free html hit counter

Spanduk Provokatif Cederai Toleransi, Kisah Nenek Hindun Jangan Terulang Lagi!

BeritaBintangSpanduk Provokatif Cederai Toleransi, Kisah Nenek Hindun Jangan Terulang Lagi!

Miris Belakangan beredar luas isu tentang seorang nenek bernama Hindun, warga Kelurahan Karet, Setiabudi, Jakarta Selatan, meninggal tapi warga sekitar menolak mengurus jenazahnya.

Usut punya usut, disebutkan sang mendiang nenek Hindun (78) dikabarkan semasa hidupnya jadi pendukung petahana Pilkada DKI Jakarta 2017 Basuki Tjahaja Purnama, sekaligus terdakwa kasus penistaan agama.

Ditambah, spanduk larangan menyalatkan jenazah juga marak di beberapa tempat di Ibu Kota. Nah yang jadi anomali, justru pada akhirnya jenazah sang nenek diurusi secara utuh oleh kader partai yang mendukung pasangan calon (paslon) saingan Ahok, yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang notabene pendukung Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Lantas ke mana para pendukung dan simpatisan Ahok-Djarot? Disebutkan salah satu anggota tim sukses Anies-Sandi, Andre Rosiade, kala itu ambulans-ambulans milik PDIP dan Golkar, parpol pendukung Ahok, sedang penuh atau digunakan saat dihubungi warga.

“Dari memandikan, mengkafani, menyalatkan sampai mengantar ke kuburan (dilakukan kader PKS dan diantar ambulans timses Anies-Sandi),” ujar Andre yang juga Wasekjen DPP Partai Gerindra tersebut.

[Baca Juga -“Sebar Ribuan Kondom ke PSK Jadi Cara Penanggulangan HIV/AIDS di Daerah Ini“]

Di sisi lain yang juga berkaitan dengan peristiwa menghebohkan jenazah nenek Hindun itu, mulai banyak bertebaran spanduk larangan menyalatkan saudara seiman tapi mendukung penista agama, alias terdakwa Ahok.

Beredarnya spanduk itu tentu terbilang provokatif dan berpotensi menimbulkan konflik. Makanya aparat pun akan turun tangan dan langkah awal, Polda Metro Jaya disebutkan akan meminta keterangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Kementerian Agama (Kemenag) RI terkait ini.

“Tentunya kita akan meminta keterangan dari RT/RW di situ, kemudian ke Kemenag ya dan kemudian ke MUI. Unsur pidana akan kita lihat. Kita akan tunggu hasil pemeriksaan dari keterangan saksi yang kita periksa. Baru kita bisa analisa,” timpal Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono.

“Semua spanduk-spanduk yang berkaitan dengan provokatif dan Pilkada sudah kita turunkan semua, kita sudah berkoordinasi dengan Satpol PP, yang terpenting bahwa masyarakat juga ikut menciptakan bagaimana situasi Kamtibnas di Jakarta ini aman dan damai,” imbuhnya.

Sementara itu Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar, menyatakan Polri akan melakukan sosialisasi toleransi dan mengimbau warga, agar tak lagi memasang spanduk-spanduk provokatif tersebut.

“Tentu (spanduk larangan menyalatkan jenazah) itu menimbulkan perpecahan. Upaya kita mensosialisasikan semangat toleransi. Kami imbau pihak yang memproduksi spanduk itu tidak melanjutkan (pemasangan spanduk). Kesadaran kita untuk mengurus dan mendoakan saudara kita yang meninggal,” sambung Boy Rafli.