Abu Sayyaf

Ada Keterkaitan Antara Kelompok Santoso dengan Abu Sayyaf

BeritaBintang – Pengamat intelijen Wawan Purwanto menilai pelaku penyanderaan terhadap WNI di Filipina, Abu Sayyaf mempunyai hubungan dengan pimpinan Mujahidin Indonesia Timur (MIT), Santoso yang tertembak mati dalam operasi Tinombala, Poso, Sulawesi Tengah.

Menurut Wawan, Abu Sayyaf sering mengajak Santoso dan anak buahnya untuk bergabung menjalankan gerakan khilafah di Filipina dan Indonesia. Tidak tertutup kemungkinan, komunikasi itu dilanjutkan oleh anak buah Santoso yang masih belum tertangkap.

“Memang mereka menganggap seperti kolaborator, bahkan mereka mengajak dari pada jauh-jauh ke Suriah mending ikut kelompok Abu Sayyaf sama-sama menegakkan khilafah,” ungkap Wawan saat dihubungi Agen Judi Bola, Selasa (04/10/2016).

Meski demikian, Wawan menyampaikan aksi kelompok Abu Sayyaf tidak bisa sepenuhnya dicurigai sebagai aksi balas dendam atas kematian Santoso, melainkan lebih kepada motif uang untuk membiayai gerakan mereka.

“Kalau motifnya lebih ke uang, karena mereka ini kehilangan pasokan selama ini, sehingga perlu ada pasokan logistik untuk biaya pergerakan mereka, energi makanan, dan biaya komunikasi,” pungkas Wawan

TNI Siapkan Pasukan Khusus Bebaskan WNI Disandera

BeritaBintang –  TNI telah menyiapkan pasukan khusus dari Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL), dan Angkatan Udara (AU) untuk bersiaga manakala diperintahkan untuk membantu pemerintah Filipina dalam upaya pembebasan Warga Negara Indonesia (WNI) yang disandera oleh kelompok Abu Sayyaf.

“Panglima TNI telah menyiapkan pasukan, jadi kalau diperlukan kapanpun kami siap,” kata Kapuspen TNI, Mayjen TNI Tatang Sulaiman kepada wartawan di Jakarta, Jumat (12/8/2016).

Namun, pengerahan pasukan itu akan dilakukan bila sudah ada koordinasi dan kesepakatan antara Indonesia dengan Filipina.

Saat ini pasukan militer Filipina, dibantu oleh Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF) tengah melakukan upaya pembebasan sandera. Terakhir, empat kelompok Abu Sayyaf tewas dalam pertempuran dengan MNLF di Sulu, Filipina. Salah satunya disebut sebagai salah seorang pemimpin senior kelompok bersenjata itu.

“Di sana sekarang sedang ada upaya besar-besaran dari tentara Filipina, mereka sudah bisa melumpuhkan beberapa dari anggota Abu Sayyaf. Kita berusaha mengikuti perkembangan mereka,” ujar jenderal bintang dua ini.

TNI akan langsung bergerak jika Filipina meminta bantuan dalam upaya pembebasan sandera itu. Pasukan-pasukan khusus TNI sudah disiagakan dan siap bertugas ketika mendapat perintah. Namun, hingga saat ini, Filipina belum juga meminta bantuan.

TNI Siapkan Pasukan Khusus Bebaskan WNI Disandera

“Sampai sekarang belum ada (permintaan). TNI pada prinsipnya siap. Seandainya diperlukan kita sudah siap,” tutur Kapuspen TNI.

TNI AD memiliki pasukan khusus, seperti Kopassus dan Kostrad. Pada kasus-kasus khusus seperti penanggulangan teror, Kopassus memiliki pasukan elite, Detasemen Sat-81. Kostrad juga memiliki satuan Intai Tempur (Taipur).

Sementara itu, TNI AL memiliki Detasemen Jala Mangkara (Denjaka) gabungan dari Komando Pasukan Katak (Kopaska) dan Taifib (Batalion Intai Amfibi) Korps Marinir.

Kemudian dari TNI AU, ada Pasukan Khas (Paskhas) TNI AU yang juga memiliki pasukan elite Detasemen Bravo (Denbravo) 90. Kemampuan satu anggota Denbravo setara dengan lima orang anggota TNI biasa.

Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Mulyono menyatakan, TNI AD siap kapan saja untuk membebaskan WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina Selatan.

“Saya sudah siap pasukan manakala diperintahkan ke sana. Jika sudah mendapat perintah, TNI AD akan segera meluncur dan menyerang kelompok penyandera,” kata Mulyono di Jakarta Selatan, Rabu lalu.

