free html hit counter

Rakornas Pariwisata di Bali Cetuskan Istilah Nomadic Tourism, Apa Itu?

BeritaBintangRakornas Pariwisata di Bali Cetuskan Istilah Nomadic Tourism, Apa Itu?

Dalam Rakornas Pariwisata I 2018 yang digelar di Bali Nusa Dua Convention Center hari ini, Kamis, 22 Maret, Menteri Pariwisata Arief Yahya memperkenalkan istilah “nomadic tourism” kepada semua peserta rapat. Menurut Arief Yahya, nomadic tourism akan menjadi konsep pariwisata di Indonesia yang akan mendunia.

Selain aksesibilitas, nomadic amenitas juga harus dikembangkan. Amenitas yang disiapkan juga harus sesuai selera para pengembara dunia zaman now ini. Ada beberapa treatment untuk nomadic amenitas ini, seperti glamping camp, caravan, dan juga homepods.

Weizly menerangkan, nomadic tourism secara umum harus memberikan sensasi baru bagi para traveler dunia.

“Para pengembara dunia ini suka kejutan. Harus ada sesuatu yang baru agar dicermati. Fokuskan semua dari kebutuhan customer. Sebab, atraksi di Indonesia itu luar biasa,” katanya menambahkan.

Fokus di 10 Destinasi Prioritas

Pasir pantai yang berwarna merah jambu berasal dari batuan koral yang hancur di lautan. Versi lain mengatakan, warna merah jambu berasal dari hewan mikroskopik bernama foraminifera.

Dijelaskanya, aksesibilitas dan amenitas nomadic tourism untuk sementara akan difokuskan untuk 10 Destinasi Prioritas atau Bali Baru. Ada empat destinasi yang dijadikan pilot project, yaitu Danau Toba, Labuan Bajo, Mandalika, dan juga Borobudur.

[ Baca Juga – ” Bermain Air di Water Park yang Lagi Ngetren di Purwakarta ” ]

“Sementara nomadic tourism difokuskan di empat destinasi Bali Baru tersebut. Semua akan diupayakan di sana. Harapannya, ini bisa ditiru oleh destinasi lainnya,” katanya lagi.

Aksesibilitas dan amenitas kekinian memang diperlukan untuk mendukung atraksi. Terlebih, destinasi pariwisata Indonesia unggul secara nature, culture, dan juga manmade.

“Atraksi pun idealnya sesuai dengan selera mereka. Indonesia bagus di semua lini atraksi. Indonesia nomor satu dunia untuk digital nomad. Kondisi ini tentu jadi potensi besar yang harus dioptimalkan dengan dukungan aksesibilitas dan amenitas. Sebab, jumlah pengembara dunia sangat besar,” ujar Waizly lagi kepada Judi Bola.

Jumlah Backpacker di Dunia

Menurut data Kementerian Pariwisata, jumlah backpacker saat ini di dunia mencapai 39,7 juta orang. Mereka terbagi dalam tiga kelompok besar, yaitu flashpacker atau digital nomad memiliki potensi sekitar 5 juta orang. Mereka menetap sementara di suatu destinasi sembari bekerja.

Kelompok lainnya adalah glampacker atau familier sebagai milenial nomad. Glampacker ini jumlahnya 27 juta orang di dunia. Mereka mengembara di berbagai destinasi dunia yang Instagramable.

Kelompok pengembara dunia lainnya adalah luxpacker atau luxurious nomad. Kaum luxpacker ini berjumlah 7,7 juta orang. Mereka mengembara untuk melupakan hiruk pikuk aktivitas dunia.

“Kesimpulannya adalah, kita harus tau apa yang mereka mau. Kesemua elemen ini harus dipelajari. Perilaku para pengembara ini seperti apa, itu juga harus diketahui. Bahkan, destinasinya seperti apa yang mereka mau juga harus dipetakan. Semua akan dibedah satu per satu di Rakornas,“ tegasnya.