free html hit counter

Soal Aksi Main Hakim Sendiri, DPR Nilai Karena Rendahnya Budaya Tabayun di Masyarakat

BeritaBintangSoal Aksi Main Hakim Sendiri, DPR Nilai Karena Rendahnya Budaya Tabayun di Masyarakat

uhammad Alzahra alias Joya harus meregang nyawa setelah dihakimi massa dengan dikeroyok dan dibakar hidup-hidup lantaran dituduh mencuri amplifier atau pengeras suara musala di kawasan Babelan, Kabupaten Bekasi, 1 Agustus 2017.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR, Abdul Malik Haramain, menyayangkan masih adanya tindakan main hakim sendiri di masyarakat. Menurutnya, tindakan main hakim ini akibat masih rendahnya kesadaran hukum dan melakukan klarifikasi atau dalam bahasa Arab disebut tabayun terhadap setiap informasi yang diterima.

“Itu diakibatkan oleh masih rendahnya tradisi tabayun (klarifikasi) dan rendahnya kesadaran hukum masyarakat kita,” ucap Abdul Malik saat dihubungi Poker Online, Rabu (9/8/2017).

[Baca Juga -“Polemik Keterlibatan Jenderal, DPR Minta Novel Baswedan Terbuka ke Penyidik“]

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini mengungkapkan kurangnya kesadaran hukum di masyarakat juga diakibatkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap kepolisian sebagai aparat penegak hukum. Polisi, lanjut Abdul Malik, diminta lebih serius dan aktif dalam menjalankan kinerjanya.

“Polisi harus lebih aktif dan adil dalam menerapkan hukum,” ucapnya.

Selain tegas dan adil dalam melakukan penegakan hukum, Abdul Malik menuturkan seharusnya kepolisian juga aktif dalam menyosialisasikan kesadaran hukum di masyarakat. Hal seperti ini harus rutin dilakukan sehingga bisa mengurangi tindakan main hakim sendiri dan menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada aparat penegak hukum.

“Polisi dan lembaga penegak hukum lainnya punya tanggung jawab besar untuk menyampaikan (sosialisasi) tentangg kewenangan hukum serta bahaya main hakim sendiri. Kalau sosialisasi tentang perlunya pemahaman hukum terhadap masyarakat maksimal, saya kira tidak sulit,” tukasnya.