free html hit counter

Sejarah China Serahkan Hong Kong kepada Inggris

BeritaBintang –  Sejarah China Serahkan Hong Kong kepada Inggris

Selama masa Perang Opium pertama berlangsung, China menyerahkan sebuah pulau miliknya yaitu Hong Kong ke tangan Inggris. Penyerahan pulau tersebut tertuang dalam Konvensi Chuenpi yang dilaksanakan untuk mencapai sebuah kesepakatan yang mengupayakan diakhirinya konflik

Penyerahan Hong Kong kepada Inggris tepatnya berlangsung pada 20 Januari 1841. Perang yang juga dikenal dengan Perang Anglo-China pecah pada 1839 ketika Inggris menyerang dengan tujuan untuk menghancurkan Negeri Tirai Bambu. Saat itu, China dianggap telah melakukan aksi campur tangan dalam urusan ekonomi, sosial, dan politik mereka.

Salah satu tindakan pertama yang diambil Inggris dalam perang tersebut adalah dengan menduduki Hong Kong, sebuah pulau yang jarang dihuni di lepas pantai tenggara China. Satu tahun berikutnya atau pada 1942, Perjanjian Nanking ditandatangani secara resmi untuk mengakhiri Perang Opium Pertama.

[Baca Juga -“Pemimpin Tertinggi Iran: Saudi Khianati Umat Muslim“]

Namun, pada 1898 di bawah konvensi kedua Peking, Inggris kembali mendapatkan kekuasaan atas Hong Kong selama 99 tahun berikutnya. Judi Online.

Pada September 1984, setelah bertahun-tahun perundingan, Inggris dan China akhirnya menandatangani sebuah perjanjian formal yang menyetujui pengembalian Hong Kong pada 1997. Hal ini sebagai imbalan atas janji China untuk melestarikan sistem kapitalis di Hong Kong.

Pada 1 Juli 1997, Hong Kong dengan damai dikembalikan ke pangkuan China tepat tengah malam dalam sebuah upacara yang dihadiri Perdana Menteri (PM) Inggris, Tony Blair, Pangeran Charles dari Wales, Presiden China; Jiang Zemin, dan Sekretaris Negara Bagian; Madeleine Albright.

Banyak dari pejabat Tiongkok, Inggris dan perwakilan dunia internasional menjadi saksi penyerahan ini. Kepala eksekutif di bawah pemerintahan Hong Kong yang baru, Tung Chee Hwa, merumuskan sebuah kebijakan yang didasarkan pada konsep “satu negara, dua sistem,” sehingga melestarikan peran Hong Kong sebagai pusat kapitalisme utama di Asia.