Jenderal Mulyono mengatakan, TNI AD memiliki pasukan Kopassus, Kostrad dan PPRC (pasukan pemukul reaksi cepat-red) yang selalu siap setiap saat. Semuanya dalam posisi siap jalan tetapi menunggu perintah dari atasan.

Kemudian dari TNI AU, ada Pasukan Khas (Paskhas) TNI AU yang juga memiliki pasukan elite Detasemen Bravo (Denbravo) 90. Kemampuan satu anggota Denbravo setara dengan lima orang anggota TNI biasa.  Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Mulyono menyatakan, TNI AD siap kapan saja untuk membebaskan WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina Selatan.  "Saya sudah siap pasukan manakala diperintahkan ke sana. Jika sudah mendapat perintah, TNI AD akan segera meluncur dan menyerang kelompok penyandera," kata Mulyono di Jakarta Selatan, Rabu lalu.  Jenderal Mulyono mengatakan, TNI AD memiliki pasukan Kopassus, Kostrad dan PPRC (pasukan pemukul reaksi cepat-red) yang selalu siap setiap saat. Semuanya dalam posisi siap jalan tetapi menunggu perintah dari atasan.

“Soal seperti apa konsep membebaskan sandera, saya tidak bisa jawab itu karena itu bukan kewenangan saya. Tugas saya adalah hanya menyiapkan pasukan,” ujarnya.

Ia juga mengaku dari TNI AD sudah menyiapkan dua batalion khusus untuk pembebasan WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf. Satu batalion terdiri atas 700-1.000 prajurit.

“Saya sudah melatih, saya sudah menyiapkan calon. Nah, tinggal tunggu perintah Panglima TNI, kalau disuruh diberangkatkan saya siap berangkatkan,” kata KSAD, menegaskan.

Kepolisian Malaysia Bantah Ada Uang Tebusan ke Abu Sayyaf

BeritaBintang –Empat anak buah kapal (ABK) Malaysia dibebaskan oleh kelompok Abu Sayyaf pada Rabu 8 Juni 2016 pagi waktu setempat. Mereka dipulangkan ke Sandakan, Sabah, Malaysia. Keempat orang tersebut sudah ditahan oleh Abu Sayyaf sejak April 2016.

Keempatnya yakni Wong Teck Kang (31), Wong Teck Chii (29), Johnny Lau Jung Hien (21), dan Wong Hung Sing (34) dipulangkan dari Filipina Selatan oleh satuan khusus dari Polisi Malaysia setelah negosiasi upaya pembebasan mereka. Otoritas Negeri Jiran membantah adanya pembayaran tebusan dalam upaya pembebasan.

“Mereka kini di Sandakan untuk diperiksa oleh tim medis. Hari ini mereka akan kembali ke Kota Kinabalu. Dari foto bisa dilihat mereka dalam keadaan sehat,” tutur Kepala Polis di Raja Malaysia Khalid Abu Bakar dalam konferensi pers, seperti dimuat Taruhan Bola Online, Jumat (10/6/2016).

Namun, Khalid tidak mau membagikan apa yang dilakukan hingga keempatnya dibebaskan. Meski begitu, Khalid setuju bahwa larangan barter hasil perdagangan membantu pembebasan tersebut. “Saya yakin itu adalah salah satu alasannya,” sambungnya.

Media The Star Malaysia melaporkan larangan barter hasil perdagangan selama dua bulan yang diberlakukan sejak April 2016 antara Sabah dengan Filipina Selatan menekan kelompok militan tersebut. Aktivis di Pulau Jolo, Filipina, Profesor Octavio Dinampo mengatakan komunitas lokal menekan kelompok tersebut untuk membebaskan tawanan karena harga barang kebutuhan pokok melonjak selama pemberlakuan larangan tersebut.

Belum jelas juga mengenai kabar uang tebusan yang dibayarkan oleh anggota keluarga korban penculikan kepada kelompok tersebut. Keluarga para korban diketahui melakukan penggalangan dana untuk uang tebusan tersebut. “Saya tidak tahu,” tutup Khalid.

Buru Abu Sayyaf, Filipina Kirim Lebih Banyak Pasukan

BeritaBintang –   Otoritas keamanan Filipina telah mengirimkan pasukan lebih banyak ke wilayah Jolo demi memburu militan Abu Sayyaf yang menculik para Warga Negeri Indonesia (WNI) serta empat ABK asal Malaysia (WN Malysia).

