberang dari aparat Satuan Tugas Keamanan dan Ketertiban (Satgas Kamtib) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Jateng.

Selama menunggu di tempat itu, salah seorang awak truk tampak merapikan perlengkapan teratak yang diangkut seperti kursi plastik dan tiang besi.

Saat ditemui wartawan, awak truk lainnya mengatakan bahwa peralatan teratak itu dipesan seorang anggota Kepolisian Resor Cilacap.

“Akan dipasang di depan lapangan sampai tanggal 29 April 2015,” katanya sambil berjalan menuju truk.

Akan tetapi seorang pegawai salah satu lembaga pemasyarakatan di Pulau Nusakambangan menyangkal jika perlengkapan teratak itu akan digunakan untuk pelaksanaan eksekusi mati.

“Itu mau digunakan untuk upacara Hari Bakti Pemasyarakatan Ke-49 di Dermaga Sodong, Nusakambangan, pada hari Senin 27 April 2015,” katanya.

Informasi yang dihimpun dari sejumlah sumber di Nusakambangan, perlengkapan teratak tersebut akan dipasang di sekitar Lapangan Tembak Tunggal Panaluan yang berlokasi di dekat Pos Polisi Nusakambangan dan sekitar Lapas Besi sehingga diduga akan digunakan sebagai tempat tunggu bagi para pejabat kejaksaan dan kepolisian saat pelaksanaan eksekusi mati.

Kejaksaan Agung beberapa waktu lalu merilis 10 nama terpidana mati kasus narkoba yang akan segera dieksekusi secara serentak di Pulau Nusakambangan.

Ke-10 terpidana mati yang akan dieksekusi dalam waktu dekat, yakni yakni Andrew Chan (warga negara Australia), Myuran Sukumaran (Australia), Raheem Agbaje Salami (Nigeria), Zainal Abidin (Indonesia), Serge Areski Atlaoui (Prancis), Rodrigo Gularte (Brasil), Silvester Obiekwe Nwaolise alias Mustofa (Nigeria), Martin Anderson alias Belo (Ghana), Okwudili Oyatanze (Nigeria), dan Mary Jane Fiesta Veloso (Filipina).

Mereka kini telah berada di Nusakambangan meskipun tersebar di sejumlah lapas pulau “penjara” itu.

Mary Jane Fiesta Veloso merupakan terpidana mati terakhir yang masuk Nusakambangan setelah dipindahkan dari Lapas Wirogunan, Yogyakarta, pada Jumat 24 April 2015, pagi.

Saat ini, Mary Jane yang merupakan satu-satunya terpindana mati berjenis kelamin perempuan telah berada di Lapas Besi, Nusakambangan, bersama tiga terpidana mati lainnya, yakni Andrew Chan, Myuran Sukumaran, dan Raheem Agbaje Salami.

Sementara enam terpidana mati lainnya, yakni Zainal Abidin, Serge Areski Atlaoui, Rodrigo Gularte, dan Okwudili Oyatanze di Lapas Pasir Putih, serta Martin Anderson dan Silvester Obiekwe Nwaolise di Lapas Batu, Nusakambangan.

Sebelumnya, Kepala Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah Kemenkumham Provinsi Jawa Tengah Yuspahruddin mengharapkan pemindahan terpidana mati Mary Jane dilaksanakan mendekati waktu pelaksanaan eksekusi mengingat lapas-lapas di Nusakambangan tidak memiliki blok khusus wanita sehingga sangat riskan jika terlalu lama di pulau “penjara” itu.

Jika mengacu pernyataan tersebut, eksekusi mati diperkirakan akan dilaksanakan dalam waktu dekat.

Akan tetapi, hingga saat ini belum diketahui secara pasti apakah ke-10 terpidana mati tersebut telah masuk dalam sel isolasi di Lapas Besi guna menunggu pelaksanaan eksekusi atau masih berada di lapas masing-masing.