free html hit counter

Puncak Widosari Makin Banyak Dikunjungi Wisatawan Sejak Dipugar

Berita Bintang Puncak Widosari Makin Banyak Dikunjungi Wisatawan Sejak Dipugar

Sebongkah batu gunung raksasa sendirian di sebuah pucuk bukit di Menoreh ini dinamai Puncak Widosari. Bongkahan itu tampak gagah dari kejauhan dan seolah magnet yang menantang siapapun untuk mendekat.
Puncak Widosari berada pada ketinggian 900 meter di atas permukaan laut. Kawasannya masuk dalam wilayah Desa Tritis, Ngargosari, Kecamatan Samigaluh, Kulon Progo di Yogyakarta. Tritis sendiri terkenal sebagai dusun produsen teh kelas premium.
Daya tarik utama dari puncak ini sebenarnya pemandangan dari ketinggian. Mereka yang berdiri di sana bisa melihat Gunung Merapi, Gunung Merbabu, sampai bibir pantai laut Selatan.
Berita Bintang
Warga yang mengelola Widosari menghitung wisatawan datang setidaknya dari 1.000 tiket parkir kendaraan roda dua yang dikeluarkan di pintu masuk Widosari dalam satu bulan.
“Kalau dihitung orangnya tentu banyak sekali,” kata Warih Triyanto, Wakil Ketua Kelompok Sadar Wisata Argo Binangun, Ngargosari, beberapa waktu lalu.
Puncak Widosari ini dikelola baik oleh Pokdarwis. Jalanan menuju puncak dibikin bertangga dari semenisasi batu dan bata. Pada sisi jurang dibikin pagar pengaman dari kawat agar pengunjung bisa lebih hati-hati.
Berita Bintang
Di pucak bukit itu, terdapat tiga gazebo. Ukuran tiap gazebo cukup lapang untuk menampung banyak orang.
Tiap gazebo juga tidak menyendiri apalagi tersembunyi, sehingga pasangan anak muda dimabuk asmara datang ke sana tidak bisa memakai sebuah gazebo hanya untuk “mojok” bagi diri mereka sendiri.
Yang paling menarik dari puncak ini adalah gardu pandang tepat di samping batu raksasa. Gardu itu juga dibeton, ukurannya luas, juga dipagar besi biar terasa aman.
Berita Bintang
Warih menceritakan, dulunya kawasan itu ditumbuhi pohon kayu siam, mahoni, dan rumput untuk ternak. Banyak yang datang ke sana membuat warga menarik parkir sekenanya, dulu.
Warga pun melihat peluang penghasilan lain selain berladang. Mereka pun mulai membuka untuk umum sejak tahun 2012. Namun, jalan menuju puncak masih berupa tanah, licin, dan dipagari dengan bambu.
Tentu cukup berbahaya lantaran puncak itu tinggi, melelahkan, dan bersebelahan dengan jurang tak terbatas kedalamannya. Meski begitu, orang menyukai ke sana.
“Dulunya, orang mengatakan Widosari itu sebagai tempat mencari angin segar,” kata Warih kepada Agen Bola.
Warga berupaya membangun kawasan itu secara swadaya. Sayangnya, swadaya belum mampu memenuhi pembangunan kawasan apalagi untuk warga. Bantuan datang di 2017. Kawasan itu kemudian dipugar habis pada November 2017.
Dibikin tangga dari semen dan bata, dan jalan menuju puncak juga diberi pengaman. “Dulu tidak seperti ini,” kata Pathuk dari Pakualaman, Yogyakarta.
“Dulu hanya jalan tanah. Sulit dan licin ketika dilewati. Sekarang sangat bagus jalannya. Semua serba bagus,” kata Pathuk.
Pathuk menceritakan, ia mampir ke Puncak Widosari pada tahun 2014. Semua masih serba licin dan sulit didaki. Tapi, banyak orang tetap menyukai mampir ke sana. “Sekarang sudah sangat bagus,” katanya.
Berita Bintang
Puncak Widosari memiliki andalan panorama. Wisatawan bisa melihat matahari terbit dan matahari tenggelam dari puncaknya. Mereka juga bisa melihat Gunung Merapi dan Merbabu dari sana.
Saat senja juga menarik. Wisatawan bisa menyaksikan gemerlap lampu kota Yogyakarta, Magelang dan Purworejo pada malam hari.
Kini, destinasi ini menjadi salah satu andalan bagi warga, khususnya anak-anak muda dusun. Sebanyak 15 pemuda bekerja mulai di bagian loket, parkir, dan warung. Sayangnya, kuliner sendiri belum berkembang, selain teh sebagai andalan.
Dikuatkan Budaya
Selain destinasi panorama dari ketinggian, Tritis juga punya daya tarik budaya, yakni: nyadran dan merti dusun sebelum memasuki bulan Ramadhan. Saat itu, warga menggelar tradisi tawasulan atau tahlilan di kaki Puncak Widosari.
Berita Bintang
Di bawah Widosari, warga memanjat doa, memotong tumpeng, serta membaginya. Semua warga berdandan dalam balutan busana jawa saat mengikuti tradisi itu. Sebagaimana orang Jawa pada umumnya, warga Tritis memegang erat adat istiadat itu sampai sekarang.
Tradisi ini menguatkan keistimewaan Tritis sebagai destinasi. Nyadran dan merti dusun selalu mengundang perhatian. Banyak warga tertarik datang untuk menonton. Tidak sedikit warga dari luar Tritis sengaja datang untuk menyaksikan ini.