Sebagimana dilansir dari Panduan Bermain Judi Online, Sabtu (23/4/2016) Menteri Luar Negeri (Menlu) Malaysia Datuk Seri Anifah Aman yang sempat bertemu dengan Menlu Filipina di Manila pada Kamis 21 April 2016 mengatakan bahwa saat ini pemerintah Filipina menangani kasus penculikan yang melibatkan WNI serta WN Malaysia secara serius.

“Mereka telah memberikan konfirmasi kepada saya bahwa para warga Malaysia saat ini memang berada di Jolo dan tidak pernah berdiam di satu lokasi dalam waktu yang lama,” kata Aman.

“Mereka (pemerintah Filipina) telah mengutus beberapa batalion militer yang didampingi dengan beberapa anggota dari berbagai badan keamanan di sana untuk mendiskusikan pelaksanaan operasi penyelamatan para sander,” ujar Aman.

Namun, BintangBola.co juga mewartakan bahwa Menlu Malaysia tersebut tidak bisa memastikan apakah 14 WNI yang ditawan  berada dalam divisi kelompok Abu Sayyaf yang sama dengan yang menculik para WN Malaysia.

Clash dengan Abu Sayyaf, Empat Tentara Filipina Terluka

BeritaBintang –   Tentara Angkatan Darat Filipina dari Batalion Infantri ke-18, dilaporkan terlibat baku tembak dengan kelompok teroris Abu Sayyaf, pada Kamis malam, 14 April 2016 waktu setempat.

Hal ini turut dikonfirmasi juru bicara Tentara Filipina dari Komando Mindanao Barat, Mayor Filemon Tan Jr., di mana clash tersebut terjadi di pedalaman Pulau Basilan, tepatnya di Tipo-Tipo, sekira pukul 10 malam.

Sebagaimana dilansir BintangBola, Jumat (15/4/2016), Mayor Tan Jr. menyatakan bahwa empat dari Tentara Filipina mengalami luka akibat bentrokan tersebut. Sementara Tan juga memastikan, salah satu dari militan Abu Sayyaf tewas.

Baku tembak ini terjadi tak lama setelah clash berdarah yang menewaskan 18 Tentara Filipina. Meski kehilangan sejumlah personelnya, Tentara Filipina masih ‘keukeuh’ melanjutkan operasinya di pedalaman Basilan.

AS Serahkan Janda Pemimpin Senior ISIS ke Irak

BeritaBintang – Amerika Serikat (AS), Kamis (6/8/2015), menyerahkan janda dari seorang pemimpin senior Negara Islam atau ISIS kepada pihak berwenang Irak.

Nasrin As’ad Ibrahim, juga dikenal sebagai Umm Sayyaf atau “Ibu Sayyaf”, adalah istri dari Abu Sayyaf atau “Bapak Sayyaf,” yang tewas dalam serangan pasukan khusus AS di Suriah pada bulan Mei. Umm Sayyaf ditahan pasukan AS sejak Mei itu.

Departemen Pertahanan AS mengatakan, perempuan itu kini ditahan kementerian dalam negeri provinsi otonom Kurdistan Irak.

Departemen Pertahanan AS dalam sebuah pernyatakan menyatakan, “Keputusan untuk mentransfer Umm Sayyaf kepada pemerintah Irak didasarkan pada tekad pemerintah AS bahwa transfer tahanan akan sesuai dengan pertimbangan hukum, diplomatik, intelijen, keamanan, dan penegakan hukum.”

Abu Sayyaf, yang diduga sebagai pemodal kelompok militan itu, tewas 15 Mei lalu dalam sebuah penggerebekan langka pasukan komando AS di kota Al-Omar di Suriah yang dilanda perang.

Pentagon mengatakan, “sekitar belasan” milisi ISIS tewas dalam pertempuran selama serangan itu.

Ketika itu, para pejabat AS mengatakan rencana mereka adalah untuk menangkap Abu Sayyaf dan istrinya, tetapi pemimpin militan itu menolak penangkapan dan tewas dalam baku tembak.

Sejumlah pejabat AS dan Irak mengatakan, seorang perempuan muda Yezidi yang ditawan sebagai budak oleh pasangan itu telah dibebaskan setelah serangan tersebut.

Pasukan AS juga menemukan jarahan berupa sejumlah artefak sejarah Irak yang sangat berharga di rumah pasangan itu.

Status hukum Umm Sayyaf tidak jelas setelah serangan itu, tetapi para pejabat AS telah menuduh bahwa dia merupakan anggota kelompok ISIS atas kemauannya sendiri.

Amerika Serikat tidak punya hubungan kerja sama dengan pemerintah Bashar al-Assad di Suriah.

Namun AS menjadi sekutu Pemerintah Daerah Kurdistan dan bekerja sama dengan Irak dalam memerangi kelompok ISIS